
3 hari setelah pertemuanku dengan teman-temanku, suasana rumah tanggaku dan Young Joon, kembali terasa aneh.
Aku kembali menjadi Jennifer yang selalu menghindari pertemuan dengan Park Young Joon.
Bahkan pagi ini! Ketika melihatnya tengah menonton acara televisi di lantai bawah, aku segera hendak kembali ke kamarku di lantai atas, namun Young Joon terlanjur menoleh ke arahku.
"Jenny!" Ucapnya.
Aku yang saat ini tengah menyentuh penyangga tangga, seketika menghentikan langkahku.
Young Joon menghampiriku.
"Ada apa?" Kataku menoleh ragu kepadanya.
Young Joon melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum.
"Uummm... Begini, apa hari ini kau ada acara?" Katanya lagi.
Aku berpikir sebelum menjawab.
"Ummm... Sepertinya tidak, ada apa?" Kataku
"Bagus! Aku mau meminta bantuanmu!" Katanya kemudian berlalu menuju lantai atas.
"Ayo, tunggu apa lagi! Bersiaplah!"
Aku menuruti ucapannya, dan ketika kami berdiri sejajar, aku bertanya kepadanya.
"Kau mau aku bantu apa?"
Young Joon tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya kepadaku, hingga membuatku secara reflek bergeser ke belakang.
"Ganti saja pakaiannmu, aku butuh bantuanmu untuk mencari sesuatu." Katanya kemudian kembali menegakkan tubuhnya.
"Ki-kita mau kemana?"
Young Joon tiba-tiba memegang kedua bahuku, kemudian mengarahkanku ke kamar.
"Silakan ganti pakaianmu dulu, nona..." Katanya kemudian melepas tangannya dari bahuku.
Aku segera masuk ke dalam, dan segera berjalan menuju lemari pakaian, untuk memilah pakaian yang ada disana.
******************************
Young Joon telah melajukan mobil SUV, yang menurut ceritanya adalah inventaris dari perusahaannya.
Sepanjang perjalanan, dia selalu tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum seperti itu, dan itu cukup membuatku ikut tersenyum.
"Kau mau mengajakku kemana?" Kataku tanpa menoleh kepadanya.
"Nanti kau akan tahu!" Jawabnya.
"Gosah so' misterius gitu, kenapa! Bikin bete aja lu, ya!" Sinisku. Young Joon tertawa!
"Hahahahaaaaaaa!"
"Ada apa denganmu!" Sinisku lagi
"Hahahaahahaaa.... Akhirnya... Hahahaaaa!" Young Joon tertawa, bahkan sampai memukul-mukul roda kemudi! Membuatku bergidik ngeri!
"Akhirnya apa!" Aku memekik
"Hahahaaa!!! Akhirnya... Setelah 4 hari, aku dapat kembali mendengar bahasa Indonesia! Hahahaaa!" Young Joon sesekali menoleh ke arahku.
"Ciissss! Dasar aneh!" Ketusku
"Jenny..." Ucapnya, sesaat dia menghentikan tawanya.
"Hmmmmm." Aku menoleh ke arahnya
"Apa kau dapat mengendarai mobil?"
Ucapannya kali ini, membuatku berpikir seolah dia sedang meremehkanku!
"Tentu saja bisa! Ada apa denganmu!" Kesalku
Young Joon tersenyum!
"Bagus!" Katanya sambil tersenyum
Entah apa yang ada di dalam benak laki-laki ini, hingga membuatku...
Tunggu, mengapa dia menghentikan mobil ini di pelataran parkir sebuah showroom mobil?
"Ini..."
"Sampai!" Katanya kemudian melepas sabuk pengamannya.
"Ayo! Tunggu apa lagi?" Katanya kepadaku, yang saat ini masih terperangah.
Aku menoleh ke arahnya...
"Kau..."
"Mau aku yang melepas sabuk pengamanmu, atau kau yang..."
"Aku bisa melakukannya sendiri!" Kataku kemudian bergegas melepas sabuk pengaman.
Ketika sudah berada di dalam showroom mobil eropa ini, seorang pegawai menghampiri kami.
"Selamat datang, tuan dan nyonya. Ada yang bisa kami bantu?" Ucap pria kulit putih itu ramah.
"Uummm... Begini, aku mau mencari mobil untuk istriku."
Apa?! Apa aku tidak salah dengar, tadi?!
Jadi tadi Young Joon bertanya seperti itu untuk...
"Aaahh... Baiklah! Silakan, tuan..." Pria itu mengarahkan kami ke sebuah ruangan yang penuh dengan beberapa jenis mobil.
"Jenny... Silakan pilih!" Ucap Young Joon bersemangat.
Aku terperangah menatap deretan mobil eropa yang terpajang di hadapanku kini...
Mobil eropa dengan beberapa series terbaru, sungguh memanjakan mataku!
Salah satu type, yang pernah ku idamkan, terpampang disana! Aku segera berlari kecil ke arah sedan berwarna hitam metallic itu.
Ku perhatikan setiap detail bagiannya, hingga aku berdecak kagum!
"Wow!" Ucapku tanpa sadar
"Kau mau yang ini?" Young Joon tersenyum menatapku.
"Eh? I-itu..."
"Istriku menginginkan yang ini!" Kata Young Joon kepada pria itu
"Yo-Young Joon, aku..."
