SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 15



Dengan mengikuti langkah Alma yang berjalan di sebelahnya Shasha juga sesekali memperhatikan bangunan rumah milik keluarga Ghibran. Halaman rumahnya yang luas dan ada beberapa bangunan yang terpisah. Contohnya mushola ataupun tempat gym yang bangunannya terpisah dari bangunan utama rumah itu.


"Ma, kayaknya kita udah dua kali muterin tempat ini deh" ucap Shasha yang sudah mengenali tempat ini sebelumnya. Alma tertawa kecil mendengar ucapan Shasha.


Mendengar itu Alma berhenti berjalan yang setelahnya diikuti oleh Shasha yang juga berhenti seperti Alma. Ternyata Shasha sudah menyadarinya. "Kita kan emang muter-muter aja dari tadi" balas Alma tersenyum tanpa rasa bersalah.


Mendengar balasan dari Alma, Shasha tersenyum sangat lebar membuat Alma merinding. "Alma pinter sekali" ucap Shasha dengan senyum menyeramkannya yang masih terpasang di wajah cantik milik wanita itu.


"Gak papa Sha, niat Alma kan baik," ucap Alma kembali melanjutkan langkahnya membuat Shasha mau tak mau kembali mengikutinya.


"Alma tau semua kok. Alma tau Shasha suka sama siapa sekarang," ucapan dari Alma mampu membuat Shasha terkejut.


"Karena itu Alma bawa Asha muter-muter biar hapal sama rumahnya Abang. Biar kalau Asha dateng ke sini lagi gak perlu sampe telephone Alma." Lanjut Alma membuat pipi Shasha merah merona. Ia benar-benar telah tercyduk oleh Alma yang tau kalau dirinya tertarik dengan Ghibran.


"Alma!!! Katanya mau ke tempat gym!!!" Rengek Shasha sekaligus kesal. Ia malu sendiri ketika Alma sudah mengetahui tentangnya. Alma terkekeh melihat tingkah Shasha yang merengek kepadanya.


"Iya-iya, ayo!" Balas Alma berjalan kembali menghampiri sebuah ruangan yang cukup terlihat besar dari luar. Shasha hanya mengikuti langkah Alma dari belakang karena dirinya malu. Kedua pipinya saja masih merah merona karena malu akan hal tadi.


Alma berbalik badan, memberi kode lewat tatapan mata untuk Shasha supaya pintu yang berada di depannya dibuka. Kedua tangan Alma penuh dengan piring yang sebelumnya ia bawa, karena itu ia meminta tolong kepada Shasha.


Shasha melangkah maju. Tangannya terulur ke atas memegang knop pintu. Dalam hatinya ia masih ragu untuk bertemu dengan Ghibran. Ia terlalu malu jika bertemu dengan pria itu. Shasha yakin Alma tak akan berbicara apapun tentang itu, tapi tetap saja ia malu.


"Sha buka!" Protes Alma pada Shasha karena hanya mematung memegang knop tanpa membukanya.


Ceklek…


Karena desakan dari Alma, Shasha akhirnya membuka pintu tersebut. Sebelum melangkah masuk dalam hati ia berucap basmalah dan berdo'a supaya tak ada hal aneh yang terjadi di dalam sana.


Pintu terbuka dengan lebar, Shasha serta Alma langsung masuk begitu saja. Sedangkan di sisi lain ketiga pria tadi menatap kedatangan Shasha dan Alma.


"Astaghfirullahaladzim! Maaf Alma lupa ketuk!!" Jerit Alma merasa bersalah. Ia langsung memutar tubuhnya dan menatap dinding yang berada di depannya. Sedangkan Shasha reflek memejamkan matanya setelah berteriak terkejut melihat para pria di sana bertelanjang dada.


"Kenapa Kak?" Tanya Arkhan heran. Pria itu rasa tak ada yang salah dari mereka, lantas mengapa mereka terkejut hingga berteriak seperti itu?


"Pake baju kalian!" Protes Alma kesal. Sudah tau ada yang salah dari mereka, tapi tetap saja bertanya.


