SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 27



Langit mendung, menutupi cahaya siang hari yang seharusnya cerah saat itu. Angin kencang menerbangkan debu halus siang itu.


Shasha menatap ke arah luar jendela. Melamun menatap lalu lalang kendaraan yang melewati cafe Alma. Siang ini Ghibran sedikit terlambat daripada sebelum-sebelumnya. Biasanya pria itu akan datang tepat waktu jika ia sedang membuat janji dengan pria itu.


Dreet!


Dering ponsel Shasha berbunyi. Menyadarkan Shasha dari lamunannya dan kembali ke keadaan saat ini. Shasha meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja cafe. Melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo, Yah?" Shasha mengangkat panggilan telepone nya. Menjawab panggilan dari sang Ayah yang dapat ia pastikan itu penting.


"Kapan, Yah?"


"Iya, 15 menit lagi Kakak jalan"


"Waalaikumsalam." Shasha mematikan panggilan telepone dan kembali menatap ke arah luar jendela.


Tujuh menit berlalu. Sampai saat itu tak ada tanda-tanda kedatangan Ghibran. Ia juga tak menerima pesan masuk dari Ghibran. Saat itu pula Shasha menyerah, tak ingin membuat Ayahnya menunggu dirinya lebih lama lagi.


Setelah membayar pesanan nya, Shasha keluar dari dalam cafe Alma. Ada sedikit rasa kecewa pada Ghibran karena tak datang seperti yang ia pinta.


Grep!


Pergelangan tangan Shasha digenggam. Menarik wanita itu dengan cepat. Karena tak siap, Shasha langsung bergerak mengikuti arah tangannya yang ditarik.


Shasha menatap orang yang menariknya. Ghibran, ia menatap Shasha dengan rasa bersalah. Memegang erat pergelangan tangan Shasha, tak membiarkan wanita itu lepas darinya. "Maaf udah buat kamu nunggu" ucap Ghibran dengan tatapan yang tak teralihkan sedikitpun dari Shasha.


Menunduk, melihat pergelangan tangannya yang masih digenggam dengan erat. Ghibran mengikuti arah pandang Shasha, segera melepaskan tangannya yang memegang Shasha. "Maaf." Ucap Ghibran gelagapan. Menatap kesembarang arah karena mereka berada di keadaan yang canggung.


"Kamu mau ngomong apa? Ayo masuk dulu!"


Shasha menggeleng pelan, tanda tak bisa. "Maaf, Ayah udah nunggu Shasha di perusahaannya. Kayaknya penting. Mungkin lain kali" tolak Shasha. Selain karena ia sudah terlanjur kecewa, ia juga belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya pada Ghibran.


"Shasha pamit, ya? Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Maaf, Sha." Shasha tersenyum. Mengangguk dan langsung meninggalkan Ghibran di sana. Masih dengan kebingungan, Ghibran menatap Shasha yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan pria yang baru datang ke tempat itu seorang diri.


Setelah pertemuan singkat itu, Shasha belum juga berani untuk kembali menemui Ghibran. Tak mengatakan apa yang sebenarnya ingin Shasha akui.


Flashback off.


Shasha menatap ke arah layar ponselnya. Berharap mendapatkan notifikasi dari Ghibran yang meminta dirinya untuk mendatangi pria itu.


"Ayah ngechat. Suruh cepet dateng." Ucap Rayyan tiba-tiba. Pria berumur 18 tahun itu berdiri dari duduknya. Memegang kunci mobil milik Shasha dan menyiapkan beberapa lembar uang yang akan ia berikan ke kasir nanti.


Shasha menatap ke arah Rayyan yang sudah berdiri dan meninggalkannya. Segera gadis itu mengikuti langkah sang Adik yang berjalan mendahuluinya. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempang mini yang ia kenakan.


"Ntar juga tau" balas Rayyan acuh. Langsung masuk begitu saja ke dalam kemudi mobil dan menyalakan mesin mobil tersebut.


Shasha mengangguk. Ikut masuk ke dalam mobil. Tak ingin ambil pusing tentang pembicaraan yang akan membahasnya. Mungkin saja hanya urusan bisnis, mengingat Ayahnya dan Pak Hilmi berada dalam satu proyek yang sama dan tentu bersangkutan dengan dirinya. Ayahnya selalu saja seperti itu, melibatkan dirinya agar terbiasa nantinya.


