Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
I'm sorry, Mike...



Kami telah tiba di rumahku.


Dan ternyata, kedua orang tuaku, tidak ada disana!


"Ibu sama bapak belum pulang, mbak." Ucap mbo' Minah ketika aku menanyakan kedua orang tuaku, begitu aku dan Young Joon baru saja tiba.


Wow! Ini kejutan sekali!


"Baiklah, ku pikir kau sangat lelah hari ini, jadi sebaiknya aku pulang sekarang. Lagi pula, tidak ada orang tuamu sekarang." Ucap Young Joon


"Hmmmm... Baiklah, Hati-hati..." Jawabku, kemudian mengantarnya.


Ketika baru saja menyentuh pintu mobil, Young Joon terdiam, kemudian menghampiriku.


"Ada apa?" Kataku kepadanya yang kini telah berdiri di hadapanku.


Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


"Berapa nomor ponselmu?" Ucapnya menatap wajahku.


"Ah... I-itu..." Aku segera menyebutkan nomor ponselku,


Young Joon segera mencatatnya di ponsel, kemudian tersenyum.


"Terima kasih, aku pulang dulu, ya... Jaga dirimu baik-baik." Katanya kemudian berlalu.


Aku masih berdiri di depan rumahku, bahkan setelah beberapa menit Young Joon pergi.


Aku terus mengingat kejadian hari ini.


Wajah tulus bibi Ji Hyo, wajah bahagia semua yang menyaksikanku menggunakan gaun pengantin, dan... Ponselku berdering.


Aku segera meraihnya, dan menatap layarnya sesaat sebelum aku menjawab panggilan itu.


"Ya, Mike." Jawabku di seberang sini, kemudian berjalan ke arah dalam rumahku.


"Bukankah beberapa jam yang lalu kau berkata akan menghubungiku?" Mike terdengar kesal di seberang sana.


Aku segera membuka pintu kamarku, dan menutupnya, ketika aku sudah masuk ke dalamnya, dan memutuskan untuk berdiri di balik jendela, berharap alam memberiku petunjuk tentang bagaimana caranya agar aku tidak merasa bersalah ketika memeberitahu Mike tentang semuanya.


"Maafkan aku, Mike... Hari ini aku sibuk sekali." Jawabku di seberang sini.


"Apa kau masih sibuk, sekarang?" Kata Mike.


Aku tersenyum, menatap kosong ke arah luar.


"Aku baru saja akan menghubungimu." Jawabku, sambil tersenyum getir.


"Jenny, apa ada yang salah?" Mike sepertinya menyadari sesuatu di seberang sana.


Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, hingga akhirnya Mike kembali menanyakan hal yang sama kepadaku.


"Jenny, katakan kepadaku, apa yang terjadi?! Adakah sesuatu yang sa..."


"Ya, Mike!" Aku segera menyela ucapan Mike.


"Katakan kepadaku, apa yang terjadi?!" Mike terdengar sangat khawatir di seberang sana.


Aku sungguh merasakan sesak disini, mataku mulai berkaca-kaca mendengar ucapannya tadi.


"Mike..." Aku tidak lagi dapat menahan air mataku.


"Jenny, katakan kepadaku, apa yang terjadi! Jenny..."


"Hubungan kitalah yang salah, Mike!" Aku memekik sambil terisak. Mike membisu mendengar ucapanku.


"Mike, maafkan aku..." Aku meraung disini


"A-ada apa denganmu?" Suara Mike terdengar bergetar di seberang sana.


Dan aku berusaha keras mengendalikan diriku agar dapat melanjutkan kata-kataku.


"Mike... Aku akan menikah..." Ucapku lirih.


Hening sejenak, hingga...


"Apa kau sedang mengerjaiku?" Aku dapat mendengar Mike tertawa di seberang sana.


Air mataku kembali mengalir, mendengar responnya.


"Mike, aku bersumpah, aku sedang tidak membual! Aku akan akan menikah bulan depan..." Ucapku kemudian menangis histeris.


Mike kembali membisu, dan...


