
"Jenny!" Seorang wanita paruh baya menghampiriku dengan senyum penuh semangat, kemudian memelukku, yang masih dalam keadaan bingung
"Bagaimana kabarmu, sayang?" Ucap wanita itu sesaat setelah menguraikan pelukannya.
"你还记得阿姨吗? (Kamu masih ingat sama bibi?)" Ucapnya sambil tersenyum.
Sebenarnya wajahnya tidak terlalu asing, hanya saja...
"Jen, ini Ii (bibi) Ji Hyo, mamanya Young Joon,masih inget kan,kamu?" Mama menghampiriku, yang akhirnya sedikit terbelalak mendengar penjelasannya.
"Dan itu, itu Uncle Min Chul, papanya Young Joon." Ucap mama seraya menunjuk seorang pria paruh baya, yang berdiri tepat di sebelah papa.
Aku menatap semua yang ada di ruangan satu per satu. Mereka tersenyum menatapku, hingga membuatku tersenyum seadanya, menutupi rasa bingungku.
Kemudian aku menatap wajah wanita yang kini masih menguraikan pelukannnya di hadapanku.
"我很好,碧...你呢? (Aku baik-baik saja, bi... Bagaimana denganmu?)" Ucapku kepada wanita tersebut. Wanita tersebut tersenyum hangat kepadaku.
"可以回来见你,让我的情况更好! (Dapat kembali melihatmu, membuat keadaanku semakin membaik!)" Jawab wanita tersebut, tersenyum hangat.
Mereka adalah keluarga Park.
Aku mengenal mereka, sewaktu tinggal di China dulu. Rumah mereka tidak terlalu jauh dari apartemen kami, sewaktu di China dulu.
Menurut cerita nenek, ibu dari bibi Ji Hyo, wanita yang menyapaku dengan bahasa Mandarin tadi, adalah sahabat nenek, sekaligus orang yang membantu nenek ketika nenek terpuruk dulu.
Sejujurnya, tidak banyak yang berubah dari paman Min Chul dan bibi Ji Hyo, yang membedakan mereka yang dulu, dan mereka yang sekarang, adalah guratan halus di wajah mereka yang bertambah.
" 大姐, Young Joon 不在吗? (Kak, Young Joon nggak kesini?)" Ucap mamaku kepada bibi Ji Hyo.
Aku yang saat ini sedang bersiap untuk pulang ke rumah, menghentikan kegiatanku sejenak, lalu menatap ke arah mama dan bibi Ji Hyo yang duduk si sebelah bangkar nenek.
"Young Joon... 他仍然很忙,因為他一周前才搬到印度尼西亞 (dia masih sibuk, karena dia kan baru di pindah tugaskan di Indonesia seminggu yang lalu)" Sahut Bibi Ji Hyo.
Entahlah, mendengar ucapan Bibi Ji Hyo barusan, jantungku berdegup dengan sangat kencang.
Ada sensasi tersendiri di dalam hatiku.
Entahlah! Aku sulit mengartikan sensasi ini, hanya saja...
"Jenny, 當時Young Joon曾在這裡停過幾次,您見過,不是嗎? (Jenny, waktu itu Young Joon beberapa kali mampir kesini, kalian sempat ketemu, nggak?)" Ucapan Bibi Ji Hyo membuyarkan lamunanku
"Eh... Um... Itu... Tidak, bi." Jawabku kemudian menghampiri mereka.
"Nek, Jen pulang dulu, ya." Ucapku kemudian mencium kening nenek, nenek mengangguk samar
"對不起阿姨我得先回家... (Bibi maaf, aku harus pulang dulu)" Kataku sedikit merasa tidak enak,
Bibi Ji Hyo tersenyum.
"我們待會再見,好!您還在很長一段時間,在印度尼西亞嗎?(nanti kita ketemu lagi, ya! Bibi masih lama kan, di Indonesia?)" Ucapku berharap bibi Ji Hyo tidak merasa kecewa.
Beliau tersenyum dan mengangguk.
"走..(pergilah...)" Sahut bibi Ji Hyo. Aku segera memeluknya, dan berpamitan kepada paman Min Chul
"Paman, aku pulang dulu, ya..." Sapaku ramah, paman Min Chul mengangguk.
"Oke, semua... Aku pulang dulu, ya..." Ucapku kemudian berlalu.
...****************...
Ketika di kamarku, aku memikirkan tentang kehadiran keluarga Park. Apakah kedatangan mereka benar-benar murni untuk menjenguk nenek, atau ada hal lain?
"Aaarrrggghhh!!!" Aku berteriak, mengumpat diriku sendiri yang kembali berburuk sangka, hingga tiba-tiba pintu kamarku terbuka
"Ada apa, mbak!" Bi War, anak mbok Minah yang juga bekerja di rumah ini, menghampiriku dengan wajah yang sangat khawatir.
