SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 66



"Hei hei heii.. turunkan aku, aku belum menyetujuinya heiii, kau dengar akuu??" Keen sama sekali tak memerlukan pendapat cassy, ia terus menggendongnya sampai di mobil, lalu ia memasangkannya sabuk pengaman.


"Jangan banyak bicara dan turuti perkataanku saja, ini demi kebaikanmu sendiri" ucapnya dingin. cassy pun terdiam karena memang sepertinya ucapan pria ini ada benarnya, semakin lama rasa sakitnya semakin terasa dan kakinya mulai membiru.


Kemudian keen bergegas duduk di kursi kemudi dan menjalankan mobilnya dengan cepat, sesekali casssy menoleh kearahnya yang tengah sangat fokus menyetir, pria itu terlihat sangat khawatir, seolah yang terluka adalah kakinya sendiri, seketika perasaan cassy menjadi tak nyaman karena dipedulikan dan diperlakukan seolah ia sangat berharga. Namun ia kembali menepis perasaannya seolah ia tak ingin masuk kembali ke dalam jurang yang sama.


Meskipun begitu perasaannya masih saja tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya  dan hanya menatap keluar jendela, selang beberapa saat mobil berhenti di tempat parkir rumah sakit "aku tak mau digendong, jangan sembarangan menyentuhku mulai sekarang!" ucapnya dingin.


Keen terdiam sejenak, "Baiklah, tunggulah disini dan jangan kemana mana" lalu ia bergegas keluar dari mobilnya, ia berlari ke dalam rumah sakit dan kembali dengan mendorong kursi roda.


Ia membuka pintu mobil tempat cassy berada, disana cassy tengah terdiam menatap lurus kedepan "Aku akan membantumu turun, peganglah tanganku jadi aku tak perlu menyentuhmu"


Tanpa bersuara cassy mengikuti arahannya, ia turun perlahan dengan menyandarkan tangannya di lengan keen. Ia duduk di kursi roda dan keen mendrongnya dengan hati hati, setelah sampai di ruang ugd perawat menjemputnya, sedangkan keen menunggu di kursi tunggu di depan ruangan, ia berpikir apakah tindakannya terlalu berlebihan sampai wanita itu terlihat sangat marah, "Kedepannya aku harus lebih berhati hati" begitu pikirnya.


Beberapa saat kemudian cassy keluar dengan pergelangan kaki yang telah di perban, setelah berknsultasi dengan dokter keen kembali mendorong kursi rodanya dan menuju ke meja kasir untuk mengurus pembayaran, Cassy duduk menunggu dengan tenang sementara keen menyelesaikan pembayaran.


Saat itu Cassy melihat winter yang sedang berjalan dengan terburu buru dengan mata yang terlihat merah, dengan beberapa kali mengusap matanya seperti membasuh air mata, winter hanya fokus berjalan lurus ke depan, "Apa yang terjadi dengannya?" gumamnya khawatir.


Setelah itu Keen kembali mendorong kursi roda cassy "tunggu, bisakah kau membawaku ke sana" cassy menunjuk arah winter berjalan.


"Kenapa?" keen tampak bingung.


"Ayo cepat"


"Baiklah" ia pun mendorongnya dengan cepat,fikirannya bertanya tanya.


*


Disisi lain Lys dan sekretaris lux tengah berada didalam mobil yang telah berhenti di depan cafe.


"Saya akan turun jika tak ada yang akan anda katakan!" ucapnya dengan nada kesal karena diperjalanan mereka sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Lys meraih pintu mobil dan hendak membukanya lalu terhenti.


"Maaf, bisakah kita memisahkan urusan pribadi dan urusan pekerjaan? karena kita akan sering bertemu kedepannya" ucapnya dengan pandangan lurus kedepan.


"Haahhh... baiklah, seperti yang anda inginkan, saya minta maaf karena telah menyebabkan anda tidak nyaman" jawabnya ketus.


"Apa anda sangat marah kepada saya?"


Lys berbalik ke arahnya "Ya, anda membuat saya sangat marah karena menanggung malu"


"Anda tak perlu merasa begitu karena semua orang pasti pernah menyukai seseorang, dan menyatakan perasaan bukanlah suatu dosa"


"Apa anda sedang menghibur saya sekarang? apa pantas seseorang yang telah menolak pernyataan cinta menghibur orang yang menyatakan?"


"Sekali lagi saya minta maaf, anda bisa memukul atau menampar dan melakukan apapun kepada saya agar perasaan anda membaik, saya akan menerimanya dengan lapang dada"


"Benarkah saya boleh melakukan apapun?"


