
Tak berpikir lama, lys segera menghubungi Winter, karena tak memiliki kontak pribadinya ia menghubungi perusahaannya, namun prosesnya pun tak berjalan mulus karena winter sendiri tengah meeting di luar kantor.
Setelah kurang lebih satu jam hp lys berdering panggilan masuk dari nomor baru, ia pun langsung menjawabnya.
"Haloo"
"Saya winter, sekretaris saya bilang anda mencari saya, ada apa?"
Lys pun menjelaskan kerisauannya sedetail mungkin, winter segera berlari menghampirinya dan meninggalkan setumpuk pekerjaannya tanpa ragu, setengah jam kemudian mobilnya berhenti di depan rumah cassy, ia turun dari mobil lalu berjalan dengan langkah tergesa gesa.
"Anda sudah datang?" ucap lys merasa sedikit lega.
"Ya, anda yakin cassy ada didalam?"
"Saya tidak yakin, tapi setidaknya anda harus mendobrak pintunya"
Ia mencoba mendobrak pintu beberapa kali "Sepertinya pintunya terlalu kuat ini mustahil didobrak tanpa alat"
"Haruskah kita meminta bantuan?"
"Tidak, saya akan cari cara" lys mengangguk mencoba mempercayainya.
Winter mulai berkeliling, dan lys mengikutinya, ia terhenti melihat jendela kaca di disamping taman belakang, lalu ia berjalan dengan cepat, matanya melihat kesana dan kemari mencari sesuatu,sampailah ia di taman lalu ia mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya, pria itu bergegas kembali. "Anda mundurlah terlebih dahulu" ucapnya kepada lys, setelas lys menjauh ia menggunakan batu itu untuk memukul jendela kaca yang cukup besar itu.
PRANGGGGG!!!! PRAANGGG!! ia terus memukul kaca yang cukup kuat itu beberapa kali hingga dapat ia masuki.
Setelah kaca terkikis habis ia melemparkan batunya ke tanah "Tangan anda berdarah tuan" ucap lys khawatir.
"Ini bukan apa apa" jawabnya singkat "Saya akan masuk, anda tunggulah disini karena didalam terlalu banyak pecahan kaca.
"Tidak, saya akan ikut mencari"
"Baiklah, berhati hatilah melangkah"
Winter masuk perlahan melewati jendela yang letaknya cukup rendah dan mudah dilalui itu, setelah ia berhasil masuk ia menyingkirkan pecahan kaca ke samping agar lys tak terluka, ia menoleh ke arah lys "Masuklah"
"Ya, terimakasih" ia pun melompat mengikuti pria di depannya.
"Mari berpencar, anda carilah di lantai atas, saya akan menelusuri di bawah" ucapnya tenang, lys pun mengangguk dan segera menaiki tangga, pertama tama ia menuju ke kamarnya terlebih dahulu.
Lys membuka kamar cassy, disana terlihat ruangan yang sangat berantakan, seisi lemari berada di luarnya, laci lacipun hampir semuanya terbuka, ia menjadi sangat takut, karena ia pikir kediaman itu telah dimasuki sekawanan perampok. Lalu ia keluar dan memeriksa satu persatu ruangan, dan semuanya kondisinya tampak sama, itu memperkuat dugaannya bahwa rumah itu telah dimasuki perampok, seketika ia merinding dan ketakutan, ia pun bergegas turun menemui winter dibawah.
"Tuan winter" ia turun dengan terburu buru.
Winter menghampirinya di bawah tangga "Apa anda menemukan sesuatu?"
"Sepertinya rumah ini baru saja dimasuki perampok, karena semua ruangan terlihat acak acakan, ahhh bagaimana nasip bu cassy" lys panik, bola matanya bergetar, air matanya menetes, beberapa kali ia mengusap wajahnya.
"Tenang, anda harus tenang, saya sudah menelusuri lantai ini tapi tetap tak menemukan keberadaannya" matanya terus mencari cari di sekelilingnya "Saya akan coba mengulangi dan mencari petunjuk, anda istirahatlah terlebih dahulu"
"Baik" lys pun duduk di kursi ruang makan, ia menyandarkan kepalanya di meja sembari terus mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Winter berjalan dengan langkah yang lunglai menghampiri lys, lys menoleh ke arahnya "Apa anda menemukan sesuatu?" ia hanya terdiam dan memilih tak memberitahukan kepada wanita itu tentang apa yang ditemukannya, karena wanita itu pasti akan semakin histeris.
