SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 40



Cinta. Orang bilang, cinta adalah sebuah rasa saling sayang yang timbul dari rasa ketertarikan pribadi hingga mereka memiliki hubungan yang kuat dan berlanjut ke dalam tahap pernikahan. Namun, apakah sebuah pernikahan tanpa cinta juga dapat dijelaskan sebagai lambang cinta mereka? Apakah dua insan yang disatukan dalam sebuah hubungan pernikahan tanpa ada rasa ketertarikan satu sama lain akan membawa hidup keduanya damai?


Hal itu yang Shasha pikirkan saat ini. Gadis itu duduk di depan cermin dengan menatap pantulan wajahnya dari cermin. Sudah satu bulan berlalu semenjak kejadian waktu itu, di mana ia mendapatkan kabar bahwa ia akan dijodohkan. Seminggu setelahnya, ia mencoba untuk menjebak balik keluarga pria itu, tapi Rayyan mengatakan kepadanya bahwa rencana mereka gagal. Entah bagian mana yang salah, tapi Shasha tak diberi tau sedikitpun oleh adiknya.


Tok! Tok! Tok!


Pikiran Shasha teralihkan. Segera berdiri dan berjalan menghampiri pintu. Menarik knop pintu dan membuka pintu kamarnya. Di depan nya, ada Kania yang memberikan senyum ke arahnya. Bukan senyum bahagia, tapi senyum yang ia pasang untuk menutupi rasa sedihnya.


"Ayo, Kak." Kania meraih tangan Shasha. Mengajak anaknya untuk ikut turun ke lantai satu bersamanya. Shasha menggeleng cepat, menepis tangan sang Ibu yang memegang tangan nya, meminta untuk keluar dari dalam kamar.


"Gak mau, Bun… Shasha gak mau…" wanita itu menggeleng cepat. Ia berjongkok, menutup wajahnya menggunakan kedua tangan nya. Isak tangis dari Shasha terdengar sangat memilukan di telinganya.


Tak lama setelahnya Kania menangis, tak sanggup melihat anaknya yang menangis di depan nya karena korban kecerobohan orang tuanya. Kania ikut berjongkok di depan Shasha, menyentuh bahu anaknya dan mengusap pelan. "Maafin Bunda, Sha… Bunda gak bisa apa-apa. Maafin Bunda…" lirih Kania membawa anak sulungnya ke dalam pelukan nya.


"Kania kenapa lama-" langkah kaki Daffa terhenti. Melihat pemandangan di depan nya. Anak dan istrinya sedang menangis dengan posisi berjongkok dan Shasha berada di dalam pelukan Kania.


Daffa kembali melangkah, menyelesaikan tangga terakhir di depan nya. Berjalan mendekati kedua wanita itu. Ikut berjongkok dan memeluk anak sulungnya. "Shasha… Maaf…" gumam Daffa merasa bersalah.


Hanya sebentar Daffa memeluk putrinya. "Sha, dengerin Ayah!" Daffa meraih bahu Shasha, menatap ke arah anaknya. "Kita ikuti alur mereka. Kamu tenang ya, Ayah bakal segera keluarin kamu dari jebakan mereka!" Dari sorot mata sang Ayah, terdapat wajah yang menunjukkan keseriusan dalam ucapan pria itu.


"Kamu udah dapet jalan ke luarnya, Mas?" Kania menatap penuh harap ke arah suaminya. Seolah mendapatkan hadiah yang luar biasa, kedua wanita itu langsung menghapus jejak air matanya.


Dengan mantap Daffa mengangguk, memberi kepastian dengan jelas. "Kita ikuti alur mereka dulu ya, sayang? Kita ikuti kemauan mereka." Pinta Daffa menatap dua wanita berharga yang berada di depan nya saat ini.


"Kenapa, Yah? Kalau Ayah udah nemu jalan keluarnya, kenapa aku harus ngikutin mereka?!" Tanya Shasha tak terima. Sudah terlalu muak dengan apa yang ia alami. Dipaksa untuk memasang topeng kebahagiaan di depan umum untuk menjaga nama baik keluarganya.


