SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 17



Banyak kendaraan dari arah yang berbeda-beda datang ke tempat yang sama, yaitu menuju kediaman salah satu pemilik perusahaan yang berdiri di Indonesia.


Salah satunya adalah kendaraan Shasha yang melaju menuju kediaman Kakeknya. Di dalam mobil, tangisnya masih terjadi namun tak seperti sebelumnya yang sangat membrutal. Rayyan menoleh ke arah sang Kakak yang sedari tadi membisu.


Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuannya. Sudah banyak sekali kendaraan terparkir di sana yang membuat Rayyan sedikit kesulitan untuk memarkirkan mobil yang ia bawa.


"Kakak turun duluan." Ucap Shasha yang langsung menekan tombol central door lock secara manual yang berada di dinding pintu mobilnya. Meninggalkan Rayyan seorang diri yang tengah kesulitan memarkirkan mobil milik Kakaknya.


Sekencang mungkin Shasha berlari menuju ruang utama, di mana sudah banyak orang yang datang berkerumunan di tempat itu.


Sampai di depan pintu, tubuhnya melemas. Di sana, banyak keluarga serta kerabat berdatangan. Kaki Shasha kembali melangkah ketika menemukan sang Ibu yang sedang memeluk Neneknya.


Shasha langsung duduk di samping Kirana-sang Nenek yang masih menagis tersedu-sedu. "Nek…" lirih Shasha memegang bahu Neneknya. Yang dipanggil menoleh, ia menatap sendu cucu pertamanya.


Tangan Shasha terbuka lebar dan langsung memeluk Neneknya. Saling menguatkan satu sama lain. Al-Fira, Grandma nya pun ikut menghampiri mereka dan memberikan semangat untuk Kirana.


Lagi-lagi ada hal yang membuatnya amat menyesal, yaitu tak bisa datang tepat waktu dan melihat Kakeknya untuk terakhir kalinya. Seluruh keluarga serta kerabatnya telah mengantarkan sang Kakek ke tempat peristirahatan terakhirnya, termasuk Ayahnya.


Di ambang pintu masuk, Rayyan baru selesai memarkirkan mobil yang ia bawa. Menatap ke sekelilingnya hingga ia menangkap sosok wanita yang berasal dari keluarganya. Perlahan Rayyan mendekat, namun belum sampai ia sudah dihalangi oleh kedua wanita di depannya.


"Ngapain masuk? Sana nyusul yang lain!!" Suruh salah satunya dengan berdecak pinggang.


Rayyan yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas. Ia bergeser sedikit untuk menghindari keduanya, namun dengan segera mereka kembali menghalangi jalan Rayyan.


"Apa mau lo?" Dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Rayyan bertanya.


"Bantu Ayah di sana. Yang cewek-cewek di sini aja!" Suruhnya kembali.


"Nanti gue nyusul" ucap Rayyan kembali bergeser. Seperti sebelumnya, gerakan Rayyan dibuat terhenti oleh kedua wanita di depannya. Dengan kompak mereka menghalangi jalan Rayyan. Tatapan mereka seperti menantang seolah ingin ucapan mereka dituruti.


"Dhira, Cyra gak lucu. Minggir gak?!" Protes Rayyan sudah mulai tersulut emosi. Ya, Nadhira dan Cyra lah yang menghalangi jalan Rayyan. Mereka terus meminta agar Rayyan membantu para pria yang sedang berada di makam untuk mengubur jenazah Kakeknya.


Baik Nadhira maupun Cyra menggeleng kompak. Mereka tetap tak mengizinkan Rayyan untuk masuk lebih dalam dan menghampiri yang lainnya. Akhirnya Rayyan menyerah dan berbalik badan untuk mengikuti kemauan kedua adiknya. Saat berbalik, Rayyan menemukan Ghibran, Arkhan serta Alma yang memang berniat menyusul sebelumnya.


Alma menunduk dan langsung melenggang masuk menghampiri yang lain. Rayyan, Ghibran dan Arkhan saling berpandangan sebentar sebelum Ghibran bertanya, "Mau kemana?" Tanyanya.


"Makam" balas Rayyan singkat, padat dan jelas. Kakinya kembali melangkah keluar diikuti oleh Ghibran dan Arkhan.


Langkah ketikanya terhenti ketika mendengar suara pekikan orang-orang. "Sha!!!" Atensi seluruhnya langsung tertuju pada sumber suara. Mendengar nama Kakaknya disebut, Rayyan, Nadhira dan Cyra berbalik menatap ke arah kerumunan.


Di belakangnya, ada Ghibran serta Arkhan yang juga menghampiri kerumunan. Satu persatu orang-orang yang berkerumun Rayyan dorong untuk memudahkan jalannya masuk ke dalam kerumanan tersebut.


