
Lys dan sekretaris lux berhenti di depan rumah keluarga cassy, namun mereka bertanya tanya karena ada sebuah mobil yang terparkir disana, sedangkan satu satunya pemilik rumah kini masih berada di rumah sakit, untuk memastikan mereka berdua segera turun dari mobil dan mencoba menekan bel pintu rumah.
Kemudian seseorang wanita berusia tiga puluhan keluar dari sana "Kalian siapa dan ada perlu apa?" tanya wanita itu begitu melihat mereka di depan pintu.
Lys dan lux saling menatap satu sama lain "Maaf ini adalah rumah kenalan saya dan sekarang beliau sedang tidak ada dirumah, jadi anda siapa?" ucap lux.
Wanita itu tersenyum seakan mengerti situasi saat ini "Ahh, saya baru menempati rumah ini setelah beberapa hari lalu bertransaksi dengan pemilik rumah"
Mereka pun serentak terkejut dan tak percaya "Apaaahh???"
Wanita itupun tampak bingung, ia merasa aneh dengan kedua orang asing dihadapannya itu "Maaf jika tak ada keperluan kalian silahkan pergi" ia menutup pintu kembali tanpa memperdulikan kedua orang itu.
Lys dan Lux kembali masuk kemobil "Apa mungkin Bu Cassy menjual rumah ini?" gumam lys seraya bertanya tanya dalam benaaknya.
"Itu tidak mungkin, kemungkinan besar keluarga dari Tuan Razak yang menjualnya" jawab lux sembari menjalankan mobilnya.
"Ahh iya pasti begitu, mereka sangat keterlaluan, alangkah lebih baik jika mereka segera tertangkap polisi" gerutunya.
"Yaaa..."
"Ngmong ngomong apa yang anda lakukan di tempat pembangunan cafe, bukankah hari ini seharusnya anda libur?"
"Saya selalu siap siaga ketika atasan saya memanggil saya meskipun akhir pekan"
"Ahh jadi anda baru saja bekerja?"
"Ya, kebetulan saya melihat anda disana jadi... ehemmm" lys menanggapinya dengan tersenyum malu.
***
Siangnya Keen kembali datang ke ruang rawat cassy, ketika pria itu masuk cassy berpura pura tengah tertidur karena merasa malas menanggapi pria itu, Keen melangkah mendekat, ia duduk di kursi samping ranjang pasien, lalu ia menatap lekat lekat wanita yang tengah memejamkan matanya itu kemudian ia menggenggam tangan cassy dengan kedua tangannya. "Apa yang sedang dilakukan pria ini, haruskah aku membuka mata saja" pikirnya dalam hati.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menerimaku?" gumamnya lirih.
Deg, tiba tiba jantungnya bergetar mendengarnya mengatakan hal seperti itu dengan nada yang putus asa dan seakan ia tak tahu dirinya harus melakukan apa. Kemudian pria itu mencium keningnya dengan perlahan dan hati hati agar wanita itu tidak merasa terganggu. "Apa lagi ini?" gumam cassy lagi dalam hati, namun entah mengapa ia tak merasa jengkel, ia mulai merasa disayangi dan perasaan seperti itu tidaklah buruk..
Kemudian Keen bangun dan menutup tirai karena ia melihat cahaya matahari menyengat ke wajahnya yang sedang tidur, Cassy merasa kehilangan kesempatan untuk membuka matanya, lalu ia mendengar seseorang mengetuk pintu "Masuklah" ucap keen yang baru saja duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.
"Anda disini pak ceo?" ucap Lux begitu masuk kedalam bersama lys.
"Tentu saja saya harus disini, apa yang kau lakukan disini?"
"Selamat siang tuan Keen" sapa lys.
"Hei kalian jangan berisik" ucapnya sembari menaruh telunjuknya di depan bibir.
Cassy pun menggunakan kesempatan itu untuk membuka matanya "Kau disini lys?" ucapnya berpura pura baru saja bangun dari tidur.
Lys segera menghampiri cassy "Maaf, anda terbangun gara gara saya ya"
"Tidak masalah"
Lux melangkahkan kakinya mendekati keen dan duduk di hadapannya "Kau ngapain?"
"Saya duduk"
"Pergi sana!!"
"Saya akan pergi jika nona alyssa pergi juga" ucapnya lugas.
"Apa apaan?" keen mulai curiga kepada mereka berdua, matanya mengamati reaksi keduanya yang sedikit tersenyum malu malu "Ciiihhh, apa kalian memutuskan untuk pacaran?"
