
Beberapa hari setelah acara makan malam di mansion Alma, kini Alma beserta seluruh sepupunya tengah makan malam di sebuah restoran padang. Itu adalah salah satu makanan yang paling Alma sukai di negara Indonesia.
Setelah keluar dari toilet wanita, Alma beserta satu bodyguardnya kembali duduk di meja makannya. Sepertinya kedatangan Alma sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang, terbukti saat Alma datang mereka dengan serempak memegang kembali peralatan makannya.
"Kenapa lama, Ma?" Tanya Enver kepada Alma. Ia tak tau kejadian apa yang baru saja berlalu pada Alma.
Melihat Kakak sepupunya bertanya, buru-buru Alma menggeleng yang menandakan tak ada hal yang perlu dicemasi. "Tadi toilet agak ramai jadi Aunty Ilza ngalah suruh Alma duluan. Akhirnya Alma tunggu Aunty sampe keluar karena masuk terakhir" balas Alma menceritakan. Tapi tidak menceritakan tentang pria yang tadi sempat menabraknya.
Enver mengangguk mendengar penjelasan dari salah satu adik sepupunya. Kemudian kembali menyendokkan makanannya. "Lanjutkan makannya." Perintah Enver. Ia melupakan kebiasaan Alma yang tidak akan melanjutkan makannya jika yang mengajak bicara dirinya belum mengizinkannya. Entah siapa yang mengajarkan Alma seperti itu, namun ia sudah terbiasa sejak kecil.
Beberapa menit berlalu, mereka segera keluar dari restoran yang tadi. Ponsel Alma berdering beberapa kali, membuat tas selempang mini yang Alma gunakan bergetar.
Setelah mengambil ponselnya, Alma membaca kontak nama yang menghubunginya. Ternyata Lunara lah yang menghubunginya. Mungkin ia khawatir karena hampir menjelang waktu sholat Isya anaknya belum juga sampai tujuan.
Langkah Alma memelan karena ingin mengangkat panggilan dari Lunara. Menyadari langkah Alma yang memelan, semua orang ikut berhenti dan menatap tanya ke arah Alma yang berjalan pelan. "Ane menelepon, kalian duluan aja," usul Alma memberitau.
"Jalan aja, Alma juga mau ngambil mobil kok." Lagi-lagi Alma memberi kepastian. Akhirnya mereka mengangguk menyetujuinya, meninggalkan Alma dengan para bodyguardnya dan Elif yang memang ikut dalam mobil Alma.
Alma mulai mengangkat panggilan dari sang Ibu. Mengatakan bahwa dirinya beserta yang lainnya baik-baik saja. Seperti dugaan awal Alma, Lunara sangat khawatir dan menasihati Alma supaya tidak lagi pulang terlalu lama jika sedang berlibur. Karena hal itu akan membuat Alma terlambat sampai mansion mereka. Alma, anak penurut itu mengangguk tanpa mengelak perkataan Ibunya sedikitpun.
Setelah Lunara mematikan panggilan teleponnya, Alma hendak masuk ke dalam mobilnya yang saat ini berada di sampingnya. Elif beserta kedua bodyguard yang ikut dalam kendaraannya sudah menunggu Alma di dalam. Namun saat tangannya baru memegang knop pintu mobil, ponselnya kembali berdering. Keningnya berkerut ketika melihat layar ponselnya. Disana, tertera nomor asing yang menghubungi dirinya.
Niat awal untuk membuka pintu Alma urungkan kembali. Daripada ia merasa penasaran, lebih baik ia angkat dan memastikan siapa orang yang menghubunginya saat ini.
"Hai Alma, akhirnya aku mendapatkan nomor telepon mu" ucap di sebrang telepon saat Alma ingin mengucapkan salam.
Alma terdiam beberapa saat, menoba mengingat siapa orang ini. Pikirannya menerka-nerka bahwa itu adalah dosen pembimbingnya. Apa dirinya melakukan kesalahan? Batin Alma. Pikiran Alma buyar ketika suara dari sebrang sana kembali berbicara.
"Kau bingung? Aku yang tadi, Alma, Renaldi" ucapnya kembali. Seperti tidak asing di telinga Alma mendengar nama tersebut.