___________


Malam tiba, Shasha sudah siap dengan acara makan malam yang diadakan oleh klien Ayahnya. Disalah satu restoran yang letaknya juga tak terlalu jauh dari kediaman Pak Hilmi.


Kali ini bukan dirinya maupun Rayyan yang berkendara, melainkan supir pribadi milik Shasha yang sudah lama ambil cuti. Kebetulan sekali hari ini ia sudah kembali dan langsung mengajukan dirinya untuk mengemudi mobil Shasha. Karena permintaan pria itu, Shasha tak menolaknya sedikitpun, membiarkan supirnya membawa mobilnya.


Mobil yang dibawa telah sampai ditujuan. Tak ada kendala sedikitpun yang terjadi selama diperjalanan. Mereka sampai tepat waktu. Entah tujuan utama mereka apa sampai mengundang sekeluarga untuk makan malam bersama. Biasanya Hanya kedua orang tuanya dan Shasha saja yang datang ke acara makan malam.


"Selamat malam Tuan Daffa serta keluarga…" sapa Pak Hilmi saat mereka semua telah berkumpul. Dari keluarga Pak Hilmi, hanya ada istri dan kedua anak lelakinya yang pagi tadi bertemu dengan Shasha.


"Malam…" Daffa menyambut uluran tangan Pak Hilmi. Membalas jabatan tangan pria yang menjadi klien nya itu.


"Silahkan duduk" suruh Pak Hilmi mempersilahkan. Membuat seluruh keluarga Daffa sontak mengikuti apa yang Pak Hilmi katakan.


"Silahkan dipesan makanan nya" suruh Pak Hilmi kembali. Memanggil seorang waiter untuk mendata apa yang akan mereka pesan.


Mereka mengangguk setuju. Memesan makanan apa yang akan ia makan. Untuk Shasha sendiri, gadis itu lebih memilih makanan bertema vegetarian karena tak berani makan makanan yang berlemak, apalagi di malam hari.


Tepat di depan Shasha, ia berhadapan langsung dengan Sadam yang terus memperhatikan gerak-geriknya. Hal itu yang membuat Shasha sedikit merasa tak nyaman. Selesai memesan makanan nya, Shasha mengembalikan buku menu yang tadi ia pegang kepada waiter. Tersenyum dan berucap terima kasih karena bersikap sangat baik.


"Sha!" Siempu namanya menoleh ketika namanya dipanggil. Menatap bertanya mengapa pria itu memanggilnya.


"My Sweety gak diajak?" Sedikit berbisik, Renaldi, pria itu bertanya pada Shasha. Tak terlalu berani untuk terbuka jika sedang kumpul bersama.


Shasha terkekeh. Ingin tertawa kepas karena Renaldi selalu berhasil membuatnya tertawa. "Alma di Turki. Lagi pulang kampung" bisik Shasha mengikuti gaya bicara Renaldi. Memajukan sedikit kepalanya agar bisa didengar oleh pria itu.


"TURKI?!!" Seorang Renaldi tetap saja sama, akan selalu bersikap semena-mena, apalagi jika ia terkejut. Berteriak karena Shasha mengatakan Alma sedang di Turki. Seluruh atensi teralihkan, menatap heran pada Renaldi yang tiba-tiba berteriak. Bukan hanya kedua keluarga yang melihatnya, melainkan seisi restoran menatap heran pria itu.


"Kenapa, Dek?" Tanya sang Ibu yang sama herannya seperti yang lainnya. Buru-buru Renaldi menggeleng, tanda dirinya tak mengapa disertai dengan senyum tanpa dosa yang selalu ia pasang ketika melakukan kesalahan.


Renaldi kembali menatap Shasha. "Kok pulang kampung ke Turki?" Bisik pria itu kembali. Menatap Shasha penuh harap supaya pertanyaan segera dibalas.


"Mama nya Alma kan asli Turki. Dia lagi balik ke sana,"


"Jadi, aku gak bakalan kasih tau di mana alamat rumah Alma." Sambung Shasha. Bersedekap dada dengan wajah sedikit sinis agar pria yang berada di sebrangnya kembali berteriak.


"Tidak…" ternyata dugaannya salah, pria itu malah merengek tak jelas di depan Shasha. Bahkan Sadam yang melihatnya pun langsung menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, terlalu malu mengatakan bahwa Renaldi adalah adiknya.