
Kami telah tiba di Lombok, dan saat ini tengah melalui perjalanan darat menuju destinasi 'sebenarnya' dengan mengendarai mobil yang di kemudikan oleh seorang karyawan travel yang dimiliki oleh sepupu papaku.
Laki-laki paruh baya ini langsung menyapa kami, beberapa saat setelah kami tiba.
Menurut beliau, Om Anton, sepupu papa memberitahunya tentang ciri-ciri kami.
"Mbak Jenny, sama Mr. Park, ya!" Begitu sapanya, ketika kami sedang menyeret koper.
Saat ini, aku termenung mengagumi pemandangan sepanjang perjalanan ini. Aku sesekali tersenyum! Ini indah! Sangat indah!
Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Lombok, ku pikir ini akan sama saja seperti Bali.
Nyatanya tidak sama sekali!
Aku pernah pergi ke Bali beberapa kali, suasananya tidak begitu berbeda dengan jakarta, terlalu ramai!
Tapi tempat ini, lebih tenang, dan nyaman! Tapi itu menurutku!
"Kira-kira, berapa lama lagi kita sampai, pak?" Tanyaku kepada Pak Imam, laki-laki paruh baya yang saat ini tengah mengemudi.
Pak Imam menoleh ke arahku sekilas.
"Sekitar dua jam lagi, mbak!" Jawabnya penuh semangat
"Apa!!!" Aku sungguh terkejut mendengar jawabannya.
Pak Imam terlihat bingung saat ini.
"Lho, ke-kenapa memang, mbak?" Katanya dengan logat Lombok yang kental
"Emang, kita mau kemana, pak?" Aku segera menegakkan tubuhku
"Ke penginapan sekitar Gunung Rinjani, mbak." Sahut Pak Imam lagi.
Aku membelalakkan mata, serta sedikit membuka mulutku, kemudian kembali menyandarkan tubuhku di kursi.
"Kau kenapa?" Young Joon membuka kacamata hitamnya, menoleh ke arahku.
Aku menoleh ke arahnya kesal, kemudian menghela nafas kasar.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya kami tiba di penginapan yang Pak Imam bicarakan tadi.
"Sudah sampai, mbak!" Kata Pak Imam, sesaat setelah memarkikan mobil di depan sebuah cottage.
Aku sempat menoleh cottage itu dari dalam mobil, sesaat sebelum aku turun dari mobil.
"Ini cottage nya, Pak?" Tanyaku kepada Pak Imam yang hendak mengambil koper ku
"Iya, mbak!" Jawabnya kemudian berlalu
Aku segera masuk ke dalam cottage itu, lalu mengelilinginya...
Mengapa hanya ada satu ruangan disini?!
Maksudku, mengapa hanya ada sebuah kamar, serta kamar mandi?
Aku kembali melanjutkan langkahku ke arah pintu yang sepertinya menuju ruangan lain.
Dan saat aku membuka pintu itu, betapa takjubnya aku, melihat pemandangan yang luar biasa indah ini!
Aku begitu terkagum-kagum melihat hamparan pegunungan! Ya Tuhan! Ternyata ini adalah sebuah kolam renang, dengan pemandangan gunung!
Aku segera melangkahkan kakiku ke arah kolam renang, seraya membekap mulutku, dengan kedua tanganku, sangking takjubnya!
"Waawww... Ini sungguh luar biasa!" Ucap Young Joon yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
Aku segera menurunkan tanganku, kemudian menoleh ke arah Young Joon, kemudian tersenyum seadanya.
Young Joon menoleh ke arahku.
"Bukankah ini sangat indah?" Katanya dengan senyum sumringah.
Young Joon terlihat bahagia sekali. Ketampanannya semakin terpancar dengan senyum itu.
Aku kembali terkesima melihatnya, hingga...
"Kopernya mau di taro dimana, mbak?" Pak Imam berdiri tepat di pintu menuju kolam renang, sambil membawa koper.
Aku segera menghampirinya.
"Disini aja, pak!" Kataku, kemudian meraih dia buah koper yang dibawa Pak Imam.
"Ya udah, kalau begitu, saya permisi dulu, ya! Kalau butuh apa-apa, langsung telepon saya aja." Ujar pak Imam berlalu ke arah sebuah meja, yang terdapat sebuah telepon di atasnya.
"Langsung tekan angka delapan aja ya, mbak." Katanya sambil menunjuk ke arah telepon, dan akupun mengangguk.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sepeninggal Pak Imam, aku kembali menikmati pemandangan yang sungguh sayang jika ku sia-siakan!
Aku segera mengambil gambar melalui kamera yang tergantung di leherku.
