
Cassy bangun dari tempat tidurnya, ia membuka pintunya sedikit, matanya mencari cari keberadaan orang yang ingin dihindarinya, "sepertinya si menyebalkan itu sudah pergi" gumamnya sembari membuka pintu semakin lebar, ia keluar dari kamarnya dan melihat sebuah memo di tempel di pintunya 'aku sungguh minta maaf atas sikapku tadi malam, sekarang aku harus pergi dinas ke luar negri, mari kita bicara saat aku kembali, ada yang ingin aku sampaikan' begitu isi tulisannya.
"Haahh, seenaknya saja minta maaf, dia kira bisa menyelesaikan semuanya hanya dengan kata kata maaf" gerutunya sembari meremas kertas memo di telapak tangannya.
"Ting tong"
Mendengar suara bel pintu cassy segera berjalan kesana dan membuka pintu.
"Kau sudah datang lys? makasih ya karena kamu mau menemaniku kesana" lys muncul dengan pakaian serba hitam.
"Ya, tentu saja, bagaimanapun saya juga mengenal cukup baik tuan winter"
"Saya harus berganti pakaian, kau tunggu disini sebentar ya"
"Oke!"
Cassy kembali setelah berganti pakaian, "Anda sudah siap?" tanya lys.
Cassy memakai kaca mata hitam ditangannya"Ya, ayoo"
"Ya, kaki anda sudah membaik?" lys menoleh kekakinya yang memakai sepatu selop.
"Iya, ini sudah membaik asal saya tidak memakai hills''
"Baguslah"
Setelah itu mereka memasuki mobil dan menuju ke rumah duka. Sampai disana ia melihat winter yang tengah terduduk lesu di samping foto ayahnya, ia hanya mengangguk ketika orang orang mengucapkan kata kata belasungkawa padanya, cassy dan lys melanjutkan langkah namun langkah mereka terhenti ketika berpapasan dengan Keen dan sekretaris lux, cassy mengalihkan wajahnya dengan acuh, namun keen bereaksi pasrah. lys dan sekretaris lux pun sama, mereka juga tengah saling menghindari.
Keen masih terpaku di sana sedangkan cassy telah melewatinya begitu saja. "Kita harus menuju ke bandara secepatnya pak ceo" bisik lux dari belakang.
Keen tersadar "Ahh iya, ayok jalan" keen melangkah kedepan namun sesekali pandangannya mencari keberadaan cassy dibelakangnya.
Cassy dan lys mendekati winter "Kami turut berduka cita tuan winter"
Pria itu mengangguk, dan sedikit tersenyum "Terimakasih kalian sudah datang"
Cassy duduk di sampingnya, lalu menggenggam punggung tangannya "Semuanya akan baik baik saja" ucap cassy mencoba memberi kekuatan, winterpun mengangguk.
Beberapa pasang mata tertuju kepada mereka yang terlihat sangat dekat, mereka mulai berbisik bisik, lys menyadari pandangan mereka terhadap cassy dan winter, "Tolong lepaskan tangan anda, mereka sedang membicarakan anda" bisik lys ditelinganya. cassy pun langsung melepaskan tangannya dan sedikit menjauh dari sisi winter.
Beberapa jam kemudian, cassy dan lys berpamitan dengan winter lalu mereka pergi, lys mengantarkan cassy ke rumah keen, mereka turun dari moobil setelah sampai didepan rumah.
"Saya langsung pulang ya Bu bos"
"Anu lys apa saya boleh minta tolong sekali lagi?"
"Tentu, apa yang bisa saya bantu?"
"Tolong antar saya kerumah orang tuaku ya"
"Ahh., anda mau kesana, tentu akan saya antar?"
"Ayo masuk dulu, saya akan ambil koper dulu"
"Koper?" ia tersentak dan langkahnya terhenti di depan pintu.
"Iya, seperti yang kau pikirkan, aku akan kabur dari rumah suami kontrakku sekarang juga, ayo masuk"
Mereka masuk kedalam rumah, sampailah diruang tamu "tunggu, kenapa anda mau kabur?" tanya lys dengan wajah yang penasaran.
"Duduklah dulu" cassy menunjuk sofa diruang tamu.
"Kenapa kenapa, apa anda bertengkar dengan tuan keen?" lys sudah tidak sanggup lagi mengendalikan rasa penasarannya.
"Apa anda tahu mengapa tuan keen mencium anda?"
"Sudah jelas karena marah dan dia adalah lelaki berengsek kan"
"Apa anda pernah berpikir bahwa sebenarnya Tuan mencintai anda?"
Cassy merasa tertohok "Entahlah, kadang saya tidak mengerti dengan sikapnya, emosinya selalu saja meledak setiap kali saya bersama dengan winter"
"Anda benar benar tidak mengerti atau pura pura tidak mengerti? bukankah itu tandanya tuan sangat cemburu ketika anda bersama tuan winter?" ucap lys yang merasa geregetan.
