SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 30



Harum masakan di pagi hari tercium hingga ke seluruh ruangan. Shasha tersenyum menatap makanan pagi ini yang telah Shasha selesaikan dengan baik. Menyiapkan sarapan sekaligus kembali membuat bekal perjalanan Ghibran nanti.


Segera ia masukkan ke dalam kotak bekal dan menaruhnya ke dalam paper bag seperti biasa. Membawa paper bag itu ke dalam kamarnya, tak ingin ada siapapun yang mengambilnya karena Shasha sendiri telah bersusah payah untuk menghias makanan itu.


Melirik ke arah jam dinding yang berada di dapur. Jam saat itu sudah menunjukkan pukul enam pagi hari. Penghuni rumah saat itu masih sibuk di dalam kamarnya masing-masing. Hanya para maid yang bekerja pagi itulah yang sudah berkeliling rumah membersihkan sekitar mereka.


Diraih ponsel miliknya yang terletak di meja makan. Membaca isi pesan antara dirinya dengan Ghibran. Pria itu mengatakan padanya akan berangkat pukul delapan pagi karena penerbangan yang memakan waktu sangat lama yaitu 12 jam.


Shasha berjalan menaiki anak tangga dengan tangan kanan yang memegang ponselnya dan tangan kiri yang memegang paper bag. Ia ingin segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk menghampiri rumah tempat tinggal Ghibran.


Setengah jam kemudian, Shasha baru selesai mandi dan mamakai pakaian bergaya edgy. Menggunakan celana kulot yang terinspirasi dari japanese street style. Paduan outer yang Shasha gunakan berupa kardigan bergaya kimono atau batwing dengan celana kulot. Memakai alas kaki serta sneakers kasual. Dengan dipadukan pashmina lilac yang Shasha gunakan hari ini.


Bercermin untuk melihat pakaian yang ia pakai cocok atau tidak. Setelahnya ia tersenyum karena style yang ia padukan sangat cocok ia gunakan.


Mengambil salah satu tas selempang mini nya yang digantung ditumpukan tas berpergiannya. Setelahnya ia keluar dari dalam kamar dengan membawa paper bag yang tadi. Kembali menuruni anak tangga dan melihat kondisi rumahnya di lantai paling dasar. Mendengar ada keramaian yang berasal dari lantai bawah yang membuat Shasha sedikit penasaran.


"Ayah, Bunda?" Shasha menatap kedua orang tuanya bingung. Melihat ke arah pria berseragam serba hitam yang sedang berdiri tegak. Seketika Shasha merasa deja vu dengan kejadian hari ini.


"Siapa mereka?" Sambung Shasha. Berjalan semakin dekat ke arah kedua orang tuanya.


Kania meraih tangan Shasha, membawa anaknya ke dalam dekapannya. "Jaga dan awasi dia. Jangan biarkan orang yang mencurigakan mendekatinya!" Shasha menatap sang Ayah. Kembali dibuat bingung karena orang suruhan Daffa.


"Shasha, mulai hari ini mereka akan terus mengikuti kamu kalau mau keluar rumah,"


"A-apa? Pengawal kayak Alma?" Daffa dan Kania mengangguk saat Shasha menatap mereka berdua.


Ucapan Rayyan yang semalam kembali berputar. Tentang pemerasan yang akan Pak Hilmi lakukan pada salah satu perusahaan.


"Shasha bisa jaga diri sendiri, Yah, Bun," sambung Shasha meyakinkan. Menatap sungguh-sunggu kedua orang tuanya. Tak ingin seperti Alma yang kurang bebas saat kemanapun ia pergi.


"Caca ikutin aja permintaan Ayah, Bunda, ya? Mereka khawatir sama Caca." Kali ini Kirana datang membujuk. Disusul juga oleh Rayyan yang baru keluar dari kamar miliknya. Pria itu menatap tajam ke arah Shasha supaya mengikuti saja apa yang kedua orang tuanya berikan. Setelah itu Shasha langsung mengangguk menurut. Ikuti saja alurnya dan lihat apa yang terjadi selanjutnya.


"Ayo kita sarapan, Kakak udah masak banyak loh!" Seru Shasha mengalihkan pembicaraan. Tak ingin tertinggal saat hendak mengantarkan Ghibran ke bandara karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang.


Mereka mengangguk, mengikuti apa yang Shasha katakan. "Ayo Kak, makan bareng!" Ajak Shasha merangkul pengawal wanita yang berada di barisan paling depan. Mau tak mau mereka harus mengikuti langkah Shasha yang merangkul tangan mereka.


__________


Shasha berlari di bandara, mengejar Ghibran yang ternyata sudah lebih dahulu berangkat ke bandara. Di belakangnya, seperti Alma, pengawal yang baru Ayahnya kerjakan mengikutinya.


Langkah Shasha memelan, menemukan sekumpulan orang yang salah satunya adalah Ghibran. "Bang!" Panggil Shasha pelan. Orang yang Shasha maksud menoleh, memberi senyum manisnya pada Shasha. Detak jantung Shasha berdetak kencang ketika diberi senyuman oleh Ghibran.


Nadia merentangkan tangannya, membawa Shasha ke dalam pelukan wanita itu. Menundukkan kepalanya sebentar dan tersenyum ke arah Ayahnya Ghibran yang baru beberapa kali bertemu dengan dirinya.


Shasha berganti menghadap Ghibran. Ia tersenyum manis ke arah pria yang sebentar lagi akan berangkat menuju Turki. Kata Alma, keluarga mereka lah yang akan menyambut kedatangan Ghibran di Turki nanti.


