
Tugas kantor hari ini benar-benar membuatku lelah!
Dan ya, seminggu yang lalu, tepatnya sebulan setelah kami berkencan di pinggir sungai Wester, Aoyama mengambil cuti untuk kembali ke Jepang, karena ada urusan keluarga yang mendadak.
Aku sendiri sekarang...
Tidak ada laki-laki tampan yang selalu masuk ke ruanganku sesuka hatinya, hanya untuk menawarkan kopi kepadaku.
Aku tersenyum mengingat Aoyama.
Beberapa jam yang lalu, dia menghubungiku, hanya untuk menanyakan apakah aku sudah minum kopi hari ini? Hahahaha!
Dan Young Joon, malam itu adalah komunikasi terakhir kami.
Entahlah, pekerjaan di kantor akhir-akhir ini, membuatku benar-benar tidak memberiku kesempatan untuk memikirkan hal lain selain berkas yang menumpuk di mejaku saat ini.
Ketika salah satu karyawan masuk ke ruanganku untuk memberiku segelas kopi, aku kembali merasakan mual yang begitu hebat!
Sudah lebih dari seminggu aku merasakan hal tidak nyaman seperti ini, hingga Lily, karyawan itu menegurku.
"Wajahmu selalu semakin terlihat pucat dari hari ke hari, nona Lie." Ujarnya setelah meletakkan gelas berisi kopi di meja kerjaku
"Eh?" Aku menatap wajahnya
"Ku pikir kau harus segera memeriksakan dirimu ke rumah sakit. Jangan tersinggung, aku hanya khawatir kepadamu. Karena kami semua menyukaimu." Lily terdengar hati-hati sekali ketika mengatakan itu.
Aku tersenyum kepadanya
"Terima kasih banyak, sayang... Aku sangat bahagia atas perhatianmu. Kembalilah bekerja, aku akan memikirkan saranmu tadi." Kataku seraya tersenyum kepada Lily.
"Baiklah, aku permisi dulu, nona. Jangan lupakan saranku barusan." Katanya, kemudian berlalu
"Tentu saja!" Aku kembali menatap layar komputer, namun aku tidak sedang memeriksa data disana, melainkan memikirkan kata-kata Lily tadi.
Ku raih tasku yang ku letakkan tidak jauh dari komputerku, dan ku keluarkan Compact powder yang selalu tersedia disana.
Aku menatap bayangan wajahku di kaca yang terdapat pada Compact powder itu.
Benar apa yang dikatakan Lily!
Wajahku benar-benar pucat! Bukankah aku selalu memulas wajahku dengan make up sebelum pergi bekerja, setiap harinya?
Aku selalu menggunakan bedak dan lipstick dengan warna seperti biasa.
Hanya saja... Ku pikir aku akan ke rumah sakit sekarang juga. Mengingat, aku telah merasakan ada yang tidak beres dengan diriku beberapa hari ini.
Aku menghubungi Lily melalui sambungan telepon yang ada di ruanganku, dan menyuruhnya untuk menemuiku sekarang juga.
'Tok... Tok... Tok...!'
Itu pasti Lily!
"Masuklah." Kataku mempersilakan, kemudian Lily segera masuk, dan berdiri di depan meja kerjaku.
"Ada apa, nona Lie?" Lily terlihat mengkhawatirkanku.
"Aku akan melakukan saranmu sekarang, dapatkah aku mempercayaimu untuk mengurus semuanya, hari ini?" Pintaku. Lily tersenyum
"Serahkan itu padaku, nona! Kau dapat mempercayaiku!" Lily terlihat percaya diri
"Baiklah, aku akan pergi sekarang." Kataku kemudian meraih tasku, lalu beranjak dari kursiku.
"Semoga tidak ada yang serius, nona." Lily kembali mengkhawatirkanku.
Aku menepuk pelan bahunya dan tersenyum.
"Aku akan baik-baik saja, dan kembali bekerja." Ucapku, kemudian berlalu.
*********************
Aku telah berada di ruangan dokter spesialis penyakit dalam, dan berkonsultasi dengan seorang dokter yang berusia sekitar 40 tahunan, yang kini sedang menganalisa keluhan ku.
"Sudah berapa lama kau mengalami gejala ini, nona Lie?" Tanya dokter itu ramah.
"Aku tidak tahu secara pasti, hanya saja, ini mulai sangat mengganggu sejak beberapa hari terakhir." Kataku.
Dokter menatap catatannya, kemudian menatapku.
"Ku pikir, kau harus menemui dokter Sophia." Dokter menatapku dengan tatapan serius
"M-maksudmu?" Tanyaku sedikit heran
"Bawalah ini, ketika kau menemui dokter Sophia di poly kandungan." Dokter Emma menyerahkan secarik kertas kepadaku.
Jantungku seketika berhenti berdetak, mendengar dokter Emma menyarankan ku untuk menemui dokter kandungan!
Aku keluar dari ruangan dokter Emma dengan lemas.
Aku menatap tulisan dokter tersebut, tanpa mengetahui apa yang dia tulis disana.
Aku segera pergi ke meja perawat, untuk menyampaikan pesan dari dokter Emma.
"Ah, kebetulan pasien terakhir baru saja keluar, anda dapat segera menemuinya di Poly kandungan, yang berada tepat di sisi sebelah kanan ruangan dokter Emma." Perawat tersebut menunjukkan arah ruangan dokter Sophia dengan ramah.
"Ah, terimakasih." Aku tersenyum kepadanya, kemudian berjalan menuju tempat yang perawat tadi tunjukkan.
********************
Dokter Sophia, dia menatap kertas dari dokter Emma, yang ku berikan kepadanya.
"Kapan siklus haid terakhirmu?" Katanya seraya menatapku.
