Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Missing You...



Aku masih mengisi masa cutiku untuk membersihkan apartemenku, sebelum akhirnya aku kembali bekerja besok.


Aku bahkan masih memikirkan kejadian 4 hari yang lalu di rumah Aoyama.


Owwhh Tuhan! Mengapa itu harus kembali terlintas di dalam benakku!


Dan, ya! Satu hal lagi!


Bukankah rumah Aoyama terlalu mewah untuk ukuran staf biasa di kantor?


Mengingat, statusnya bahkan adalah bawahanku di kantor.


Atau mungkin, dia adalah anak orang kaya? Entahlah! Yang jelas, itu sama sekali tidak membuatku berpikir untuk segera menjawab permohonannya kepadaku.


Dia tetap menghubungiku seperti biasa, tanpa mengungkit tentang kejadian malam itu, ataupun menanyakan tentang keputusanku.


Kami hanya membicarakan tentang pekerjaan kami, ya! Hanya itu, dan ah!


Kami berencana untuk makan malam bersama malam ini, di restoran yang tidak jauh dari apartemenku.


Tidak ada alasan untuk menolaknya!


**********************


Aku sudah selesai dengan pekerjaan yang cukup melelahkan ini, dan berniat untuk mandi.


Saat memandang wajahku di cermin meja rias kamarku, aku melihat jam tangan Young Joon tergeletak di atas meja riasku.


Itu membuatku kembali mengingat Young Joon...


Hampir dua Minggu yang lalu dia kesini, dan... Tidur bersamaku.


Aku tersenyum getir mengingat kejadian itu, terlebih, ketika mengingat kata-katanya seraya memelukku dari belakang, setelah pergulatan kami


"Kembalilah kepadaku... Ku mohon, cintaku..."


Aku meneteskan air mataku, dan segera bergegas untuk mandi, lebih tepatnya berendam.


Saat berendam, aku mengosongkan pikiranku, dan hanya memfokuskan pikiranku hanya pada diriku sendiri.


Aku, Jennifer Elizabeth Lie, wanita berusia 27 tahun, bergelar master, yang kini menjabat sebagai manager keuangan, di salah satu perusahaan bergengsi di Bremen, Jerman.


Memiliki wajah yang cantik, karier cemerlang, namun hidup yang menyedihkan!


Menikah di usia 25 tahun, bercerai ketika berusia 26 tahun, dan menjadi liar di usia 27 tahun!


Aku sempat berpikir tentang suatu hal, mengingat kehidupanku kini, ku pikir aku tidak lagi membutuhkan pria!


Aku sudah cukup mampu untuk menghidupi diriku sendiri!


Namun pada kenyataannya, aku tetap merasa kesepian...


Aku merindukan pelukan hangat ketika aku terpuruk...


Aku merindukan tawa canda bersama, aku...


Aku merindukan Young Joon...


Tidak peduli berapa banyak luka yang telah dia torehkan di hatiku...


Tidak peduli berapa banyak rahasia yang dia sembunyikan dariku...


Tidak peduli...


Kedua orang tuaku bahkan belum tahu tentang perceraianku dengannya!


Entah kapan aku akan memberi tahu mereka. Hatiku masih saja belum siap.


**************************


Aku telah mengenakan gaun berwarna navy, tanpa lengan, dengan model cheongsam, dan belahan kaki yang cukup tinggi.


Aku merias wajahku senatural mungkin, agar ini tidak terlihat begitu berlebihan.


Aku menggulung rambutku agak tinggi, dan memberikan sedikit poni di dahiku.


Bukankah wajah oriental ku benar-benar semakin terlihat, jika seperti ini?!


Aku tersenyum melihat bayangan diriku di depan cermin.


'Tok... Tok... Tok!!!'


Suara itu berasal dari pintu apartemenku, aku segera menyemprot parfum, dan meraih Sling bag kecil, sebelum akhirnya berjalan ke arah sana untuk membuka pintu.


Saat aku membuka pintu, ku pikir Aoyama yang ada disana.


Namun ternyata... Park Young Joon!


Matanya merah, dan terlihat sembab.


Wajahnya benar-benar kacau!


Dan lagi-lagi, dia mengenakan baju yang dia kenakan ketika terakhir kali kami bertemu!


Ada apa dengan laki-laki ini?


Young Joon segera memelukku dengan erat.


"Maafkan aku... Aku kembali mengingkari janjiku..." Suaranya terdengar terisak.


"Aku tidak dapat menahannya terus menerus... Menyakitkan rasanya..." Ucapnya, namun... Aku segera melepaskan pelukannya.


"Kau merusak riasanku! Bahkan aroma tubuhmu sungguh sangat busuk!" Ketusku.


Young Joon terlihat sedih, dan salah tingkah melihat responku.


"Tidak dapatkah kau mempersiapkan dirimu sebaik mungkin, sebelum menemui seseorang?" Aku menatapnya risi.


