Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Why?!



Tok... Tok... Tok...!'


Suara ketukan benar-benar mengusik tidurku. Aku masih sangat lelah karena kejadian semalam.


Aku benar-benar tidak ada niat sedikitpun untuk membuka pintu kamar ini, dan menutup telingaku dengan bantal hingga seluruh wajahku tertutup.


YoungJoon akhirnya bangun, dan bergegas membuka pintu kamar ini


"Kau! Apa yang kau lakukan disini! Mengapa kau bisa ada disini?"


Aku mengenal suara orang yang kedengarannya tampak keheranan dan terkejut itu!


Aku kemudian membuka bantal yang menutupi kepalaku, dan segera terduduk, namun masih dalam keadaan selimut menutupi seluruh tubuhku.


"Ah... Um... Be-begini, Rob..."


"Aku mengunjungi istriku. Apa itu salah?" Young Joon terlihat santai menjawab keheranan Rob.


***************************


Rob duduk di sofa, berhadapan dengan Young Joon.


Sedangkan aku, aku masih terduduk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhku.


Rob memandangi kami secara bergantian, sedangkan Young Joon, menatap wajah Rob aneh.


"Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?" Tanya Rob, menatap wajahku


"Kami melakukan yang biasa suami istri lakukan, apa lagi?" Young Joon menjawab dengan santai, lalu meneguk minuman ringannya, sambil menatap ke arah Rob.


Rob kini menatap wajah Young Joon tajam


"Bagaimana kau bisa kesini?" Selidik Rob


"Aku mengikutimu." Jawab Young Joon santai


"Bagaimana mungkin! Bukankah kau telah pergi?" Rob heran


"Aku hanya membeli makanan sebentar, karena bekal makanan dari istriku sudah habis, lalu ketika aku kembali, aku melihatmu pergi dengan sepeda motormu. Gerakanmu itu begitu mencurigakan!" Young Joon menjelaskan dengan tenang.


"Rob, kau bilang kau pergi melalui jalan rahasia!" Protesku


"Aku memang pergi melalui jalan rahasia, Jen!" Jelas Rob


"Jalan rahasia macam apa, yang dapat ditemukan dengan mudah seperti itu?" Ejek Joon


"Apa maksudmu?" Rob sadar sedang di ejek


"Dimana kau menemukan Rob, Joon?" Selidikku


"Sekitar tiga rumah dari rumahnya." Jawab Young Joon santai.


"Jalan rahasia macam apa itu, Rob?" Protesku lagi.


"Setidaknya dia tidak melihatku pergi dari depan rumahku, Jen!" Rob membela diri.


Kau tahu, selama ini kupikir Rob adalah orang yang paling jenius di muka bumi ini! Nyatanya, dia tidak lebih pintar dari Shierly!


**************************


"Apa rencana kalian setelah ini?" Rob ingin memperjelas, setelah dia mendengar semua ceritaku kemarin


"Ya tentu saja, kami akan menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia, dan membuat banyak anak." Ujar Young Joon santai, sambil tersenyum bahagia.


Rob terlihat muak melihat kelakuan konyol Young Joon!


"Jangan dengarkan dia, Rob! Otaknya sedikit bergeser karena kurang tidur." Ujarku, lalu menatap sinis ke arah Young Joon.


"Bergeser bagaimana, semalam kita..."


"Aaarrrgghhh!!!!" Aku menutup telingaku.


"Apa yang terjadi diantara kalian sebenarnya!"


Rob benar-benar tidak habis pikir dengan kami. Kami hanya menatap Rob heran.


"Jen, bukankah kau kemarin bercerita kepadaku, bahwa..."


"Bahwa apa? Apa yang istriku ceritakan kepadamu?" Young Joon tampak penasaran.


Rob melihat ke arahku, dan aku mengisyaratkan untuk tidak mengatakan apapun.


Young Joon menatap wajahku penasaran, sedangkan Rob segera mengambil inisiatif.


"Baiklah Jen, kupikir kau sudah aman sekarang, aku akan kembali ke DC." Ujar Rob lalu berdiri, dan bergegas meninggalkan kami, namun Young Joon mencegahnya.


"Tunggu dulu." Ucap Young Joon kemudian bangun dari duduknya, dan menghentikan Rob.


"Ada apa?" Tanya Rob, lalu Young Joon menghampirinya.


"Kau belum mengatakan kepadaku, apa yang diceritakan oleh istriku." Young Joon benar-benar penasaran, hingga melakukan hal yang menyebalkan seperti itu


"Ooohhh... Ya tuhan! Ada apa denganmu!" Rob tampak kesal kepada Young Joon.