"Jika rumah ini kemasukan perampok sudah pasti orang yang berada dirumah akan disakiti dan disekap di satu ruangan" ucapnya pelan.
"Haahhhh" lys semakin merasa ngeri mendengar pria itu mengira ngira.
"Apa anda tahu ruangan yang belum kita periksa, semacam ruangan bawah tanah atau gudang?"
"Saya tidak tahu Tuan... apa anda sudah mencari ke bagian dapur?"
Ia menggeleng "belum"
Kemudian lys bangun dari dari duduknya ia mulai berjalan perlahan ke arah dapur, ia membuka satu persatu laci laci dan tempat penyimpanan di dapur dengan hati hati dan kecemasan, setelah itu ia membuka kulkas besar.
Winter menggeleng geleng melihat aksinya yang seperti adegan film horor, ia pun menelusuri ruangan disebelah dapur semakin dalam, ia berhenti di pojok ruangan di depan sebuah pintu besi berwarna gelap, ia menempelkan telinganya di daun pintu, namun tak terdengar apapun, ia mencoba mendorong dan membuka namun itu dikunci.
"Kemarilah nona alyssa" panggilnya keras.
Lya pun segera menghampirinya "Ada apa tuan?"
"Anda tak tahu ruangan apa ini?"
"Tidak, sepertinya ini gudang" mereka saling memandang, seolah apa yang tengah mereka pikirkan sama.
"Kita harus membukanya, saya melihat setumpuk kunci disana" ucap winter seraya melangkah dengan cepat.
"Bu cassy.. anda didalam?? anda bisa dengar saya??" teriak lys sembari menggedor gedor pintu.
Saat itu akhirnya cassy bisa bernafas lega karena mendengar suara yang familiar, namun ia sama sekali tak bisa melakukan apapun untuk memberitahukan tanda keberadaannya disana, tubuhnya lemas seakan sudah tak mampu lagi menggerakan jarinya.
Winter kembaali membawa sekotak kunci yang ia temukan, mereka mencoba kunci satu persatu dengan cepat, mereka telah mencoba kunci hingga empat belas kali namun belum menemukan satu pun yang cocok, mereka pun mulai resah, namun itu tak menghentikan mereka terus mencocokan kunci, sampai ia memegang satu kunci berwarna hitam pekat, dannn akhirnya gembok berhasil dibuka.
Winter membuka perlahan pintu yang terasa berat itu, ia melihat hal yang sangat mengejutkan sekaligus melegakan.
Lys menjerit begitu melihat sosok yang tengah terbaring lemah didalam ruangan yang sangat gelap, mereka mendekat, lys menangis sejadi jadinya begitu melihatnya dengan kondisi tangan dan kakinya terikat serta wajah dan seluruh tubuh bagian luarnya memar memar, untunglah matanya sedikit membuka, lalu winter segera melepaskan tali tali yang mengikatnya, dan melepaskan lakban di mulutnya.
"Hiikksss apa yang terjadi mengapa anda seperti ini"
"Saya tidak apa apa lys jangan menangis" ucapnya sangat lirih lalu ia terpejam dan mulai kehilangan kesadarannya.
"Ahhh Bu cassy sadarlah" lys panik, ia menggoyang goyangkan pundaknya pelan.
"Kita harus cepat membawanya kerumah sakit" ucap Winter, lalu ia bergegas menggendongnya, mereka kembali melewati jendela yang telah dipecahkan, lalu membawanya ke mobilnya, winter mengemudi dengan cepat sedangkan lys menjaga cassy di kursi belakang.
Lys tak bisa lagi membendung kesedihannya setelah melihat memar memar dan luka di sekujur tubuhnya serta luka karena ikatan kencang di tangan dan kakinya yang terlihat semakin jelas. Setelah lima belas menit mereka sampai di rumah sakit.
Bersambung.....................