
Sudah 3 hari kami bermalam di Villa ini, dan rencananya, besok pagi kami akan mengunjungi air terjun yang letaknya lumayan terlalu jauh dari Villa ini.
Jika kalian bertanya, bagaimana hubunganku dengan Young Joon setelah kejadian malam itu?
Hahahaa... Biasa saja!
Kami berbicara seadanya, aku berbincang dengan teman-temanku, begitupun Young Joon!
Kami tidak tampak seperti calon pasangan suami-isteri pada umumnya, dan lebih terlihat seperti layaknya teman yang tidak begitu akrab.
Dan, ya! Benar apa yang Young Joon katakan, aku bahkan tampak seperti menghindarinya.
Karena berada di dekatnya, membuat hatiku terasa sedikit nyeri, entah nyeri yang seperti apa.
Ah, satu hal lagi! Aku tidak memanggilnya dengan sebutan 'oppa' seperti yang dia inginkan! Bahkan aku hampir tidak menyebut namanya, ketika kami 'harus' berbincang.
Tentang teman-teman Amerika ku, aku sempat mengirimi mereka pesan tentang nenekku, dan juga keadaanku. Mereka semua prihatin, dan mendoakan yang terbaik untukku.
Namun aku belum juga mengatakan tentang pernikahanku, yang akan dilaksanakan kurang dari sebulan lagi.
Dan, Mike...
Dia selalu merengek tentang kerinduannya kepadaku, dan jujur saja, itu membuatku semakin muak kepadanya!
Sejujurnya, aku lebih berani untuk mengatakan tentang pernikahanku kepada Mike, dibanding Rob atau Shierly sekalipun!
Hanya saja, tidak dalam waktu dekat ini.
Clara dan Gina sudah terlelap, namun aku masih belum juga dapat memejamkan mataku padahal saat berbincang dengan Arjuna di media sosial tadi, aku berkata kepadanya bahwa aku sudah mau tidur.
Jadi aku memutuskan untuk pergi ke dapur untuk minum. Dan saat aku membuka pintu kamar, dapat ku saksikan Young Joon sedang menatap layar ponselnya sambil tersenyum.
Aku agak ragu untuk melanjutkan langkahku, hanya saja... Masa bodoh!
Aku dapat berpura-pura tidak melihatnya, kemudian melanjutkan langkahku, namun...
"Kau mau kemana?" Suara Young Joon menghentikan langkahku.
Aku menoleh ke arahnya
"Apa aku harus minta izin dulu kepadamu, tiap kali aku ingin pergi ke suatu tempat?" Sinisku.
Young Joon menaikkan sebelah alisnya.
"Apakah pertanyaanku membuatmu begitu kesal?" Ucapnya kemudian menghampiriku.
Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, dan menatapku seraya sedikit memiringkan kepalanya.
Aku menghela nafas kasar, sembari tersenyum kesal
"Bangetttt!!! Sumpah!!! Pertanyaan lu itu, pertanyaan nggak penting sama sekali! Gw tuh bukan bocah, yaah!" Aku mengumpat kepadanya dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Young Joon terlihat heran
"Apa yang kau katakan?" Ucapnya heran
"Aku haus!" Kemudian berpaling darinya, dan berlalu.
"Waaahh... 'Aku haus' dalam bahasa Indonesia ternyata memiliki kosakata yang panjang sekali, ya! Hahahaa!" Ucapnya santai sambil tertawa.
Sejujurnya aku bingung, harus ikut tertawa, atau kesal kepadanya, hanya saja, aku tersenyum mendengar ucapannya tadi!
Aku segera menuangkan air putih ke dalam gelas, dan meneguknya, dan sangat terkejut ketika laki-laki sialan itu tiba-tiba berdiri di hadapanku, hingga membuatku tersedak
"Uhuuukkk... Uhhhukkk... Ukuukkk!!!" Aku menepuk-nepuk pelan dadaku.
Young Joon terlihat sangat khawatir melihatku, dan meraih gelas yang ada di tanganku, kemudian menuangkan air ke dalamnya, lalu memberikan gelas itu kepadaku lagi, sambil menepuk pelan punggungku.
"Kau ini kenapa?" Ucapnya dengan nada khawatir kepadaku yang saat ini tengah meneguk air yang dia berikan kepadaku.
Aku segera meneguk habis air itu, kemudian menatap tajam ke arahnya.
"Kau!!!" Kataku sedikit berteriak.
Young Joon terlihat bingung
"Ada apa denganku?" Sahutnya
"Mengapa kau tiba-tiba ada disini!" Kataku
"Aku mau minum, ada apa?" Jawabnya santai.
Aku sampai kehabisan kata-kata menghadapi laki-laki sialan ini, dan memilih untuk meninggalkannya lalu kembali ke kamarku.
...****************...
Keesokan harinya, kami sudah berkumpul di halaman depan Villa.
