
Aku termenung, menatap senyuman itu... Mengapa dia sangat tampan, bahkan dengan wajah lelah itu...???
Mengapa aku merasa sangat nyaman, melihatnya seperti ini...???
Aku bahkan ikut tersenyum, melihat senyuman yang menurutku, semakin menambah nilai ketampanan laki-laki yang sesungguhnya adalah suamiku ini...???
"Mengapa?" Kataku
Seketika senyum itu menghilang dari wajahnya!
Wajahnya terlihat murung kini.
"Me-mengapa ba-bagaimana?" Wajahnya menyiratkan kekecewaan.
"Mengapa aku harus tidak bersedia?" Kataku dengan senyum lebar.
Young Joon yang semula murung, kini tampak kembali bersemangat!
"Mak-maksudmu?!"
"Tentu saja aku bersedia! Baiklah, aku bersiap dulu, ya!" Kataku kemudian bergegas menuju ke kamar, meninggalkan Young Joon yang masih terpaku, seolah tak percaya melihat sikapku!
********************
Pukul 19.00, dan aku telah siap...
Aku telah merias wajahku.
Walaupun tidak sehebat Shierly ataupun Clara dalam hal ber-Make up, setidaknya, aku dapat memulas wajahku dengan cukup baik!
Hahahaaaa!!!
Tidak tebal, juga tidak terlalu tipis, namun tidak sempurna!
Tidak mengapa, setidaknya wajahku tidak terlihat pucat! Hahahahaaa
Dan gaun ini...
Ini seolah memang dibuat khusus untukku, persis seperti gaun pengantinku!
Gaun ini memang menonjolkan bentuk tubuhku, namun tidak membuat kekurangan dalam tubuhku terlihat dengan jelas!
Hahahahahaaa!!! Seperti yang kalian tahu, aku memiliki banyak kekurangan di bagian dada, serta bokongku! Ooooopsss!
Aku segera membuka pintu kamarku, dan ketika aku berbalik, sesaat setelah menutup pintu kamarku, aku begitu terkesima, melihat penampilan Young Joon, yang juga baru saja keluar dari kamarnya.
Kami saling terpaku, menatap satu sama lain!
Bahkan dapat ku saksikan, wajah Young Joon menegang, melihat penampilanku.
Berbeda dengan diriku, yang terpana melihat tampilannya dengan setelan jas casual berwarna navy.
Ku rasa, Young Joon sangat menyukai warna navy, karena jika ku perhatikan, dia memiliki beberapa pakaian berwarna itu.
Kembali lagi ke situasi kami saat ini...
Butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya tentang...
"Uummm... Ba-bagaimana penampilanku?" Kataku gugup.
Wajah Young Joon semakin menegang! Dan jika ku perhatikan, wajahnya semakin memerah!
Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia justeru mengusap tengkuknya, dan memalingkan wajahnya dariku.
"A-ayo kita pergi sekarang..." Katanya, kemudian berjalan menjauhiku.
Ada apa dengan si bodoh ini!
Mengapa sikapnya menjadi sangat menyebalkan seperti itu!
Bukankah tadi dia begitu bersemangat, ketika memberikan gaun ini kepadaku?!
Mengapa sikapnya berubah drastis ketika gaun ini telah ku kenakan!
Dasar aneh!
******************
Ku pikir, keanehan sikap Young Joon, hanya terjadi ketika kami berada di rumah saja! Nyatanya tidak sama sekali!
Sepanjang perjalanan ke tempat pesta, wajah tegang memerahnya, tetap bertahan hingga akhirnya kami tiba di tempat tujuan!
Apa-apaan dia!
Berlagak seolah fokus mengemudi, tanpa menoleh ke arahku sedikitpun tadi!
Apa penampilanku begitu aneh baginya!
Dan keanehan lainnya kembali dimulai...
Ketika kami telah tiba di sebuah rumah megah bak istana, Young Joon, yang sebelumnya bersikap dingin kepadaku, tiba-tiba bersikap hangat kepadaku!
Ketika aku hendak membuka pintu mobil, saat kami telah menemukan lahan untuk parkir, dia berkata...
"Tunggu dulu..." Katanya, kemudian keluar dari dalam mobil, kemudian berjalan ke arah pintu keluarku, lalu membukanya, dan...
MENGULURKAN TANGANNYA UNTUK KU RAIH!!!
Apa-apaan ini!!!
Mengapa sikapnya cepat sekali berubah!
Apakah ini adalah sebuah pencitraan, agar orang-orang dapat menilai, betapa harmonisnya rumah tangga kami!!!
Aku menatap sinis ke arahnya, yang kini terlihat salah tingkah!
"Apa maksud dari ini semua?!" Sini aku
Young Joon mengusap belakang kepalanya, sambil tersenyum konyol!
"I-itu... Jenny..."
Aku segera meraih tangannya, kemudian berdiri di hadapannya.
"Apa lagi setelah ini?!" Ketusku, dengan tangan yang ada di genggamannya.
