
Aku telah tiba di Cleveland, Ohio setelah menempuh 8 jam lebih perjalanan.
Dan aku masih berpikir, apakah aku akan melanjutkan lagi perjalanan ini, atau aku akan menetap disini.
Ah, ya... Mengenai Clarence, mengapa aku menghubunginya, dan bukan Rob atau yang lain?
Itu semua karena Young Joon sama sekali tidak mengetahui sedikitpun hal tentang Clarence!
Bahkan teman-temanku sekalipun tidak ada yang mengenal Clarence!
Hanya teman SMA ku saja yang mengenal Clarence, namun mereka semua sudah tidak tinggal di DC lagi.
Clarence juga tidak memiliki media sosial, jadi dia tidak akan menjadi salah satu daftar orang yang akan di lacak oleh Young Joon melalui media sosialku!
Dan... Ya!
Jika kalian bertanya, bagaimana aku dapat mengenal Clarence, Clarence adalah orang pertama yang menjadi temanku, ketika pertama kali aku tinggal di Amerika.
Kami masih terus terhubung, melalui sambungan telepon umum, karena itu yang Clarence pinta.
Bahkan dia menawarkan bantuan kepadaku, dimanapun bahkan kapanpun aku membutuhkan bantuannya.
Aku memutuskan untuk menghubungi Clarence, ketika aku melihat ada telepon umum.
"Clarence, ini aku..." Kataku di seberang sini
"Ya, Elle..." Jawab Clarence diseberang sana
...****************...
Clarence kembali membantuku untuk mencarikan ku tempat untuk menginap.
Dia kembali meminjamkan kartu identitasnya untuk menyewa sebuah apartemen untukku.
"Mau berapa lama kau melakukan pelarian seperti ini?" Clarence menatap wajahku dalam
"Apa kau lelah, terus-menerus membantuku, Clare?" Aku menatap wajah Clarence
"Bahkan aku bersedia jika malaikat maut menukar nyawaku untuk membantumu, Elle." Ucapannya begitu tulus.
Kata-kata Clarence benar-benar membuatku tersentuh, kemudian memeluknya.
"Katakan padaku, apalagi yang kau butuhkan?" Ujar Clarence hangat, aku melepaskan pelukanku
"Aku ingin melepas semuanya..." Tatapanku kosong
"Maksudmu?" Clarence terlihat kebingungan.
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Clarence.
"Dapatkah kau membuatkan ku berkas perceraian?" Aku menatap wajah Clarence serius.
Itu cukup membuat Clarence menelan ludah. Dia tidak langsung menjawab, namun...
"Elle, ini sedikit berbahaya, dan..."
"Aku tidak akan memaksamu." Aku menyela kata-kata Clarence.
"Beri aku waktu 3 bulan untuk merampungkannya!" Clarence memastikan
********************
Aku berbaring di atas ranjang, mengingat kembali setiap detail peristiwa yang ku alami selama menjadi istri Park YoungJoon.
Itu membuatku merasa nyeri, tiap kali aku teringat akan kenangan-kenangan manis kami.
Hari-hariku disini hanya ku penuhi dengan air mata.
Hampir setiap hari aku menangis, meratapi kisah cintaku.
Tidak terasa, sudah 2 Minggu aku berada disini. Dan tidak ada tanda-tanda Young Joon mencari ku disini.
Clarence memberiku sebuah ponsel yang di daftarkan atas namanya.
Hanya ada 1 kontak disana, Clarence!
Aku tidak perlu pergi ke telepon umum lagi untuk menghubunginya, dan juga, dia membuatkanku akun media sosial atas namanya, untuk mencari informasi yang mungkin aku butuhkan.
Aku segera mengotak-atik ponsel yang Clarence berikan tadi.
Dan aku juga membuka media sosial yang Clarence buatkan untukku.
Sepi sekali! Hahahaha! Media sosial ini benar-benar membosankan!
Aku mulai menekan ikon daftar pencarian, aku mulai mengetik nama akunku disana, dan...
Aku tak kuasa menahan tangis melihat layar ponsel ini...
Young Joon menggunakan media sosialku...
Dia mengunggah foto kebersamaan kami disana...
Dia memposting beberapa tulisan...
Dia juga mengunggah tangkapan layar pesan tentang beberapa peraturan yang dia kirim untukku di pagi hari sebelum aku meninggalkannya.