Aku menatapnya dengan tatapan heran.
"Lho, emang ada apa, bi?" Tanyaku heran
"Lho, kok balik nanya, toh... Wong tadi saya denger mbak Jenny teriak kenceng banget!" Sahut bi War dengan logat jawanya yang sangat kental, masih dengan mimik wajah khawatir.
Aku tertetawa melihat ekspresinya
"Hahahahaaaaaaaa...." Aku tertawa terpingkal-pingkal, membuat bi War kebingungan
"L-lho, kok malah ketawa, mbak?" Ucap bi War sedikit meringis.
Aku yang masih tertawa, kemudian menoleh ke arahnya, kemudian duduk
"Hahaha... Itu... Hahahaa... Bi... Aduuh... Hahahaha..." Aku tidak dapat menghentikan tawaku, membuat bi War semakin terlihat khawatir.
3 menit kemudian, hingga akhirnya aku dapat benar-benar menghentikan tawaku, akhirnya aku menjelaskan kepadanya.
"Bi, aku tuh tadi lagi chatan sama temen aku, bukan karena apa-apa." Ucapku menjelaskan.
Bi War menggut-manggut seolah paham, kemudian mengelus dadanya
"Ealaaah... Syukurlah... Bibi kira mbak Jenny kenapa-kenapa." Sahut bi War
"Nggak ko' bi..." Tiba-tiba ponselku berdering, ku raih ponselku yang terletak di nakas yang berada di samping ranjangku.
"Rob"
"Yaudah, bi... Ada lagi?" Tanyaku kepada bibi
"Mbuh, mbak... Kalo gitu, saya permisi dulu ya, mbak." Ucap bi War, akupun mengangguk, kemudian bi War berlalu.
Sepeninggal Bi War, aku segera menjawab panggilan Rob.
"Yo, Jen! Kenapa lama sekali kau menjawab panggilanku?" Ucap Rob di seberang sana, dengan nada kesal
"Maaf, Rob... Aku sedang sibuk, tadi. Ada apa?" Sahutku di seberang sini.
"Ah, baiklah! Omong-omong, bagaimana keadaan nenekmu?"
"Syukurlah, nenekku sudah mulai membaik."
"Aaahh... Syukurlah, aku turut bahagia mendengarnya."
"Terima kasih, Rob!"
"Dan kau sendiri, bagaimana denganmu?"
Rob selalu mengkhawatirkanku, aku tersenyum disini. Sejujurnya, aku ingin sekali mengatakan kepada Rob, tentang semua yang terjadi disini, terutama tentang pernikahanku, hanya saja, ku pikir ini bukanlah waktu yang tepat...
"Jen, apa kau masih disana?" Rob membuyarkan lamunanku
"Aahh... Itu... Itu, Rob... Aku... "
"Apa sesuatu terjadi kepadamu?" Rob sedikit curiga di seberang sana. Aku sedikit bingung menjawab pertanyaan Rob kali ini
"Aahh... Ummm... Maaf, Rob! Aku sedang mengisi formulir rumah sakit, jadi, maaf sekali, aku mengabaikanmu, tadi. Hehehehee..." Ucapku mencari alasan
"Aaahh... Wanita ini! Baiklah, Jen! Aku akan menghubungimu lagi, nanti! Jaga dirimu baik-baik."
"Ah, baiklah, Rob... Terimakasih... Kau juga, ya! Aku merindukanmu." Kemudian menutup panggilan.
Kau tahu, banyak hal yang berkecamuk di dalam otakku saat ini, terlebih, tentang pertemuanku dengan paman Min Chul dan bibi Ji Hyo tadi...
Serta, ketika bibi Ji Hyo berkata, bahwa Young Joon di pindah tugaskan di Indonesia!
Ya tuhaaannn!!! Jantungku kembali berdegup kencang!
Young Joon adalah anak semata wayang mereka.
Kami berteman akrab sewaktu kami bersekolah di sekolah yang sama di China dulu, di tambah lagi, apartemen kami dulu, tidak terlalu jauh dari kediaman mereka, dan membuat kami hampir tiap hari bertemu, hingga akhirnya aku... Ponselku kembali berdering, saat aku menatap layar ponsel...
"Clara"
"Ada apaan, Ra?" Sapaku di seberang sini
"Jenol! Ke rumah Gina, yukkss!" Sahut Clara di seberang sana
"Ayolaaahhh!!! Jemput, yes!" Rayuku
"Kan ada Josephine, Jenooolll!!!" Ketus Clara di seberang sana. Seketika aku tersadar! Ya! Aku belum menyapa Josephine, semenjak kedatanganku kemarin!
"O.T.W!!!" Ucapku kemudian menutup panggilan, lalu bersiap dengan penuh semangat!
...****************...
