Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Roommates



"Apa mungkin kita harus membuat 1 kamar lagi di rumah ini?" Tanyaku ke pada Young Joon seraya menatap langit-langit kamarku


"Maksudmu?" Young Joon memalingkan tubuhnya ke arahku


"Jangan coba-coba untuk mendekat!" Aku kembali memberinya peringatan.


Kami tidur di ruangan yang sama, bahkan ranjang yang sama, hanya saja, kami memberi pembatas diantara kami, 3 buah bantal yang ku susun lurus dari kepala hingga kaki kami.


Kami memiliki tiga kamar di rumah ini. Kamar Young Joon kini digunakan oleh orang tuanya, sedangkan orang tuaku, tidur di kamar tamu.


"Ya tuhan! Kau memberi batas yang benar-benar tidak adil di ranjang ini, Jenny!" Keluhnya.


Aku melirik ke arahnya, memastikan apakah yang dia katakan itu benar?


Setelah melihat keadaan, ternyata benar apa yang dikatakan olehnya! Aku menahan tawaku


"Kau itu sedang menumpang di kamarku! Patuhilah peraturan yang ada disini!" Aku berkilah seraya menahan tawa


"Tapi aku adalah tamu, Jenny! Tamu adalah ra..."


"Kau adalah suamiku!" Aku memalingkan tubuhku ke arahnya, sambil menatap wajahnya yang sedari tadi mengumpat kepadaku.


Young Joon terdiam mendengar ucapanku tadi, dan wajahnya sedikit memerah


"Dan tugas suami adalah, membuat istrinya merasa senyaman mungkin..." Ucapku lalu tersenyum, kemudian kembali ke posisi awalku dan memejamkan mata.


Young Joon masih tidak terima, dia bangun dan berdiri di sampingku, lalu melanjutkan umpatannya.


"Hey, apa-apaan ini! Jangan berpura-pura tidur begini! Ini benar-benar tidak adil!" Umpatnya, dan aku berpura-pura mendengkur, lalu memalingkan tubuhku ke arah berlawanan dengannya


"Iiissshhh, wanita ini!" Ucapnya sambil mengguncang-guncangkan tubuhku!


Entah keberanian macam apa yang dia miliki, hingga berani-beraninya dia melakukan hal itu!


"Bangunlah! Kita belum selesai bicara! Heeeyy!" Ucapnya masih mengguncang-guncangkan tubuhku.


Usahanya kali ini benar-benar berhasil! Aku benar-benar kesal dibuat olehnya


"Arrghhh!"


Aku terbangun, lalu duduk!


Dan kau tahu, apa yang dilakukannya?!


Dia tersenyum bodoh, memasang tampang naif, seraya menempelkan kedua telapak tangannya berlagak memohon!


"Apa maumu!" Aku meninggikan suaraku.


Young Joon berjalan ke arah depan ranjangku.


"Aku ingin ini adil untuk kita berdua." Ucapnya masih dengan sikap seperti tadi.


"Maksudmu?" Tanyaku tidak mengerti


"Pembatas ini, kita geser, agar tempat kita tidur, sama luasnya...." Ucapnya sambil menggeser letak bantal.


Demi tuhan, senyum Young Joon benar-benar membuatku mual!


"Joon, hentikan wajah bodohmu itu!" Aku mengancamnya, dan dia menggelengkan kepalanya.


"Joon! Aku mual melihatmu seperti itu!" Umpatku, dan dia kembali menggeleng masih dengan wajah bodohnya, membuat kesabaranku benar-benar habis!


Aku berdiri di atas ranjang, sudah tidak sabar ingin meninju wajahnya!


Dan saat aku melangkah, kakiku tersangkut selimut, hingga.....


'Buuggghhhh!!!'


"Selamat mal......am."


Kedua orang tua kami tiba-tiba membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya terlebih dahulu! Yeah! Mereka memang terbiasa seperti itu jika menginap di rumah kami...


Tapi! Heeeyy! Apa ini!


Saat ini, aku sedang berada di atas tubuh Young Joon, dan bibir kami saling 'menyapa'! Dan disaksikan oleh kedua orang tua kami!


Kami buru-buru bangun, dan masing-masing menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi


"Beginiinitidaksepertiyangkalian bayangkantadiadalahkecelakaan! Tidakterjadiapapundengankamibarusansemuaadalahkecelakaan! AkuterjatuhdanJoonmenangkapku." Kami menjelaskan secara bersamaan, dengan tempo yang tidak beraturan, dan mungkin mereka tidak dapat mendengar dengan jelas, apa yang baru saja kami katakan!