"I-itu..." Ekspresi wajahnya kini berubah hangat...
Dia tersenyum... Manis sekali! Dan entah mengapa, melihat senyum itu, hatiku seolah luluh...
Kami berjalan berdampingan.
Young Joon seolah enggan melepas tanganku darinya!
Dan ketika berada di dalam ruangan pesta, aku agak terkejut, melihat begitu banyak orang asia disini.
Young Joon menceritakan beberapa hal kepadaku tentang si empunya pesta, sesaat sebelum Young Joon membawaku untuk menghampiri sosok yang baru saja dia ceritakan!
Menurut Young Joon, si pria adalah pria berdarah Amerika-China, dan si wanita, berdarah Korea.
Pria ini adalah pengusaha sukses di bidang properti, tidak heran jika dia memiliki rumah bak istana seperti ini, di Amerika.
Pria ini bernama Edward Liem, dan menurut cerita Young Joon lagi, dia berusia 5 tahun lebih tua darinya. Itu berarti, usianya sekitar 30an... Dan isterinya, Irene Liem. Adalah seorang model di Korea! Usianya tidak begitu jauh dari Young Joon.
Satu kata untuk wanita ini, sempurna!
Young Joon tidak bercerita lebih lanjut tentang bagaimana mereka bisa saling mengenal, hanya saja, ketika kami akhirnya berbincang, dapat ku pastikan, mereka cukup akrab!
"Jadi, apakah kalian sudah memiliki rencana untuk segera memiliki momongan?" Ucap Edward Liem, yang sebelumnya memberitahu tentang kehamilan istrinya.
Aku dan Young Joon saling menatap dengan tatapan canggung, hingga akhirnya Young Joon menjawab dengan bijak...
"Ayolah! Kami belum genap 8 bulan menikah, jadi kami masih ingin menikmati masa-masa berdua lebih dahulu. Iya kan, sayang?" Ucapnya sambil merangkul, kemudian mengecup puncak kepalaku.
"Ya Tuhan... Kalian manis sekali!" Ucap Irene tersipu.
"Lagipula, istriku ini harus menuntaskan kuliahnya dulu, akan sangat mengganggu jika dia harus kuliah dalam keadaan hamil."
"Jadi, dia masih kuliah?" Edward nampak terkejut.
"Yeah! Dia sedang mengejar gelar master!" Jawab Young Joon dengan bangga, dan pasangan suami-istri itupun terlihat takjub.
Dan itu cukup mengusikku, juga Young Joon.
Kami kembali saling menatap, hingga akhirnya Young Joon meraih tanganku, kemudian mengecup punggung tanganku.
"Aku sangat mempercayai istriku." Ucapnya sambil tersenyum, kemudian menatapku.
Aku termenung, antara merasa sedang disindir, atau sedang dipuji!
Young Joon mengetahui dengan pasti, tentang hubunganku dengan Mike, dan dia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan itu, asalkan aku masih menyadari tentang batasan.
Namun ucapannya tadi, sesungguhnya sangat mengusik hatiku!
Pesta ini begitu meriah, dan jujur saja, aku tidak merasa canggung sama sekali berada disini, mengingat, begitu banyak orang asia disini, jadi agak lebih mudah untuk berbaur.
Young Joon tidak pernah melepaskan genggamannya kepadaku, terlebih, banyak sekali teman-temannya, terutama yang pria, baik yang sudah menikah, terlebih yang masih lajang!
Young Joon nampak sangat terganggu melihat sikap mereka yang bahkan diantaranya, tidak berkedip ketika menatapku!
Itulah yang membuatnya semakin enggan untuk membiarkanku menjauh dari sisinya, bahkan ketika aku hendak ke kamar kecil!
Ya Tuhan! Tidakkah sikapnya begitu kekanakan?!
**********************
Pesta telah usai, dan kami akhirnya memutuskan untuk pulang, ketika waktu menunjukkan pukul 1 pagi.
Setidaknya, sikap Young Joon saat ini, tidak se-menyebalkan sikapnya ketika perjalanan kami menuju ke tempat pesta tadi!
Ada banyak hal yang kami bicarakan, bahkan tak jarang kami tertawa ketika mengingat momen lucu di tempat pesta tadi, hingga tiba-tiba...
Mobil Young Joon mogok, di sebuah jalan yang cukup sepi.
"Aaaahhhh... Bagaimana ini!" Keluhnya setelah beberapa kali gagal menyalakan mesin mobil.
"Bukankah, belum lama ini kau memperbaiki mobil ini?"
Young Joon menoleh ke arahku sekilas.
"Entahlah! Oia, tunggu disini, dan jangan ke luar apapun yang terjadi!" Ujarnya dengan wajah yang cukup serius.
"Ba-baiklah!" Jawabku
Young Joon segera keluar dari dalam mobil, dan segera membuka kap mobil ini.