'Aku akan benar-benar menghabisimu jika aku menemukanmu... Pulanglah, istriku sayang...'
Aku melihat setiap postingan yang dia unggah, dan pada unggahan terakhirnya, dia mengunggah fotoku mengenakan gaun merah maroon yang ku kenakan saat kami pergi ke kantornya.
Ya, itu foto yang Young Joon ambil ketika kami akan berangkat ke kantornya!
Young Joon mengunggah itu 1 jam yang lalu, dia menulis keterangan di foto itu
'Siapapun yang menemukan gadis ini, aku akan memberikan seluruh hartaku untuknya'.
Kolom komentarnya penuh, dan aku melihat satu per satu komentar yang ada disana, isinya rata-rata mendoakan agar Young Joon segera menemukanku, dan beberapa komentar memberikan petunjuk untuk Young Joon, dan Young Joon membalasnya.
'ini seperti gadis yang waktu itu memotong rambutnya di salon milik tanteku' komentar wanita bernama Mariana itu di balas oleh Young
'dimana lokasi salon tantemu?'
'di DC mall' balas wanita itu
'terima kasih' balas Joon
'sama-sama, semoga kau cepat menemukan istrimu, bro'
Kemudian aku melihat lagi komentar lainnya
'bukankah gadis ini yang waktu itu datang ke toko kita, dan membeli banyak sekali pakaian dengan menggunakan kartu kredit titanium, Bett?' tampak seorang wanita bernama Eleanor menandai temannya, Young Joon segera membalas
'dimana lokasi tokomu, nona?'
'DC blues, di DC mall' balas wanita bernama Betty
'terima kasih' balas Young Joon
Aku segera menekan tombol keluar media sosial, kemudian menghubungi Clarence.
*********************
Clarence sudah berada disini, dan aku mengutarakan keinginanku kepadanya.
"Aku harus pindah dari sini, Clare." Keluhku
"Kau mau kemana lagi?" Tanya Clarence.
Aku mulai berpikir.
Clarence tampak berpikir, dan...
"Kita akan menemui bibiku di Kansas." Ujar Clarence meyakinkan, dan aku mengangguk
"Kita akan melalui perjalanan yang cukup panjang, persiapkan dirimu." Clarence mengingatkanku
"Tentu saja." Kataku meyakinkan Clarence,
"Clare, mungkin aku harus sedikit merubah penampilanku." Kataku
"Maksudmu?"
********************
Aku sudah berada di sebuah salon, ya! Aku ingin merubah total penampilanku!
Aku mewarnai rambutku menjadi warna hijau, kemudian pergi ke sebuah toko seni tatto, dan mentato punggung sebelah kananku, kemudian menindik hidungku.
Sepanjang perjalanan, Clarence tampak risi dengan penampilanku kini
"Apakah ini tidak berlebihan, huh?" Keluh Clarence
"Hahahaaaaa!!! Aku sudah menjadi orang baru sekarang!" Aku membela diri
"Ya, kau benar! Bahkan aku hampir tidak mengenalimu!" Wajah Clarence tampak kesal.
Aku melihat bayangan diriku melalui spion mobil.
Jangankan Clarence, bahkan akupun seperti tidak mengenali diriku sendiri saat ini.
"Berapa lama lagi kita akan sampai?" Tanyaku
"Dua jam lagi, bersabarlah."
********************
Bibi Clarence menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala, dan aku sedikit canggung dibuatnya
"Apa gadis ini pacarmu, Clare?" Tanya bibi Clarence kepada Clarence dengan tatapan aneh
"Bukan, bi! Dia adalah tetanggaku, orang tuanya sedang bertugas di luar negeri, dan dia sendiri di rumah, dia tidak mau dan tidak di perbolehkan menginap di rumah laki-laki " Clarence begitu hebat dalam mengarang! Karangannya cukup masuk akal!
"Apa kau tidak bersekolah?" Kali ini, wanita paruh baya yang bertubuh agak gempal itu bertanya kepadaku.
"Um... Aku mengambil cuti 3 Minggu yang lalu." Aku berbohong kepadanya
"Mengapa kau tidak ikut orang tuamu saja?" Selidik bibi Clarence
"Um... Itu... Itu..."
"Yang benar saja, Bi! Dia bisa terkena virus Ebola jika mengikuti orang tuanya bertugas sebagai relawan di Afrika!" Clarence segera menyela ucapanku.
Aku menatap wajah Clarence takjub.