"Cemburu apanya, cintah apanya lah, itu mustahil" ia terdiam sejenak seraya berfikir.
"Coba anda fikirkanlah mengapa tuan seperti itu"
"Entahlah.. sudah sudah jangan berpikir yang tidak tidak, kau tunggu disini aku akan mengambil koperku"
"Haahhh, terserah anda sajalah" ia merasa frustasi, lalu ia terfikirkan dengan orang yang waktu itu diciumnya paksa juga "apa lucas juga merasa kesal seperti bu bos setelah aku menciumnya secara sepihak? mengapa sekarang aku jadi merasa bersalah padanya sih!! apa lucas akan menganggapku brengsek juga? arrggggg" gumamnya sembari menggigit bibirnya.
Tak terasa hari sudah gelap, lys telah mengantarkan cassy ke rumah orang tuanya lalu ia kembali dengan mengendarai mobil atasannya itu.
Cassy mendorong kopernya masuk kedalam rumah, ketika ia sampai di bawah tangga ia mendengar suara gaduh dari ruangan lain, ia pun berjalan menghampiri sumper suara, ia menghentikan langkahnya, disana ia melihat keluarga pamannya tengah bersantai di ruang tengah, ruangan yang biasanya dipakai untuk berkumpul bersama ayah dan ibunya.
Danish menoleh ke arahnya "Hai kak, kenapa kau pulang kemari?" tanyanya. Semua orang yang berada disana seketika menolehkan pandangan mereka ke arah cassy.
"Mengapa kalian masih disini?"
Shanet menghampirinya "Apa maksud ucapanmu nak, bukankah kami satu satunya keluargamu yang tersisa? tidak bisakah kita terus tinggal bersama?"
"Bibimu benar cassy" sahut Razak.
"Bukankah seharusnya kau berada dirumah suamimu kak?" sahut lagi Kenzie.
"Tinggalkanlah rumah ini, kalian bisa mencari tempat tinggal lain kan, Paman, jangan buat keluarga anda menjadi parasit disini" ucapnya lalu pergi.
"Kau!! dasar anak tidak tahu sopan santun!!!" teriak razak mengikuti cassy, yang lain pun menyusul lalu cassy berhenti dan berbalik badan.
"Apakah ucapan saya salah paman? bukankah anda baru datang kesini karena ayah dan ibu telah tiada? jika mereka masih ada apa paman akan datang kesini? saya tahu diantara kalian ada masalah yang sangat serius, dan saya sudah tahu meskipun begitu ayahku rutin mengirimkan biaya untukmu yang tidak sedikit, saya tidak akan minta itu dikembalikan, saya hanya minta kalian meninggalkan rumah ini secepatnya dan jangan menggangguku lagi"
PLAAKKKK!!! tangan razak menampar pipi cassy dengan kuat hingga ia jatuh ke lantai "Jaga ucapanmu kepada orang yang lebih tua!!!"
Kenzie mendekatinya, kepalanya menunduk "Apa orang tua kakak yang sudah mati itu tidak mengajari sopan santun?" ujarnya dengan bibir yang menyeringai.
"Jangan sebut nama orang tuaku dengan mulut kotormu!!" teriaknya. Seketika Kenzie melayangkan tendangannya kepada cassy yang masih terduduk di lantai. "Arrgggghhhh" ia mengerang kesakitan memegangi perutnya yang terkena tendangan.
"Makanya jangan berteriak, Apa kakak tidak takut melawan kami? sekarang kakak sendirian dan kami ber empat" ucap kenzie lagi menakut nakuti.
Shanet menyahuti "Karena sudah begini berarti kita tak perlu lagi berpura pura baik kan" seringainya.
"Ibu, bagaimana kalau sampai kakak melaporkan kita ke kantor polisi" bisik danish.
"Tenang saja selama kita membereskan anak ini tanpa jejak kita akan aman" ucap shanet.
"Aku tak akan membiarkan kalian begitu saja" ia menahan sakitnya dan mencoba bangun namun kakinya yang sebelumnya telah membaik kembali terasa sakit bahkan lebih sakit. ia mencoba mengambil ponsel ditasnya yang terjatuh, namun dengan sigap Shanet menginjak tangannya. lalu wanita tua itu mengambil tasnya, ia membanting hp cassy hingga menjadi berkeping keping.
"Arrhhhh.. aku tak akan memaafkan kalian" ia berteriak kesakitan karena kaki wanita itu masih menimpa tangannya.
"Diam kau!!!" bentak razak.
Seraya menahan sakitnya ia melepaskan tangannya dari pijakan wanita jahat itu tanpa disadarinya, Cassy bangun perlahan, karena saat ini kondisinya tidak memungkinkan untuk melawan mereka yang bisa dilakukannya hanyalah melarikan diri namun...................
Bersambung........................