
Jenny terkulai lemas...
Aaahhh... Istri cantikku...
Ku pandangi wajahnya yang terlihat sangat kelelahan, akibat 'seranganku yang membabi buta', beberapa saat lalu... Hahahaa...
Seperti yang pernah ku katakan sebelumnya, Jenny memiliki sesuatu, yang membuatku tidak ingin berhenti, ketika menyentuhnya...
Ku kecup keningnya, dan setiap inci bagian wajahnya, hingga Jenny melenguh...
"Joon, jangan mulai lagi! Aku sudah sungguh teramat lelah!"
Jika saja dia tidak sedang kelelahan seperti ini, mungkin dia akan meninju wajahku!
Hahahah!
Aku tertawa kecil, mendengar keluhannya.
"Baiklah! Apa boleh buat! Ratu telah memberi titah kepadaku!" Ucapku seraya membelai lembut puncak kepalanya.
"Selamat tidur, istriku... Mimpi indah... Aku mencintaimu..." Ucapku, kemudian mengecup hangat keningnya.
***********************
Keesokan paginya, tidak seperti biasanya, istriku masih berbaring di atas ranjang.
Dia masih tertidur, ketika aku telah bersiap untuk pergi bekerja.
Dia bahkan tidak merespon, ketika aku mengecup kening, serta bibirnya.
Ku pikir, istriku masih kelelahan, karena permainan kami semalam.
"Sayang, aku pergi sekarang, ya... Aku mencintaimu..." Ucapku, kemudian berlalu.
Aku selalu tersenyum, semenjak keluar dari kamar Jenny, ummm... Maksudku, kamar kami!
Kedua orang tuaku dan juga orang tua Jenny, seolah mengetahui, apa yang membuatku seperti ini!
Mereka tersipu!
Bahkan ketika di kantor, sekretarisku Hellen, turut mengomentari sikapku yang tidak biasa ini!
"Ummm... Tuan Park, jujur saja... Semenjak pertama kali kau bergabung dengan kami, ku pikir, ini pertama kalinya aku melihat raut wajah bahagiamu." Ucapnya sambil tersenyum, seraya meletakkan beberapa berkas di atas mejaku.
Aku tersenyum mendengar ucapannya.
"Tentu saja! Aku memang sangat bahagia! Sangat!" Ucapku kemudian menyeruput kopi.
"Oowh Tuhan! Syukurlah! Setidaknya kami tidak perlu lagi menghadapi sikap dan wajahmu yang menyebalkan itu... Uummm maksudku..."
"Hahahahahahaahahaaaaa!!!" Aku tertawa mendengar penjelasan, serta wajah Hellen yang berubah tegang, ketika berkata seperti itu!
Hellen terlihat heran melihat sikapku!
Jelas saja! Hampir seluruh karyawan, termasuk Hellen, menganggapku sebagai atasan yang menyebalkan!
Dan itu, berbanding terbalik dengan sikapku kepada istriku.
Karena jika di hadapan istriku, aku selalu menampilkan versi tebaik dari Park Young Joon!
Hellen nampak mengelus dada, serta menghela nafas lega.
"Ku harap nenek sihir itu tidak datang, Tuan! Karena tiap kali dia datang, mood mu yang memang sudah tidak bagus, menjadi semakin tidak karuan!" Sinis Hellen.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuannya itu, hingga sesaat kemudian, pintu ruanganku terbuka, dan seseorang bertepuk tangan disana.
"Wah... Wah... Wah... Sepertinya hari ini kau bersuka cita sekali."
Kimberly!
Seperti biasa, dia datang dan pergi sesuka hatinya!
Dia tersenyum, sambil menatapku yang sebenarnya sudah sangat muak kepadanya, untung saja... Aku sedang dalam suasana hati terbaikku, jadi, aku tidak begitu mengindahkan kehadirannya.
Hellen menatap sinis kepadanya, karena 'nenek sihir' yang Hellen maksud adalah, Kimberly!
"Baiklah tuan, aku permisi dulu!" Ucapnya kepadaku, kemudian kembali menatap sinis sekilas ke arah Kimberly.
Kimberly mengetahui, bahwa Hellen, bahkan karyawanku yang lain, tidak menyukainya!
Karena seperti yang Hellen katakan sebelumnya, mood ku yang tidak bagus, menjadi semakin tidak karuan, jika dia datang!
Di tambah lagi, sikapnya yang seolah seperti pemilik perusahaan ini, membuat mereka merasa sangat jengah!
"Ada apa dengan wanita itu? Sikapnya sungguh sangat menyebalkan! Tidakkah kau berniat untuk memecatnya?!" Kesal Kimberly, kemudian duduk di kursi yang berada di seberang meja kerjaku.