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Karena jujur saja, aku bahkan tidak terlalu memperhatikan periode datang bulanku, mengingat jadwal pekerjaanku yang begitu padat.
"I-itu...."
"Bagaimana dengan kehidupan sex mu?" Ucapnya lagi.
Aku menatap dokter Sophia yang saat ini tengah mencatat sesuatu.
"Apakah kau masih melakukan sex aktif? Dan kapan terakhir kali kau melakukannya." Dr. Sophia kini menatapku.
"Hampir dua bulan yang lalu." Jawabku dengan suara yang cukup bergetar.
Dokter Sophia segera mengajakku untuk berbaring di atas ranjang yang tidak jauh dari meja kerjanya.
Dia memintaku untuk sedikit membuka bajuku, agar dapat memeriksanya, dengan alat setelah mengoleskan gel dingin di atas perutku.
Dia memutar alat tersebut di atas perutku, seraya menatap ke arah layar yang ada di hadapan kami.
"Baiklah! Kita sudah selesai disini." Dr. Sophia menatapku seraya tersenyum. Dan kembali membersihkan sisa gel di atas perutku dengan tissue.
Dr. Sophia kembali ke mejanya, kemudian mengambil kertas yang menyembul dari sebuah mesin yang terletak di samping komputernya. Aku kembali menuju kursi yang berada di depan mejanya.
"Selamat! Ini sudah berusia 8 Minggu!" Senyum Dr. Sophia sumringah sekali! Berbeda dengan saat awal dia memeriksaku.
Aku menelan ludah samar ketika mendengar penjelasannya.
Jantungku seakan berhenti berdetak
"Mak-maksudmu?" Aku memastikan
"Kau sedang mengandung, dan usia kandunganmu 8 Minggu!" Dokter Sophia kembali mengembangkan senyumnya.
Dan aku... Aku tersenyum getir...
***************************
Aku keluar dari ruangan Dr. Sophia dengan langkah gontai, dan tatapan kosong.
Bagaimana ini bisa terjadi?!
Oh tuhan...
Aku membuka isi map yang Dr Sophia berikan, sesaat sebelum aku pergi, di kursi kemudiku. Melihat daftar analisa, resep obat, dan juga... Sketsa anakku melalui hasil USG.
Air mataku meleleh begitu saja melihat gambaran makhluk, yang saat ini sedang bernafas di dalam tubuhku.
Apa yang harus ku lakukan kepada makhluk ini? Bahkan aku tidak mengetahui secara pasti, siapa ayah dari anak ini!
*******************
Aku telah membuka pintu apartemenku, bahkan aku tidak mengetahui secara pasti, apa aku telah menutup pintu itu, ketika aku masuk tadi! Pikiranku benar-benar kacau saat ini!
Aku langsung bergegas menuju kamarku, dan melempar map yang Dr Sophia berikan kepadaku, kemudian bersimpuh di samping ranjang.
Aku menangis sejadi-jadinya...
Bahkan aku meraung-raung disana...
Betapa hancurnya diriku saat ini!
Aku, Jennifer Elizabeth Lie, seorang janda yang sedang mengandung, namun tidak mengetahui secara pasti, siapa ayah dari janin yang sudah tertanam di rahimku!
Aku sempat berpikir untuk bunuh diri!
Yeah!
Aku akan mengambil pisau dapur, kemudian mengiris urat nadiku!
Biarlah!
Anak ini tidak boleh terlahir dengan status yang rumit!
Benar!
Aku akan membawa anakku bersamaku ke akhirat!
Saat aku berdiri, betapa terkejutnya aku, melihat sosok laki-laki yang saat ini sedang melihat isi map yang ku lempar ke atas ranjang tadi!
Park Young Joon!
Bagaimana dia bisa masuk!
Bukankah.... Ya tuhan! Aku mungkin lupa menutup pintu apartemenku!
"A-apa yang kau lakukan disini!" Kataku kemudian menyambar benda yang saat ini sedang dipandanginya.
Namun dia dengan sigap menghalaunya.
Dia menatapku dengan tajam!
"Menikahlah denganku!" Matanya berkaca-kaca
"APA MAKSUDMUUUU!!!" Aku berteriak kepadanya, dan dia segera meraih kedua bahuku!
"Kembalilah kepadaku, kita dapat memulainya dari awal! Kita akan merawat anak kita..."
"AKU BAHKAN TIDAK MENGETAHUI SIAPA AYAH DARI ANAK INI!!!" Aku menghempas tangan Young Joon, dan kembali bersimpuh.
Aku menangis sejadi-jadinya.
Dapat ku lihat sekilas, Young Joon terbelalak mendengar pengakuanku!
"A-apa maksudmu?" YoungJoon bersimpuh di hadapanku, kemudian meraih kedua bahuku.
"KATAKAN KEPADAKU, APA MAKSUDMU!!!" Young Joon berteriak kepadaku seraya mengguncangkan bahuku, dan menatap wajahku tajam.
Aku menatap wajah Young Joon, dan tersenyum getir.
Mata Young Joon berkaca-kaca.
"Aku... Tidur dengan Aoyama, seminggu setelah kita tidur bersama..." Kataku lirih.
Air mata Young Joon menetes, dia melepaskan tangannya dari bahuku, dan tertunduk lemas.
"Pergilah... Jalani hidupmu dengan baik... Aku dapat mengurus ini sendiri." Kataku lirih.
Young Joon menatapku dengan tatapan kecewa, dia menghapus air matanya, kemudian menghapus air mataku, lalu memelukku.
"Tidak peduli, siapa ayah dari anak ini. Bagiku, dia adalah anakku... Walaupun pada kenyataannya, dia bukanlah anakku, dia tetap anakku... Kita akan merawat anak ini bersama-sama..." Aku menangis di pelukan Young Joon...