"Udah pada siap kan, ya?" Ujar Denis
"Siap donk!" Sahut kami bersamaan
"Oke, kita berangkat sekarang, ya!" Ajak Denis, dan
"Oke!" Sahut kami lagi bersamaan.
"Ipel, kudu pake mobil kesananya, nggak bisa pake motor, apalagi motor lu kaya' gitu." Ucap Denis kepadaku.
"Oowwhh... Ya udah, gw ngikut di mobil Ines aja." Jawabku santai.
"Justeru karena mobil Ines tuh sedan, makanya pake mobil gw. Mobil sedan juga nggak bisa." Jawab Denis merasa sedikit tidak enak kepadaku.
Aku mengerti maksud Denis
"Oowwhh... Ya udah, kalo gitu gw di Villa aja deh." Jawabku sambil tersenyum.
"Ya nggak bisa gitu dong, Pel... Kan kita udah rencanain ini dari kemarin, lu gimana sih!" Ucap Denis sedikit kesal
"Ya habis gimana, lu bilang nggak bisa pake motor! Terus sedan juga nggak bisa! Ya terus kudu gimana donk?!" Sahutku tak kalah kesal
"Kau akan pergi bersamaku." Young Joon tiba-tiba menghampiri kami.
Aku segera menoleh ke arahnya tak percaya...
"Kalian pergilah, aku dan Jenny akan mengikuti dari belakang." Ucap Young Joon santai, tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu.
"Ah, ok! Ya udah, Pel! Kita duluan, ya! Lu cepetan masuk noh, ke mobilnya Young Joon! Bye!" Ucap Denis kemudian bergegas dengan penuh semangat ke arah mobilnya.
"Ayo kita pergi sekarang!" Young Joon menoleh ke arahku, yang masih keheranan disini, menatap ke arah mobil Denis yang mulai melaju.
"Ipel!!! Cepetaaannn!!!" Denis berteriak dari dalam mobil, sebelum mobilnya meninggalkan halaman Villa.
"Ayoooo..." Young Joon tiba-tiba merangkulku, dan membawaku ke arah mobilnya.
Aku yang langsung menyadari hal itu, segera menghempaskan tubuhku darinya, hingga membuatnya sedikit tercengang
"APA YANG KAU LAKUKAN!" Aku berteriak kepadanya. Wajah Young Joon terlihat salah tingkah
"A-aku tidak ber... "
"Jangan pernah berpikir kau berhak menyentuhku hanya karena aku adalah calon istrimu!" Ucapku sambil menunjuk wajahnya dengan jariku
"Ma-maaf aku ha..."
"Lupakan itu!" Ucapku seraya menghempaskan tanganku ke udara, kemudian berlalu.
Namun Young Joon langsung meraih tanganku, dan membuatku menoleh kepadanya.
"Ku mohon... Maafkan aku..." Young Joon begitu tulus ketika mengucapkan itu.
"Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal tadi, hanya saja..." Mata Young Joon tampak berkaca-kaca, dan... Dia tiba-tiba BERLUTUT DI HADAPANKU!
"Ku mohon, maafkan aku..." Ucapnya menatap dalam ke arah mataku.
Aku membekap mulut tak percaya dengan apa yang dia lakukan saat ini.
"Apa idup lu kudu selebay drama Korea gini ya?" Ucapku begitu saja. Young Joon menatapku heran
"Apa kau penggemar drama Korea?" Ucapku heran
"Maksudmu?" Ucapnya semakin terlihat heran.
Aku segera menghempaskan tangannya
"Ayo, kita pergi sekarang!" Ketusku, kemudian berlalu ke arah mobilnya.
Young Joon tampaknya masih tidak percaya atas apa yang baru saja ku katakan, dan masih terus berlutut disana
"Tunggu apalagi! Ayo! Cepatlah!" Kataku sedikit berteriak.
...****************...
Ketika di perjalanan, kami tidak mengucapkan sepatah katapun.
Young Joon fokus memperhatikan jalan, dan aku sibuk mengagumi pemandangan hijau sepanjang perjalanan, serta mengingat kembali kejadian sebelum akhirnya aku menyetujui untuk pergi bersama Young Joon.
Apakah mungkin, aku luluh karena dia berlutut di hadapanku?
Ku rasa tidak!
Aku bukanlah orang yang mudah tersentuh dengan hal naif seperti itu!
Lalu, mengapa aku harus menghempaskan tubuhku ketika Young Joon merangkulku, mengingat, bahkan kami pernah berpelukan sebelumnya?
Aku bahkan pernah bersandar di bahunya waktu itu!
Satu hal yang ku yakini tentang sikapku yang berlebihan ketika Young Joon merangkulku adalah...
Aku merasa sangat canggung!
Ya! Rasa canggung yang membuatku salah tingkah, hingga akhirnya aku melakukan hal yang harusnya tidak ku lakukan!
Jadi, yang membuatku akhirnya dengan mudah setuju untuk pergi bersamanya adalah, aku merasa bersalah, karena telah bertindak berlebihan!
