SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 25



Setelah beberapa lama diperjalanan, sampailah Shasha dan Alma di rumah sakit milik keluarga besar sang Ayah. Alma menatap Shasha yang masih mematung, tak bergerak sedikitpun. Hanya kedipan mata dan bergumam tak jelas yang Shasha lakukan.


Alma meraih bahu Shasha dan mengguncangkannya dengan pelan. Shasha menoleh dan menatap Alma balik. "Kenapa, Sha?"


"Takut…" adu Shasha pada Alma yang sudah bersiap untuk keluar dari mobil.


"Takut? Ngapain takut?" Alma dibuat bingung dengan Shasha. Sebelumnya sahabatnya itu sangat antusias ketika ingin bertemu dengan Ghibran. Tapi sekarang Shasha malah mengatakan takut padanya.


"Nanti Bang Ghibran mau gak, ya?"


"Bang Ghibran orangnya baik, gak mungkin nolak pemberian orang. Apalagi Shasha kan juga udah lumayan deket sama Abang." Dengan mengelus bahu sahabatnya, Alma mencoba menenagkan Shasha. Berusaha agar sahabatnya itu tidak begitu takut ataupun grogi.


"Huft… Ya udah, ayok!"


Mereka berdua akhirnya keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Karena merasa tak berani Shasha memeluk erat lengan kiri Alma. Ini adalah kali pertamanya membuatkan makanan untuk orang yang ia suka. Sebelumnya selama Shasha memiliki kekasih tak pernah sedikitpun ia berniat untuk membuatkan masakan. Mungkin memang karena di saat itu Shasha memiliki kekasih hanya untuk pengganti rasa bosannya, bukan benar-benar menyukai pria itu.


Alma menggeleng kecil melihat ada sedikit ketakutan di dalam diri sahabatnya. Hingga saat kakinya melangkah masuk ke dalam rumah sakit, suasana sekitar seperti langsung berubah. Ada beberapa staf, perawat serta dokter yang saat itu sedang beristirahat langsung menyambut kedatangan Alma.


"Siang Nona…" ucap mereka memberi salam dengan senyum yang mengembang. Berusaha sopan dengan anak pemilik gedung rumah sakit.


"Siang" dengan ramah Alma kembali membalas salam dari mereka.


"Dokter umum, Ghibran Ananta Rean ada di sini, Pak?" Tanya Alma ingin memastikan keberadaan Ghibran.


"Ada apa dengan dokter Ghibran, Nona? Apa dia membuat kesalahan?"


"Nggak… Nggak, Pak. Kita mau ketemuan aja. Dia ada di sini?" Bantah Alma pada orang yang sedang menanggapi ucapannya saat ini.


"Iya Nona, beliau masih di sini. Kebetulan sebentar lagi waktu istirahatnya"


Alma mengangguk mengerti. "Kalau begitu kami permisi. Terima kasih atas informasinya." Balas Alma berpamitan. Orang yang tadi memberikan informasi pada Alma mengangguk mengiyakan.


Alma dan Shasha berjalan melewati para pekerja rumah sakit setelah berpamitan pada mereka. Berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari ruangan kerja milik Ghibran. Rumah sakit miliknya ini sudah sedikit berubah dari yang terakhir ia ingat. Lagipula yang mengkelola rumah sakit itu adalah Dilla-Bibinya Alma serta sang Ibu. Tak ada sangkut pautnya dengan Alma sedikitpun.


"Itu, Ma! Itu ruangan Bang Ghibran!" Ucap Shasha yang secara tak sengaja membaca papan nama yang berada di pintu bertuliskan nama lengkap Ghibran serta posisinya di rumah sakit itu.


Alma menoleh. Berjalan mendekati pintu yang baru saja Shasha tunjuk. Baik Shasha maupun Alma berjalan mendekat. Mengetuk beberapa kali pintu ruangan tersebut.


"Masuk, sus!" Suruh orang dari dalam yang mereka ketahui adalah Ghibran. Dari suaranya mereka sudah dapat memastikan karena Ghibran memiliki suara yang sedikit berat.


Keduanya masuk ketika mendapatkan izin dari pemilik ruangan. Tepat saat pintu dibuka, saat itu pula pemilik ruangan terkejut melihat kedatangan Shasha dan Alma.


"Alma, Shasha? Kalian-"


"Ya ampun… Cantik-cantiknya Ante dateng ke sini. Kangen sama si ganteng anak Ante, ya?" Ucap suara lembut itu mengalihkan perhatian ketiganya.


"Mamah…" lirih Ghibran tak suka. Ia memijat pelipisnya karena malu dengan tingkah sang Ibu yang selalu seenaknya seperti itu.


"Ante Nadia" ucap Alma tersenyum ke arah sahabat Ayahnya. Keduanya menghampiri Nadia yang sedang duduk di atas ranjang pasien dan mencium punggung tangannya.


"Makin cantik aja kalian…" ucap Nadia mencubit pipi Alma dan Shasha dengan gemas.