__________


Pukul 22.33 GMT+3, malam hari di Turki. Dengan angin sejuk yang menerpa wajah pria itu. Ghibran menatap lurus ke depan. Memandang suasana malam hari di Turki. Dari apartemen tempat ia tinggal, suasana Turki malam itu sangat damai seperti hari-hari biasanya. Hanya sesekali terdengar bising kendaraan yang melintas di bawah. Walau seperti itu, tetap saja hatinya tak bisa tenang. Berkali-kali pria itu mengusap wajahnya gusar lalu mendesah panjang. Merasa bimbang dengan keadaan nya beberapa minggu terakhir.


Dengan memegang secangkir teh hangat, Ghibran duduk seorang diri di balkon apartemen nya. Menikmati me time nya seperti hari-hari biasa. "Gue ini kenapa?" Tanya pria itu pada dirinya sendiri.


"Arghh!!" Pria itu mengacak-acak rambutnya. Merasa semakin frustrasi ketika memikirkan hal itu.


Karena malam semakin larut, pria itu memutuskan untuk segera beristirahat, tak baik untuk kesehatan nya pula jika kurang beristirahat. Pintu balkon apartemen nya ia tutup dan menarik tirai yang biasa menutupi pemandangan dari arah pintu balkon yang terbuat dari kaca.


Ghibran mulai menaiki ranjang king size nya. Merebahkan dan menarik selimut itu hingga sebatas dadanya. Lama pria itu berada di atas ranjang, namun hingga detik ini Ghibran tak merasa mengantuk sama sekali. Berkali-kali pria itu memutar posisi tubuhnya, mencari posisi tidur yang nyaman supaya matanya segera terlelap. Tapi semua hal yang ia lakukan tak membuahkan hasil, matanya semakin menajam ketika ia mencoba untuk memejamkan matanya.


Ghibran meraih ponselnya. Membuka kontak orang-orang yang ia simpan. Tangan nya terhenti pada nomor milik Shasha. Ia menekan nomor wanita yang telah menguasai pikiran nya itu. Membaca ulang percakapan terakhir mereka sebulan yang lalu. Seminggu setelah ia sampai di Turki, ia dan Shasha masih berhubungan dengan baik. Saling bertukar kabar dan menceritakan keseharian nya masing-masing. Bahkan Shasha masih berhubungan dengan Ibunya setelah ia tinggalkan pergi ke Turki. Namun siapa sangka keesokan harinya Alma mengatakan pada dirinya tentang rencana perjodohan Shasha yang terjadi karena keluarganya dijebak.


Ghibran menggeleng, tak mungkin ia menghubungi Shasha di tengah malam seperti ini. Sudah ia pastikan wanita itu tengah beristirahat. Ghibran menekan tombol back, keluar dari kontak Shasha dan membuka aplikasi instagram, sekedar menghilangkan rasa bosan nya karena matanya belum bisa terpejam.


Di urutan paling atas, terdapat insta-story milik Shasha yang belum ia lihat isi dari status wanita itu. Senyum pria itu mengembang ketika melihat keceriaan Shasha yang terekspos di sosial medianya. Senyum pria itu hilang ketika menggeser ke slide berikutnya. Foto yang menunjukkan Shasha dan seorang pria di samping wanita itu yang Ghibran yakini adalah Sadam, orang yang menjebak keluarga Shasha. Di dalam foto itu menampilkan foto Shasha dan Sadam yang menunjukkan jari mereka dengan caption 'acara tunangan' yang Shasha ketikkan di statusnya.


Tatapan nya teralihkan ketika melihat nama instagram milik Sadam. Langsung saja Ghibran menekan sosial media milik pria itu. Melihat insta-story yang pria itu buat. Menampilkan video Shasha dan Sadam yang sedang dipakaikan cincin. Shasha dipakaikan oleh Ibu dari Sadam begitupun sebaliknya, Sadam dipakaikan cincin oleh Ibu dari Shasha.


Hati pria itu semakin panas. Langsung saja ia menghapus aplikasi yang sedang dibuka olehnya. Mematikan ponselnya dan melemparkan nya ke atas ranjang. Menutup matanya menggunakan lengan kanan nya dengan gumaman kecil dari pria itu. "Kalo lo suka sama gue, kenapa di wajah lo gak ada rasa sedih sama sekali di sana?" Gumam Ghibran. Matanya terasa memanas kemudian air matanya terjun begitu saja.


"Gue cinta sama lo, Sha…" lirih pria itu di tengah tangis pilunya. Menyadari dirinya juga memiliki perasaan suka yang sama seperti Shasha.