Setelah selesai mengambil banyak gambar, aku segera merebahkan tubuhku, di atas kursi malas yang menghadap ke pegunungan, hingga tak terasa, aku terlelap.
Tidurku kembali terusik dengan aroma kopi yang begitu menggoda.
Aku membuka mataku perlahan, dan saat menoleh ke arah kanan, ada Young Joon disana, dengan pakaian yang telah dia ganti sambil mengotak-atik ponselnya.
Aku segera menegakkan tubuhku.
"Pukul berapa sekarang?" tanyaku kepadanya,
Young Joon menoleh ke arahku, kemudian menoleh ke arah ponselnya.
"16.30." Jawabnya, kemudian kembali menoleh ke arahku.
Aku langsung bangkit, dan teringat akan koperku!
Aku segera berlari kecil menuju kamar, hendak membereskan koperku, dan berencana untuk mengganti baju, rasanya tidak sabar ingin berenang!
Dan ketika aku baru saja membuka resleting koperku...
"Byuuuurrrrrrrrr!!!!"
Aku segera menghentikan kegiatanku, dan berjalan ke arah jendela yang menghadap ke arah kolam renang.
Saat aku berada disana, dapat ku saksikan, Young Joon yang hanya mengenakan celana pantai selutut begitu menikmati kegiatannya.
Dia sesekali mengibas-ngibaskan kepalanya, dan jujur saja, itu semakin menambah nilai ketampanannya!
Aku bahkan senyum-senyum sendiri, sambil menggigit bibir bawahku!
Dan ketika aku menyadari sikapku kini, aku segera memudarkan senyumku, kemudian mengutuk diriku sendiri, bahkan memukul kepalaku!
Ya Tuhan!!! Ada apa denganku!
Aku segera kembali menuju koper, hendak membereskan pakaian.
Ketika koper berhasil terbuka, Young Joon menyapaku melalui pintu yang memang sengaja tidak kami tutup.
"Jenny, apa kau tidak ingin berenang?" Katanya sambil tersenyum,
Aku menoleh ke arahnya, dan begitu terkesima melihat penampakannya kini!
Dada yang bidang, perut yang berotot, serta kulit yang seputih salju... Ya Tuhan! Pikiranku kini melayang entah kemana!
"Jenny..."
"I-iya..." Jawabku dengan gugup.
Young Joon heran melihat sikapku, yang kini mengusap tengkukku, sambil berpaling darinya
"Ku-ku pikir, aku akan membereskan ini dulu." Sahutku sambil tersenyum konyol menoleh ke arahnya.
Young Joon sedikit memajukan bibirnya, serta mengerutkan keningnya.
"Ummm... Baiklah." Katanya, kemudian berlalu
Huuuffftt! Aku segera menghela nafas lega, kemudian kembali beralih ke koperku.
Saat aku memilih baju satu per satu...
Apa-apaan ini!!!
Aku menatap sarkastik, baju yang saat ini ku rentangkan dengan kedua tanganku!
Aku menghela nafas kasar, dan membuang baju itu kasar, kemudian kembali memilah pakaian yang ada di dalam koperku.
SIALLLLL!!!! Terdapat banyak sekali baju menjijikkan itu di dalam koper ini! Ada 8 buah lingerie, serta hanya terdapat 2, maksudku 4 potong pakaian yang sedikit lebih normal, namun tetap minim! Dan selebihnya, pakaian dalam yang tak kalah menjijikkannya!
Aku menghela nafas kasar, dan tersenyum kesal, sambil berkacak pinggang!
Clara sialan! Apa maksudnya!
Aku segera berjalan menuju sling bag yang ku letakan di sofa yang terletak di depan ranjang kamar ini, dan langsung mengeluarkan ponsel yang terdapat di dalamnya!
Aku langsung menekan tombol on/off, karena aku langsung me-non aktifkan ponselku, begitu hendak naik pesawat tadi.
Begitu ponselku menyala, dan aku hendak mencari kontak Clara, terdapat banyak pesan masuk disana...
Mike...
Tubuhku melemas seketika, begitu melihat namanya tertera di kotak masuk ponselku.
Aku segera membuka pesan darinya satu per satu.
Mike : Apa pestanya berjalan dengan lancar?
Mike : Bagaimana malam pertamamu?
Mike : Apakah dia pria yang tampan?
Mike : Aku merindukanmu...
Mike : Aku mencintaimu...
Mike : Kau masih kekasihku...
Mike : Jangan pernah berpikir, bahwa pernikahan ini adalah akhir dari kisah kita...
Mike : Aku tidak akan melepasmu...
Mike : Aku mencintaimu...
Jantungku berdegup dengan hebat! Air mataku mengalir begitu saja...