Aku sudah membawa 'Josephine' bersamaku!
Josephine adalah hadiah ulang tahunku yang ke-17 tahun dari nenek.
Aku sangat menyayanginya! Sangat! Hal pertama yang membuatku sangat menyayangi Josephine, tentu saja karena ini adalah pemberian nenek! Hal kedua yang membuatku sangat menyayangi sepeda motor sport berwarna hitam ini adalah, Josephine selalu membawaku menjadi juara di ajang balap yang biasa di adakan oleh Denis, sahabat SMP-ku setiap tahunnya, setiap aku pulang ke Indonesia!
Sejujurnya, Josephine bukanlah sepeda motor sport pertamaku, aku memiliki El Salvador, atau biasa ku panggil El.
El adalah hadiah kenaikan kelasku dari papa, karena saat itu, aku pernah bilang ke papa, bahwa aku ingin pergi ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor.
Saat itu aku baru saja bergabung dengan gang Rob, namun hanya sekedar penonton saja.
Papa memberikanku syarat untuk dapat memiliki El, beliau bilang, aku harus memiliki nilai yang tinggi dulu, dan akupun menyanggupinya!
...****************...
Aku telah sampai di depan gerbang rumah Gina, sahabatku. Sudah ada mobil Clara di dalam sana! Itu terlihat dari luar sini, karena keluarga Gina, tidak menggunakan gerbang yang memiliki privasi, sehingga orang luar dapat dengan leluasa melihat keadaan rumah yang memiliki halaman yang cukup luas itu.
Seorang penjaga, sudah mengenaliku, dan langsung membuka gerbang, mempersilakanku untuk masuk.
"Makasih, pak!" Sapaku ramah, kepada pria paruh baya yang mempersilakanku masuk tadi.
Dan ketika aku mematikan mesin 'Josephine', Gina dan Clara berhambur menghampiriku dari dalam rumah.
"Jennoooolllll!!!!!!!!" Gina bersemangat sekali menyapa, kemudian memelukku, yang bahkan belum turun dari sepeda motorku.
"Ya ampun, Gin!!! Gw belum lepas helm gw, lho! Ampuun!!! Kita bisa jatoh, habis itu ketiban si 'Josephine'!" Ucapku yang berusaha menyeimbangkan tubuhku, agar tidak terjatuh
"Bodoamat!!! Gw kangen sama lu!!!" Sahut Gina seolah tak peduli.
Tak selang lama, ibu Gina, yang memang sangat akrab denganku, menghampiri kami.
"Gina! Kamu tuh ya, kebiasaan banget, deh!" Ucap tante Vemi, dan Gina pun melepaskan pelukannya, hingga membuatku akhirnya dapat membuka helmku, dan segera turun dari sepeda motorku setelah meletakkan helmku di atas stang sepeda motor.
Aku langsung menghampiri tante Vemi,dan tante Vemi langsung memelukku
"Gimana kabarmu, Jen?" Tanya tante Vemi, kemudian menguraikan pelukannya
"Puji Tuhan, baik, tan! Tante sendiri, gimana?"
"Baik banget ini, baru semalam tante pulang dari Tarakan, ikut om tugas." Jawab tante Vemi.
"Waduh, jauh banget, tante!" Sahutku
"Iya, habis gimana lagi, Jen! Namanya juga abdi negara." Jawab istri perwira Polisi ini.
"Iya juga sih, ya." Kataku memaklumi
"Ya udah, tante mau ke rumah sakit dulu, ya! Mau jenguk nenekmu, kalian pada ke dalam gih, sana! " Ucap tante Vemi, seraya membelai punggungku, aku mengangguk, dan tante Vemi kemudian berlalu
...****************...
"Whaaaaattttt!!!!" Gina seolah tak percaya atas apa yang baru saja keluar dari mulut Clara
"Jadi, lu udah tau, Ra!" Akupun sebenarnya tidak begitu percaya dengan apa yang diucapkan Clara.
Clara hanya mengangguk.
"Lu udah ketemu, sama nyokap-bokapnya?" Tanya Clara.
Aku tidak langsung menjawab, dan hanya mengangguk setelahnya.
"Young Joon katanya udah pindah tugas ke Indonesia, lho! Btw, lu udah... "
"Belum!" aku segera menyela ucapan Clara, sebelum Clara melanjutkan kata-katanya
"Jen, emang lu tau, si Clara mau ngomong apaan?" Ucap Gina dengan ciri khas cadelnya.
Aku langsung menoleh ke arah Clara.
"Emang lu mau nanya apaan, Ra?" Tanyaku kepada Clara.
Clara menatapku heran.
"Lu udah tau, kalo Young Joon sekarang kerja di Jakarta?" Clara menatapku dengan tatapan serius.
Aku menjadi sedikit salah tingkah, ku pikir Clara akan menanyakan tentang apakah aku telah bertemu dengan Young Joon! Hahahaaa!!!
