
Siapa yang mengganti pakaianku?
Apa mungkin Clara?
Atau Gina?
Atau...
Apakah mungkin itu Young Joon?
Tapi bagaimana mungkin?
Apa yang terjadi semalam?
Bagaimana caranya aku bisa ada disini?
Apa mungkin Clara yang mengantarku, kemudian mengganti pakaianku?
Atau...
Aoyama???
Tidak mungkin ada yang menyentuhku, karena aku sedang datang bulan!
Aku masih duduk di atas ranjang.
Pikiranku sungguh tak karuan saat ini!
Apa aku harus menanyakannya kepada Young Joon?
Tapi untuk apa! Ya tuhan!
Apa yang harus ku lakukan!
Aku segera turun dari ranjang, kemudian meraih ponselku, lalu bergegas untuk mengambil air untuk minum, agar pikiranku sedikit jernih.
Saat aku membuka pintu kamar, ku lihat Young Joon tengah menonton acara di televisi.
Dia segera menyadari saat aku menatapnya.
"Ah, kau sudah bangun?" Young Joon menyapaku.
Aku hanya tersenyum seadanya, kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil botol air minum di dalam kulkas.
"Aku sudah membuatkan sandwich untukmu!" Young Joon tampak berusaha mengajakku berbicara, saat aku menegukk air minum.
"Terima kasih." Kataku seraya meletakkan botol air minum di atas meja makan, kemudian duduk di kursinya.
Agak ragu untuk menyantap sandwich buatannya, namun Young Joon tiba-tiba menghampiriku, dan duduk di hadapanku.
Aku dapat melihat wajahnya sekilas, matanya terlihat sembab.
Apakah dia habis menangis?
"Makanlah! Aku membuatnya menggunakann hati." Young Joon tersenyum manis sekali.
"Apa kau membelah dadamu dan mengeluarkan itu dari sana, agar dapat membuatkan ini untukku!" Ketusku, kemudian akhirnya menyantap sandwich buatannya.
Young Joon tertawa mendengar ucapanku barusan.
Omong-omong, sandwich buatan Young Joon ternyata enak!
Aku tersenyum saat menyantapnya, dan Young Joon menyadari itu.
"Bagaimana? Apakah itu enak?" Young Joon tampak bersemangat sekali mengatakan hal itu!
Aku segera melenyapkan senyum di bibirku
"Bukankah rasa semua sandwich itu sama saja! Jangan terlalu berlebihan!" Ketusku lagi.
Young Joon nampak menghilangkan senyumnya tadi.
Aku berpikir, apakah harus bertanya kepadanya tentang semalam, hingga...
"Semalam!"
Kami mengucapkannya secara bersamaan!
Ini membuat kami menjadi sedikit salah tingkah!
"Kau dulu..." Young Joon mempersilahkan aku
"Umm... Semalam, apakah Clara dan Gina mengantarku kesini?" Tanyaku ragu.
Young Joon tampak berpikir sebelum menjawab ku.
"Sebenarnya... Aku yang menjemputmu kesana." Young Joon menatap wajahku.
"Maaf... Aku begitu lancang mengindahkan peringatanmu, namun..." Young Joon menatap wajahku dalam.
"Berikan aku waktu untuk dapat benar-benar tidak peduli lagi kepadamu." Raut wajah Young Joon benar-benar terlihat sedih sekarang.
Aku segera melahap habis sisa sandwich, kemudian meminum air dari botol yang ku bawa dari dalam kulkas tadi.
"Jadi, kau..."
"Ya, aku yang mengganti bajumu." Young Joon nampak sedikit berhati-hati ketika mengatakannya.
Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut mendengar pengakuannya, hanya saja...
"Apa yang kau lakukan kepadaku semalam?" Selidikku, seraya menatap wajahnyadalam.
Young Joon tidak langsung menjawab pertanyaanku, namun membalas tatapanku.
