SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 34



Kania menatap anak sulungnya yang masih terpejam. Tak ada tanda-tanda jika anaknya itu akan terbangun. Sembari menunggu Shasha terbangun, ia berusaha membersihkan luka yang berada di tangan anaknya. Menangis terisak melihat kondisi Shasha seperti itu karena perdebatan antara dirinya dengan Daffa.


Ceklek!


Pintu kamar Shasha terbuka. Kania dan Rayyan yang masih berada di dalam kamar langsung tertuju pada pintu kamar.


Menutup kembali pintu kamar dan menatap ke arah ranjang. "Shasha kenapa, Nia?" Daffa datang menghampiri. Wajahnya berkeringat, napasnya masih memburu tak beraturan. Sama seperti yang lainnya, pria yang berstatus Ayahnya Shasha itu sama khawatirnya dengan keadaan anaknya.


Mata Kania menatap tajam ke arah Daffa. Segera turun dari ranjang dan berjalan cepat mendekati sang Suami. "Kamu liat itu, Mas? Shasha begitu gara-gara rencana kalian!"


Daffa menghela napas kesal. "Bukan aku, Nia! Kamu pikir aku mau buat Shasha kayak gitu?!! Aku dijebak, kamu ngerti?!!" Rupanya Daffa tak ingin mengalah. Lebih marah karena tuduhan yang Kania berikan padanya.


"Aku gak mau tau, pokoknya batalkan kerja sama kalian bagaimanapun itu caranya!!"


"Gak bisa!!" Lagi-lagi Daffa menolak. Memilih mengorbankan Shasha untuk perusahaan yang sedang terguncang.


"DIAM!!!" Keduanya menoleh. Melupakan Rayyan yang sedari tadi menonton perdebatan keduanya. Berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati kedua orang tuanya.


"Ayah, Bunda, maaf kalo Rayyan terlalu lancang," mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Menunjuk ke arah Shasha yang sedang berbaring tak berdaya. "Kak Shasha lagi sakit, tapi kalian malah berdebat kayak anak kecil. Kalian gak mikirin Kak Shasha?"


"Tapi Ray-"


"Tunggu Bunda, Rayyan belum selesai!" Potong anak keduanya cepat. Membuat Kania menggantungkan ucapannya. Mengikuti apa yang Rayyan inginkan.


"Rayyan gak tau masalah kalian apa sampe buat Kak Shasha kayak gini. Tapi tolong jangan berdebat dulu, Kak Shasha saat ini lebih butuh pertolongan daripada perdebatan yang hanya akan berujung saling menyalahkan satu sama lain, Ayah, Bunda!" Sambung Rayyan menekankan setiap kalimat yang pria itu katakan. Rayyan sadar, bahkan sangat sadar jika ia sedang menceramahi kedua orang tuanya, tak sopan berbicara dengan nada seperti itu pada orang tua. Bukan karena merasa paling terbaik, tapi memang saat ini juga tak akan ada gunanya jika hanya berdebat dan saling menyalahkan.


Seketika dua orang itu terdiam. Benar apa yang dikatakan oleh Rayyan, seharusnya mereka tak melakukan hal seperti ini yang terlihat sangat kekanak-kenakan. Seharusnya mereka mencari jalan keluar, bukan malah makin memperkeruh keadaan.


"Emmphh" ketiga orang itu menoleh ke arah sumber suara. Shasha sudah mulai tersadar. Berkali-kali mengerjabkan matanya, sedang menyesuaikan dengan pencahayaan sekitar.


"Shasha…" menghampiri gadis itu kembali. Berlari kecil ke arah ranjang karena bahagia melihat anak sulungnya telah tersadar.


"Minum…" lirih Shasha merasa tenggorokkannya sangat kering. Suaranya serak seperti tertahan di dalam tenggorokkannya.


Tanpa perlu diminta dua kali, Rayyan langsung berjalan ke arah nakas dan mengambil segelas air mineral yang sebelumnya telah ia siapkan. Menyodorkan gelas itu kepada sang Ibu yang akan memberikan Shasha air.


Perlahan Shasha duduk. Tangan kirinya dijadikan sebagai sebuah tumpuan agar ia bisa terbangun. Tak bisa menggunakan tangan kanannya yang masih terasa sangat nyeri. "Pelan-pelan, Kak!" Shasha mengangguk samar, menuruti ucapan sang Ibu yang juga membantunya untuk bangun dari tidurnya.


"Ayo ke dokter, Sha!" Usul sang Ayah. Tak tega melihat luka robek yang sangat besar di lengan anak sulungnnya.


"Nia, dokter Aina udah sampe. Bunda buka, ya?"


"Iya, Bunda." Balas Kania dari dalam. Mengizinkan Al-Fira masuk ke dalam dan membawa dokter itu ke dalam untuk memeriksa anaknya.