"Aaahhh... Baiklah! Kau dapat tinggal disini, dan tidur di kamar anakku Hannah!" Ucap bibi, kemudian membawakan barangku
******************
Bibi Clarence bernama Margareth, dia orang cukup cerewet, namun baik hati. Dia tinggal seorang diri di rumah yang cukup besar ini.
Dia memiliki 3 orang anak.
2 orang putri dan seorang putra.
Kedua putrinya telah menikah, dan menetap di Kanada, sedangkan putranya sedang menjalankan tugas sebagai seorang angkatan udara.
Clarence sesekali mengunjungi bibinya, karena bibi Margareth sangat menyayangi Clarance. Clarence adalah satu-satunya anak, dari satu-satunya saudara yang bibi Margareth miliki.
"Elle, aku tidak dapat kesini terlalu sering, mereka akan curiga kepadaku." Ujar Clarence sebelum kembali ke DC malam harinya, setelah kami tiba disini siang tadi.
"Ya, aku paham."
"Jaga dirimu baik-baik, kabari aku jika kau membutuhkan sesuatu." Ucapnya lagi.
Kami sempat terpaku untuk beberapa saat, hingga Clarence menatap wajahku dalam, dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku mengambil inisiatif, langsung memeluknya. Clarence terkejut
"Terima kasih banyak, Clare." Clarence membalas pelukanku. Lalu aku melepas pelukanku.
"Hati-hatilah... Hubungi aku, jika kau telah sampai di DC." Pesanku
"Ya, selamat tinggal, Elle, Bi... Aku titip Elle bersamamu..." Ujar Clarence, dan Bibi Margareth mengangguk.
Sepeninggal Clarence, bibi mengajakku berbincang
"Apakah diantara kau dan Clarence, tidak ada hubungan apa-apa?" Bibi memastikan, dan aku menatap wajahnya, kemudian tersenyum
"Aku menganggapnya seperti adikku sendiri." Jawabku
"Apakah kau tidak pernah memberinya kesempatan? Clare ku sepertinya menyimpan rasa kepadamu." Bibi Margareth tampak penasaran.
Tentang Clarence.
Sejujurnya, dia memang pernah menyatakan perasaannya kepadaku, sewaktu kami duduk di bangku SMA dulu.
Dia satu tingkat di bawahku.
Clarence anak yang lumayan tertutup, itu sebabnya dia tidak memiliki banyak teman.
Dia berwajah tampan, dengan senyum yang menarik, dan penampilan yang keren.
Banyak gadis yang berusaha mendekatinya, namun Clarence sama sekali tidak tertarik kepada satupun dari mereka!
Itu membuat mereka iri padaku!
Aku selalu menganggapnya seperti adikku sendiri, dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.
Aku selalu menjaganya dari kejaran gadis ataupun kejaran anjing!
Hahahaha... Clarence takut anjing! Aneh, bukan?
Tapi dia selalu menjagaku dari laki-laki iseng yang selau mencoba mengganggu ataupun menyakitiku. Bahkan sampai hari ini, dia masih terus menjagaku.
Ketika dia menyatakan perasaannya kepadaku, aku tertawa terbahak-bahak! Dan dia sangat marah kepadaku waktu itu, hingga tidak mau menemuiku, bahkan menolak setiap panggilan telepon dariku.
Sampai suatu hari, saat aku pergi ke toko buku untuk mencari materi salah satu mata pelajaran, aku melihatnya, dan langsung menyapanya.
Dia sempat menghindari ku, namun aku mengejarnya.
Banyak hal yang aku katakan kepadanya, termasuk tentang pernikahanku.
Dia terlihat kesal ketika mengetahui fakta, bahwa aku telah menikah, dan dengan segera berkata...
"Kau mungkin akan membutuhkanku." Ujar Clarence seraya menyodorkan sebuah kertas kecil berukuran setengah dari kartu nama biasa.
Disana hanya tertulis nomor telepon.
"Jangan hubungi aku melalui ponsel ataupun telepon rumah." Dia memberiku peringatan
"Maksudmu?" Tanyaku heran
"Hubungi aku hanya melalui telepon umum! Dan aku akan segera menemuimu, kapanpun kau membutuhkanku." Katanya kemudian pergi meninggalkanku.
Aku bahkan tidak mengerti, mengapa aku tidak pernah membuka hatiku untuknya.
Haaahhh... Anak kulit putih berambut coklat itu...