Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
I Love You...



"Tidurlah... Kau tampak lelah." Aku mengalihkan pembicaraan tadi


"Apa kau mengendarai sepeda motor kesini?" Young Joon mendekatkan wajahnya, aku agak ragu untuk menjawabnya.


"Y-ya..."


"Bukankah kau telah berjanji, untuk tidak menggunakan itu lagi, jika kau ingin melanjutkan kuliahmu disini!" Young Joon mengingatkan perjanjian kami ketika di Indonesia dengan tegas.


Aku menatap matanya...


"Ku pikir, semua perjanjian akan gugur setelah..."


"Itu akan berlaku untuk selamanya!" Young Joon agak meninggikan suaranya, lalu memegang kedua bahuku, dan melihat ke arah bawah.


"Aku tidak ingin kejadian itu terulang." Ucapnya lalu kembali menatap wajahku.


"Aku tidak ingin kehilangan wanita yang paling ku cintai..." Wajahnya sungguh sangat teduh, dan juga serius.


'Deeeeeggghhhh!'


Aku terbelalak!


Apa Aku tidak salah dengar?!


Apa maksud dari ucapannya tadi?!


Aku kembali teringat kejadian itu.


Kejadian dimana aku hampir saja kehilangan nyawaku...


Kejadian dimana aku mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan tinggi, sesaat setelah bertengkar dengan Young Joon, hingga membuatku kehilangan kontrol kemudi, dan menabrak sebuah pohon besar.


Ya, setelah semua baik-baik saja, dan aku kembali 'hidup' dalam keadaan sehat, Young Joon mengizinkanku kembali  melanjutkan kuliah, bahkan bertemu dengan Mike, asalkan tidak mengendarai sepeda motor lagi, dan aku menyetujuinya dengan senang hati.


Ada banyak pertanyaan dalam benakku untuknya, namun akan ku jaga sampai waktunya tiba.


"Apakah kau mau makan, Rob tadi membawakan banyak makanan untukku." Ucapku lalu berjalan menuju sofa, dimana bungkusan yang Rob bawa tadi berada.


"Aku sudah makan." Kata-kata Joon menghentikan langkahku.


"Aku memakan bekal yang ditinggalkan istriku di meja kerja salah satu karyawanku." Ucapnya dengan suara bergetar.


Aku bahkan lupa, kapan aku meninggalkan bekal itu, karena terburu-buru meninggalkan kantor Young Joon.


"Aku suka telurnya, bentuknya unik. Aku juga suka udangnya, itu gurih dan sedikit manis, dan aku..."


Aku langsung berlari ke arahnya, dan memeluknya dengan erat.


"Aku juga suka penampilan istriku ketika membawakan bekal itu. Dia cantiiikkk sekali... Sangat cantik!" Ucapnya seraya terisak.


Aku tak kuasa menahan tangis ku saat Joon berkata seperti tadi


--------------------------------------------------------------------------


"Kau tidak mau tidur?" Ujarku kepada Joon, yang saat ini berbaring denganku di atas ranjang.


"Aku takut kau pergi lagi." Jawabnya sambil menatap langit-langit.


"Aku berjanji, aku tidak akan pergi." Jawabku, kemudian membalikkan tubuhku ke arahnya


"Kau bahkan pernah berjanji untuk tidak mengendarai sepeda motor, waktu itu." Jawabnya, lalu berbalik ke arahku, hingga kami saling bertatapan.


"Apa yang harus ku lakukan agar kau percaya?" Aku membelai wajah Young Joon, dan Young Joon meraih tanganku, lalu mengecupnya.


"Aku akan membuatmu tidak bisa kemana-mana." Katanya kemudian, Young Joon terduduk, begitupun aku.


"Apa maksudmu..."


YoungJoon tiba-tiba mengecup bibirku...


Ya, benar!


Aku tidak akan bisa kemana-mana kali ini. Karena jantungku berdegup kencang, bahkan hampir saja mau terlepas!


Tapi aku tetap membiarkannya.


Bahkan saat ciumannya bertambah liar, aku tetap membiarkannya.


Aku membiarkan semua terjadi.


Tanpa penolakan, bahkan tanpa paksakan...


Aku menerima semua sentuhan demi sentuhan darinya.


Walaupun terasa agak sakit disana, aku membiarkannya.


