Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Are You Sure?!



"Kau baik-baik saja?" Young Joon segera memeriksa keadaanku, sesaat setelah melepas sabuk pengamannya.


Dia tidak henti-hentinya memeriksa keadaanku, untuk memastikan, bahwa aku baik-baik saja.


Aku menatapnya... Dia sungguh sangat mencemaskanku.


"Young Joon..." Kataku kepadanya, yang saat ini tengah memegang serta memperhatikan kedua bahuku.


Dia seolah tidak menghiraukan ucapanku, dan ketika aku kembali menyebut namanya, bersamaan dengan itu pula, dia menyentuh daguku.


"Young Joon..." Kataku


Young Joon dengan tangannya yang menyentuh daguku, kini menatapku.


"Aku baik-baik saja..." Ucapku lirih...


"Kau yakin?" Ucapnya meyakinkan


Aku mengangguk samar... Young Joon lagi-lagi mendekatkan wajahnya... Tidak! Aku tidak mengelak sama sekali... Bahkan aku terpejam, seolah mengizinkannya untuk...


'Tiiiiiiiiiiiinnnnnnnnn!!!!'


Aku segera membuka mataku, dan menoleh ke arah belakang, sedangkan Young Joon, dia memejamkan matanya, menahan kesal, kemudian memasang kembali sabuk pengaman, lalu melajukan kembali mobil.


Fiiuuuuhhhhh... Aku mengelus dada, dan tersenyum lega...


Hening... Bahkan sampai mobil berhenti di pelataran parkir apartemen.


Kami bahkan berdiri berjauhan, ketika berada di dalam lift.


Dan ketika kami telah memasuki unit apartemen kami, aku berlari kecil agar sesegera mungkin tiba di kamarku, namun ketika aku baru saja hampir menyentuh kenop pintu kamarku...


"Jenny..."


Suara Young Joon menghentikan langkahku, dia mendekat, dan aku seolah ragu untuk menoleh kepadanya.


"Jenny, aku..."


Aku mengumpulkan keberanian, agar mampu menoleh serta menatapnya.


"Hmmmmm..." Ucapku sambil menatapnya, dengan senyum yang penuh usaha


"Tentang tadi..."


"Young Joon..." Aku segera menyela ucapannya, dan itu membuat Young Joon sedikit melebarkan matanya.


"Agak naif rasanya, jika selama 5 bulan pernikahan kita, kita tidak pernah melakukan apapun, bahkan walau hanya sekedar ciuman." Kataku, dan Young Joon tertunduk.


"Hanya saja..." Ucapanku kali ini, membuat Young Joon kembali menatapku


"Hmmmmm...?"


Hening sejenak, hingga...


"Aku hanya belum siap... Maafkan aku jika kau anggap aku terlalu berlebihan, tapi..."


Young Joon tersenyum ketika aku mencoba untuk menjelaskan. Dia menghela nafas, dan itu membuatku merasa bersalah kepadanya.


"Aku menger..."


Aku segera mengecup pipi kirinya!


"Selamat malam!" Kataku kemudian buru-buru masuk ke dalam kamarku, dan segera menutup pintunya!


Kini aku bersandar di balik pintu kamar, sambil terus menyentuh dadaku, dan berkali-kali menghela nafas kasar!


Aku tersenyum! Bahkan tertawa kecil, sambil berjalan ke arah ranjang, dan membanting tubuhku di atasnya, lalu menenggelamkan wajahku disana...


POV Young Joon


"Menyukai apanya?" Katanya sambil tersenyum menatapnya.


"Maksudnya?" Kataku menoleh sekilas ke arahnya, yang saat ini masih menatapku.


"Menyukai hidangannya, atau orang yang memesankan hidangannya?"


'Ciiiiiiiiiiiiiiitttttt!'


Secara reflek, aku memijak pedal gas!


Terkejut! Sangat! Bahkan aku kembali meyakinkan diriku, bahwa Jennifer benar-benar mengucapkan kata-kata tadi!


Aku segera menoleh ke arahnya, dan melepas sabuk pengamanku, begitu melihat Jenny sedikit meringkuk!


Cemas! Sudah pasti! Aku takut dia terluka akibat kecerobohanku! Dan jika sedikit saja ada luka disana, aku bersumpah, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri!


Aku segera meraih kedua bahunya, untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Aku bahkan tidak menghiraukan dirinya yang berkali-kali menyebut namaku, karena diriku terlalu fokus untuk memastikan keadaannya.


Dan ketika aku meraih dagunya...


"Young Joon... Aku baik-baik saja..." Ucapnya lirih, sambil menatap wajahku.


"Kau yakin?" Kataku memastikan


Jenny mengangguk samar... Ada rasa lega di di hatiku, melihat senyum samarnya, dan... Entah mengapa, menatapnya seperti ini, membuatku ingin sekali mengecup bibir mungilnya...


