Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Explanation



"Bagaimana dengan Kimberly?" Aku masih menatap wajah Young Joon, yang saat ini terlihat terpukul


"Ada apa denganmu?" Young Joon menatapku


"Ku pikir, dia adalah gadis yang kau maksud." Suaraku sedikit tertahan kali ini.


Young Joon menghembuskan nafas secara kasar.


"Jenny, bukankah kau pernah bilang, bahwa kau memiliki seorang teman yang pemikirannya sedikit lambat bernama Shirley?" Ucapnya kesal.


Aku agak terkejut mendengar Young Joon menyebut nama Shirley, apakah mungkin...


"Apa gadis yang kau maksud itu adalah Shirley?" Aku berlagak menutup mulutku tak percaya!


"Shirley... Apakah pesonanya begitu memabukkan, hingga dua orang laki-laki yang terhubung denganku begitu menggilainya?" Ucapku seraya membelalakkan mata.


Young Joon membanting tubuhnya kebelakang.


"Joon, bangun! Ayo katakan yang sejujurnya padaku! Joon! Bangunlah!" Aku mengguncang-guncangkan tubuh Young Joon, berharap dia meresponku.


"Tidurlah! Ku harap lukamu besok pilih, dan kita bisa pulang secepatnya ke DC, untuk memulihkan isi kepalamu." Ucap Young Joon malas, kemudian membenarkan posisi tidurnya.


"Kau harus menjelaskan semua kepadaku, Joon!" Aku masih mengguncangkan tubuh Joon


"Tidurlah, sayang..." Young Joon benar-benar tidak peduli, namun aku tidak kehabisan akal


"Baiklah, besok kita akan kembali ke DC, aku masih menyimpan salinan berkas itu." Ucapku setengah mengancam.


Dan ini bekerja! Young Joon langsung terduduk, dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku!


"Ini peringatan terakhir untukmu! Jika kau membahas tentang berkas itu, ataupun hal yang berhubungan dengan berkas itu, entah dimana pun, atau kapanpun, aku akan melakukan hal yang membuatmu merasa seperti saat ini." Ancamnya, lalu mengecup bibirku, kemudian kembali merebahkan tubuhnya.


"Tidurlah!" Imbuhnya lagi.


...****************...


Pagi ini, aku bangun lebih awal dibanding Young Joon. Dia masih terlelap, aku menatap wajahnya, lalu tersenyum.


Ah, aku mau mencoba untuk berjalan sekarang, karena aku sudah tidak terlalu merasakan nyeri lagi.


Saat aku bangun dari ranjang, tiba-tiba tangan Young Joon menarik tanganku, hingga tubuhku terpental ke belakang, tepat di atas dadanya.


"Kau mau kemana?" Ujarnya dengan suara yang terdengar parau, khas orang mengantuk.


"Aku mau pipis." Jawabku berusaha bangun kembali.


Namun Young Joon malah menahan tubuhku, kemudian menggeser tubuhku, agar sejajar dengannya, lalu memelukku.


"Mengapa tidak membangunkanku? Bukankah itu masih sakit?" Young Joon menenggelamkan wajahnya di tengkukku.


"Sudah tidak, ku rasa aku bisa berjalan sendiri, sekarang." Jawabku.


Tiba-tiba Young Joon terbangun, lalu duduk dan menatapku.


"Itu artinya, kita dapat melakukannya lagi, sekarang?" Dia sungguh bersemangat sekali


"Kau mau mati!" Kataku kemudian aku terduduk, lalu mengepalkan tinju di depan wajahnya!


Dia terlihat lemas!


"Tapi kau bilang sudah tidak sakit lagi." Young Joon merengek


"Tidak sakit, bukan berarti bisa! Dasar otak udang!" Kataku kemudian bangun, dan berjalan menuju kamar mandi.


...****************...


Saat berada di dalam kamar mandi, aku berpikir untuk mandi.


Dua hari tidak mandi membuat tubuhku terasa tidak nyaman.


Setelah selesai buang air, aku menyalakan keran untuk mengisi bathtube.


Berendam mungkin dapat menyegarkan tubuhku.


Aku menanggalkan seluruh pakaian yang menempel di tubuhku.


Ah! YoungJoon yang mengenakannya, kecuali celanaku.


Ketika berendam, aku kembali mengingat saat Young Joon membantuku mengenakan pakaian, itu manis sekali.


Ah...


Airnya segar sekali, ini membuatku memejamkan mata, sambil membayangkan, hari-hari yang ku lewati bersama Young Joon selama di motel ini.


Aku mengingat dengan jelas, saat dia mengatakan 'aku mencintaimu' sambil tersenyum, lalu terlelap.


Itu membuatku tersenyum sendiri.


Dan aku juga mengingat, saat dia memelukku semalam, sesaat setelah dia merobek berkas yang sudah ku persiapkan untuk perceraian kami.


Dan saat dia bertanya apakah aku akan tetap menceraikannya, itu manis sekali! Hahahahaha!


Dan aku juga tersenyum, saat aku menggodanya tentang Shirley, itu membuatku tertawa kecil.


Namun aku masih penasaran tentang Kimberly.


Huh!


Hanya membayangkan namanya saja, membuatku merasa tidak nyaman! Dia benar-benar membuyarkan lamunanku, dan....


"Aaaaarrrggghhh!!!"


Betapa terkejutnya aku, melihat sosok yang saat ini ada di hadapanku!


Sosok itu, sedang berendam di hadapanku, membuatku panik setengah mati!


"Apa yang kau lakukan!!!" Aku memekik!


Aku benar-benar panik melihatnya!


"Ada apa denganmu!" Dia terlihat kesal dengan responku.


