
"Tentu saja! Aku yang memberitahunya!" Aoyama sudah mulai sedikit oleng, sekarang!
"Lalu, bagaimana dengan Kimberly?" Aku kembali meneguk wine ku.
Aoyama kembali tertawa.
"Gadis bodoh itu tidak tahu! Makanya dia selalu dimanfaatkan oleh laki-laki cabul itu."
Kami minum sangat banyak malam itu! Membicarakan hal yang tidak penting, bahkan aku sendiri tidak paham, apa saja yang telah keluar dari mulutku.
Kami tertawa bagai orang yang telah kehilangan akal. Hingga samar-samar ku dengar Aoyama berkata
"Jennifer, aku jatuh cinta kepadamu..." Aku tertawa mendengarnya!
Dan Aoyama terlihat kesal, melihat responku!
"Kau membuatku tergila-gila." Ucapnya lagi.
Aku kembali tertawa, dan Aoyama tersenyum.
**********************
Ponselku berdering, namun mataku masih sangat berat.
Kupikir aku akan mematikan ponselku, kemudian kembali tidur.
Saat aku meraba-raba sisi ranjang, aku dapat menyadari, seseorang memelukku dari belakang. Aku bahkan dapat merasakan nafasnya di punggungku!
Jantungku berdegup begitu kencang! Ini bahkan hampir saja berhenti!
Bukan!
Ini bukan Young Joon!
Aku melihat tangannya sekilas, dan memberanikan diri untuk berbalik menghadap ke arah belakang, dan....
AOYAMA!
Mataku terbelalak melihat pemandangan di depanku!
Tanganku secara reflek menutup mulutku.
Aku kembali berbalik ke arah semula, air mataku kini tak terbendung lagi...
Kami tidur bersama semalam!
Ya! Aku dan Aoyama kini berada di atas ranjang, tanpa sehelai benangpun!
Hanya ditutupi oleh selimut, hingga tiba-tiba, Aoyama kembali mendekap tubuhku, seraya menciumi punggungku!
"Jenny... Menikahlah denganku..." Ucapnya dengan suara parau.
Dekapannya semakin erat... Membuat nafasku semakin sesak, dan air mataku semakin mengalir dengan deras.
"Aku sangat mencintaimu... Menikahlah denganku... Ku mohon..." Ucapnya lagi.
Aku buru-buru menghapus air mataku, dan melepas dekapan Aoyama.
Aoyama terbangun, kemudian terduduk dan bersandar.
"Maafkan aku... Semua terjadi begitu saja semalam." Nada suaranya terdengar sangat menyesal.
Aku sempat berpikir, bukankah kami sama-sama mabuk, semalam?
Apapun bisa terjadi dalam keadaan mabuk!
Aku tidak mungkin merasa terpaksa!
Tentu saja!
Hanya saja, aku melakukannya tanpa sadar! Namun, apa bedanya!
Ku beranikan diri untuk bangun, dan duduk di sebelah Aoyama, setelah ku tarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.
"Bukankah aku seorang janda yang tidak memiliki harga diri?" Aku tersenyum getir, seraya menatap kosong ke arah depan.
Aoyama menatap wajahku tak percaya...
"Apa yang kau katakan! Akulah yang bersalah disini!" Aoyama sedikit meninggikan suaranya.
Aku menoleh ke arah Aoyama yang kini menatapku tajam, dan aku segera menarik selimut, berniat untuk segera merapikan diriku.
"Kita bahkan belum meni..." Ucapku, namun Aoyama menarik tanganku dengan sigap
"Menikahlah denganku!" Ucapnya lagi.
Aku kembali menoleh kepadanya.
"Kau terlalu baik un..."
Aoyama segera mengunci bibirku dengan bibirnya... Aku kembali meneteskan air mata, dan Aoyama melepaskan ciumannya. Dia menempelkan dahinya di dahiku.
"Kau yang terbaik..." Aoyama meraih wajahku.
"Menikahlah denganku... Ku mohon..." Matanya berkaca-kaca ketika mengatakan itu, dan aku segara memeluknya.
*******************
Sejujurnya, Aoyama mengingatkanku kepada mendiang Clarence.
Yeah... Dia selalu ada disaat aku membutuhkannya...
Dia yang senantiasa mengobati luka yang senantiasa Young Joon buat untukku, namun bedanya, aku sedikit memiliki perasaan khusus untuk Aoyama, walaupun itu tidak mengurangi rasa cintaku terhadap Young Joon.
Berbeda denganClarence...
Aku hanya menganggapnya tidak lebih dari sekedar adik!