Mereka saling menatap satu sama lain, dan tersipu malu. Membuatku dan Young Joon saling menatap aneh, sambil meringis.


"Aaahh... Maafkan kami, kami telah mengganggu urusan kalian. Lanjutkan lah. Kami mau tidur dulu." Eomma berkata seraya tersenyum menggoda, di sahut dengan yang lainnya


"I-ini tidak seperti yang kalian maksud, barusan kami..." Ucapku, namun...


Mereka buru-buru menutup pintu kamarku, sebelum aku menyelesaikan ucapanku, meninggalkanku dan Young Joon, yang semakin menambah canggung suasana kamar ini.


Kami masih saling berdiam, tidak tahu harus berbuat apa setelah kejadian tadi. Dan dengan spontan aku berkata...


"Maafkan aku!" Kemudian berlari ke arah tempat tidur, dan membanting tubuhku ke atasnya, kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh hingga kepalaku.


Aku benar-benar tidak akan bisa tidur malam ini, aku kembali mengutuk diriku lagi!


Hingga tiba-tiba, sisi kosong ranjangku terasa sedikit bergerak, pertanda ada seseorang disana.


Tentu saja itu Young Joon!


Aarrggh... Ada apa ini!


Ini membuatku semakin gugup.


Aku berdoa, semoga Young Joon tidak mengatakan apapun kepadaku. Namun...


"Kau sudah tidur?" Suaranya tenang sekali, seolah tidak ada yang terjadi, beberapa waktu yang lalu.


Aku membisu, jangankan untuk menjawab. Bernafas pun terasa sesak!


"Ini kejadian yang ke dua kalinya, kau menciumku." Ucapnya penuh percaya diri!


Demi tuhan! Andai saja tidak ada kejadian tadi, sudah ku tinju wajahnya!


"Apa kau begitu terobsesi dengan bibirku yang seksi ini, huh?"


Semakin dia berbicara, semakin hatiku menjadi panas!


"Kau telah merenggut ciuman pertamaku, tahu!"


Young Joon semakin besar kepala saja!


"Kau tau, aku menjadi takut berada disini, aku takut ..."


"Hheeeyyy!!!! Apa kau pikir selama ini, apa yang terjadi itu, karena sengaja!" Aku membuka selimutku kasar, agar dapat bangkit dari 'tidurku' dengan cepat, dan memekik kepadanya!


"Apa lagi?!" Wajah berlagak lugunya sungguh membuatku benar-benar ingin membunuhnya


"Kau anggap apa, aku ini!!!"


"Istriku..." Jawabnya tanpa rasa berdosa!


Aku benar-benar kehabisan kesabaran, hingga tanpa sadar, aku 'menaiki' tubuhnya, lalu mencekiknya


"Hei... A-apa y-yang k-k-kau lakukan...." Suaranya tersengal


"APALAGI KALAU BUKAN MEMBUNUHMU!" Aku masih terus mencekiknya!


"Aaarrgghh... Lepaskaaann...." Young Joon berusaha melepaskan tanganku dari lehernya, Hingga tiba-tiba...


"Mama mau...."


Aaahhhh... Apa lagi ini!


Mamaku datang dengan botol berisi air dan juga gelas.


"Mama taro disini aja, ya." Ucapnya lalu meletakkan kedua benda yang dipegangnya itu di atas nakas samping ranjang ku, kemudian bergegas pergi meninggalkan kami.


Kedua tanganku masih mencengkeram leher Young Joon. Hanya saja mata kami, masih menatap ke arah pintu kamar yang sudah tertutup.


"Apa mereka tidak pernah diajarkan sopan santun!" Umpatku dalam keadaan tangan masih di leher Young Joon.


"Hey, tapi dia itu ibumu..."


'Buugggghhhhh!'


Aku meninju pipi kanan Young Joon!


"Aaaawwwww!" Young Joon mengerang kesakitan!


"Gosah banyak bacot, lu! Tidur sana!" Ucapku lalu bangun dari tubuhnya, kemudian merebahkan tubuhku tepat di sampingnya.


Young Joon tidak menjawab kata-kataku kali ini, bahkan dia tidak lagi mengeluh tentang pipinya yang kesakitan karena tinjuku tadi.


Aku cukup kencang meninju wajahnya tadi. Entahlah! Aku tidak merasa menyesal sama sekali, dan langsung memejamkan mataku.