"A-aku melucuti pakaianmu, kemudian menggantinya dengan yang baru, dan..." Young Joon nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Dan apa?" Aku sangat penasaran.
Lagi-lagi Young Joon tidak langsung menjawab pertanyaanku, dan benar-benar membuatku penasaran setengah mati!
"Tentu saja aku kembali ke kamarku! Ayolah, Jenny! Aku sedang terlelap ketika pihak diskotek meleponku!" Jawaban Young Joon benar-benar membuatku ingin sekali meninju wajahnya!
"Apa kau yakin, tidak melakukan hal yang menjijikkan?" Selidikku seraya memicingkan mata, Young Joon terlihat heran
"Heeeyy! Memangnya apa yang dapat dilakukan kepada wanita yang tengah datang bulan! Aku ini pria normal" Young Joon terlihat kesal sekali!
Aahh... Setidaknya aku merasa sedikit lega. Ponselku tiba-tiba bergetar, aku segera memeriksanya.
Ah! Notifikasi dari media sosial! Aku segera membuka media sosialku
'Mitsugi Aoyama mengikutimu' disusul oleh notifikasi kotak masuk. Aku segera membuka kotak masukku, Aoyama mengirimiku pesan disana
Mitsugi Aoyama : hey, Jenny! Apa yang sedang kau lakukan?
Aku segera membalas pesannya
Jenny Lie : aku baru saja menyelesaikan sarapanku, dan kau sendiri?
Mitsugi Aoyama : aku sedang memikirkan cara untuk mengajakmu berkencan sebelum keberangkatanku ke Jerman besok!
Kata-kata Aoyama membuatku tertawa, hingga menatap wajah Young Joon sekilas!
Young Joon tampak kesal sekali melihat tingkahku, kemudian aku menatapnya
"Mengapa kau menatapku seperti itu!" Ketusku
"Caramu tertawa tampak seperti seorang gadis yang sedang diajak berkencan oleh seorang pria..."
"Memang!" Jawabku, lalu meneguk sisa air dalam botol sampai habis, kemudian kembali menatap Young Joon yang terlihat sangat terkejut.
"Tidakkah sedikit saja kau dapat menjaga perasaanku sebagai..."
"Mantan suami!" Aku segera menyela ucapannya.
Young Joon terlihat terpukul mendengar kata-kataku tadi, kemudian aku segera bangun dari tempat dudukku, dan beranjak meninggalkannya.
Aku menyadari suatu hal dan menghentikan langkahku.
"Setidaknya, aku berkencan dengan seseorang, ketika statusku sudah bukan lagi milik orang lain!" Aku kembali melanjutkan langkahku.
************************
"Hey! Aku selalu menginginkan bisa seperti itu!" Kataku seraya menunjuk ke arah arena ice skating yang berada di dalam mall ini.
"Benarkah? Ayo kita coba!" Aoyama menatapku dengan penuh semangat, membuatku menjadi sedikit kebingungan
"Eh?" Aoyama langsung menarik tanganku menuju pintu masuk arena.
Aoyama memintaku untuk menemuinya sebelum keberangkatannya ke Jerman besok, melalui kotak pesan media sosialku.
Tadinya dia mau menjemputku di apartemen, namun aku menolaknya, dengan alasan mau mengunjungi temanku dulu karena suatu urusan.
Aku melakukannya karena ingin menjaga perasaan Young Joon...
Aku hanya tidak ingin terlihat seperti sedang membalas perbuatannya!
********************
Aku dan Aoyama telah berada di arena ice skating.
Aoyama berdiri di hadapanku, seraya menggenggam erat kedua tanganku.
Aku sangat tegang sekali, karena ini adalah pengalaman pertamaku disini!
"Relaks saja! Ikuti gerakanku, dan terus genggam tanganku." Aoyama memberiku instruksi.
Aku mengangguk dengan ragu.