Tidak seperti Clarence yang cenderung lebih serius, Aoyama lebih sering membuatku tertawa. Aoyama... Pria itu memintaku untuk menjadi istrinya...
Bukankah aku beruntung?
Masih ada orang lain disana. Park Young Joon!
********************
Aoyama menawarkan diri untuk mengantarku ke apartemenku, dan aku menyetujuinya. Sepanjang perjalanan, kami sama-sama termenung, memikirkan apa yang terjadi semalam.
"Ini pengalaman pertamaku." Tiba-tiba Aoyama berkata, seraya menatap lurus ke depan
"Eh? Maaf?" Aku menoleh ke arahnya.
Aoyama tersenyum, kemudian menoleh ke arahku sekilas.
"Itu adalah pengalaman pertamaku, jadi kau tidak perlu takut terkena penyakit." Aoyama tersenyum seraya menatap lurus ke depan.
Aku samar-samar mengingat kejadian semalam. Aku ingat saat Aoyama berbaring dalam keadaan tanpa busana, dan dia berkata...
"Apa selanjutnya?"
Dan akulah yang bergerak disana!
Ya!
Akulah yang memulainya!
Aku merasa sangat malu sekarang!
Aku menolehkan wajahku ke arah berlawanan dengan Aoyama, seraya meringis menahan rasa malu, dan menutup sebelah wajahku dengan satu tanganku.
Aoyama segera menyadari itu!
"Ada apa denganmu?" Aoyama tampak bingung melihat tingkahku.
"Jenny, apa kau baik-baik saja?" Aoyama tampak khawatir, kemudian menepikan mobilnya.
Dia segera melepaa sabuk pengamannya, dan berbalik ke arahku.
"Jenny, katakan kepada..."
"Aku baik-baik saja..." Aku segera menegakkan dudukku, tanpa menoleh ke arahnya.
Aku berusaha agar wajahku terlihat senormal mungkin.
"Apa kau takut terkena penya..."
"Tidak! Bu-bukan itu..." Aku menatap wajahnya dengan ekspresi yang sulit untuk diungkapkan!
"Aku bersumpah, kaulah yang perta..."
"Aku percaya!" Aku menyela perkataan Aoyama, dan tersenyum konyol.
" Dapatkah kita melanjutkan perjalanan kita?" Aku masih tersenyum konyol kepadanya, dan kembali menoleh ke depan.
Aoyama masih menatapku dengan tatapan heran, dan akhirnya kembali memasang kembali sabuk pengamannya.
"Baiklah." Katanya kemudian melanjutkan perjalanan.
****************
Kami telah tiba di depan gedung apartemenku. Sebelum aku membuka sabuk pengamanku, Aoyama berkata...
"Tentang kejadian semalam..."
"Kumohon, jangan pernah bahas tentang itu lagi." Sela ku tanpa menoleh ke arahnya.
"Ini sepenuhnya kesalahanku." Ucapku, deengan mata yang berkaca-kaca.
Aoyama menoleh ke arahku.
"Pikirkanlah tentang permohonanku... Aku serius tentang itu." Aoyama menatapku lembut, dan aku menoleh kepadanya kemudian tersenyum.
"Terima kasih atas tumpangannya." Ucapku, kemudian melepas sabuk pengamanku.
Dan ketika hendak membuka pintu mobil...
"Aku sungguh-sungguh mengenai perasaanku kepadamu." Suara Aoyama terdengar lembut sekali.
Kemudian aku membuka pintu mobil, dan keluar dari sana, lalu berkata...
"Maaf jika aku tidak mengizinkanmu mampir, hanya saja, aku belum merapikan..."
"Aku mengerti... Pergilah." Aoyama tersenyum hangat.
Aku membalas senyumnya, kemudian menutup pintu mobilnya, dan melambaikan tangan kepadanya ketika mobilnya mulai melaju.
*******************
Ketika berada di dalam kamarku... Aku kembali mengutuk diriku sendiri, atas kejadian semalam!
Ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal menjijikkan itu!!!
Oh Tuhan! Tidakkah aku kini menjadi semakin melewati batas?!
Kini aku merasa seolah, bahwa aku adalah seorang janda liar, yang haus akan belaian banyak laki-laki!!!
Jennifer... Ada apa denganmu!!!
Mengapa kau menjadi sangat murahan seperti ini!!!
Tidak! Besok aku tidak dapat pergi ke kantor!
Yeah! Aku akan meminta izin lagi, dengan alasan tidak enak badan!
Yeah! Benar!
Aku sungguh tidak sanggup, jika harus menatap wajah Aoyama, setelah kejadian semalam!!!
Ooowwwhhh.... Ya Tuhan... Mengapa ini semua harus terjadi kepadaku???