"Tentu" lux berbalik mengarah kepadanya, ia memejamkan mata dan bersiap menerima pukulan dari wanita di hadapannya.


Lys mendekat ke hadapannya, ia mengulurkan kedua tangannya meraih rahang pria berkacamata itu, lalu ia menempelkan bibirnya tepat di bibir lux, lux pun kaget dan membuka matanya, jantungnya berdegup cepat, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, wanita dihadapannya sangatlah nekat hingga membuatnya membeku.


"Apa yang baru saja dia lakukan??" gumam lux sembari melihat wanita yang telah mencuri ciumannya melarikan diri, ia menyentuh bibir dengan jemarinya, bibir wanita itu masih sangat terasa, ia kembali menyentuh dadanya, jantungnya masih saja berdebar cepat "Apa apaan ini" ia segera menyadarkan dirinya dan bergegas pergi dari sana. entah mengapa ia menjadi takut dengan wanita itu, takut jika ia akan mulai terhanyut olehnya.


*********


Cassy dan keen sampai di depan sebuah ruangan rawat yang dimasuki oleh winter Apa yang sedang kita lakukan disini?" tanya keen berbisik.


"Disini ruangan tempat ayah winter dirawat selama koma" ucapnya seraya memperhatikan yang terjadi di dalam melalui selah pintu yang terbuka.


"Jadi kau memaksa kemari karena melihat bocah itu?" ucap keen yang menjadi kesal.


"Ya, benar"


"Hahh.. " rahangnya mengeras, ia menghela nafas dengan kasar, tangannya menyapu rambutnya kebelakang.


"Haruskah kutinggalkan kau disini?" ucapnya dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.


"Kenapa tiba tiba kau sangat kesal?"


"Kenapa?? baiklah seperti yang kau inginkan, aku akan meninggalkanmu disini, temanilah kekasihmu yang berharga itu" keen sangat marah dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa menoleh kebelakang meskipun beberapa kali cassy memanggil namanya.


"Mengapa dia sangat kesal, apa dia tidak peduli dengan temannya, ya meskipun sekarang mereka sudah tidak berteman" gumamnya.


Dokter keluar dari ruangan itu, disusul dengan beberapa perawat yang mendorong tempat tidur pasien dengan keadaan tubuh pasien yang tertutupi kain putih di seluruh tubuhnya. Cassy menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia sangat kaget karena itu berarti ayah winter telah berpulang. Seketika matanya berkaca kaca, ia mengintip ke dalam ruangan, disana terlihat winter yang tengah terduduk lemas di lantai, cassy memutar roda kursinya masuk ke dalam ruangan dan menghampiri winter.


"Anda baik baik saja?" ucapnya dihadapan pria yang tengah tertunduk itu.


Winter mendongakkan kepalanya, ia melihat wanita yang dicintainya berada dihadapannya, ia pun menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita yang duduk di kursi roda itu, cassy mengulurkan tangannya, ia menepuk nepuk lembut punggung pria itu. "Baru kali ini aku melihatnya seperti ini" pikirnya dalam hati, cassy pun ikut meneteskan air matanya karena mengingat kembali bagaimana orang tuanya meninggal, ia pikir sekarang pria dihadapannya tengah merasakan perasaan yang sama dengannya saat itu, perasaan yang sangat menyakitkan.


Cassy menyeka air matanya "Sekarang ayah anda sudah tidak merasakan sakit lagi, anda harus kuat karena hanya itu yang dibutuhkan oleh ayah anda"


Winter perlahan menguatkan kakinya, kemudian ia bangun "Terimakasih karena anda sudah mengatannya dan meminjamkan pangkuan anda" ucapnya dengan suara serak.


"Ya, apa anda sudah merasa lebih baik?"


Ia menggeleng "Bagaimanapun keadaan saya itu tidak penting, saya harus segera mengurus proses pemakaman ayah saya, ahh tapi kenapa anda duduk di kursi roda? apa kaki anda sakit?"


"Ini bukan apa apa, hanya terkilir"


"Maaf, saya harus pergi sekarang"


"Maaf karena saya tidak bisa menemani anda di tengah kesulitan anda, karena kaki saya"


"Tidak apa apa, dengan anda menghampiri saya kesini itu sudah sangat menguatkan saya, terimakasih"


"Ya, pergilah.. pasti banyak yang harus anda lakukan" winterpun mengangguk dan segera pergi.


Bersambung......................