Aku tersenyum, kemudian mengalihkan pandanganku ke arah layar komputer, dan mulai mengetik.
"Tidak ada alasan untuk memecat karyawan yang memiliki kinerja yang bagus." Kataku, tanpa menoleh ke arahnya.
"Oppa..."
Tiba-tiba ponselku berdering, dan aku segera meraihnya. Ku tatap layar ponselku sekilas. Ibu!
Aku menyentuh bibirku dengan jari telunjuk ke arah Kimberly, agar dia tidak mengeluarkan suara.
Dan itu cukup membuat Kimberly kesal!
"Ya, bu..." Sapaku di seberang sini.
Kimberly yang semula terlihat kesal, kini terlihat melunak.
"YOUNG JOON-ah! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN KEPADA JENNY!!!" Ibuku berteriak kencang sekali di seberang sana, hingga membuatku menjauhkan ponsel dari telinga, sambil meringis.
Aku kembali menempelkan ponsel di telinga, begitu suara ibuku tak lagi terdengar.
Samar ku dengar, istriku berbicara kepada ibu, dengan bahasa Mandarin yang tidak begitu ku pahami.
"A-apa..."
"APAKAH AKU MELAHIRKAN SEORANG VAMPIR!" Ibuku kembali memekik di seberang sana, dan itu cukup membuatku terkejut setengah mati!
Apa maksud dari ucapan ibuku itu?!
"Apa maksud ibu?"
"APA KAU TELAH MENGHISAP HABIS DARAH MENANTUKU!"
Ucapannya kali ini membuatku terbelalak!
"A-apa maksud..."
"JANGAN MEMBANTAH! KAU TELAH MENINGGALKAN BANYAK BUKTI DI DADA SERTA LEHERNYA! JENNY BAHKAN TIDAK BERDAYA SAAT I..."
Aku segera menutup panggilan, dan bergegas pergi.
"Oppa, kau mau kemana..." Kimberly tampak heran melihat sikapku, namun aku sama sekali tidak menghiraukan eksistensinya!
Ketika tiba di meja Hellen, aku segera memberinya pesan kepadanya.
"Dengar, ini sangat darurat. Tangani semua sebisamu, tolong alihkan semua janji hari ini, aku ada urusan mendadak!" Ucapku dengan nafas memburu, kemudian kembali bergegas.
***********************
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, aku tidak henti-hentinya memikirkan ucapan ibuku tadi!
Apa maksud dari ucapannya?!
"Menghisap habis darahnya..." Gumamku
Ucapan ibuku terngiang-ngiang di pikiran serta telingaku, sepanjang jalan!
Apa maksud dari ucapan ibuku?!
Ini membuatku tidak habis pikir!
"Hingga Jenny tidak berdaya..."
Aku terbelalak, begitu menyadari akan suatu hal!
Mengapa itu semua baru terpikirkan sekarang!
"Menghisap habis darahnya, hingga Jenny tak berdaya..." Ucapku sesaat setelah memarkirkan mobilku di carport rumah kami.
"Meninggalkan banyak banyak bukti di dada serta..."
Aku bergegas untuk masuk ke dalam rumahku, dan begitu terkejut melihat kedua orang tua Jenny, serta ayahku yang nampak seperti tidak terjadi apa-apa!
Mereka bertiga menoleh ke arahku heran.
"Young Joon, kau sudah pulang?" Sapa mama Jenny
Aku tersenyum seadanya.
"Ummm.. Yeah! A-aku ke kamarku dulu ya, ma." Ucapku kemudian berlalu, sesaat setelah mama Jenny mengangguk.
Ketika membuka pintu kamarku, aku melihat ibuku tengah mengoleskan minyak di tengkuk istriku.
Beliau menoleh ke arahku, setelah menyadari kehadiranku.
Ibu segera menghentikan kegiatannya, dan berjalan ke arahku dengan penuh amarah, kemudian memukulku!
"Aw... Aw... Aw... Ibu... Apa-apaan ini!" Protesku, namun tidak menghentikan tindakan ibuku.
"Dasar anak kurang ajar! Apa yang telah kau lakukan terhadap menantuku!" Ucapnya sambil tetap memukuliku.
"Eomma... Hentikan..." Aku dapat mendengar suara istriku begitu lemah.
Keributan ini mengundang kedua orang tua Jenny, serta ayahku untuk datang ke kamarku.
"Ada apa ini?! Apa yang terjadi?!" Ayahku segera menghentikan ibuku, sedangkan papa Jenny segera menarik tubuhku.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ujar papa Jenny kepadaku.