"Oowwhh... Itu... Hahahaaa... Udah... Eh..." Jawabku salah tingkah.
Gina dan Clara menatapku heran.
"Idiiihhh.... Lu kenapa, deh?" Ucap Gina.
Aku hanya mengusap belakang kepalaku dengan ujung jariku.
Beruntung, ponsel Gina berdering! Gina segera meraih ponselnya.
"Denis, nih!" Ucapnya, kemudian kami mendekati Gina
"Oi, Nis! Ada Jennifer, nih!" Ujar Gina
"Lu mao ngomong sama dia? Ah, ok!" Gina kemudian mengulurkan ponselnya kepadaku.
"Denis mao ngomong sama lu, nih!" Aku langsung meraih ponsel Gina.
"Ooiii, Den! Apa kabar!!!" Aku sedikit berteriak, seraya tersenyum kecil
"Ipeeelll!!! Tumben lu hari gini dah di Indonesia aja!" Sahut Denis di seberang sana
"Iya, nih... Nenek gw sakit, Den!" Sahutku di seberang sini
"Oowwhh... Iya, gw juga udah nengokin nenek lu ko' kemarin bareng Gina! Gimana keadaannya sekarang? Sorry, ya... Gw belum bisa jenguk lagi, lagi sibuk banget ini gw, ngurusin acara untuk malam ini!" Ucap Denis merasa bersalah
"Ya ampun, santai aja, emang nanti malam, ada acara apaan?"Jawabku menenangkannya
"Nanti malam ada tanding. Oh iya! Bisa kali, lu jadi tamu kehormatan buat ntar malam, ngerame-ramein acara aja." Denis sedikit berharap. Aku berpikir sejenak
"Yaudah sih, Jen! Lu kan juga butuh refreshing!" Sahut Clara, aku menoleh ke arahnya
"Biar lu gk mumet-mumet banget mikirin nenek sama kawinan lu!" Lanjut Clara
"Woooyyy, Ipel! Malah bengong sih lu! Gimana? Bisa, nggak?" Denis kembali memastikan
"Eh, i-iya, Den! Gw usahain, ya! Tapi gw nggak janji, ya!" Jawabku
"Oke, gw tunggu kabar dari lu secepatnya, ya!"
"Oke, thank's ya, Den... Bye..." Ucapku kemudian menutup panggilan.
"Ya udah sih, Jen... Nggak apa-apa lah... Nggak tiap hari ini." Gina merayuku. Aku sedikit dilema
"Lu sekarang mikirin apa, Jen?" Ucap Clara.
Aku menatap Clara, sedikit bingung mau menjawab apa, karena terlalu banyak yang ku pikirkan
"Lu mikirin nenek?" Pertanyaan Clara kali ini membuatku semakin bingung.
"Nenek bakalan baik-baik aja ko', Jen." Ucap Clara, namun aku masih bimbang
"Atau jangan-jangan, lu mikirin tentang pernikahan lu?" Aku sedikit membelalakkan mata ketika Clara mengucapkan kata-kata yang ini
"Jen... Gw kasih tau sama lu, ya... Gw paham banget gimana nenek." Clara kini merangkulku.
"Lu kan tau, nenek tuh paling sayang sama lu." Clara kini menatap mataku dalam.
"Nenek nggak mungkin ngejerumusin lu! Gw 1000% yakin banget, Jen!" Mata Clara tampak berkaca-kaca kini
"Jen, nikah karena perjodohan, mungkin kesannya kolot banget, ya... Tapi kan, nenek nggak maksain lu untuk ikutin apa yang dia mau... Semua tergantung sama lu, karena itu tuh pilihan idup lu!"
Sesungguhnya, benar apa yang di katakan oleh Clara, aku sudah menceritakannya di awal cerita, bahwa akulah cucu kesayangan nenek, bahkan Victor, kakak kandung Clara, yang sebenarnya adalah satu-satunya cucu laki-laki di keluarga kami, tidak se-spesial diriku di mata nenek.
Dan apa yang Clara bilang, bahwa nenek tidak memaksakan keinginannya terhadapku, itu juga benar...
Toh aku mengiyakan, karena memang itu semua adalah keputusanku, dan aku tidak menyesali itu semua!
Hanya saja, aku merasa bahwa ini memang terlalu cepat... Semua sangat mendadak!
Namun, hatiku seolah telah siap. Entahlah!
"Jen, cuma satu malam aja ko', nggak ada salahnya juga lu refresh otak lu." Clara kembali membujukku.
"Hemmmm?" Clara kembali meyakinkan.
Aku berpikir sejenak, hingga akhirnya... Aku tersenyum dan mengangguk.
"Naaaahhhh! Gitu donk!!!" Ujar Gina bersemangat