
Kemana Clarence pergi?
"Ummm... Mas, dia ada titip sesuatu gitu, gk?" Tanyaku lagi
"Kurang tau, mbak... Soalnya tadi langsung ke arah ruang resepsionis... Ada lagi, mbak?"
Aku berpikir sejenak, dan Young Joon kini menghampiriku.
"Ada apa? Bagaimana, apa dia..."
"Udah mas, makasih banyak ya!" Kataku kepada orang tersebut.
"Baik kalau begitu, saya permisi dulu, ya!" Kata orang itu, kemudian berlalu, sesaat setelah aku dan Young Joon mengangguk.
"Aku mau ke ruang resepsionis, dulu!" Kataku pada Young Joon
"Aku ikut!" Katanya, kemudian kami pergi menuju ruang resepsionis.
Ketika tiba di ruang resepsionis, ada dua orang gadis muda dengan pakaian tradisional berdiri di balik meja.
Aku dan Young Joon segera menghampiri mereka.
"Malam, mbak." Sapaku ramah
"Iya, malam kak... Ada yang bisa kami bantu?" Ucap salah seorang dari mereka.
"Ummm... Begini, saya mau nanya... Laki-laki bule, yang nempatin kamar nomor..."
"Oowwwhh... Mr. Dougherty, ya?" Sahut gadis satunya lagi.
"Ya! Clarence Dougherty!" Kataku.
Gadis itu nampak meraih sesuatu dari sebuah laci yang terdapat di belakangnya, kemudian menghampiriku.
"Mbak, mbak Elle? Ummm... Elizabeth Lie?"
Young Joon mengerutkan keningnya, seraya menatap heran ke arahku.
"Ya! Ada apa?"
"Begini, tadi Mr. Dougherty ada titip ini untuk mbak." Ujar gadis itu, seraya memeberikan sebuah amplop berukuran sedang berwarna merah kepadaku.
Aku segera meraihnya, dan menatapnya.
"Mr. Dougherty tadi check out sekitar pukul 19.15, mbak! 2 hari lebih cepat, dan..."
"Ok, Terima kasih banyak ya, mbak!" Kataku kemudian berlalu, meninggalkan kedua resepsionis yang keheranan itu.
"Ada apa?" Ucap Young Joon
"Entahlah! Clarence tidak pernah bersikap seperti ini, sebelumnya." Sahutku, kemudian segera membuka pintu kamar.
Aku segera berjalan menuju sofa, dan duduk di atasnya, di susul oleh Young Joon, yang duduk di sebelahku.
Agak ragu sebenarnya untuk membuka amplop itu, namun pada akhirnya ku buka juga!
Dear, Elle...
Maaf jika tidak sempat memberitahumu tentang kepergianku, karena... Semua mendadak...
Aku sempat ingin menemuimu tadi, hanya saja... Aku tidak ingin mengganggu keintimanmu dengan seseorang disana, jadi... Aku memutuskan untuk langsung pergi saja...
Maaf jika aku merusak suasana liburan kita, hanya saja, ini sungguh darurat! Maafkan aku...
Clarence.
Kilas Balik
POV AUTHOR
Selesai membidik banyak gambar di bukit yang dia tunjukan kepada Jenny sebelumnya, Clarence segera beranjak dari sana, untuk menemui Jenny.
Begitu tiba tidak jauh dari tempat Jenny berada, Clarence menyaksikan, wanita yang telah cukup lama ada di hatinya itu, tengah berpelukan mesra dengan seorang pria...
"Siapa laki-laki itu? Apakah itu adalah mantan suaminya? Bukankah Elle tampak nyaman di dalam pelukan laki-laki itu?" Pikir Clarence dalam hati.
Clarence tidak berniat sedikitpun untuk menghampiri mereka, terlebih ketika... Mereka berciuman...
Clarence meneteskan air mata perih...
Elle, cinta pertamanya, yang bahkan hingga saat ini masih sangat ia harapkan, nyatanya memang tidak pernah membuka hati untuknya...
"Terima kasih, untuk semua waktu yang pernah kau luangkan untukku, Elle... Meskipun dengan diriku, kau hanya melepas semua rasa sakitmu, setidaknya, aku sudah sangat bahagia..." Ucapnya, kemudian berlalu.
Clarence beranjak dari sana, kemudian berpikir tentang apa yang akan dia lakukan setelah ini.
Jika dia kembali ke Amerika, itu akan sangat keterlaluan!
Namun jika dia tetap bertahan disana, hingga masa liburan mereka habis, itu akan membuat hatinya terluka!