"Ayolah, Jenny! Aku tidak akan membuatmu terjatuh!" Aoyama meyakinkanku seraya tertawa, dan akupun tertawa
"Aku hanya sedikit gugup." Kataku
"Santai saja, pelan-pelan." Ujar Aoyama kemudian mulai meluncurkan kakinya perlahan, dan aku mengikutinya.
Aku akhirnya mulai sedikit terbiasa, hingga tidak terlalu Merasakan ketegangan.
"Bagaimana kalau kita mencoba dengan satu tangan?" Aoyama menatap mataku untuk meminta persetujuan dariku, aku sedikit ragu untuk menjawabnya
"Ba-baiklah..." Jawabku ragu, kemudian Aoyama melepas tangan kirinya, dan kami mulai meluncur dengan sangat hati-hati!
Lebih hati-hati dari sebelumnya!
Wajah Aoyama terlihat sangat tegang, berbeda dengan saat kami meluncur dengan dua tangan saling menggenggam.
"Kau yakin? Kita bisa meluncur seperti tadi jika kau merasa tidak nyaman." Kataku menyarankan
"Tenang saja, aku.... "
'Buuuuggghhh!'
Aoyama terjatuh, disusul oleh diriku, namun Aoyama dengan sigap menarik tubuhku, dan membiarkannya terjatuh tepat di atas tubuhnya.
Aku segera bangun, dan menggeser tubuhku ke sisi sebelah kanannya.
"Maaf..." Aoyama terdengar merasa bersalah.
Sejujurnya aku merasa serba salah sekarang, apakah aku harus merasa kesal kepadanya, atau berterima kasih
"Kau tadi bilang, tidak akan membuatku terjatuh." Sinisku.
Aoyama bingung mau menjawab apa, hingga tiba-tiba, seorang anak perempuan yang berusia sekitar 7 tahunan meluncur di hadapan kami, dan terus menatap kami, seolah mengejek kami!
Bahkan anak seusia itu, sudah mahir sekali meluncur diatas sini!
Sedangkan aku? Aku menatap Aoyama yang juga menatap anak tadi.
Aoyama akhirnya menatapku, dan kami tertawa setelahnya!
"Maafkan aku..." Aoyama masih merasa bersalah
"Tidak apa-apa, santai saja." Kataku menenangkannya seraya tersenyum
"Sebenarnya..." Aoyama tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya
"Hmmmmm...?" Aku mengisyaratkannya untuk melanjutkan kata-katanya
"Aahh... Itu..." Aoyama tertawa konyol, seraya mengusap-usap belakang kepalanya, mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Sebenarnya ini adalah pertama kalinya aku main ice skating." Ucapnya.
Aku sangat terkejut mendengar pengakuannya! Aoyama lalu menatap wajahku merasa bersalah.
"Aku selalu ingin mencoba hal baru, entah itu berhasil atau gagal, setidaknya aku telah mencoba! Dan aku tidak pernah menyesali itu." Tatapannya sangat teduh, aku termenung menatap wajahnya.
****************
Kami telah berada di sebuah restoran Jepang, aku yang mengajaknya kesini, untuk menanyakan kepadanya, apakah rasa masakannya sama dengan yang ada di Jepang.
"Ya! Ini hampir mirip dengan yang ada di Jepang!" Aoyama kemudian melahap shabu-shabu, aku tersenyum
"Waaahh, bagus sekali! Karena ini adalah salah satu restoran favoritku!" Kataku kemudian juga menyantap shabu-shabu.
"Benarkah?" Aoyama memastikan, dan aku mengangguk.
"Omong-omong, mengenai malam itu..." Aoyama tampak ragu.
"Aaahh, itu..." Jawabku, kemudian meneguk teh hijau.
"Maaf jika aku tidak mengantarmu untuk pulang." Aoyama tampak merasa bersalah
"Aaahh, tidak apa-apa. Mantan suamiku yang menjemputku. Dia bilang, pihak pub menelponnya." Kataku menjelaskan
"Eh?" Aoyama tampak heran
"Ya, dia mengatakannya saat aku tersadar keesokan harinya." Kataku
"Kurasa, dia mengikutimu." Aoyama menatap wajahku dalam.