"Anak ini..." Ibuku menatap tajam ke arahku, dengan nafas memburu.
"Iya, ada apa dengan anak kita?" Ucap ayahku bingung, dan ibu segera menoleh ke arah ayah.
"Min Chul, katakan kepadaku." Ujar ibuku, kemudian menoleh ke arahku.
"APA KITA TELAH MEMELIHARA SEORANG VAMPIR!!!" Ibuku kembali berteriak, dan membuat seisi ruangan ini terbelalak.
"A-apa maksudmu?" Ayahku terlihat heran.
Ibuku menatap ngeri ke arah ayahku.
Hening...
Hingga kemudian ibuku berlalu dengan kesal!
Mama Jenny kemudian menghampiri putrinya yang meringis karena kejadian tadi.
"Ada apa sih sebenernya, nak?" Ujar mama Jenny, seraya mengusap punggung Jenny.
"Nggak ada, ma... Aku cuma..."
Ucapan Jenny terhenti, melihat mamanya membisu menatap ke arah lehernya.
Jenny yang menyadari hal itu kemudian langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Mama Jenny yang menyadari akan sesuatu, akhirnya bangun dari ranjang, kemudian mengajak suaminya, serta ayahku untuk segera meninggalkan kami di ruangan ini, sambil tersipu.
Hening, hingga akhirnya aku menghampiri istriku yang saat ini tengah menutupi tubuhnya, sambil menekuk wajahnya.
Jujur saja, sebenarnya aku merasa bersalah kepada istriku.
"M-ma... Maafkan aku." Ucapku seraya mengusap belakang kepalaku.
Jenny menoleh ke arahku dengan tatapan tajam andalannya!
"Kau!" Ucapnya dengan nafas memburu.
"MENGAPA KAU HARUS MENINGGALKAN TANDA SIALAN INI DI TUBUHKU, PARK YOUNG..."
Aku segera membekap mulut istriku, sebelum dia melanjutkan kata-katanya
"Sssstttt.... Kau dapat membuat mereka kembali kesini, nanti..." Ucapku masih membekap mulutnya.
"Mmmmmpphhh... Mmmmmppphh..."
Jenny berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tanganku dari mulutnya.
"Iya... Aku akan lepaskan, tapi ku mohon, jangan berteriak, ya..." Ujarku kemudian melepaskan tanganku dari mulutnya.
"YOUNG JOON SIA..."
Aku kembali membekap mulutnya, sambil meringis.
"Jenny, sayangku... Ku mohon..." Aku benar-benar kehabisan akal, menghadapi istriku.
"Mmmmmppphhhhh.... Mmmmppphhhh!!!"
Entah apa yang Jenny katakan, yang pasti, dia tampak sangat kesal kepadaku.
"Iya... Tapi ku mohon..."
Seketika aku memiliki ide untuk menghadapi sikap istriku ini.
Aku mendekatkan wajahku kepadanya, masih dengan membekap mulutnya.
"Dengar, aku akan melepaskan tanganku, asal kau tidak berteriak." Ucapku
"Mmmpppphhh.... Mmmpppphhh!"
"Jika kau berteriak, aku akan membuat tanda yang tadinya hanya ada di dada serta lehermu, menjalar hingga ke seluruh wajahmu..." Ucapku dengan senyum yang cukup membuat tatapan Jenny sayu, secara mendadak!
"Mmmmmmmmppppppppp!!!!!!!" Jenny mengerang, kemudian aku melepaskan tanganku dari mulutnya.
"Young Joon, bajingan! Lu ngeselin banget siiih!!! Sialan lu ya!" Ucapnya menahan kesal, dan aku segera memeluknya.
"Young Joon... Mengapa kau begitu kejam begini..." Jenny merengek di dalam pelukanku.
Itu membuatku tertawa kecil, kemudian menguraikan pelukanku, dan kembali menatap wajahnya.
"Hey, salahmu sendiri, mengapa meembuatku tak ingin berhenti." Aku menggodanya seraya tersenyum.
Kemudian dia memelukku, dan menggigit dadaku!
"Aaawwwww!!! Jenny! Sakiitttt!!!" Aku meringis kesakitan, namun tidak berusaha untuk melepaskannya.
Jenny tidak juga melepas gigitannya, bahkan gigitannya bertambah kuat!
"Aaarrrgghhh!!! Jenny!!! Hentikaaaannn... Sakiittt!!!"
Dia tidak juga berhenti, hingga...
"Jenny!!! Hentikaaannn... Ku mohon... Kau membuatku berhasrat untuk..."
Jenny segera melepas gigitannya, dan menatapku ngeri!
"YOUNG JOON!!!!!!!!!"