Clarence bukanlah orang yang dapat mentolerir rasa sakit, sekecil apapun.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Itu dari bibinya!
"Ya, bi?" Ucap Clarence di seberang sini
"Sayang... Kau ada dimana?" Suara bibi bergetar di seberang sana, sepertinya habis menangis?
"Ada apa, bi? Apa yang terjadi?" Clarence mencemaskan keadaan bibinya.
"Clare, semenjak kemarin, polisi, FBI, dan CIA silih berganti datang kesini, untuk mencarimu..."
Clarence segera menutup panggilan, dan me-non aktifkan ponselnya!
Dia segera menghentikan sebuah kendaraan umum, agar sesegera mungkin tiba di penginapan!
Begitu tiba di penginapan, Clarence segera merapikan barang-barangnya, dan tak lupa, menulis pesan pada secarik kertas.
Selesai itu, dia bergegas pergi ke ruang resepsionis, untuk menyerahkan kunci ruangan, serta meminta sebuah amplop kepada seorang resepsionis.
"Apa kau memiliki amplop?" Ujarnya kepada resepsionis.
"Ah, ada tuan."
"Boleh aku minta, satu?"
"Baiklah!" Jawab resepsionis itu, kemudian meraih sebuah amplop, lalu memberikannya kepada Clarence.
"Begini, nona... Tolong berikan ini kepada Elle... Ummm Elizabeth Lie!" Katanya, kemudian bergegas.
****************************
POV JENNIFER
Clarence melihat kebersamaanku dengan Young Joon?!
Apakah itu yang membuatnya pergi dari sini?
Tapi, Clarence tidak mungkin melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti ini!
Ada apa ini!
"Ada apa, Jenny?" Ucapan Young Joon, membuyarkan lamunanku.
"Ummm... Ng... Joon, pukul berapa sekarang?" Kataku.
Young Joon segera menoleh ke arah jam tangannya.
"21.18... Ada apa?" Jawabnya kemudian menoleh ke arahku.
"Bagaimana kalau kita ke bandara, ku pikir Clarence masih..."
"Sayang..." Young Joon segera menyela ucapanku, dan menatapku dengan tatapan teduhnya.
"Aku..."
Young Joon langsung memelukku...
"Dia adalah pria dewasa... Mungkin..."
"Dia tidak pernah seperti ini..." Ucapku, kemudian menguraikan pelukan.
Young meraih wajahku, dengan kedua tangannya.
"Kita akan hubungi dia nanti, oke?" Ucapnya, kemudian ponselku tiba-tiba berdering.
Nomor tidak dikenal?
Biasanya aku tidak pernah mau menjawab panggilan dari nomor yang tidak ku kenal, hanya saja... Mungkin ini dari Clarence!
"Ha-halo?" Sapaku ragu di seberang sini.
"Hai Elle! Maaf aku tidak sempat menemuimu..." Sahut seseorang di seberang sana.
Clarence! Yeah! aku sungguh mengenal suaranya!
"Dasar anak bodoh! Apa yang kau lakukan!!! Kau membuatku..."
"Elle... Sesuatu terjadi dengan bibi, jadi aku..."
"Apa yang terjadi dengannya?"
"Hahaha... Santai saja... Anaknya membuat ulah lagi... Dia membutuhkanku, jadi..."
"Clare..."
"Hmmmm?
"Mengapa tidak menemuiku di bukit tadi?"
Hening, hingga...
"Baiklah, Elle... Aku harus segera berangkat! Jaga dirimu... Dan tetaplah bernafas!"
"Clare..."
'Tuuuttt... Tuuttt...'
Panggilan terputus...
Hening...
Ada apa dengan anak itu?
Apakah benar, apa yang tadi dia ucapkan?
Mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, mendengar ucapannya?
Tapi, Clarence bukanlah seorang pembohong!
Aku sangat mengenal anak itu...
"Jenny..." Young Joon lagi-lagi membuyarkan lamunanku.
"Eh... Apa?"
"Hmmm... Mengapa?"
"Tidak ada..."
"Apa tadi, anak itu..."
Aku segera mengangguk.
"Syukurlah..." Ucapnya.
Aku kemudian beranjak dari sofa.
"Baiklah, Joon... Ayo kita ke ruang resepsionis, sekarang!" Kataku.
Young Joon tampak keheranan.
"Untuk apa?!"
"Untuk apa lagi! Tentu saja untuk menyewa kamar untukmu!" Ketusku
"Apa maksudmu!"
"Apa kita harus tidur bersama di kamar ini!"
"Tentu saja!"
Aku segera membelalakan mata, tak percaya mendengar ucapannya tadi!