Aku segera mendekatkan wajahku kepadanya... Tidak! Dia tidak mengelak sama sekali... Bahkan Dia terpejam, seolah mengizinkanku untuk...


'Tiiiiiiiiiiiinnnnnnnnn!!!!'


Siaaalll!!!


Jenny segera membuka matanya, dan menoleh ke arah belakang, sedangkan aku? Aku memejamkan mata, menahan kesal, dan menatap tajam ke arah mobil yang membunyikan klakson tadi, kemudian memasang kembali sabuk pengaman, lalu melajukan kembali mobil.


Jenny mengelus dada, dan tersenyum lega...


Hening... Bahkan sampai mobil berhenti di pelataran parkir apartemen.


Kami bahkan berdiri berjauhan, ketika berada di dalam lift.


Dan ketika kami telah memasuki unit apartemen kami, Jenny berlari kecil agar sesegera mungkin tiba di kamarnya. Dia seolah menghindariku, karena kejadian tadi, ketika dia baru saja hampir menyentuh kenop pintu kamarnya...


"Jenny..."


Jenny menghentikan langkahnya, sekuat tenaga aku melangkah untuk mendekat kepadanya. Jenny seolah ragu untuk menoleh kepadaku.


"Jenny, aku..."


Jenny akhirnya menoleh ke arahku, dengan senyum yang tampak penuh usaha


"Hmmmmm..." Sahutnya


"Tentang tadi..."


"Young Joon..." Jenny segera menyela ucapanku, dan itu membuatku sedikit melebarkan mata.


"Agak naif rasanya, jika selama 5 bulan pernikahan kita, kita tidak pernah melakukan apapun, bahkan walau hanya sekedar ciuman." Katanya, dan aku tertunduk.


"Hanya saja..." Ucapannya kali ini, membuatku kembali menatapnya


"Hmmmmm...?"


Hening sejenak, hingga...


"Aku hanya belum siap... Maafkan aku jika kau anggap aku terlalu berlebihan, tapi..."


Aku tersenyum ketika Jenny mencoba untuk menjelaskan. Aku menghela nafas, dan itu membuatnya terlihat murung


"Aku menger..."


JENNY MENGECUP PIPIKU!!!


"Selamat malam!" Katanya kemudian buru-buru masuk ke dalam kamarnya, dan segera menutup pintunya!


Mataku terbelalak! Dadaku nyeri, bahkan lututku melemas seketika!


Aku segera menyentuh dinding, untuk menopang tubuhku!


Tanganku kini berpindah dari dari dada, menuju pipi...


Pipi ini... Pipi yang baru saja Jenny kecup... Pipi yang... Aaaahhhhh...


Langkahku gontai menuju kamarku... Aku bahkan bertanya kepada diriku sendiri saat ini, apakah aku akan tidur nyenyak malam ini? Atau mungkin sebaliknya?


*******************************


Seminggu setelah kejadian malam itu, William salah seorang temanku kantorku dulu, yang kini bertugas di kantor cabang kami di Amerika, menghubungiku.


"Hey, Will, bagaimana?" Sahutku penuh semangat di seberang sini.


"Aku telah mengirimkan gambarnya melalui surel!" Katanya lagi


"Aaahh... Baiklah! Terima kasih banyak, Will!"


"Tentu saja! Tapi, sayang sekali, aku akan di pindah tugaskan begitu kau tiba disini." Katanya dengan nada kecewa


"Maksudmu?"


"Yeah... Tugas penting menantiku di Polandia!"


"Aaahh.. Baiklah... Jaga dirimu baik-baik, bung! Terima kasih atas bantuanmu!"


Panggilan terputus, dan aku segera memeriksa surelku.


Aku tersenyum begitu membuka surel yang dikirim oleh William!


Begitu banyak model rumah yang sepertinya akan Jenny sukai!


Yeah! Tiga hari yang lalu, aku mengirimi William pesan untuk meminta bantuan kepadanya.


Aku meminta rekomendasi darinya, untuk memilih hunian nyaman, yang akan aku dan Jennifer tempati di Amerika nanti!


Aku segera mencetak gambar-gambar itu, berniat untuk menunjukkannya kepada Jennifer, dan berharap dia menyukainya!


*****************************


"Georgetown?" Katanya sedikit mengerutkan kening, ketika menatap gambar model rumah yang ku cetak siang tadi di kantor.


"Hhmmm... Mengapa?" Kataku, kemudian duduk di sampingnya, ikut menatap gambar yang saat ini dia lihat.


"Pantas saja!" Katanya kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa, seolah malas menatap gambar itu.


"Pantas saja, kenapa?" Aku menatapnya heran


"Pantas saja rumah-rumahnya terlihat mahal!" Ucapnya sambil memajukan bibirnya.


"Lalu?"


