Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Huuuuufffttt!



Akhirnya aku tiba di Indonesia!


Yeaaahh!!!


Lega sekali rasanya!


Oh iya, aku harus menghubungi Clarence!


Dia pasti sedang bersama bibi Margareth sekarang!


Aku segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilku, setelah layar kunci terbuka, aku segera mencari nama Clarence, kemudian langsung menghubunginya.


Ah, tersambung!


"Hey Clare! Aku telah tiba di Indonesia!" Ujarku sungguh bersemangat di seberang sini


"Hey, Elle! Syukurlah!" Jawab Clarence di seberang sana.


Terdengar suara bibi yang bersemangat sekali ingin berbicara denganku.


"Elle sayang, apa kau baik-baik saja?" Bibi terdengar bahagia sekali di seberang sana


"Aku baik-baik saja, Bi! Bagaimana denganmu?" Aku memastikan


"Aku sungguh sehat! Ada Clarence disini!" Bibi riang sekali di seberang sana!


"Elle, aku akan menghubungimu lagi nanti, setelah bibi tidur! Pukul 12 malam disini. Dia sungguh sangat mengganggu." Clarence terdengar tidak nyaman sekali di seberang sana, membuatku tersenyum


"Baiklah, Clare, lagi pula, ada yang ingin ku katakan kepadamu." Kataku agak ragu.


"Tentang apa?" Clarence terdengar khawatir diseberang sana


"Young Joon berada di sampingku, sepanjang perjalan menuju Indonesia." Suaraku terdengar agak tersendat


"Lalu?" Clarence terdengar benar-benar khawatir diseberang sana


"Clare, nanti kita lanjutkan lagi, aku akan naik taksi, ya! Bye..." Ucapku kemudian menutup panggilan, lalu masuk ke dalam taksi yang tidak ada penumpangnya.


"Mau kemana, mbak?" Tanya supir taksi paruh baya itu ramah.


"Menteng dalam, pak! Jalan persada raya no.5." Jawabku.


Saat aku memasang sabuk pengaman, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam taksi ini, aku langsung menoleh ke arahnya, dan betapa terkejutnya aku, melihat sosok tidak tahu malu yang kini duduk tepat di sampingku.


Sopir taksi menoleh ke arah belakang.


Ketika aku hendak melepas sabuk pengaman, dan mencoba untuk keluar, laki-laki ini menahan tanganku, dan berkata


"Jalan telus, pak! Ini istli sayah!" Ucapnya tanpa rasa bersalah.


Sopir taksi kemudian kembali memegang kemudi, dan melajukan taksinya.


Sepanjang perjalanan, kami berdua membisu. Tidak tahu apa yang ingin di katakan.


Di satu sisi, hatiku bahagia melihatnya!


Sangat bahagia!


Tapi di sisi lain aku sungguh muak melihatnya. Entah mengapa!


Young Joon, laki-laki yang kini berada di sampingku, tiba-tiba menggenggam tanganku, erat sekali.


Aku tidak menoleh sedikitpun, tidak juga berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya.


Aku lebih memilih memalingkan wajahku ke sisi berlawanan dengannya.


"Aku sangat merindukanmu... Sangaaaattt." Young Joon berkata tanpa melihat ke arahku.


Mataku berkaca-kaca mendengarnya mengatakan hal itu.


"Aku tahu kau sangat membenciku saat ini, tapi ku mohon, izinkan aku menjelaskan semua." Ucapnya lagi.


Suara Young Joon terdengar bergetar, dan sepertinya, dia sempat tertawa getir.


Aku masih memalingkan wajahku.


Air mataku mulai menetes disana


"Hari itu... Percayalah, itu hanya salah paham! Itu tidak seperti yang kau pikirkan..."


Young Joon sepertinya menangis, itu terdengar dari suaranya.


Aku menghapus air mataku, dan berinisiatif untuk mengambil ponsel serta earphone ku. Namun Young Joon mencegahku.


"Ku mohon, dengarkan aku dulu..." Young Joon menatap wajahku kini, aku mengetahuinya! Namun aku tidak berniat sedikitpun untuk menatap wajahnya, dan lebih memilih untuk kembali menatap ke arah berlawanan dengannya.


"Aku tidak ingin kau mendengar kata-kata yang tidak berguna dari mulut Kimberly, jika aku memberitahumu ada kamar kecil di ruanganku." Young Joon menarik nafas dalam.


"Kimberly pasti akan mengatakan hal tidak berguna yang sama sekali tidak benar untuk membuat kita bertengkar jika kau ada di kamar kecil di ruanganku. Dan kau pasti akan tetap diam disana, lalu percaya akan kata-kata Kimberly." Suaranya terisak sekarang.


"Kau pasti lebih mempercayai kata-kata wanita sialan itu, dibanding kata-kataku, bukan?" Suaranya kini tidak beraturan.


Aku merasa nyeri luar biasa setiap kali mendengar penjelasannya.