Ceklek!


Dokter senior kepercayaan keluarga Husein datang dengan tergesa-gesa. Terkejut mendengar kabar kalau Shasha terluka parah dibagian lengannya. Sudah lama dokter itu mengenal baik Shasha, dan ketika mendengar kabar kalau Shasha terluka, ia pun sangat terkejut. Maka dari itu ia sangat tergesa-gesa ingin segera sampai dan mengobati Shasha. Sejak Shasha bayi bahkan sebelum Aina menjadi dokter, ia sering mengunjungi Kania yang memang sahabatnya sejak sekolah menengah pertama hingga saat ini.


"Ya Allah Sha, kamu kenapa bisa gini?" Tanya Aina begitu khawatir. Tanpa disuruh sahabat Kania itu duduk di atas ranjang mendekati Shasha. Meraih tangan Shasha yang robek.


Shasha tersenyum tipis, lucu melihat reaksi sahabat dari sang Ibu yang sangat begitu khawatir dengannya. "Luka gores biasa, Tan. Bentar lagi juga sembuh!" Balas Shasha meyakinkan Aina. Wanita itu mulai mengeluarkan satu-persatu alat kedokteran yang ia bawa.


"Itu bukan luka gores, Sha!"


Sembari mengobati Shasha, Aina terus berceloteh menjelaskan betapa berbahaya nya jika luka robek seperti itu sangat bahaya jika dibiarkan begitu saja. "Nia, ini kenapa bisa begini sih? Gua merinding sendiri liatnya, padahal kalo di rumah sakit gua udah biasa," masih fokus pada luka pada tangan Shasha, Aina bertanya pada sahabat sekaligus ibu dari remaja yang sedang ia obati saat ini.


"Itu-"


"Gak papa, Tan. Shasha lagi kesel aja tadi!" Buru-buru Shasha menyela ucapan Kania yang hendak menjelaskan. Ia rasa masalah seperti ini tak perlu diketahui oleh banyak orang.


Aina meraih perban setelah luka tangan Shasha sudah sepenuhnya ia beri obat agar cepat pulih. "Ssshh… Pelan-pelan, Tan!" Shasha meringis ketika perban mulai tergulung di tangannya. Menutup luka yang tadinya terbuka lebar.


"Kamu sih! Kok kesel sama orang bisa sampe luka parah gini!" Aina terus protes karena sikap Shasha yang sedikit-sedikit suka mengeluh kesakitan.


"Dah! Hati-hati lain kali! Untung gak perlu sampe dijahit."


"Makasih, Tan" Aina mengangguk dan tersenyum. Mengelus puncak kepala Shasha dengan sayang. Ia menganggap Shasha seperti anaknya sendiri karena Aina tak memiliki seorang putri.


"Makasih, Na"


Aina kembali mengangguk ketika kedua orang tua Shasha, Daffa dan Kania mengatakan terima kasih kepadanya secara kompak. Mengangkat kedua tangannya dan memberikan kedua ibu jarinya pada Daffa dan Kania dengan senyumnya yang terpasang. "Kalian emang best couple. Kompak mulu, iri gue." Puji Aina pada Kania dan Daffa. Sedangkan kedua orang yang baru saja dipuji itu tersenyum miris, apa yang baru saja Aina katakan tak sepenuhnya benar karena memang sebelumnya mereka habis bertengkar.


Aina menaruh tangannya di kening Shasha, mengecek suhu tubuh gadis itu secara manual karena memang ia meninggalkan alat pengukur demam miliknya. Kembali mengecek keadaan Shasha yang terlihat sangat pucat pasi. "Makan yang teratur, Sha. Banyak-banyak istirahat untuk saat ini. Jangan kebanyakan nangis. Liat nih, muka cantiknya ketutup gara-gara mata kamu sembab!" Jelas Aina setelah menyelesaikan kegiatan mengecek Shasha. Sedangkan gadis itu hanya mengangguk samar karena jika terlalu banyak gerak kepalanya akan kembali pusing.


Aina berdiri mendekati Kania. Memberikan secarik kertas yang berisikan resep obat untuk Shasha. "Nanti ada kurir yang bakal nganter obat ke sini. Itu untuk Shasha," Aina menjelaskan hal itu pada Kania. Sembari merapihkan kembali peralatan kedokteran nya. "Gue langsung pamit, ya? Jadwal numpuk. Assalamualaikum" pamit Aina langsung. Mengecup kening Shasha dan memeluk Kania sebelum benar-benar kembali bekerja.


"Waalaikumsalam. Makasih ya, Na!" Kania berjalan mengikuti langkah Aina. Mengantarkan sahabatnya hingga teras. Aina mengacungkan ibu jarinya, tanda tak masalah dengan bantuan yang baru saja ia berikan untuk Shasha.