Young Joon sepertinya menyadari sikapku, hingga akhirnya dia memecahkan keheningan ini dengan menegurku terlebih dahulu.
"Um... Mengenai hal tadi..." Aku menoleh ke arah Young Joon
"Hmmmm..."
"Maafkan aku..." Nada bicara Young Joon terdengar sangat tulus ketika mengucapkan hal tadi.
Aku tersenyum
"Lupakanlah! Lagipula... Bukankah kita pernah berpelukan, sebelumnya?" Ucapku santai.
Dan itu membuat Young Joon terlihat salah tingkah
"Bahkan aku pernah bersandar di bahumu waktu itu!" Kataku seraya menatap wajahnya yang kini terlihat memerah.
"Aaahh... Itu... Hahahaa... Itu..." Young Joon mengusap belakang kepalanya.
Aku tertawa melihat tingkahnya
"Hahahahaaaa....! Kau ini kenapa?" Ucapku.
Young Joon tersenyum, kemudian menatapku sekilas. Atmosfernya berbeda sekarang.
Aku bahkan tidak lagi merasa canggung seperti biasanya. Bisa dibilang, aku merasa sedikit nyaman saat berada bersamanya.
"Jenny..."
"Hmmmm... " Aku kembali menoleh ke arahnya
"Dapatkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" Ucapnya sedikit ragu
"Tentang apa?" Jawabku
"Ummm.... "
"Tentang pernikahan kita?" Young Joon sedikit terkejut mendengar ucapanku tadi.
Kami sedang mengantre di pintu masuk wisata air terjun ini, hingga Young Joon dapat menatapku lebih lama.
"Apakah kau memiliki kekasih?" Wajah Young Joon terlihat serius kali ini.
Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
"M-maksudmu?"
"Apakah... "
"Ya... Tentu saja aku memiliki kekasih." Jawabku datar, kemudian kembali menatap ke arah depan.
"Apakah..."
"Apakah tidak masalah, jika aku tetap menjalin hubungan dengannya, ketika kita telah menikah nanti?" Ucapku kembali menoleh ke arahnya.
Aku dapat menyaksikan, ada keraguan di wajah Young Joon ketika aku mengatakan hal itu.
Dan sejujurnya, ada kenyerian yang luar biasa ketika aku mengatakan hal tersebut.
Young terlihat berpikir, sebelum menjawab.
"Kau boleh menjalin hubungan dengan siapapun, bahkan ketika kita telah menikah nanti, hanya saja..." Young Joon kini menatap dalam ke arah mataku...
"Kau harus Mengatahui batasanmu sebagai seorang istri." Ucapnya tegas, namun lembut.
Sempat hening sejenak, sampai akhirnya, kami tiba di loket pembayaran wisata air terjun.
"Dan kau, bagaimana denganmu?" Tanyaku kepadanya
"Bagaimana apanya?"
"Apa kau memiliki kekasih?" Wajah Young Joon bahkan lebih merah dari sebelumnya.
Aku sedikit merasa bersalah karena bertanya hal demikian, hanya saja, bukankah dia tadi menanyakan hal yang sama terhadapku?
Namun, sebelum Young Joon menjawab pertanyaanku, aku dapat melihat dengan jelas, betapa banyak sekali motor dan mobil sedan yang terparkir di pelataran parkir wisata air terjun yang akan kami kunjungi ini!
Itu tandanya, Denis telah menipuku! Dasar sialan!!!!!!!!!!!!
Aku segera membuka pintu mobil ketika kami akhirnya dapat menemukan tempat parkir, dan bergegas ke arah Denis yang baru saja keluar dari mobilnya.
Denis tidak menyadari kehadiranku hinga...
"Buuuugggghhh!!!"
"Aaawww!!!" Denis meringis kesakitan, sambil mengelus bahu kirinya akibat tinjuku, dan membuat teman-temanku yang lainnya Menghampiri kami
"Emang dasar Sialan lu, ya!" Umpatku kepada Denis.
Young Joon menghampiriku
"Ada apa ini?" Young Joon terlihat bingung
"Dia telah menipuku!" Ucapku sambil menunjuk Denis dengan ujung mataku
"Ipel, dengerin gw du..."
"Alah! Gosah banyak alasan lu!" Aku menyela ucapannya
"Jen, mending lu tahan tenaga lu dulu deh, buat perjalanan kita ke air terjun itu!" Ucapan Angga, salah satu teman kami, mengalihkan perhatianku
"Maksud lu?" Tanyaku heran
"Perjalanan kita masih jauh." Kata Angga
"Bukannya kita udah nyampe, ya?" Alexa menimpali
"Jadi, gini... Air terjun yang kita mau datengin itu, agak terselubung, emang sih, pintu masuknya dari sini, tapi..."
"Kita masih kudu jalan sekitar 10 kilo lagi untuk nyampe sono, dan nggak bisa di lewatin pake kendaraan apapun." Ucap Dinar menimpali, dan kami semua seketika lemas