"Jenny, jika ini adalah lelucon, ini tidaklah lucu sama sekali!"


Panggilan terputus tiba-tiba, sesaat setelah Mike berkata demikian.


Aku menangis sejadi-jadinya disini.


Ada rasa sakit di hatiku!


Bukan! Ini bukan karena aku takut hubunganku dengan Mike akan berakhir, hanya saja, aku takut jika Mike melakukan hal konyol disana!


Ponselku kembali berdering, aku segera menjawab panggilan tanpa memperhatikan layar.


"Mike, ma..."


"Jenny, kau belum tidur?" Sapa seseorang di seberang sana.


Aku segera menatap layar ponselku.


Nomor tidak di kenal!


"Si-siapa ini?" Kataku


"Hey! Aku Joon! Park Young Joon!" Jawab laki-laki itu di seberang sana.


Aku segera membekap mulutku, kemudian sedikit menarik rambut yang yang berada di puncak kepalaku.


"Ba-bagaimana kau bisa... Oooohhhh!" Aku menarik rambutku lebih kencang lagi!


Bagaimana aku bisa lupa!


Bukankah aku baru saja memberikan nomor ponselku kepadanya beberapa waktu yang lalu?


"Jenny, apa kau baik-baik saja?" Young Joon terdengar khawatir di seberang sana.


Air mataku kembali mengalir.


"A-aku..." Tangisku kembali pecah


"Jenny, sesuatu terjadi kepadamu?" Suara Young Joon lembut sekali di seberang sana.


Aku kembali menangis sejadi-jadinya disini.


Young Joon membisu, namun tidak menutup panggilan ini. Dia masih berada disana, mendengar isakan demi isakan yang keluar dari mulutku.


Aku bahkan tidak menyadari, sudah berapa lama aku terisak, namun Young Joon tidak juga menutup panggilan ini.


Dia diam seribu bahasa, tanpa bertanya apa yang membuatku seperti ini, dan tetap setia mendengar isakanku yang entah sudah berapa lama berlangsung, hingga akhirnya suara ketukan di pintu kamarku, mengusikku.


Aku segera mengendalikan diriku untuk setidaknya dapat berhenti terisak, walau hanya sejenak.


Aku segera berjalan ke arah pintu, sesaat setelah menghapus air mataku.


Dan saat aku membuka pintu kamarku, aku terbelalak melihat sosok yang berdiri disana...


Park Young Joon!


Dia berdiri, dengan tangan yang masih memegang ponsel di telinga!


Aku membekap mulutku tak percaya.


Young Joon menatapku iba, dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian berjalan ke arahku lalu...


Memeluku... Eraaat sekali...


Itu membuatku menumpahkan semua rasa sakitku disana... Ya! Aku menangis di pelukan Young Joon!


...****************...


 "Tadi Mike menghubungiku..." Kataku dengan tatapan kosong.


Aku tidak mengetahui secara pasti, bagaimana ekspresi wajah Young Joon ketika aku mengatakan hal itu, karena saat ini, aku masih terbenam di dalam kesedihanku.


Hanya saja, dia sepertinya lebih memilih diam, alih-alih bersikap ingin tahu, seperti biasa.


"Aku memberitahunya, bahwa aku akan menikah." Aku menoleh ke arahnya.


"Bagaimana menurutmu? "Ucapku sambil tersenyum getir.


Young Joon menatapku dengan tatapan teduhnya, kemudian tersenyum.


"Bagaimana responnya?" Ucap Young Joon dengan tenang.


Aku tidak langsung menjawabnya, dan lebih memilih untuk memalingkan wajahku ke arah sangkar burung yang terletak di sudut halaman belakang rumahku ini.


Aku menghela nafas, lalu tersenyum, kemudian menatap wajah Young Joon.


"Dia tidak percaya." Jawabku.


Young Joon terlihat berpikir, sebelum akhirnya berkata...


"Apa kau merasa terbebani dengan pernikahan ini?" Wajah Young Joon sangat serius, ketika mengatakan hal tadi.


Pertanyaannya kali ini benar-benar menghujam jantungku.