"A-aku..."


"Pulanglah! Dan perbaiki dirimu dulu, sebelum menemuiku! Penampilanmu seperti ini, tidak akan membuatku luluh." Aku mengusirnya.


Young Joon menatap wajahku sedih, bahkan matanya berkaca-kaca...


"Pergilah! Tunggu apa lagi!" Aku meninggikan suaraku kepadanya, dan dia akhirnya pergi dengan ragu dan sedih.


Beberapa menit setelah Young Joon pergi, Aoyama datang.


Aku sempat berpikir, apakah dia bertemu dengan Young Joon?


Entahlah!


Kami berdiri berhadapan kini, dan juga saling menatap satu sama lain.


Aoyama yang menatapku penuh rasa kagum, itu terlihat dari ekspresi wajahnya.


Dan aku, yang menatapnya dengan penuh tanda tanyadi hatiku.


"Kau sungguh luar biasa..." Aoyama tersipu, dan aku tersenyum.


********************


Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan tentang Young Joon.


Mengapa dia selalu melakukan hal yang sama setiap kali bermasalah denganku?


Tidak mengganti pakaian, membiarkan bulu di wajahnya bertumbuh, dan...


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Aoyama membuyarkan lamunanku.


"Eh... Ummm... Itu..." Aku sedikit gugup kini!


"Hahahaha... Lupakanlah! Aku ingin menikmati momen ini, tanpa ada gangguan apapun." Katanya.


Entahlah, gangguan apa yang dimaksud oleh Aoyama, hanya saja...


"Bukankah restoran yang akan kita kunjungi sudah terlewat?" Kataku kemudian menoleh ke arah Aoyama, dan Aoyama tersenyum


"Aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih menarik!"


********************


Kami telah tiba!


Aoyama ternyata mengajakku ke Schlachte! Wow!


Bukankah ini luar biasa!


Sungai Wester sungguh indah di malam hari! Harus ku akui, aku menyukainya! Aoyama menatap ke arah sungai, begitupun aku.


"Yeeeaahh... Aku sangat menyukai ini." Kataku kemudian menatap Aoyama.


"Jadi, apakah kali ini aku berhasil, nona?" Aoyama menggodaku.


Aku tertawa mendengar kata-kata Aoyama barusan, kemudian menatap wajahnya, dan mengangguk.


*******************


Kami telah menyantap makanan yang Aoyama pesan beberapa waktu lalu.


"Makanannya lezat! Ini pasti mahal!" Kataku, seraya menyantap irisan lobster.


Aoyama tertawa mendengarku!


"Hahahaaa... Apakah kau selalu memperhitungkan segala sesuatu dengan nominal?" Ucapnya.


Aku menatap wajah Aoyama, dan tersenyum.


"Apakah kau menghabiskan seluruh gajimu untuk malam ini?" Selidikku, dan Aoyama lagi-lagi tersenyum.


"Tidak juga... Ini hanya sepersekian persen dari gajiku." Aoyama tersenyum bangga, kemudian kembali menyantap hidangannya.


Kami telah menyelesaikan makan malam, dan kembali berbincang seraya menikmati wine, di pinggir sungai Wester.


"Jangan pernah minum, selain denganku." Ujar Aoyama serius, kemudian meneguk wine nya.


Aku tertawa mendengar kata-katanya tadi.


"Aku sangat serius tentang tadi." Ucapnya dengan wajah yang sangat serius.


Aku mengganti tawaku, dengan senyum lebar


"Aku tidak ingin mabuk malam ini." Kemudian meneguk wine ku.


Aoyama tampak mengerti maksud dari kata-kataku tadi.


"Aku tidak akan membuatmu mabuk, kali ini." Aoyama menatapku, kemudian tersenyum.


**********************


Saat perjalanan pulang, Aoyama menggenggam tanganku seraya mengemudi.


Aku membiarkannya.


Entahlah, aku hampir tidak pernah menolak untuk apa yang Aoyama lakukan terhadapku. Bahkan saat Aoyama mengecup tanganku, aku hanya menatapnya sambil tersenyum.


"Aku mencintaimu..." Aoyama berkata tanpa menoleh kepadaku.


Entah mengapa, kata-kata Aoyama barusan, membuat hatiku teriris.


"Aku jatuh cinta, pada pertemuan pertama kita. Dan aku tidak pernah berhenti untuk memikirkanmu sejak saat itu." Aoyama masih tetap fokus menatap ke arah depan, namun tersenyum hangat


"Eh?" Aku kembali menoleh ke arahnya


"Jika kau anggap ini tidak masuk akal, aku tidak peduli! Dan jika kau tak percaya, tentang fakta bahwa kau adalah cinta pertamaku, aku lebih tidak peduli lagi..." Ucapnya lagi.


Aoyama menghentikan laju mobil, karena lampu lalu lintas berwarna merah, kemudian dia menatap ke arahku.


