
Flashback tiga bulan yang lalu.
Di sebuah kamar yang luas dengan cat dinding berwarna hitam, putih dan abu-abu, dua orang pria sedang belajar di sana. Salah satunya yang membantu mengajarkan pelajaran dan satu lagi mendengarkannya. Siapa lagi kalau bukan Rayyan dan Ghibran. Baru beberapa menit yang lalu kedua pria itu memulai pelajarannya.
"Lo dosen Kakak gue?" Tanya Rayyan dengan kedua mata yang masih fokus pada pelajaran di depannya.
Ghibran menoleh ke arah Rayyan yang tiba-tiba membuka suara. Anggukan pelan Ghibran berikan. "Cuma sementara soalnya dosen yang bimbing lagi cuti," balas Ghibran menjelaskan.
"Lo gak punya kerjaan?" Tanya Rayyan kembali.
"Punya"
"Apa?"
"Dosen" balas Ghibran jujur. Karena memang saat ini ia lebih fokus dengan pekerjaan yang ia lakukan saat ini.
"Kerjaan tetap?" Rayyan bertanya lagi, membuat Ghibran mengernyit heran karena tak biasanya Rayyan seperti itu. Setaunya Rayyan adalah pria cuek yang tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar. Pria dingin yang memiliki wajah datar tanpa ekspresi.
"Gue dokter" jelas Ghibran kembali. Tak ingin ambil pusing karena Rayyan banyak bertanya.
"Udah lulus?"
"Lulus apaan?"
"Kuliah. Gue denger dokter lulusnya lama" ucap Rayyan memperjelas pertanyaannya.
"Gue akselerasi, lulus tahun lalu. Kenapa?"
"Nggak." Balas Rayyan singkat. Setelah itu, tak ada lagi pembicaraan yang mereka lakukan. Keduanya saling diam membisu dalam keheningan yang ada di dalam kamar Rayyan. Tapi tak seperti biasanya Rayyan suka bertanya-tanya. Apalagi tentang pekerjaan seperti itu.
Hingga menit berikutnya Shasha datang dengan sebuah nampan yang ia pegang. Di atas nampan terdapat beberapa snak yang ia bawa dengan minuman nya.
Rayyan menoleh ketika mendengar suara langkah kaki yang terdengar jelas di kamarnya yang sunyi. Menatap ke arah tangan Kakaknya yang membawa sesuatu. "Kenapa lo yang bawa?" Tanya Rayyan langsung berdiri dari duduknya.
Rayyan menghampiri sang Kakak dan membantunya membawakan makan dan minuman yang Shasha bawa.
"Gak papa. Kakak sekalian mau liat kamu belajar" ucap Shasha memberi alasan. Ia meletakkan nampan di atas meja belajar Rayyan, supaya adiknya itu lebih mudah menggapai makanan atau minuman yang ia inginkan.
"Alasan" gumam Rayyan tanpa melihat Shasha. Ia kembali duduk di kursi sebelumnya. Meraih bolpoin yang ia pakai dan melanjutkan kembali kegiatan belajarnya.
"Di makan, Bang!" Suruh Shasha pada Ghibran yang sedang duduk di sebelah Rayyan. Melihat itu Rayyan memutar bola mata nya malas. Ada-ada saja modus yang Kakaknya itu lakukan.
Akhirnya Shasha berada di dalam kamar Rayyan hingga pelajaran yang Ghibran berikan selesai. Sesekali Shasha juga ikut membantu menjelaskan pelajaran yang sedang Rayyan pelajari. Dan untung saja Rayyan adalah tipe orang yang mudah mengerti tentang pelajaran. Mungkin karena kedua orang tuanya yang sama-sama cerdas, maka dari itu turun ke anak mereka.
Selama tiga bulan kurang Ghibran selalu datang ke kediaman Shasha untuk menjadi guru privat Rayyan. Selama itu juga Rayyan merasa sangat terbantu dalam pelajarannya. Walaupun sebenarnya Rayyan sudah paham dengan jelas pelajaran yang sedang dibahas. Tentu saja Shasha turun andil dalam membantu pelajaran Rayyan. Tapi sebenarnya bukan itulah niat utamanya, melainkan untuk bertemu orang yang ia suka-Ghibran.
Hingga beberapa minggu sebelum Rayyan mengikuti ujian nasional, Ghibran juga sudah selesai dalam menjalani perannya sebagai dosen pengganti di kampus tempat Shasha kuliah. Hal itu pula yang membuat Shasha jarang bertemu dengan Ghibran kembali. Hanya tiga kali dalam seminggu untuk dirinya agar bisa bertemu dengan pria itu.