Young Joon mengisyaratkan menanti jawaban dari Rob.


"Tanyakan saja kepada istrimu! Sudahlah! Aku sedang banyak urusan!" Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan kami.


****************


Sepeninggal Rob, Young Joon langsung menghampiriku.


Dia duduk di hadapanku, lalu mendekatkan wajahnya di depan wajahku.


"Apa saja yang kau ceritakan padanya? Huh?" Ucapnya.


Wajahnya tampak konyol, layaknya anak kecil yang meminta sesuatu kepada ibunya!


"Lu kepo banget sih jadi orang! Terserah gw lah, mau cerita apa aja ke temen gw!" Jawabku sebal, lalu menggeser tubuhku ke samping


"Ayolah..." Rengek Young Joon.


"Tidak mau!" Jawabku tegas.


"Ayolah, Jen..." Young Joon masih terus merengek.


"Aku tidak mau, Park Young Joon!" Aku kembali menegaskan.


Young Joon tampak frustrasi mendengar jawabanku, hingga akhirnya, dia menatapku dengan tatapan aneh, dan berkata...


"Istriku, apakah kau mengetahui tentang suatu hal tentangku?" Young Joon tampak serius kali ini.


"Apa itu?" Tanyaku penasaran


"Sejak kejadian semalam..."


"Kumohon, jangan bahas tentang itu lagi, sekarang, ataupun seterusnya!" Aku memperingatinya


"Dengarkan aku dulu..." Young Joon kembali mendekatiku, sambil merengek


"Katakanlah! Tapi jangan bahas tentang itu lagi!" Aku mengancamnya


"Baiklah! Begini... Jika aku penasaran, itu membuatku ingin melakukan yang seperti semalam lagi..."


Demi tuhan, wajah Young Joon benar-benar cabul saat mengatakan hal itu, membuatku merinding sekali!


"Aku menceritakan semua kepadanya. Dari awal mengapa kita akhirnya menikah, hingga kejadian di kantormu waktu itu."


***************************


Akhirnya aku menceritakan perbincangan ku dengan Rob kemarin.


"Aku mendengar cerita Shirley, bahwa kau telah menikah dengan lelaki pilihan orang tuamu, apa itu pria Asia yang kau maksud?" Tanya Rob


"Ya, itu benar." Jawabku, lalu meneguk minuman yang Rob bawa


"Bagaimana mungkin?" Rob terdengar sedikit heran


"Rob, itu mungkin saja terjadi, mengingat tradisi dari negara kami. Keluargaku dan keluarga suamiku, memiliki hubungan kekerabatan yang baik. Dan mereka ingin mempererat itu semua." Jelasku


"Tapi, bukankah kau berasal dari Indonesia?" Rob penasaran


"Kami memiliki darah China dari nenek moyang kami, dan keluarga ibu Young Joon dengan keluarga ayahku, memiliki hubungan kekerabatan yang baik." Jelasku


"Apa itu bersangkutan dengan harta? Aku sering melihatnya di beberapa film." Rob sedikit penasaran


"Tidak, itu hanya sebagian saja." Jawabku menjelaskan


"Lalu, bagaimana?" Rob kembali bertanya


"Itu terlalu rumit untuk dijabarkan, namun, kalau boleh jujur, suamiku adalah cinta pertamaku. Aneh, bukan? Kami pernah bersekolah di sekolah yang sama. Dan kami di pertemukan kembali dalam ikatan pernikahan." Mataku berkaca-kaca ketika mengatakan ini


"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Mike?"


"Semua sudah berakhir kemarin."


"Maksudmu?"


"Mungkin, 2 tahun bersama Mike, hanyalah pengalihan perasaanku. Mike pria yang baik, dan cukup pengertian. Awalnya aku berpikir, bahwa aku mencintainya. Namun kenyataannya tidak."


"Kau mencampakkannya?"


"Tidak, aku hanya membebaskannya dari belenggu ketidak pastian tentang hubungan ini. Dia berhak untuk bahagia." Aku berkata dengan senyum


"Lalu, apa yang membuatmu pergi kesini?"


"Aku juga ingin melepaskan suamiku."


"Mengapa? Apa kau dicampakkan olehnya?" Rob terlihat marah


"Mungkin! Kau tahu, sebenarnya dia adalah laki-laki yang baik. Dia mengizinkanku untuk tetap berhubungan dengan Mike. Namun aku terlalu egois." Mataku mulai berkaca-kaca


"Egois?" Rob terdengar sedikit heran


"Aku merasa sakit, saat dia mengatakan bahwa dia memiliki hubungan dengan seorang gadis."


Aku tidak dapat menahan air mataku kini.