"Sejak pertemuan pertama kita, aku bertekad, untuk memilikimu seutuhnya... Bagaimanapun caranya..." Matanya berkaca-kaca, begitupun denganku.


*********************


"Kau tidak ingin bermalam disini? Ada dua kamar di dalam." Kataku menawarkan Aoyama, yang kini telah berada di depan pintu apartemenku. Dia tersenyum lebar


"Aku akan menjadi orang yang sangat berbahaya, jika hanya ada kita berdua disini." Godanya, dan aku tersenyum


"Aku akan mengunci pintu kamarku berlapis-lapis!" Kataku seraya tersenyum, dan Aoyama tertawa


"Aku pulang dulu, jaga dirimu." Katanya.


Aku mengangguk.


Dan saat Aoyama mulai mendekatkan wajahnya, aku segera berkata


"Hati-hati di jalan..." Aoyama tampak kecewa, menyadari penolakan dariku


"Hmmmm... Terima kasih... Selamat malam..." Ucapnya kemudian berlalu.


Aku segera menutup pintu, sesaat setelah punggung Aoyama menghilang.


Saat di kamar, aku segera melepas gaunku.


Dan ketika aku menghapus riasanku, aku kembali melihat jam tangan milik Young Joon...


Aku meraihnya, dan menatapnya.


Aku kembali mengingat saat dia datang tadi. Keadaanya kembali kacau!


Persis seperti saat ku tinggalkan dia dahulu. Apakah dia selalu menjadi hancur, tiap kali aku meninggalkannya?


Young Joon... Harus ku akui, aku sangat merindukanmu... Sangat!


Aku sudah merebahkan tubuhku di atas ranjang. Entah mengapa, aku ingin segera membuka galeri foto yang ada di ponselku. Aku membuka satu persatu foto kebersamaan ku dengan Young Joon.


Bahkan foto pernikahan kami, masih tersimpan rapi disana.


Aku menatap potret Young Joon yang tersenyum bahagia ketika merangkulku. Dan tanpa ku sadari, air mataku mulai menetes.


Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Young Joon. Aku agak ragu untuk menjawabnya, namun... Hati kecilku tak kuasa untuk menolaknya.


"Aku merindukanmu... Sangat..." Suara Young Joon bergetar di seberang sana.


Air mataku semakin deras mengalir.


"Kau tidak perlu menjawab setiap kalimat yang keluar dari mulutku, hanya saja... Jangan tutup panggilan ini." Young Joon mulai terdengar terisak.


Aku berusaha sebisa mungkin membekap mulutku, agar Young Joon tidak mengetahui, bahwa akupun sedang terisak disini.


"Aku telah begitu banyak menyakitimu... Aku menyadari itu... Maafkan aku..." Young Joon terdengar histeris sekarang.


Aku semakin tidak kuasa menahan tangisku.


"Aku telah berbohong kepadamu, bahwa kau adalah orang pertama yang tidur denganku... Maafkan aku..." Young Joon benar-benar terdengar seperti orang yang sedang disiksa.


"Tapi percayalah... Aku melakukannya tanpa sadar... Aku tidak melakukannya menggunakan perasaan... Semua terjadi begitu saja... Penyihir itu telah menjebakku..." Young Joon setengah menjerit di seberang sana.


"Jenny... Maafkan aku... Aku tidak bisa hidup tanpamu... Terasa sesak disini tanpamu..."


Aku langsung menutup panggilan Young Joon. Aku kembali menangis sejadi-jadinya!


Ya tuhan Jenny...


Apa yang telah kau lakukan?


Siapa penjahatnya disini sekarang!


Bukankah kau terlalu egois, dengan tidak memberikan Young Joon kesempatan untuk menjelaskan?!


Jika saja kau mau mendengar penjelasan Young Joon waktu itu, ini semua tidak akan pernah terjadi!


Jika saja kau tidak pergi begitu saja dan mendengar kata hatimu, kau tidak akan selalu berlari seperti saat ini!


Jennifer, kau lah penjahat yang sesungguhnya disini!


Bukan Young Joon, bukan pula Kimberly!


Kau terlalu egois karena lebih mementingkan harga dirimu!


Kau terlalu egois, hingga menyakiti perasaan banyak orang!


Bukankah karenamu, FBI akhirnya menemukan tempat persembunyian Clarence yang ternyata adalah seorang hacker yang telah lama menjadi buruan FBI?


Bukankah karenamu, mantan suamimu hidup dalam keadaan tersiksa


Bukankah karenamu, Aoyama hidup dalam ketidak pastian?


Dan bukankah karenamu, kedua orang tuamu, serta kedua orang tua Young Joon hidup dalam harapan yang tidak akan pernah terwujud?


Jennifer!


Kaulah penyihir yang sebenarnya!


Bukan Kimberly!


Kau seharusnya mempertahankan rumah tanggamu! Bukan malah menghancurkannya tanpa sisa!