Setengah jam berlalu, namun tidak terjadi hal yang berarti,hingga akhirnya, seorang pengendara motor berhenti beberapa meter dari mobil kami, tepat di saat Young Joon menutup kembali kap mobil ini.
Jujur saja, sebenarnya aku ingin sekali keluar dari dalam sini, aku khawatir, jika orang tersebut memiliki niat jahat, namun... Jika ku perhatikan, sepertinya Young Joon mengenal orang tersebut!
Itu terlihat ketika sosok yang ternyata adalah seorang pria itu, membuka helmnya, dan berbincang hangat dengannya.
Tak lama setelah mereka berbincang, Young Joon menghampiriku. Dia segera membuka pintuku, lalu memintaku untuk mengikutinya ke arah pria itu.
Begitu kami berdua berhadapan dengan pria tersebut, Young Joon segera memperkenalkanku kepada pria itu.
"Jenny, ini Garry, salah satu karyawan di perusahaanku, dan Garry, ini istriku."
Garry kemudian mengulurkan tangannya, dan akupun segera menyambutnya.
"Wow! Tidak heran mengapa kau selalu memujinya, Pak!" Ujar Garry, kemudian Young Joon meninju bahunya.
"Baiklah, Garry... Terima kasih atas bantuanmu, ya!" Katanya
"Santai saja, pak! Baiklah, aku akan segera memperbaiki mobilmu, ini helm dan kunci sepeda motorku." Katanya seraya mengulurkan helm dan kunci sepeda motor, kemudian berjalan ke arah mobil Young Joon.
Apa ini?!
Apa maksudnya?!
Apa kami akan pulang dengan motor sport itu?!
Bagaimana mungkin?!
Tidakkah pakaianku akan sangat mengganggu, belum lagi... Apakah Young Joon dapat mengendarai sepeda motor?!
"Ayo!" Young Joon meraih tanganku, dan aku secara reflek menarik tanganku.
"Ada apa?" Young Joon terlihat heran.
"Apa kau yakin, kita akan pulang dengan itu?" Ucapku seraya menunjuk ke arah sepeda motor itu, dengan sudut mataku.
"Menurutmu?"
"Dengan pakaian seperti ini." Aku menunjukkan bagaimana model pakaianku kepadanya.
Young Joon terhenyak.
"Y-ya... Apa boleh buat." Katanya sedikit ragu.
"Lagi pula, apa kau dapat mengendarai itu?!"
Bukan, aku bukannya mengusik harga dirinya, hanya saja, aku tidak pernah melihatnya mengendarai sepeda motor!
Young Joon tersenyum, seolah mengerti ucapanku.
"Ayolah, Jenny..." Katanya kembali meraih tanganku, dan membawaku bersamanya.
Ketika berada tepat di sebelah motor itu, dan Young Joon hendak mengenakan helm, aku kembali protes.
"Young Joon, bagaimana jika aku saja yang mengendarai sepeda motor ini?"
Young Joon yang semula hendak mengenakan helm, kini menatap tajam ke arahku, dan membuatku merasa bersalah.
"Jenny..."
"Ba-baiklah..."
Dan ketika Young Joon hendak mmengenakan helm, lagi-lagi aku kembali protes.
"Young Joon..."
"Apa lagi?" Young Joon terlihat kesal menatapku.
"Apakah cuma tersedia satu buah helm?"
Young Joon termenung, hingga...
"Aku akan membawanya dengan hati-hati..." Katanya kemudian mengenakan helm.
Tunggu, ketika Young Joon tengah mengenakan helm, aku seolah teringat akan seseorang!
Namun, entah siapa, dan entah dimana!
Aku dan Young Joon kini telah berada di atas sepeda motor, sebelum melajukan sepeda motor ini, Young Joon berkata...
"Pegangan yang erat..."
Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku terus menerus mencoba untuk mencari jawaban tentang sosok itu!
Melihat mata Young Joon melalui helm fullface ini, semakin membuatku teringat akan seseorang!
Aku pernah melihat mata itu, namun aku lupa, siapa, dan dimana!!!
Huuufffttt!!!
Memikirkan itu saja, membuatku tidak mengetahui secara pasti, bagaimana cara Young Joon mengendarai kuda besi ini, hingga akhirnya, kami telah sampai tepat di depan rumah kami.
Aku turun lebih dahulu dari Young Joon, agar dapat melihat wajahnya yang saat ini masih mengenakan helm fullface, untuk memastikan.
Siaaalll!!! Young Joon telah membuka helmnya, sebelum aku melihat wajahnya!
"Ada apa?" Katanya sesaat setelah melepas helm itu.
Seketika aku gugup, setengah mati!
"Ti-tidak ada! A-aku masuk dulu, ya!" Kataku, kemudian bergegas ke arah pintu.
Aku langsung menaiki tangga, begitu telah memasuki rumah, agar dapat dengan cepat, masuk ke kamarku, dan kembali mencari jawaban tentang sosok itu...
Dan ketika aku baru saja menyentuh kenop pintu kamarku...