Malam hari, di dalam kamar milik Rayyan, Shasha masih berada di dalam sana karena gadis itu sedang merapihkan barang-barangnya yang berada di kamar tidur Rayyan. Tangannya sibuk mengambil satu-persatu barang miliknya, tapi tatapannya kosong. Gerakan tangan Rayyan terhenti ketika melihat ada yang tak beres dengan Kakaknya.
"Kenapa?" Shasha tersadar dari lamunannya. Menoleh ke arah Rayyan yang berjalan mendekatinya.
Shasha menoleh, lalu mundur beberapa langkah ketika Rayyan mencoba mendekatinya. "Nggak, gak papa" balas Shasha. Ia memutar tubuhnya. Berjalan mendekati pintu untuk segera keluar dari kamar adiknya.
"Gue tau lu suka Bang Ghibran," langkah Shasha langsung terhenti. Ia terkejut karena bukan hanya Alma, tapi Rayyan juga mengetahui hal itu. Mungkin karena mereka yang terlalu peka, atau sikap Shasha yang mudah ditebak oleh orang.
"Rencananya dua bulan dia bakal pindah ke Istanbul" sambung Rayyan membuat Shasha kembali terkejut. Ia langsung berbalik dan menghampiri Rayyan yang baru saja mengatakan hal yang menbuatnya terkejut tak percaya.
"Bener, kan?" Ucap Rayyan dengan senyum tipis yang menghiasi wajah datarnya.
"Iya. Sekarang jawab Kakak, kamu tau dari mana?" Balas Shasha jujur. Ia menatap manik mata adiknya, meminta agar pria itu menjawab jujur pertanyaannya.
"Dia yang bilang,"
"Kapan? Kakak gak tau!"
"Waktu itu lo masih di rumah Kak Alma" balas Rayyan kembali. Menjawab pertanyaan dari Kakaknya dengan wajah datar yang selalu terpasang apik di wajahnya.
"Apa alasannya?" Rayyan menaikkan kedua bahunya. Ia tidak terlalu kepo dengan hal itu. Tak peduli pria itu mau kemana, bukan manjadi urusannya pula.
"Kalau Kakak jujur dia bakal berubah pikiran gak?"
"Tergantung."
"Kok tergantung?" Protes Shasha karena tak mendapatkan jawaban yang pasti.
"Iya"
"Kenapa?"
"Kalau dia suka sama lo, mungkin dia bakal beribah pikiran" balas Rayyan membuat Shasha bernafas lega. Ia mengusap dadanya dan menjadi tenang.
Tapi tak lama matanya membulat sempurna. "Tapi kalau dia gak suka sama Kakak?!" Tanya Shasha hampir berteriak.
"Mungkin… Nggak" balas Rayyan membuat Shasha takut. Wajahnya kembali memucat karena ia sendiri tak bisa memastikan kalau Ghibran juga menyukainya.
"Terus Kakak harus gimana, Ray?!!" Rengek Shasha pada adiknya. Ia memegang erat tangan adiknya, memohon untuk diberikan petunjuk agar perasaannya terbalaskan.
Rayyan kembali menaikkan kedua bahunya. "Gue gak pernah pacaran. Selain Ayah Bunda gak izinin, dalam agama juga gak dibolehin" ucap Rayyan berbisik di telinga sang Kakak. Seketika tubuh Shasha merinding. Benar juga apa yang dikatakan oleh Rayyan.
Rayyan kembali mendekati meja belajarnya. Menaruh barang yang sedang ia pegang ke atas meja belajarnya.
"Gue bakal kasih tau caranya," Shasha kembali bersemangat ketika Rayyan berniat membantunya.
"Tapi ada syaratnya" sambung Rayyan membuat mimik wajah Shasha kembali berubah.
"Apa? Tapi jangan yang aneh-aneh!" Peringat Shasha menyetujui ucapan Rayyan.
"Jangan pacaran!"
"Udah, itu doang?" Rayyan mengangguk.
"Oke. Apa caranya?" Ucap Shasha setuju.
Pria itu berjalan mendekati tempat rak buku. Mengambil kitab suci Al-Qur'an dan kembali berjalan ke arah Shasha. Tangannya terangkat, memberikan Al-Qur'an yang ia pegang pada Shasha. "Sholat tahajjud. Do'ain dia di sepertiga malam." Suruh Rayyan yang langsung berbalik. Berjalan meninggalkan Shasha dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Shasha masih mematung di tempat. Benar juga apa yang dikatakan oleh Rayyan. Setelah itu, Shasha kembali ke dalam kamarnya dengan memegang Al-Qur'an yang diberikan oleh Rayyan.
_____
Nanti malem aku up lagi....
Bab selanjutnya masih tentang flashback ya~