"Bukankah ini romantis! Tapi kau selalu saja berteriak untuk hal seperti ini." Ketusnya


"Se-sejak kapan kau ada disana!" Aku meninggikan suaraku, kemudian menenggelamkan tubuhku, hingga hanya menampakkan kepalaku.


"Kapan kau akan menyelesaikan ini?" Tanyaku masih dalam keadaan panik.


Tiba-tiba Young Joon mendorong tubuhnya ke arahku, dan membuatku benar-benar tenggelam, lalu Young Joon dengan sigap meraih tubuhku, kemudian membuat posisiku seperti posisi awal.


"Joon, ku mohon, jangan sekarang..." Aku memohon kepadanya.


Aku benar-benar takut melihat Young Joon.


YoungJoon terus menatapku dengan tatapan aneh!


Young Joon bahkan semakin mendekatkan wajahnya kepadaku, dan...


Dia seperti meraih sesuatu, kemudian melemparkannya sejauh mungkin ke arah pintu kamar mandi!


Aku sempat menoleh ke arah itu, dan memeriksa, apa yang Young Joon buang.


Aku membelalakkan mataku, ketika mengetahui bahwa itu adalah seekor kecoak!


Young Joon kemudian berbalik ke arahku lagi.


"Mengapa pikiranmu kotor sekali, istriku?" Ucapnya santai.


Ekspresi wajahnya benar-benar membuatku tidak tahan untuk menciumnya!


Ya, kami melakukannya lagi! Masa bodoh dengan rasa sakitku. Toh, ini sudah tidak terasa lagi.


Hahahahaaa!!!


...****************...


"Kau bersemangat sekali tadi." Ujar Young Joon seraya membantuku mengemasi barang-barangku sambil tersenyum.


Aku langsung menghentikan kegiatanku, lalu menatap Young Joon.


"Agar kau tidak dapat mengancamku lagi!" Ujarku tersenyum bangga, lalu melanjutkan kegiatanku lagi.


"Aaahh... Wanita ini." Young Joon tersenyum.


"Itu artinya aku akan mengancammu setiap hari." Young Joon mulai menggodaku.


"Silakan saja, jika kau ingin mati!" Ucapku seraya menunjukkan kepalan kepadanya, dan dia tertawa.


Setelah selesai, kami bergegas pergi.


Dan saat aku mengembalikan kunci kamar kepada resepsionis motel, Young Joon meminta izin kepadaku untuk menghubungi penyedia jasa  pengangkut kendaraan.


"Aku menghubungi jasa pengangkut dulu, ya." Ujar Young Joon.


"Ya, aku akan langsung masuk ke mobil setelah ini." Sahutku, kemudian Young Joon pergi meninggalkanku di meja resepsionis.


"Terima kasih, tuan." Kataku ramah kepada pria paruh baya yang berdiri di balik meja resepsionis itu


"Sama-sama nona, semoga kau puas dengan fasilitas yang kami sediakan" jawabnya ramah


"Tentu saja!" Kataku kemudian berlalu.


Oh, ya!


Aku juga harus menghubungi Rob, untuk memberitahu tentang sepeda motornya!


Young Joon sudah berada di depan mobilnya, masih berbicara dengan seseorang di seberang sana, dan aku pun meraih ponselku, lalu menyalakannya, karena sudah beberapa hari ini aku matikan.


Sebelum ponselku menyala, aku masuk ke dalam mobil, dan menatap Young Joon dari dalam.


Dia tampak serius sekali kelihatannya, dan... Ah! Ponselku sudah menyala!


Buru-buru aku mencari kontak Rob, dan menekan layar untuk menghubunginya... Terhubung!


"Hallo, Rob." Sapaku diseberang sini


"Heyy, Jen! Apa kau masih di Brooklyn?" Sahut Rob di seberang sana


"Ya, aku akan kembali ke DC sekarang. Omong-omong, kami menyewa jasa ekspedisi untuk mengantar motormu ke rumahmu, tidak apa-apa, kan?" Tanyaku memastikan


"Aaahh, tidak masalah! Kembalilah segera, dengan selamat tentunya!" Ujar Rob


"Pasti! Baiklah, aku akan segera menemuimu ketika sampai di DC, ya." Kataku


"Oke, aku akan selalu menantimu." Sahut Rob diseberang sana.


Kemudian aku menutup panggilan, tidak lama kemudian, Young Joon masuk ke dalam mobil.


"Kau menghubungi siapa barusan?" Tanya Joon, seraya memakai sabuk pengaman, kemudian melihat ke arahku, yang belum menggunakan sabuk pengaman.


Lalu dengan sigap, Young Joon mengenakan sabuk pengaman, padaku.


"Terima kasih, suamiku!" Ucapku sambil tersenyum kepadanya.


"Jangan pernah memberikanku senyuman seperti itu, atau..."


"Atau apa?" Kami saling menatap.


Young Joon kemudian mengecup bibirku, kemudian langsung menyalakan mesin mobilnya.


"Aku akan mengecup bibirmu, kapanpun, atau dimana pun aku melihatmu menunjukkan senyum seperti itu." Ucapnya kemudian mobil melaju.


"Apa kau harus selalu mengancamku dengan ancaman seperti itu?" Sinisku, lalu menoleh ke arahnya


"Ya! Hei, kau belum menjawab, siapa yang.. " Ucapnya kemudian menoleh ke arahku.


"Rob!" Jawabku singkat


"Ah, ok." Ucapnya lagi, lalu kembali menoleh ke arah jalan.


"Joon... Bolehkan aku bertanya kepadamu?" Kataku, dengan tatapan lurus ke depan


"Tanyalah, apa yang ingin kau ketahui." Young Joon masih menatap lurus ke depan, memperhatikan jalan.


"Kimberly!" Aku menoleh ke arah Young Joon.


"Apa kau pernah memiliki hubungan..."