"Itu kawasan kalangan atas, dan..."


"Aku kan hanya meminta pendapatmu... Toh aku tidak akan membeli itu untukku." Aku segera menyela ucapannya.


Ada guratan kecewa di wajah Jenny...


"Oohhh... Lalu, untuk apa kau menunjukkan ini kepadaku?" Ucapnya ragu.


Aku tersenyum, kemudian mengusap puncak kepalanya, lalu kembali menunjukkan gambar itu kepadanya.


"Ini, jika kau harus memilih, rumah mana yang akan kau pilih, untuk kau tinggali?" Kataku kepadanya.


Jenny menatapku, serta gambar itu secara bergantian, lalu akhirnya mengambil gambar itu dariku, dan menunjukkan sebuah gambar rumah bergaya American Minimalis.



"Ini tidak terlalu besar, aku menyukai rumah yang tidak terlalu besar." Katanya kemudian menatapku.


Aku mengangguk samar.


"Baiklah!" Kataku kemudian beranjak dari sofa.


"Uummm, Young Joon..."


"Ya..." Aku menghentikan langkahku, kemudian menoleh ke arah Jennifer.


Jennifer tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Ummm... Begini... Tentang kuliahku..."


Aku segera menghampirinya.


"Ada apa?"


"Uummm... Ada beberapa data yang harus kau isi." Ucapnya ragu.


Aku tersenyum...


"Baiklah!"


********************


Jenny telah memilih salah satu rumah, itu tidak buruk! Toh, aku juga menyukainya!


Malam itu juga, aku segera mengirim surel ke perusahaanku, untuk membantuku mendapatkan rumah tersebut, karena menurut pengalaman, jika perusahaan, terlebih perusahan besar yang menangani, itu akan lebih mudah!


3 hari kemudian, beberapa berkas pembelian properti datang ke kantorku. Ah, ya! Aku akan membeli ini atas nama Jennifer! Tapi aku berpikir, bagaimana cara agar Jenny mau menandatangani ini?


Setelah beberapa jam berpikir, akhirnya aku menemukan cara!


Pukul 5 sore, aku telah tiba di apartemanku. Jenny tengah asyik menonton drama Korea.


"Eh, kau sudah pulang?" Katanya, menoleh sekilas, kemudian kembali menatap layar televisi.


"Yeah... Ummm... Jenny." Kataku kemudian menghampirinya.


"Hmmmm...." Sahutnya, kemudian menoleh ke arahku.


"Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Kataku dengan mimik wajah serius.


Jenny segera mematikan televisi, dan fokus menatapku.


"A-apa itu?" Ucapnya penasaran.


Aku menatap wajahnya, masih dengan mimik serius, dan Jenny terlihat semakin penasaran.


"Mengenai data yang kemarin harus ku isi..."


"Ya..." Wajah Jenny tampak sangat serius


Aku segera mengeluarkan berkas pembelian itu kepada Jenny, namun tanpa Jenny tahu, apa isi di dalamnya.


"Kau harus menandatangani ini, dulu..." Kataku meyakinkan


"Oooohhh... Baiklah! Dimana?" Katanya menatap kertas bertuliskan tulisan yang telah ku manipulasi.


"Disini." Kataku menunjukkan satu, per satu tempat dimana dia harus membubuhi tanda tangannya.


"Disini, dan disini." Kataku sambil menatapnya, yang tampak antusias


"Baiklah!"


Selesai! Yeah! Aku mengembangkan senyum, dan Jenny menatapku heran.


"Kau kenapa?" Katanya, membuatku memudarkan senyum.


"Aaahh... I-itu..."


"Kapan kita akan ke Amerika?" Jenny tersenyum menatapku.


Aku kembali termenung, dan kembali menatap bibir mungilnya, lagi...


"Young Joon..."


"Eh... Bagaimana tadi?" Kataku seraya mengusap belakang kepalaku.


Jenny menghela nafas, kesal... Dan aku tersenyum konyol.


"Lu tuh kenapa sih, kalo ngeliatin gw tuh, sampe segitunya banget! Jatuh cinta lu nanti sama gw..."


"Sudah!" Jawabku secara reflek!


Jenny terhenyak! Dia bahkan sampai membelalakkan matanya.


"Ma-maksudku... Kita sudah selesai disini.. Maksudku... Sssshhhhh..." Aku salah tingkah!


"Kita sudah selesai untuk sesi tanda tangannya." Kataku seraya mengusap kepala belakangku.


"Jenny, ku rasa aku mau mandi dulu!" Kataku kemudian segera bergegas.


"Yang benar saja Young Joon!!! Kau membuat jantungku hampir terlepas!!!"


'Buuukkkkk!'


Jenny melemparku dengan bantalan sofa, dan aku langsung masuk ke dalam kamarku, untuk menghindari kemungkinan yang tidak memungkinkan! Hahahaaa