Dan saat aku keluar dari ikon kotak masuk, hendak memasukkan ponselku kembali ke dalam sling bagian, ponselku berdering...
Mike...
Aku menghela nafas, serta membekap mulutku. Ada keraguan untuk menjawab panggilan darinya, namun pada akhirnya...
"Jenny..." Suara Mike terdengar lirih di seberang sana...
Aku membekap mulutku sekuat mungkin, agar Mike tidak mendengar isakanku.
"Jenny... Aku mencintaimu... Jangan tinggalkan aku..."
Aku segera menutup panggilan, dan menahan tangisku sekuat tenaga, sambil mengusap air mataku.
Aku segera berjalan menuju kamar mandi, untuk mencuci wajahku disana.
Selesai mencuci wajahku, aku menatap bayangan wajahku melalui cermin.
Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa aku seperti ini? Ya Tuhan....
"Jenny..." Young Joon kini telah berdiri di depan pintu kamar mandi, yang memang tidak ku tutup.
Aku menoleh ke arahnya. Aku menatapnya dengan tatapan nanar. Young Joon tidak begitu menyadari sikapku, karena memang sikapku begitu aneh sejak semalam.
"Apa kau lapar?" Katanya, sambil mengusap kepalanya menggunakan handuk
"Eh? I-itu..."
"Sudah pukul 17.30, dan kita belum memakan apapun semenjak tiba disini." Katanya melanjutkan
"I-itu..."
"Ada sebuah kafe di depan sana, bagaimana kalau kita kesana?" Katanya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kami sudah berada di sebuah kafe, yang memang merupakan fasilitas dari penginapan ini.
Kami masih menunggu makanan yang kami pesan, sambil menyaksikan matahari terbenam dari celah pegunungan...
Aku menatap pemandangan yang sungguh jarang ku saksikan ini. Ini indah, namun tidak dapat mengobati nyerinya hatiku.
Air mataku menetes, ketika aku mengingat kembali kejadian di saat Mike menghubungiku tadi.
Dan beberapa pesan yang dia kirimkan...
"Jenny..." Young Joon tersenyum menatapku.
Aku segera menghapus air mataku, kemudian menoleh ke arahnya, dan tersenyum dengan penuh usaha.
Young Joon mengerutkan keningnya, seolah menyadari akan sesuatu.
"Apa kau menangis?" Katanya.
"Eh?"
Young Joon menunjuk mataku dengan jarinya.
Aku segera menyentuh pipiku.
"A-aku hanya merindukan kedua orang tuaku." Jawabku kemudian kembali tersenyum.
Young Joon tampak meraih sesuatu dari saku celananya. Ternyata ponsel!
Aku kembali menatap ke arah gunung, sambil tersenyum penuh kepedihan.
"Ini..." Katanya sambil menyodorkan ponselnya.
"Eh?"
"Kau bilang, kau merindukan kedua orang tuamu?"
Aku segera menatap ke layar ponselnya, yang bertuliskan huruf Hangeul yang tidak ku mengerti, kemudian meraihnya dengan ragu.
Saat aku meletakan ponsel itu di telingaku, hanya terdengar nada sambung disana. Aku menoleh sekilas ke arah Young Joon.
"Ada apa, Young Joon?" Suara papa di seberang sana, mengalihkan perhatianku.
"P-pa..." Sahutku di seberang sini
"Jenny... Ada apa, sayang?" Suara papa begitu lembut...
Aku segera membekap mulutku, air mataku mengalir begitu saja.
"Jenny..."
Aku tidak dapat menjawab papa, karena air mataku semakin mengalir deras.
Young Joon memberi isyarat agar aku memberikan ponselnya kepadanya, dan aku langsung menyerahkan ponsel kepadanya begitu saja, kemudian menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Pa, Jenny begitu merindukan kalian... Dia sampai tidak dapat mengucapkan apa-apa karena menangis."
Aku segera menoleh ke arah Young Joon, yang kini tersenyum sambil terus berbincang melalui ponsel.
Cara dia berbicara kepada papaku begitu santun.
"Baiklah..." Ucapnya, kemudian kembali menyodorkan ponselnya kepadaku.
Aku segera meraihnya.
"Jenny, jangan mikir macam-macam ya, sayang... Kita semua bahagia disini..." Ucapan papa begitu menenangkan, aku tersenyum.
"Papa yakin, Young Joon pasti akan ngebahagiain Jenny..." Ucap papa
Aku segera menoleh ke arah Young Joon, yang kini tersenyum menatapku.
"Ya, pa..." Ucapku.
Panggilan terputus, aku segera mengembalikan ponsel Young Joon.
"Terima kasih." Kataku
Young Joon tersenyum. Dan tak lama kemudian, pesanan kami datang.