"Ehemmm" lux hanya berdehem dengan malu.
Cassy ikut memperhatikan reaksi mereka "Benarkah? sepertinya memang benar, selamat yaaa, saya turut bahagia dengan hubungan kalian"
"Kalian bahkan tidak menyangkalnya, selamat ya lys mimpimu akan segera menjadi kenyataan"
"Sudah jadi kenyataan kok" ucapnya dengan pipi merona.
"Ha???" cassy bereaksi tak percaya akan secepat itu perkembangan hubungan mereka.
"Mimpi???" sekretaris lux bertanya tanya seraya menatap lys
"Ra Ha Si aaa" ucapnya disertai tawa..
"Haaaahhhh" keen menghela nafasnya.
"Kenapa anda menghela nafas?"
"Haruskah saya memberitahumu sekretaris lux?" lalu keen mengambil sebuah apel dan mengupasnya menggunakan pisau buah, sementara lys dan cassy mengobrol.
"Oh iya pak ceo, tadi kami baru saja datang ke rumah keluarga Nyonya casandra tapi disana ada seseorang yang tidak kami kenal katanya dia sudah membeli rumah itu" ucap lux.
"Apaaahhh???" keen dan cassy terkejut. dan lys pun mengangguk setuju dengan ucapan lux.
"Ahhh dasar sialan, pasti itu kerjaan dari paman dan bibimu" ucap keen pada cassy.
"Barang barang ayah dan ibuku masih disana" gumam cassy merasa tidak tenang.
"Tidak perlu khawatir aku akan mengurusnya" ucap keen santai sembari tetap fokus mengupas apelnya.
"Benarkah kau akan benar benar mengurusnya? kalau aku mau rumah itu kembali apa yang akan kau lakukan?" ucap cassy dengan tatapan curiga.
"Aku akan mengusir mereka, kau tidak perlu kawatir" jawabnya, lalu ia bangun dan membawa buah apel yang telah dipotong dan dibentuk seperti kelinci ke hadapan cassy, lys pun segera menyingkir dari tempat duduknya dan ia menghampiri kekasihnya. Keen duduk disana.
Cassy menatap potongan apel di tangannya "Apa itu?" ucapnya dengan ekspresi yang aneh.
"Tentu saja ini apel, ini adalah seni mengupas apel, buka mulutmu"
"Ciihhh, kekanak kanakan..Aaahhhh" keen pun terdiam karena cassy mau disuapinya dengan mudah. ia pun menyuapinya perlahan.
"Ini manis, terimakasih" ucapnya dengan sedikit senyuman seraya menatapnya dengan hangat.
Memang benar keen menginginkan cassy yang bersikap ramah kepadanya seperti ia memperlakukan orang lain, namun begitu cassy menunjukkan sedikit saja keramahan kepadanya seketika ia menjadi salah tingkah dan tahu harus berbuat apa, ia segera bangun dari duduknya dengan tiba tiba hingga membuat cassy kaget.
"Ini makanlah sendiri, aku harus pergi sekarang" ia meletakkan piring apel di sampingnya lalu bergegas pergi dari ruangan itu, semua orang disana pun merasa heran dengan sikapnya itu.
Keen berjalan dengan cepat, "Apa yang terjadi dengannya? mengapa dia tersenyum padaku? apa kepalanya masih terluka dan belum normal?" gumamnya seraya terus berjalan, langkahnya terhenti ketika ia berpapasan dengan Winter yang muncul dihadapannya.
Tangannya mengepal "Apa yang kau lakukan disini?" ucapnya dingin.
"Tentu saja aku akan menemui orang yang sedang kuperjuangkan"
"Apahhh??? kau sungguh mengabaikan kata kataku??"
Winter mendekat "Jangan kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu itu!!"
"Maju satu langkah lagi maka aku akan benar benar mematahkan kakimu!!"
"Patahkan saja, karena dengan begitu aku bisa melaporkanmu ke kantor polisi dengan tuduhan penganiayaan dan seketika artikel artikel akan muncul" bisiknya.
"Asal kau tahu saja, aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan atau pikirkan" jawab keen santai menyeringai. winter pun tersulut amarah dan mencengkeram kerah baju keen, namun tiba tiba seorang wanita cantik dan berpenampilan **** serta berambut sepundak lurus menghampiri mereka.
"Kau.. kak Keenan!!!" ucap wanita itu seraya memeluk keen erat.
"Ciihhh, dasar buaya!!" gumam winter seraya melangkah pergi.
Bersambung.......................