Lain halnya dengan Arkhan yang nampak enggan menuruti perintah dari Kakak sepupunya itu. "Emang kenapa? Kan masih pake celana. Gue gerah Kak" balas Arkhan bermaksud penolakan.


"Pake bajunya atau Kakak laporin ke Uncle Alvan! Biar Uncle Alvan tau kalau kamu sering bolos pelajaran agama di pondok!" Ancam Alma yang berhasil membuat Arkhan langsung terburu-buru mengenakan pakaiannya.


"Enggak Kak maaf. Jangan bilang Abi, Kak. Sumpah deh Kak, gue tau kalau aurat gue di pusar keliatan, kan? Maaf Kak, jangan bilang!" Ucap Arkhan memohon. Dengan terburu-buru pria itu mengenakan kembali pakaiannya.


Agaknya pria itu sangat takut jika dikaitkan dengan sang Ayah. Alvan, Ayahnya Arkhan itu memang mendidik anaknya dengan tegas supaya dapat mandiri. Bahkan Arkhan sekolah di pondok pesantren milik keluarga Ayahnya supaya mendapat didikan ajaran agama yang baik dan benar.


Shasha yang sedari tadi diam langsung tertawa akibat pembicaraan Alma dengan sepupunya yang menurutnya lucu. Bahkan Ghibran pun terkekeh melihat tingkah Arkhan. Bagaimana dengan Rayyan? Seperti biasa, pria tanpa ekspresi itu selalu memasang wajahnya yang datar tanpa berubah sesikitpun.


"Udah belom?" Tanya Shasha yang masih memejamkan matanya.


"Dah" balas ketiganya dengan sangat kompak. Setelah mendapatkan jawaban, baik Shasha maupun Alma kembali berbalik dan menatap ketiga pria itu dengan benar.


"Nih, Ante, Alma sama Asha yang bikin kuenya. Cobain deh, pasti ketagihan" ucap Alma dengan menyerahkan kedua piring kecil yang dari tadi berada di atas tangannya kepada Arkhan dan Ghibran.


Shasha melakukan hal yang sama seperti yang Alma lakukan, yaitu menyerahkan kue yang ia pegang pada pria di depannya ini, Rayyan. "Nih" ucap Shasha menyerahkan kuenya pada Rayyan begitu saja. Tanpa banyak bicara Rayyan langsung menerimanya dan duduk di atas bangku yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Keringat yang membasahi pelipis Rayyan masih terlihat dengan jelas di mata Shasha. Wanita itu mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang bisa menghapus jejak keringat pada pelipis sang adik.


Ketika ia menemukan handuk kecil, ternyata itu sudah cukup basah dan kemungkinan menyerap keringatnya sangat dikit. Kemudian tatapannya beralih menatap Ghibran, pasti pria itu tau ada di mana letak handuk kecil yang mereka miliki untuk stok setelah nge-gym. Tapi nyatanya nyali Shasha tak terlalu besar hanya untuk sekedar meminta sebuah handuk.


Kemudian tatapan Shasha beralih menatap hijab yang kali ini ia kenakan. Mungkin tak apa jika itu digunakan untuk menyeka keringat Rayyan. Lagipula Shasha membawa pakaian cadangan yang berada di dalam mobilnya, tidak seperti Rayyan yang selalu tak ingin ribet jika kemanapun ia pergi.


Ujung hijab yang Shasha kenakan ia gunakan untuk membersihkan keringat Rayyan. Rayyan yang sedang asik memakan kuenya itu juga sedikit terkejut. "Kamu tuh dek! Jangan kayak gitu, bau keringet nanti!" Protes Shasha yang masih fokus membersihkan kembali wajah sang adik. Rayyan hanya terdiam dengan tatapan yang masih menatap Shasha.


Seorang Shasha Sherly Arian memang benar-benar wanita ideal serta idaman para pria. Entah apa yang tidak dimiliki oleh Shasha, hanya Tuhan yang tau itu. Bahkan Shasha sangat amat menyayangi seluruh adik-adiknya. Apa yang dilakukan Shasha saat ini rupanya membuat seluruh atensi teralihkan kepada Shasha serta Rayyan kali ini.


___________


4 eps udh aku update. Kalau mau lagi spam komennya yaa…, makasih