Aku membiarkannya merenggut semua... Semua yang kumiliki...


Aku membiarkan Park Young Joon menyentuh hal terpenting dalam hidupku...


Ya, aku memberikannya!


Aku memberikan kesucian ku sebagai seorang istri, kepada suaminya, yang amat dicintai...


Malam ini terasa panjang sekali.


Hingga Young Joon leluasa menyentuhku berkali-kali.


Aku selalu membiarkannya, bahkan menikmati setiap sentuhan darinya.


Aku sudah tidak lagi memperdulikan batasan kami.


Aku memberikannya dengan kesadaranku.


"Maaf... Jika aku harus melakukan ini kepadamu..." YoungJoon memelukku dari belakang, seraya mengecup puncak kepalaku, setelah 'pergulatan' kami tadi.


Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.


"Maaf, jika itu menyakitimu..." Ucapnya lirih.


Mendengar kata-katanya kali ini, membuatku terduduk, seraya menarik selimut yang menutupi kami, untuk menutupi  tubuhku.


"Kalau kau tahu ini menyakitiku, mengapa kau melakukannya sampai tiga kali! Dasar bodoh!" Umpatku, lalu Young Joon juga ikut terduduk


"Jika kau kesakitan, mengapa kau membiarkanku terus melakukannya!" Young Joon tidak terima dengan umpatanku kepadanya.


"Itu karena... Itu.... Aaarrgghh... Sudahlah! Aku mau pipis!" Ucapku lalu menarik selimut, kemudian turun dari ranjang.


"Aaarrrgghhh...!!!" Aku teriak ketika melihat 'tubuh polos' Young Joon, lalu menutup wajahku dengan selimut yang membalut tubuhku


"Apa lagi?" Young Joon terlihat tak berdosa.


"Apa kau bodoh! Mengapa kau tidak menggunakan apa-apa begitu!" Umpatku dari balik selimut


"Ya tuhan, Jenny! Ada apa denganmu! Bahkan tadi kita..."


"Aaaarrrgghh!!!" Aku tidak ingin mendengar Young Joon menjelaskan apa yang telah terjadi diantara kami tadi.


"Baiklah, aku akan mengenakan pakaian." Young Joon mengeluh.


Dan aku berbalik ke arah berlawanan dengannya, lalu membalut seluruh tubuhku, karena hendak berjalan ke kamar mandi.


Saat aku melangkahkan kakiku...


"Aaaaawwwwww!!!"


Young Joon segera berlari ke arahku.


Setidaknya, dia telah mengenakan pakaian dalamnya.


Aku menatap wajahnya.


"Apa yang terjadi?" Joon tampak khawatir


"Sakiiiiitttt...." Aku mengeluhkan rasa sakit di bagian sensitif ku.


Dan aku terkejut ketika melihat ke arah ranjang kami!


Ada sedikit noda disana, itu terlihat jelas, karena spreinya berwarna putih.


Young Joon melihat ke arah dimana mataku tertuju.


"Aku akan menggendongmu ke kamar mandi." Ucapnya lalu membopong tubuhku sampai kamar mandi.


Setelah sampai di depan kloset, Young Joon menurunkanku.


"Tunggulah di depan, aku akan memanggilmu jika sudah selesai." Pintaku pada Young Joon.


Youn Joon kemudian meninggalkanku, lalu menutup pintu kamar mandi.


Aku segera membuka selimut, dan duduk diatas kloset untuk buang air kecil.


Saat mengeluarkan air dari dalam tubuhku, aku merasakan nyeri yang cukup hebat, hingga membuatku sedikit teriak.


"Aaaawww...!"


Dan teriakan ku membuat Young Joon menerobos pintu kamar mandi, lalu menghampiriku.


"Aaaarrrgghh!!!" Aku berteriak kepadanya


"Ada apa, sayang?" Dia terlihat sangat khawatir


"Keluar!" Perintahku...


Aku malu bukan main saat Young Joon melihat tubuh polosku.


Young Joon lalu bergegas keluar, dan menutup kembali pintu kamar mandi.


Perasaanku sungguh tidak karuan!


Mengapa hal tadi harus terjadi!


Ya tuhan!


Apa yang harus ku lakukan?


Sekuat tenaga aku menahan rasa nyeri saat buang air kecil, dan aku terdiam sejenak, saat telah selesai.