Aku teringat akan kata-kata tuan McCourtney, bahwa ada salah satu karyawan yang berkata padanya bahwa, Young Joon pernah meminta karyawannya untuk menghalangi Kim datang ke ruangannya, namun entah bagaimana, Kim bisa tetap datang.


***********************


Kami telah tiba!


Aku menekan bel, dan tidak lama kemudian, mama dan papa menyambut kami!


Mereka terlihat heran melihat Young Joon ada bersamaku.


"Young Joon! Jenny bilang, kau tak bisa datang karena sibuk kerja?" Mama terlihat bingung


"Aku tidak dapat mempercayai istri cantikku ini, ma!" Jawab Young Joon tersipu, mama dan papa tertawa mendengarnya


"Ma, aku capek banget! Langsung masuk aja, ya!" Aku sungguh tidak bersemangat.


Setelah di dalam, mama dan papa meminta kami untuk istirahat.


"Istirahat dulu aja gih, sana! Ajak Young Joon sekalian! Perjalanan Amerika ke sini kan jauh!" Mama memintaku dan Young Joon untuk segera istirahat.


"Yaudah, aku ke kamar dulu, ya!" Ucapku kemudian berlalu.


"Jen, kok Young Joon nggak di ajak?" Tanya papa


"Eh?" Aku seperti orang linglung.


"Young Joon, pergilah bersama Jenny ke kamarnya." Ucap papa kepada Young Joon.


"Ah, iya pa..." Young Joon menjawab dengan sangat ramah, kemudian membawa koperku.


Aku hanya melihatnya sekilas, membawakan koperku ke kamarku.


Saat di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di atas ranjangku.


Aaahhh... Aku sangat merindukan tempat ini! Dan Young Joon? Sepertinya dia telah banyak berubah!


Dia telah kembali menjadi seperti Park Young Joon ketika pertama kali kami bertemu!


Dia lebih banyak diam, lebih sopan, dan tidak banyak bertanya.


Kini dia sedang berbaring di atas sofa yang berada di depan ranjangku, sambil memainkan ponselnya.


"Jenny, apakah kau lapar?" Dia bertanya dengan sangat hati-hati.


Aku mengalihkan perhatianku ke layar ponsel.


"Jenny, aku membawa ponselmu yang kau titipkan kepada resepsionis kantorku hampir satu tahun yang lalu." Ucapnya lagi.


Aku tetap tidak menghiraukannya!


Ah, aku akan menghubungi Clarence!


Aku segera mencari kontaknya, dan langsung menghubunginya.


Tersambung!


"Hey, Clare!" Sapaku bersemangat diseberang sini


"Hey, Elle! Bagaimana?" Clarence masih terdengar khawatir diseberang sana


"Nanti saja aku jelaskan. Begini, tentang rencana kita waktu itu..."


"Rencana yang mana?" Clarence menyela kata-kata ku


"Rencana mana lagi! Ya tentu saja rencana liburan kita di Indonesia!" Aku bersemangat sekali mengatakan hal itu!


Itu membuat Young Joon terbangun, dan duduk memperhatikanku.


Aku sempat menatapnya sekilas, wajahnya terlihat sedikit kesal.


"Aaahhh... Ya! Jadi, kemana tujuan kita? Bagaimana dengan Bali?" Ucap Clarence, masih di seberang sana.


"Aaaahhh, Bali terlalu umum! Aku ingin mencoba tempat yang lain!" Kataku


"Lalu, dimana itu?" Clarence tampak penasaran di seberang sana


"Aku ingin suasana yang romantis! Ya tuhan! Aku menginginkan itu ketika bulan madu jika sudah menikah nanti!" Ucapku kemudian, aku mengingat akan sesuatu, ketika mengatakan ini.


Raut wajahku kini berubah menjadi sedikit murung. Young Joon masih menatapku di sofa itu


"Elle, apa kau baik-baik saja?" Clarence terdengar khawatir di seberang sana


"Clare, aku akan menghubungimu lagi, nanti, setelah aku memastikan, kemana kita akan berlibur." Kataku, kemudian menutup panggilan.


Aku memandangi cermin yang menempel di lemari baju, yang berada di sisi kiri seberang ranjangku.


Aku melihat pantulan diriku, dan dapat ku lihat dengan jelas, pantulan bayangan Young Joon, yang saat ini tengah menatapku dengan tatapan sedih.


Bukankah aku begitu jahat kepadanya?


Mataku kembali berkaca-kaca, kemudian aku berbalik ke arahnya.


"Bukankah tadi kau bilang, kau membawa ponsel lamaku?" Aku berkata dengan ekspresi wajah yang sangat biasa kepadanya.


Young Joon agak terkejut, kemudian menjawab pertanyaanku.