"Makasih Ante" balas keduanya setelah cubitan di pipinya dilepaskan. Tersenyum ke arah Nadia yang juga sedang tersenyum ke arah mereka.


Alma menatap Shasha yang terlihat malu-malu. Memegang paper bag dengan erat karena malu mengatakan hal itu pada Nadia. Shasha menatap Alma dengan tatapan memohon, meminta agar Alma yang menjelaskan langsung pada Nadia.


Alma tersenyum mengerti. "Ini Tan, Asha bawa makanan siang buat kalian. Katanya ini spesial soalnya ini masakan pertama dia" ucap Alma menjelaskan. Ia menunjuk ke arah paper bag yang Shasha pegang di tangannya.


Shasha tersenyum malu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, akhirnya Shasha berani memberikan langsung untuk Nadia. "I-ini, Tan" ucap Shasha memberikan langsung pada Nadia.


"Wah… Berarti ini spesial banget, dong!" Ucap Nadia meraih paper bag yang Shasha berikan. Seperti biasa, Nadia selalu menunjukkan ekspresi yang sangat berlebihan, tapi itulah kebiasaannya.


"Eh, iya Ante. Kalau begitu Shasha pamit, ya-"


"Tunggu! Kan Ante belum ngereview makanan buatan Shasha. Ntar Ante kasih nilai dulu!" Dengan cepat Nadia menahan pergelangan tangan Shasha, tak membiarkan gadis itu pergi begitu saja.


"S-Shasha ada meeting sama klien Ayah setengah jam lagi, Ante," ucap Shasha berbohong. Demi menghindari penilaian yang akan diberikan Nadia nanti. Ia takut hasilnya tak memusakan. Lagipula hari ini bukan waktunya untuk mendatangi perusahaan sang Ayah.


"Meeting?"


"Iya Ante, meeting di perusahaan Ayah dimulai setengah jam lagi" balas Shasha setelah melihat ke arah jam yang berada di pergelangan tangannya.


"Ante janji bakal cepet. Tunggu bentar, ya?" Pinta Nadia memohon. Menampilkan muka seimut mungkin supaya diizinkan.


Alma ikut menatap Shasha, memohon agar menuruti saja ucapan Nadia. "Oke…" balas Shasha akhirnya. Ia setuju dan kembali mendekati Alma.


Dengan cepat Nadia membuka paper bag yang diberikan oleh Shasha. Mengeluarkan kotak makan yang berisikan makanan dari Shasha.


"Sini dek! Kita coba bareng-bareng!" Panggil Nadia pada anak semata wayangnya. Melambaikan tangannya supaya Ghibran datang mendekatinya.


Buru-buru Ghibran menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Mamah…" ucap Ghibran tak suka sekaligus malu dengan panggilan yang Nadia sematkan untuknya.


Shasha mengunci bibirnya. Berusaha untuk tidak menertawakan Ghibran walau sebenarnya panggilan dari Nadia untuk Ghibran lucu menurutnya. Siapa yang tidak malu ketika dirinya dipanggil seperti itu di depan teman-temannya, apalagi yang dipanggil adalah seorang pria dewasa.


"Ayo cepet, Ghibran! Shasha mau meeting bentar lagi!" Protes Nadia yang kesal dengan anaknya. Akhirnya ia juga yang harus mendatangi anaknya yang masih berdiam diri di kursi kebesarannya.


Menyuapkan satu-persatu sendok berisikan makanan yang Shasha buat untuk Ghibran dan dirinya sendiri. "Enak ya, dek?" Ucap Nadia menatap anaknya. Meminta pendapat tentang masakan yang Shasha buat.


"Mah…"


"Jawab Mamah, enak atau nggak?!" Ghibran mengangguk saja menjawab pertanyaan dari Ibunya.


"Yang bener jawabnya!" Ucap Nadia kembali protes. Tak suka karena Ghibran hanya mengangguk ketika dimintai pendapatnya.


"Enak, Mamah"


"Pinter…" ucap Nadia memuji anaknya. Mengusap puncak kepala anak semata wayangnya yang seperti sedang dipermalukan oleh Ibunya sendiri karena panggilan 'Dek' untuknya.


"Enak, Sha. Ante suka masakan kamu. Jadi menantu Ante aja besok" ucap Nadia bermaksud candaan di kalimat terakhirnya. Namun siapa sangka perkataan dari Nadia membuat Shasha hampir berteriak di tempat.


"Eemm… Ante, Shasha pamit ya. Makasih penilaian nya. Ayo Ma, assalamualaikum." Pamit Shasha langsung. Setelah mencium punggung tangan Nadia, keduanya langsung meninggalkan ruangan Ghibran.


Shasha menarik pergelangan Alma hingga berhenti di tempat parkir sebelumnya. "ALMAA!! SUMPAH SHASHA SENENG BANGET!!" Teriak Shasha sampai di tempat parkir tadi. Dan akhirnya mereka menjadi pusat perhatian di tempat parkir itu