"I-ini untuk Bang Ghibran," Shasha mengambil tangan Ghibran, menaruh paper bag yang sebelumnya ia pegang untuk Ghibran. Bukan hanya masakan yang berada di dalamnya, melainkan buku-buku penyemangat yang Shasha buat untuk Ghibran serta berbagai wafer untuk Ghibran yang merupakan camilan kesukaan pria itu.


"Makasih, Sha" Shasha tersenyum. Menunduk karena merasa wajahnya memanas akibat ucapan Ghibran padanya.


Shasha mengikuti arah tunjuk Ghibran, kemudian berbalik menatap Ghibran kembali. "Pengawal aku,"


"Ada konflik sama perusahaan lain, jadi mulai hari ini mereka bakal ngawasin aku dari 'mereka' yang bemasalah sama Ayah." Sambung Shasha kembali menjelaskan ketika melihat wajah bingung Ghibran.


"Oh, masalah antar dua perusahaan." Shasha menoleh, melihat ke arah pria yang baru saja berbicara. Vian-salah satu teman kecilnya Alma membuka suara. Shasha mengangguk membenarkan ucapan Vian yang memang benar kenyataannya.


"Gak selamanya pendiri perusahaan hidupnya berjalan lancar, ya?"


"Gitu deh, Tan. Gak semua hidup pendiri perusahaan lancar. Nama juga dunia." Vian kembali menjelaskan karena ia sendiri pun sering merasakan hal itu.


"Bang, bisa kita bicara berdua?" Tanya Shasha takut-takut. Menunduk malu karena ia rasa tak akan ada waktu lagi. Tanpa pikir panjang Ghibran mengangguk, memberi izin pada Shasha dan berjalan mendahului gadis itu.


Mereka berdua berjalan menjahui keluarga dan teman Ghibran. Memilih tempat yang sedikit sepi karena permintaan Shasha. Kali ini gadis itu mencoba menahan air matanya. Dua meter di belakang Shasha para pengawal tetap berjaga.


"Katakan, Sha"


Shasha menoleh ke arah lain. Bingung harus mengatakan dari mana dahulu. Kemudian kepalanya kembali menunduk, menyemangati dirinya sendiri supaya bisa mengatakan yang sebenarnya pada Ghibran.


"A-aku…" Shasha menggantung ucapannya. Masih terlalu takut berbicara yang sebenarnya.


"Suka sama Bang Ghibran!" Ucap Shasha cepat. Terlalu malu mengatakan di depan Ghibran. Tapi mau gimana lagi, pria itu akan segera pindah ke negara lain dan entah kapan akan kembali.


Tepat saat itu juga pria berumur 25 tahun itu mematung. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Shasha ucapkan. Selanjutnya ia tertawa, menertawakan dirinya sendiri. "Maaf, kayaknya Abang salah denger tadi-"


"Nggak, Bang. Yang Abang denger itu beneran" potong Shasha cepat.


Seketika tawa Ghibran berhenti. Alisnya mengkerut seolah masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Sha…" panggil Ghibran pelan. Mengangkat kepala Shasha agar wanita itu melihatnya.


"Abang denger, ini kehidupan kedua kamu setelah pernah dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit," Shasha mengangguk membenarkan ucapan Ghibran.


"Ayo kita perbaiki diri masing-masing. Lagipula Abang merasa gak pantas bersanding sama kamu"


Shasha menggeleng kuat. Air matanya sudah berada di pelupuk matanya yang kapan saja siap terjun ke bawah. "Nggak, Bang. Kenapa Abang bilang gitu? Apa alasannya?!"


"Sha… Ayah kamu pemilik perusahaan, sedangkan aku jauh dari kata itu, Sha… Abang cuma dokter yang bahkan masih junior. Apa kata keluarga kamu nanti?"


"Ayah, Bunda gak begitu, Bang. Aku suka sama Abang apa adanya. Aku gak tau sejak kapan ini terjadi, tapi setiap aku deket sama Abang aku merasa aman." Lagi-lagi Shasha mencoba meyakinkan. Menatap dalam wajah Ghibran dengan air mata yang sudah mengalir di pipi wanita itu.


'Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA9094 tujuan Istanbul-Turki dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12.'


Ghibran menoleh ke arah layar televisi yang menunjukkan waktu penerbangannya telah tiba. Tatapannya kembali ke arah Shasha yang masih sesegukan. Tangan kekar pria itu terangkat, menghapus air mata Shasha yang terjatuh dan meninggalkan jejak di wajah cantik gadis itu. "Jangan nangis, ya? Pesawat Abang udah tiba, kita akan bertemu lagi lain waktu. Abang pamit, ya?" Ucap pria itu lembut. Tak tega melihat Shasha yang menangis karena dirinya.


Perlahan tapi pasti, Shasha mengangguk. "Semoga salamat sampai tujuan. Terima kasih udah kasih kesempatan untuk Shasha melampiaskan perasaan ini." Shasha tersenyum. Mencoba menegarkan dirinya dengan senyum yang ia pasang. Membiarkan Ghibran pergi tanpa jawaban yang pasti. Dan Shasha yakin, pria itu juga menolak perasaannya. Melihat punggung Ghibran yang semakin menjauh dari pandangannya.


Shasha berbalik, mendekati para pengawal yang sedari tadi menjaganya di belakang. "Tolong tutupi aku." Pinta Shasha pada para pengawalnya. Tanpa basa-basi mereka semua berjalan melingkari Shasha. Menutupi tubuh majikan mereka sesuai perintah. Meninggalkan bandara dengan kondisi masih membekas sisa tangisannya.


Tak menyadari, bahwa Ghibran masih melihat Shasha dari jauh. "Maaf, Sha" setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.