"Ah! I-itu... Y-ya! Aku membawanya!" Young Joon terlihat gugup, lalu berjalan ke arah kopernya, dan mengambil sesuatu disana, kemudian dia berjalan ke arahku, dan menyerahkan sebuah ponsel kepadaku.


"Duduklah disini." Aku menepuk sisi kosong sebelah kananku.


"Eh?" Young Joon tampak terkejut melihat sikapku.


"Duduklah!" Aku mengulangi kata-kataku.


Young Joon kemudian duduk dengan sangat hati-hati.


"Apa saja yang kau lakukan selama aku pergi?" Ucapku kemudian menatap wajahnya dalam


Young Joon yang semula menunduk, kini menatap wajahku. Matanya berkaca-kaca.


Hening, hingga...


"Aku mencarimu, terus mencarimu... Aku hampir kehilangan akal karenanya... Mereka menyebutku gila! Seorang teman bahkan menyarankan ku untuk pergi ke psikiater." Young Joon tersenyum getir, bahkan meneteskan air mata.


Menyakitkan rasanya melihatnya seperti ini.


"Setelah perceraian?" Ucapku kemudian menatap matanya.


Young Joon tidak langsung menjawab.


"Aku mencari cara, agar kau kembali padaku... Aku kembali memperbaiki diri, memperbaiki hidup, dan membuat diriku selayak mungkin untukmu." Young Joon kembali tersenyum getir.


"Aku selalu mencari tahu tentangmu... Apa yang kau lakukan, kemana kau pergi, daannn..."


"Apa hubunganmu dengan Nataschya?" Selidikku


"Dia psikiater ku." Aku sedikit lega mendengarnya.


"Hey, bagaimana kau..."


"Saat aku membuka media sosialku, aku melihat Nataschya mengunggah foto bersamamu." Aku menyela


"Aku tidak pernah tahu, kalau kau berteman dengan Nataschya?" Young Joon sedikit heran


"Dia hanya teman media sosial, aku memang tidak pernah bertemu dengannya. Dia cantik, kan?" Aku sedikit menggodanya.


Young Joon tidak langsung menjawab.


"Ya, tidak heran mengapa suaminya begitu mencintainya." Young Joon menatap wajahku, seolah mengerti maksud dari ucapanku.


Hening, hingga akhirnya aku menanyakan hal yang keluar begitu saja dari mulutku.


"Apa kau tidak merindukanku?" Ucapku.


Young Joon menatapku dengan mata berkaca-kaca, mendengarku mengatakan hal itu.


"Kau begitu buas kepadaku ketika kita akhirnya bertemu kembali di Marina hotel?" Aku sedikit menggodanya.


Young Joon terlihat malu, dan dia pun tertunduk.


"Itu..."


Aku mendekatinya, bahkan aku mendekatkan wajahku kepadanya, dan membisikkan kata...


"Aku sangat merindukanmu..." Bisikku.


Aku tidak menyadari, apa yang sebenarnya aku lakukan.


Young Joon menatapku, hidung kami bersentuhan sekarang.


Dia tampak ragu dengan apa yang akan dia perbuat saat ini, hingga akhirnya, dia memberanikan diri untuk... Mengecup bibirku, dan nelumatnya dengan liar.


Aku membuka satu persatu kancing kemeja yang masih dia kenakan semenjak dari bandara. Kami begitu bergairah!


Mungkin karena sudah terlalu lama tidak merasakan ini.


Kami terus mengulangi ini hingga tenaga kami benar-benar habis!


**************************


"Tarifku, $500/jam! Hitunglah sudah berapa jam kita bertempur!" Kataku yang saat ini masih berada di pelukan Young Joon.


Young Joon terkejut, dan terduduk.


"Apa maksudmu!" Young Joon menatapku kesal, dan akupun terduduk di hadapannya.


"Sadarlah! Aku ini sudah bukan istrimu lagi!" Ketusku.


Young Joon terhenyak, dan terlihat berpikir.


"Sebelum kita bertempur, itu pukul 4 sore, dan sekarang." Aku menoleh ke layar ponsel


"Sekarang pukul 3 pagi! Kita melakukannya tanpa henti! Apa kau begitu 'lapar'!" Kataku sedikit mengejek.


"Aku sudah hampir setahun tidak melakukannya! Harap maklum." Ujarnya seraya mengusap kepalanya dengan jemari.


"11 jam! Totalnya $5.500!" Tolong segera transfer ke rekeningku!" Kataku kepadanya, kemudian kembali merebahkan tubuhku.


"Aku tidak sedang bermain-main!" Ucapku kemudian memejamkan mata.


"Menikahlah denganku." Suara Young Joon begitu tulus, dan aku terbangun, lalu terduduk


"Bayarlah biaya layananku malam ini! Jangan merayuku dengan hal bodoh untuk menghindari pem..."


"Aku akan membayarnya 10x lipat! Menikahlah denganku... Aku mohon, kembalilah ke pelukanku." Wajah Young Joon benar-benar teduh ketika mengatakan hal itu...