Rob terlihat prihatin kepadaku, dan memberiku sapu tangan miliknya, dan aku kembali melanjutkan ceritaku.


"Kemarin, saat aku menemuimu, adalah hari dimana dia akan menyatakan perasaannya kepada gadis itu. Aku pergi ke kantornya. Dan melihat dia akan mencium gadis itu."


Aku menangis histeris saat menceritakan hal itu. Rob berpindah dari tempat duduknya, ke sampingku


"Sudahlah... Tenangkan dirimu dulu." Rob menenangkanku, dan menaruh kepalaku di bahunya


"Aku memang ingin meninggalkannya, tapi tidak seharusnya secepat itu." Aku berkata seraya menangis pedih, Rob hanya terdiam mendengarkanku


"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Rob.


Aku terdiam dan mulai berpikir, kemudian menjawab


"Mungkin aku akan mendaftarkan perceraian kami di tempat kami menikah, tanpa keluarga kami ketahui. Dan melanjutkan kehidupanku negara lain. Tidak di Indonesia, Amerika, ataupun negara yang terhubung dengan kami." Jawabku agak sedikit tenang


"Apa kau yakin?" Rob memastikan


"Aku tidak akan sanggup melihat dia bahagia dengan gadis lain." Aku kembali menangis, dan Rob kini memelukku


             _________________________


"Kau ingin mendaftarkan perceraian kita?" Young Joon menatapku, dan aku mengangguk


"Ya, aku sudah membawa berkasnya di dalam tasku." Jawabku, tanpa menoleh ke arahnya.


Aku telah mempersiapkan semua hari itu.


Aku menaruh semua berkas yang ku butuhkan untuk proses perceraian kami di dalam mobil, dan membawanya ketika aku pergi ke Brooklyn.


"Apa hidupmu seketerlaluan itu, Jennifer?" Young Joon terlihat heran.


"Apa hidupmu sesederhana itu, Park Young Joon?" Aku balik bertanya kepadanya, kemudian menatap wajahnya.


"Apa kau masih berencana untuk mendaftarkan perceraian itu, sekarang?" Young Joon memastikan, dan aku mengangguk.


"Apa maksudmu?" Young Joon terlihat emosional sekarang.


"Entahlah, Joon... Aku hanya menginginkan kebahagiaanmu, itu saja." Ucapku.


Young Joon tiba-tiba bangun, dan mencari tasku.


Setelah mendapatkannya, dia sesegera mungkin membukanya, dan mengeluarkan semua isinya.


Young Joon mengambil sebuah map yang berisi dokumen yang akan ku kirim ke lembaga pernikahan, tempat dimana kami mendaftarkan pernikahan dulu.


Dia membuka map itu, dan melihat isi di dalamnya dengan saksama.


Tanpa pikir panjang, Young Joon merobek seluruh isi dalam map itu, dan aku segera bangkit dan berlari.


Namun, baru saja melangkahkan kakiku...


"Aaarrrgghh...."


'Buuuuggghhh'


Aku terjatuh, karena menahan nyeri yang sampai kini masih terasa di area sensitifku!


Itu cukup mengalihkan perhatian Young Joon, dan membuatnya melempar benda yang dia hancurkan dengan tangannya itu, dan berlari ke arahku


"Apa yang kau lakukan!"


Dia segera membopongku yang saat ini sedang meringis kesakitan, ke atas ranjang, lalu merebahkanku.


"Mengapa kau mencoba menghentikanku!" Young Joon agak meninggikan suaranya seraya menatap wajahku kesal, aku juga menatapnya kini


"Apakah kau tahu, semua yang kau hancurkan itu, adalah hal penting untukku!" Aku berteriak kepadanya


"Apakah menceraikanku adalah hal yang penting untukmu!" Young Joon membalas teriakkanku.


Aku hanya terdiam, masih menatap wajahnya.


Young Joon tiba-tiba menciumku...


Dia menciumku dengan sangat buas, hingga membuatku sesak!


Aku hampir tidak bisa bernafas karenanya!


Aku takut, aku takut dia melakukannya lagi!


Ini masih terasa sakit untukku.


Dia belum menghentikan ciumannya, dan aku berusaha melepasnya, namun dia menggigit kecil bibirku!


Aku meneteskan air mata...


Air mataku mengalir, mengenai wajah Young Joon, hingga membuatnya menghentikan ciuman buasnya.


Kening kami saling bersentuhan, kemudian Joon memelukku erat.


"Jangan pernah berpikir untuk menceraikanku... Ku mohon... " Suara Young Joon terdengar bergetar.


"Bahkan untuk sekedar memimpikannya pun, jangan..."