YoungJoon memanggilku...


"Sayang, apa kau sudah selesai?" Young Joon terdengar khawatir, aku tidak langsung menjawab.


"Sayang... Kau baik-baik saja?" Young Joon kembali memastikan.


"Ya... Aku sudah selesai." Sahutku dari dalam.


Young Joon langsung masuk ke dalam, dan kembali membopong tubuhku sampai ke atas ranjang, lalu membaringkanku disana.


Young Joon masih berdiri disana, terlihat agak salah tingkah


"Aku tidak ingin melakukannya lagi!" Ketusku, lalu berbalik menghindarinya


"Sayang, mereka selalu bilang, kejadian pertama memang menyakitkan, jadi..."


"Tapi tadi kita melakukannya sebanyak tiga kali!" Aku meninggikan suaraku, dan terduduk


"Y-ya... Mungkin..."


"Benda macam apa yang tadi kau gunakan!" Aku menatap wajahnya kesal


"Apa maksudmu?" Young Joon terheran mendengar pertanyaan anehku.


"Aku menggunakan yang tadi kau lihat sebelum kau pipis." Jawabnya santai.


"Aaarrrgghhh...!!!" Aku kembali berteriak, lalu Young Joon membekal mulutku.


"Mengapa kau berteriak terus! Kau bisa membuat orang-orang di sekitar datang kesini." Ujar Young Joon memperingatiku


Kami sudah berbaring di atas ranjang.


"Apa ini, 'cara' yang kau maksud, untuk mencegahku pergi?" Tanyaku, seraya menatap langit-langit


"Ya... Apa boleh buat." Young Joon menghadapkan wajahnya ke arahku.


"Sebenarnya, tanpa melakukan hal yang tadi sekalipun, aku tetap tidak akan pergi kemanapun." Jawabku, masih dalam posisi yang sama


"Kau pernah berjanji kepadaku, namun kau mengingkarinya, lagipula, bukankah itu hal yang wajar jika dilakukan oleh suami istri?" Young Joon membelai rambutku, membuatku menoleh ke arahnya


"Cara ini, sungguh menyakitkan." Keluhku


"Maaf... Hanya dengan cara ini, aku dapat menahanmu untuk pergi." Jawabnya, lalu membelai wajahku


"Apa kau akan terus menggunakan cara yang menyakitkan, untuk membuatku tidak pergi?" Tanyaku lagi.


Young Joon menghentikan belaiannya, lalu terdiam.


"Entahlah..." Young Joon terlihat frustrasi karena pertanyaanku tadi.


"Apakah kau melakukan hal tadi karena terpaksa? Hanya supaya aku tidak pergi?" Tanyaku lagi.


Young Joon menatap wajahku, lalu tersenyum, dan meraih tanganku, kemudian mengecupnya.


"Sama sepertimu, ini adalah pengalaman pertamaku. Dan aku pernah berkata kepadamu, bahwa aku ingin melakukannya tanpa harus memaksa, ataupun terpaksa." Young Joon berkata, seraya menatap mataku dalam


"Kau mengatakan bahwa kau hanya mau melakukannya dengan orang yang kau cin..."


"Aku mencintaimu..." Jawabnya lembut, namun tegas.


Itu membuat hatiku bergetar.


"Kau  ingin melakukannya hanya dengan orang yang kau cintai, dan mencintai..."


"Aku mencintaimu."


"Bagaimana kau tahu, bahwa aku mencintaimu?" Tanyaku.


Young Joon kembali membelai wajahku.


"Kau membiarkanku menyentuhmu, dan kau tidak terlihat terpaksa ketika aku menyentuhmu." Jawabnya


"Bagaimana jika aku hanya menyukai 'itu'?" Tanyaku lagi


"Kau akan menghentikanku, ketika kau kesakitan, jika kau hanya menyukainya. Namun kau tetap membiarkanku ketika aku tetap menyentuhmu."


Tatapannya begitu lembut.


"Aku mencintaimu..."


Young Joon terus menerus mengatakan itu sambil tersenyum sampai ia terlelap.


Aku terus menatap wajahnya, itu manis sekali. Aku merasa sangat bahagia saat ini.


Aku benar-benar bahagia...


Ya, hanya itu!


Aku mencintai suamiku...