"Hmmmmmm?" Young Joon tersenyum.
"Jenny?"
"Eh! I-itu... Young Joon!"
"Anda mau yang ini?" Ujar pria itu memastikan.
"Yeah!" Young Joon tersenyum menatapku
"Baiklah, tuan, mari kita kesana untuk menyelesaikan administrasi." Kata pria itu.
"Aahh... Baiklah! Ayo, Jenny!" Katanya, kemudian kami mengikuti pria tersebut.
****************************
Setelah proses pembelian selesai, kami memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran cepat saji.
Aku berkata kepada Young Joon, bahwa aku ingin sekali makan hamburger.
Oh, ya! Pria tadi berkata bahwa mobilku akan tiba besok pagi di rumah kami! Huuufffttt! Seperti mimpi rasanya, memiliki mobil impian!
Young Joon kini tampak sangat menikmati hamburger yang baru saja di antar oleh pramusaji.
"Young Joon..." Kataku, sesaat setelah menyesap Cola.
"Hhmmmmm?" Young Joon berhenti mengunyah.
"Tentang tadi..." Ucapku ragu
"Ada apa?"
"Apakah tidak terlalu berlebihan jika..."
"Kau akan kuliah, dan aku takut jika aku tidak dapat mengantar ataupun menjemputmu nanti." Ucapnya kemudian kembali mengunyah hamburger.
"Young Joon, aku dapat..."
"Aku tidak mau ada orang lain yang mengantar atau menjemputmu, kecuali aku." Jawabnya tegas.
Aku seolah mengerti apa yang Young Joon maksud. Yeah! Ku rasa dia mengetahui bahwa malam itu Mike mengantarku pulang, dan itulah arti dari ucapannya.
"Ku pikir awal masuk nanti, kau yang akan mengantar-jemputku." Aku sedikit menggodanya
"Baiklah!"
Aku tidak menyangka dia akan menjawab secepat itu!
"Tidak, tidak! Aku hanya bercanda! Aku tidak mau merepotkanmu!" Kataku tersenyum salah tingkah
"Tidak sama sekali! Aku menyukainya!" Katanya, kemudian menyesap minuman.
Aku tertegun, hingga beberapa saat kemudian, ponsel Young Joon berdering.
"Ya?" Wajahnya nampak serius, kemudian tersenyum, begitu mendengar ucapan orang di seberang sana
"Baiklah, aku akan pulang sekarang." Young Joon tersenyum, kemudian kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Ada apa?" Kataku.
"Kita pulang sekarang, ya?! Kau sudah selesai, kan?"
"Uummm... Yea..."
"Baiklah! Ayo!" Ucapnya kemudian beranjak.
*************************
"Terima kasih banyak!" Ucap Young Joon kepada pria paruh baya, yang baru saja memasangkan foto pernikahan kami, di dinding ruang keluarga rumah kami.
"Sama-sama, pak! Kami permisi dulu." Kata pria itu, kemudian berlalu.
Aku menatap foto berukuran besar ini.
Jika dilihat sekilas, foto ini menunjukkan seolah kami sangat bahagia saat itu...
Senyum bahagia kami... Cara Young Joon menatapku... Dan cara...
"Bagaimana menurutmu?" Young Joon menghampiriku, sambil menatap foto tersebut.
"Eh?" Aku menoleh ke arahnya.
"Bukankah ini bagus?" Katanya menatap foto itu, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Aku menatapnya sambil tersenyum.
"Hmmmmm..." Aku kembali menatap foto itu.
"Young Joon..."
"Hmmmm?" Katanya kemudian menoleh ke arahku.
"Mengapa di letakkan disini?" Aku menoleh ke arahnya.
Young Joon terlihat berpikir, sebelum menoleh ke arahku.
"Lihat!" Katanya kemudian berjalan ke arah pintu keluar.
Aku mengikutinya, bahkan ketika dia keluar rumah, dan menutup pintu.
Aku semakin dibuat heran olehnya, ketika dia membuka pintu rumah ini.
"Lihatlah!" Katanya sambil menunjukkan foto itu dari pintu keluar rumah ini.
Young Joon tersenyum lebar sekali, aku semakin heran dibuatnya!
"Ma-maksudnya?"
Young Joon kini menatapku, masih dengan senyum lebarnya.
"Aku ingin, ketika orang berkunjung ke rumah ini, mereka akan segera mengetahui, bahwa kita adalah pasangan suami istri!" Ucapnya penuh semangat!
Hah! Aneh! Apakah dia tidak memiliki alasan yang lebih masuk akal dari ini?!
Aku melipat kedua tanganku, kemudian tersenyum sinis sambil menatap wajahnya.
"Le-bay!" Kataku kemudian berlalu
"Hey... Jenny-ya..." Young Joon meraih tanganku.
Aku yang hendak menaiki anak tangga, dengan seketika menoleh ke arahnya.
"Apa lagi?" Kataku malas, kemudian menatapnya.
"Uuummm... A-apakah kau menyukainya?" Young Joon meringis, sambil mengusap belakang kepalanya.
Aku kembali melipat kedua tangan, dan menghela nafas, sambil menatapnya.
"Untungnya, aku terlihat cantik disana! Jadi aku menyukainya!" Kataku kemudian berlalu.