Ah ya, benar! Dia pria yang Alma temui tadi di depan toilet saat tidak sengaja bertubrukan dengan bahu Alma. "Kau sudah mengingatku?" Lanjut pria itu kembali yang diketahui namanya adalah Renaldi.
"Kenapa anda bisa mendapatkan nomor ponsel saya?" Tanya Alma takut. Bagaimana mungkin, padahal dirinya tak memberikan nomor ponselnya kepada pria yang diketahui bernama Renaldi.
"Itu sangat mudah, Alma. Kau tidak perlu tau siapa yang memberikan nomor ponsel kamu kepada ku"
"Apa tujuan anda?" Nada suara Alma berubah dingin. Tatapan awalnya yang terkejut berubah menjadi datar sekaligus kesal dengan pria itu. Ia merasa privasi nya terganggu karena orang aneh itu.
"Katakan anda dimana? Mengapa anda tau saat ini saya sedang apa?!"
"Tenang sayang, jangan takut. Aku bukanlah hantu sampai kau tidak melihat diriku. Coba berbalik, aku ada di belakangmu" tubuh Alma langsung berbalik, ia penasaran dengan pria itu yang dengan lancang memanggilnya dengan sebutan sayang.
Alma langsung berjalan mundur ketika pria yang tadi mendekatinya perlahan. Jujur saat ini Alma sangat takut bertemu orang seperti Renaldi.
Bugh!
Satu bogeman mentah mendarat di pipi Renaldi, membuat tubuh pria itu terjatuh ke tanah akibat tak siap mendapatkan sebuah tinjuan. "Anda benar-benar sangat lancang, Tuan!" Ucap Ilza yang langsung meninju Renaldi setelah melihat nona mereka diusik. Kedua kaki Ilza sudah siap dengan kuda-kuda yang terlihat kokoh dan tangannya yang terkepal kuat. Bodyguard yang satu lagi juga melakukan hal yang sama untuk melindungi nona mereka.
Renaldi memegang pipinya yang baru saja ditinju oleh seorang wanita. Tinjuan itu berbekas hingga menimbulkan rasa nyeri sampai membuat sudut bibir Renaldi berdarah. Ia mendongak menatap siapa yang telah berani meninju dirinya.
"Siapa yang telah berani me-"
"Saya!" Lagi-lagi Ilza memotong ucapan Renaldi sama seperti sebelumnya.
Mata Renaldi membulat ketika yang meninju dirinya adalah seorang wanita. Bagaimana mungkin sampai ia terjatuh ke tanah? Ini merupakan hal yang sangat memalukan untuk seorang pria seperti dirinya.
"Emm… Aku hanya akting tadi. Supaya dia senang" ucap Renaldi seperti orang bodoh.
"Benarkah? Coba sekali lagi"
Bugh!
Bogeman mentah itu kembali lagi pada pipinya yang satu lagi. Sama seperti sebelumnya, Renaldi tersungkur ke tanah setelah medapatkan tinjuan dari Ilza, bahkan Zhive-rekannya ingin melakukan hal yang sama kepada Renaldi, namun tangan Ilza sudah lebih dahulu terlentang supaya Zhive tidak melanjutkan pergerakannya.
"Sekali lagi saya melihat anda mendekati nona kami, maka bersiaplah akan kejutan yang menanti anda. Ingat itu baik-baik!" Peringat Ilza langsung menarik pelan lengan Alma. Membawa nona mereka untuk masuk ke dalam kendaraannya. Setelah semua orang telah masuk, mobil itu melaju dengan sangat cepat dan meninggalkan Renaldi yang sedikit terluka.
Mobil sport itu dengan cepat menjauh meninggalkan tempat tersebut. Sampai tidak terlihat kembali, Renaldi tetap saja menatap lurus ke depan. Niatnya ingin terlihat cool oleh Alma, malah berbanding sebaliknya. Ia seperti sedang menjatuhkan harga dirinya sendiri di depan wanita karena sebuah tinjuan dari wanita mampu membuatnya tersungkur ke tanah. Berkali-kali pria itu memukul kepalanya sendiri karena kesal dan merasa bahwa ia kalah jauh dari kekuatan seorang wanita.
__________
Untuk yg blm tau cerita Alma, aku saranin baca novel aku yg lainnya judulnya "My Love Defense" disana juga ceritain apa yg sebelumnya terjadi sebelum episode ini.