Benar saja, Shasha terbaring di atas pangkuan sang Ibu yang mencoba untuk membangunkannya. Kania mendengak ketika menyadari Rayyan ada di sana. "Bantu Bunda, Rayyan. Kayaknya Shasha terlalu banyak pikiran!!" Pinta Kania yang masih terkejut karena Shasha pingsan. Padahal, inilah yang sering terjadi pada Shasha jika sedang tertekan, kelelahan ataupun banyak pikiran.


Ghibran ikut melangkah maju, ia sudah siap dengan posisinya yang ingin membantu Rayyan mengangkat Shasha. Tatapan tajam dari Rayyan langsung mengarah pada Ghibran. "Pergi, gue bisa sendiri!" Surunya dengan tatapan yang amat menusuk. Tak membiarkan siapapun menyentuh sang Kakak.


Ghibran menurut, ia mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya. Ia sadar sudah terlalu lancang menyentun yang bukan mahram nya. Arkhan menyenggol lengan Ghibran lalu meledeknya karena ditolak oleh Rayyan untuk membantu mengangkat Shasha.


Dengan kedua tangannya, Rayyan membawa Shasha dalam gendongannya ala bridal style. Membawa Kakaknya yang tengah pingsan ke dalam kamar kedua orang tuanya yang berada di rumah Kakek dan Nenek mereka. Karena kamar kedua orang tuanya berada di lantai bawah, sedangkan kamar milik Shasha di lantai atas yang membuatnya lebih lama sampai di lantai atas.


Di belakangnya, ada sang Ibu-Kania yang mengikuti Rayyan dari belakang. Nadhira dan Cyra pun ikut bersama mereka. Alma hanya memperhatikan mereka dari jauh. Ia tak berani memasuki lebih dalam rumah milik Kakek dan Neneknya Shasha.


Alma lupa, Shasha memiliki kondisi fisik yang lemah hingga mudah terkena penyakit. Karena dahulu ia sempat dinyatakan telah meninggal oleh ahli medis. Oleh karena itu, di kesempatan kedua dalam hidupnya ini, Shasha harus pandai-pandai menjaga kesehatan dirinya. Namun sepertinya hari ini Shasha melupakan hal itu hingga membuatnya jatuh pingsan.


Perlahan tubuh Rayyan menghilang dari pandangannya karena pria itu sudah berbelok masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Rayyan meletakkan Kakaknya di atas ranjang. Membenarkan posisi Shasha yang awalnya tak benar.


"Dhira atau Cyra tolong ambilin Bunda minyak kayu putih" pinta Kania pada kedua anaknya.


"Siap Bunda" balas keduanya yang selalu kompak seperti sepasang anak kembar. Sampai orang yang pertama kali melihat mereka tak ada yang bisa membedakan wajah keduanya karena mereka memang seperti anak kembar. Jarak keduanya juga begitu dekat, yaitu satu tahun dan tingginya tak berbeda jauh.


Keduanya berjalan meninggalkan kamar orang tuanya untuk mencari apa yang Ibunya minta. Tak lama mereka kembali dengan memegang apa yang Kania minta lalu memberikannya pada Ibu mereka.


Kania mengoleskan minyak kayu putih dibeberapa bagian tubuh anaknya seperti di telapak tangan dan kakinya.


"Bunda kita keluar ya?" Izin Nadhira dengan menggandeng tangan adiknya. Meminta izin agar mereka bisa kembali ke tempat semula mereka.


Perlahan Kania mengangguk. "Bunda juga mau keluar sebentar jagain Nenek sampe Ayah pulang. Nanti kalau Ayah udah pulang Bunda ke sini lagi. Rayyan jaga Kakaknya sebentar, ya?" Rayyan mengangguk setuju. Tak masalah ia ditinggal seorang diri untuk menjaga Kakaknya. Lagipula ia tak terlalu menyukai keramaian.


"Iya Bunda"


Kania tersenyum. Perlahan mendekati Rayyan dan mengusap puncak kepala anak keduanya dan menngecupnya sebentar. "Makasih sayang" ucap Kania sebelum meninggalkan Rayyan. Rayyan tersenyum ketika mendapatkan perhatian lebih dari sang Ibu.


Setelah Kania keluar dari dalam kamar, tatapannya kembali ke arah Shasha. Manatap Shasha yang terlihat sedikit pucat. "Ternyata lu gak sekuat yang gue kira,"


Tangan kekarnya meraih kepala Shasha dan mengelus Kakaknya dengan sayang. "Tapi kenapa gue selalu kalah telak dari lu?"