Aku sempat memikirkan kata-katanya, kemudian menatap kembali wajah Aoyama
"Maksudmu?" Aku sedikit heran
"Sepertinya dia sudah berada cukup lama disana, dan langsung membawamu pulang setelah melihatmu mabuk berat." Aoyama kembali menjelaskan.
Sejenak aku berpikir, jika benar apa yang Joon katakan, bahwa pihak pub menghubunginya, bagaimana caranya?
Sedangkan ponselku ku letakkan di dalam tas! Dan kalaupun seseorang mengambilnya dari sana, mengapa hanya Young Joon yang dihubungi?
Bukankah banyak sekali nomor di kontakku? Aku kembali menatap wajah Aoyama.
Lalu, bukankah Clara dan Gina juga ada disana...
"Ku rasa dia masih menginginkanmu." Aoyama lalu meneguk minumannya.
"Ya, dia memang masih menginginkanku untuk kembali." Kataku dengan raut wajah yang sedikit murung
"Lalu, apakah kau ingin kembali kepadanya?" Aoyama menatap wajahku untuk memastikan.
"Tidak!" Jawabku dengan pasti, kemudian kembali meneguk teh hijauku.
Dapat ku lihat sekilas, Aoyama terlihat sangat lega mendengar ucapanku barusan.
********************
Kami memutuskan untuk segera pulang, setelah selesai makan.
Dan kami sempat berbincang sebentar, ketika Aoyama mengambil mobilnya melalui jasa parkir mobil, yang tersedia di depan pintu masuk mall.
"Terima kasih untuk hari ini, ini sangat berkesan sekali. Ku pikir, aku akan melalui perjalanan tugas yang membosankan seperti biasa." Aoyama tersenyum seraya menatap wajahku
"Bukankah aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu?" Aku menatap wajah Aoyama sambil tersenyum, Aoyama terlihat heran
"Maksudmu?" Aoyama menaikkan sebelah alisnya
"Aku bahkan tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk bersenang-senang hari ini." Aku tersenyum lebar, dan Aoyama tertawa.
Ah, mobil Aoyama telah tiba di depan pintu masuk mall, kami segera berjalan ke arah sana, sesaat setelah petugas jasa parkir memberikan Aoyama kunci mobilnya.
"Bagaimana, jika aku antar kau pulang?" Aoyama tampak sangat berharap kali ini.
Aku sempat berpikir, ah, kurasa tidak masalah, toh besok dia sudah akan kembali!
"Baiklah...."
"Ayo kita pulang sekarang!" Tiba-tiba seseorang meraih tanganku, dan membawanya bersamanya.
Aku dengan sigap segera melepaskan tanganku darinya.
Orang itu kemudian berbalik.
Park YoungJoon!
Aoyama segera menghampiri kami, dan berdiri tepat di depanku, untuk berhadapan langsung dengan Young Joon.
"Huffftt! Kau lagi! Bukankah malam itu sudah ku..."
"Dia akan pulang bersamaku!" Aoyama menyela ucapan Young Joon seraya menatap wajah Young Joon dengan tajam.
Aku melihat ada taksi disana!
"Aoyama, lain kali saja, ya! Aku pulang sekarang, terima kasih untuk hari ini." Ucapku kemudian berlalu.
Saat aku melangkahkan kakiku, tiba-tiba Aoyama meraih tanganku untuk menahanku. Aku menatap wajahnya, yang masih menatap wajah Young Joon.
"Pulanglah bersamaku, sekarang..." Aoyama menatapku dengan tatapan yang sangat teduh.
"Aku tidak bisa sekarang... Aku akan menghubungimu lagi nanti!" Ucapku kemudian melepaskan tangannya, lalu sedikit berlari ke arah taksi, dan segera masuk ke dalamnya, lalu meminta sopir segera meninggalkan tempat ini secepatnya.