Sejujurnya, aku tidak merasa terbebani dengan pernikahan ini.


Aku menyetujui pernikahan ini bukan hanya karena permintaan nenek, karena toh nenek tidak mengharuskanku untuk menikah dengan Young Joon.


Aku menyetujui pernikahan ini, juga karena keingananku sendiri.


Jujur saja, sebenarnya Young Joon adalah cinta pertamaku! Ya! Aku mencintainya ketika kami bersekolah di sekolah yang sama dulu.


Ku pikir itu hanyalah cinta monyet belaka!


Namun cinta itu bertahan cukup lama di hatiku, sampai akhirnya Mike menjadi kekasihku.


Tidak! Ini bukan karena Mike berhasil membuatku menyingkirkan Young Joon dari hatiku!


Hanya saja, aku bahkan tidak mengetahui secara pasti, bagaimana perasaanku terhadap Young Joon saat ini!


Aku begitu segan ketika dia berada di dekatku, namun begitu merindukannya ketika dia tidak sedang bersamaku.


Rindu?! Bukan! Bukan rindu yang seperti itu, tapi...


"Bagaimana denganmu?" Tanyaku kepadanya.


Young Joon terhenyak mendengar pertanyaanku tadi.


Dia mengerutkan keningnya, kemudian meraih kedua tanganku, lalu menggenggamnya erat.


Matanya kini menatap mataku dalam.


Young Joon menarik nafas dalam, kemudian menghelanya perlahan.


"Aku akan merasa terbebani, jika kau merasa terbebani..." Ucapnya tulus.


Aku dapat merasakan panas di pipiku, serta perih di mataku karena menahan air mata.


Young Joon kembali menghela nafas, dan melihat ke arah tangan kami.


"Jika kau tidak menginginkan pernikanan ini..." Young Joon kembali menatap wajahku.


"Aku tidak akan memaksa... Aku akan bicara kepada kedua orang tuaku, dan menjelaskan kepada me..."


"Young Joon, aku..."


"Waaahhhh.... Ada Young Joon disini!" Papa dan mama tiba-tiba datang, menghampiri kami, dan langsung tersenyum kecil, begitu menyadari bahwa kami saling berpegangan tangan.


Aku segera melepas tanganku dari genggaman tangan Young Joon, kemudian berdiri menghadap papa, begitupun Young Joon.


Dia langsung memberi hormat kepada papa dan mama.


"Kalian sudah tiba?" Ucap Young Joon sopan.


Papa tersenyum kepadanya, kemudian menepuk bahu Young Joon.


"Yeah! Kami harus segera menyelesaikan semua secepat mungkin." Ujar papa kepada Young Joon, kemudian menatapku.


Papa menyadari ada yang salah denganku, kemudian menghampiriku, lalu meraih wajahku dengan kedua tangannya.


"Jenny habis nangis, ya?" Papa terlihat khawatir, menatap wajahku.


Aku tersenyum, kemudian menggeleng samar.


"Nggak ko' pa, tadi aku..."


"Dia terharu begitu mendengar aku berkata bahwa dia terlihat cantik sekali dalam balutan gaun pengantin tadi."


Young Joon tiba-tiba menghampiri kami, dan menyela kata-kataku.


Aku dan papa menoleh ke arahnya, papa bahkan sampai mengerutkan keningnya.


"Benar, nak?" Tanya papa kembali menatap Wajahku.


Aku menoleh ke arah Young Joon, dan Young Joon memberi isyarat agar aku mengiyakan ucapannya tadi.


Aku kembali menatap wajah papa, kemudian mengangguk dengan rasa ragu.


Papa tersenyum lembut, kemudian membelai lembut rambutku, lalu mencium lembut keningku.


"Paman, ternyata putrimu yang garang ini, memiliki hati yang sangat lembut, ya!" Ucap Young Joon sambil tersenyum, kemudian kami semua tertawa.


Ya, aku tertawa sambil terus menatap wajah Young Joon. Young Joon menyadari akan hal itu, kemudian tersenyum kepadaku.