
Seminggu setelah kedatangan Joon ke kamarku, tuan McCourtney mendatangiku untuk memberiku beberapa informasi yang dia dapatkan.
"Setelah melihat rekaman cctv dari lantai 5 perusahaan tuan Park Young Joon bekerja, di dalam rekaman terlihat, Nona Tan selalu datang ke kantor tuan Park sebanyak 3 atau 4 kali dalam seminggu." Ujar Tuan McCourtney, seraya membaca berkas yang ada di hadapannya.
"Menurut cerita salah satu karyawan, tuan Park pernah menyuruh mereka untuk menghalangi nona Tan untuk menemui tuan Park, namun entah bagaimana, nona Tan tetap dapat datang." Tuan McCourtney melanjutkan.
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan tuan McCourtney.
"Nona Tan selalu menunggu tuan Park pulang, dan kemudian mereka pulang bersama."
Penjelasan tuan McCourtney kali ini, benar-benar membuat dadaku terasa nyeri.
"Karyawan yang lain berkata, nona Tan memiliki label 'klien penting' atau 'klien istimewa'."
Aku tersenyum getir mendengar penjelasan yang satu ini.
"Salah satu karyawan, pernah memergoki nona Tan memeluk tuan Park, beberapa bulan yang lalu."
Aku tidak dapat menahan air mataku kali ini. Tuan McCourtney menghentikan keterangannya.
"Maaf, Jennifer..." Tuan McCourtney tampak merasa bersalah kepadaku
"Tidak apa-apa, tuan. Lanjutkan lah." Kataku meyakinkannya.
"Ku rasa itu sudah cukup." Tuan McCourtney tampak mengerti perasaanku
"Hmmm... Baiklah..." Kataku.
"Tuan, seminggu yang lalu, beberapa menit setelah kau pergi, Young Joon datang kesini." Kataku melanjutkan
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" Tuan McCourtney menyelidik
"Dia menyerangku." Ujarku dengan mata berkaca-kaca
"Apa maksudmu, dia memukulmu?" Tuan McCourtney memastikan
"Bukan, dia mencoba untuk menyentuhku dengan paksa." Sahutku.
Tuan McCourtney tampak bingung dengan keteranganku kali ini.
"Jika ini masuk ke dalam kategori kekerasan dalam rumah tangga, aku memiliki sebuah barang bukti, sebentar!"
Aku bangkit dari dudukku, kemudian berjalan ke arah koper, dan mengambil kemejaku yang robek akibat Young Joon, lalu berjalan kembali ke arah tuan McCourtney untuk menunjukkan kepadanya.
Tuan McCourtney meraih kemeja itu, kemudian menatapnya.
"Jika kau butuh saksi, kita dapat menemui resepsionis dan beberapa pihak keamanan yang waktu itu menyeretnya keluar." Ujarku memastikan, kemudian tuan McCourtney mengangguk.
*****************
3 bulan setelah proses yang cukup alot, akhirnya aku resmi bercerai dengan Park Young Joon!
Yeaahhh... Aku wanita yang bebas sekarang!
Aku telah menyewa sebuah apartemen sekarang, setelah menghamburkan sisa uangku, menginap selama 10 hari di hotel, serta membayar jasa pengacara untuk mengurus proses perceraianku.
Aku tidak pernah sekalipun menginjakkan kakiku di rumah kami, setelah kepergian ku terakhir kali. Aku meninggalkan semua barang-barangku disana.
Tentang harta, aku tidak memikirkannya sama sekali.
Bahkan aku tidak pernah menemui Young Joon semenjak kejadian waktu itu.
Dapat ku akui, tuan McCourtney benar-benar pengacara yang sangat handal!
Mengenai uang, aku masih memiliki sedikit tabungan yang ku simpan dari hasil pemberian orang tuaku, ketika aku kuliah dulu.
Ah, aku tetap akan melanjutkan kuliahku! Sesuai rencana awal.
Aku menghubungi Clarence untuk mengundangnya ke apartemenku, untuk merayakan perceraianku!
Bukankah ini tidak masuk akal, kau berpesta untuk sebuah tragedi?
**********************
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Clarence
"Melanjutkan kuliahku, tentunya! Dan mungkin, aku akan mengunjungi bibi Margareth, sebelum aku pulang ke Indonesia." Jawabku
"Apa orang tuamu sudah tau?" Selidik Clarence
"Butuh waktu untuk itu." Jawabku dengan nada sedih
"Apa kau yakin, mantan suamimu tidak akan memberi tahu mereka?" Clarence kembali menyelidik, aku menarik nafas dalam
"Dia tak akan memiliki nyali untuk itu." Ujarku meyakinkan.
"Baiklah, mari kita rayakan kebebasanmu dari belenggu rasa nyeri!" Kata-kata Clarence benar-benar membuatku tertawa sampai terpingkal-pingkal!
"Omong-omong, berapa lama lagi kau akan menyelesaikan kuliahmu?" Clarence menatap wajahku
"Sekitar 3 bulan lagi. Aahhh... Dapatkah kau membantuku untuk merampungkan skripsiku? Laptopku tertinggal di rumah Young Joon..." Aku merasa sedih sekali.
"Itu adalah hal yang sangat mudah! Aku juga menghasilkan uang dari itu!" Clarence terlihat membanggakan diri
"Ku rasa tabunganku tidak akan cukup untuk membayarnya..." Aku kembali merasa sedih mendengar Clarence mengatakan hal itu
"Hahahahahhaaaa.... Ayolah, Elle.. Bukankah aku pernah berkata kepadamu, bahwa melihatmu bernafas, dan hidup dengan baik saja, itu sudah cukup membayar semua yang ku berikan untukmu." Ucapnya, dengan senyum mengembang.
Aku tersenyum lega mendengar Clarence mengatakan itu, dan langsung memeluknya.
**********************
Yeeeeeeaaaaahhhhh!!!
Akhirnya aku mendapatkan gelar masterku!
Hari ini adalah wisudaku. Aku bahagia, namun sedih!
Tidak ada orang tua, ataupun suami disini. Hanya ada Clarence!
Tidak apa! Itu sudah cukup untukku!
Oh ya! Ada Mike dan teman-temanku yang lain juga! Aku menemui mereka, kami saling memberi selamat, dan berpelukan satu sama lain.
Mike... Ya, dia kini telah bersama Shirley, aku sangat senang mendengarnya. Aku sungguh sangat bahagia mendengar kebersamaan mereka.
Kami berbincang, dan tertawa bahagia disini, namun... Percayalah, ada yang kurang dalam hatiku.
*********************
"Bibi pasti sangat bahagia melihatmu!" Clarence terlihat bersemangat sekali ketika mengemudi.
"Ya, pasti! Sudah lama sekali aku tidak menemuinya! Aaaahhhh... Aku benar-benar merindukannya." Kataku
"Yeaaahh! Aku juga!"
Akhirnya kami sampai di rumah bibi Margareth! Kau tahu, bibi luar biasa bahagia sekali melihat kedatangan kami! Dia sampai berlari ketika menghampiri kami!
"Ooohhh sayangku... Kau menepati janjimu..." Bibi memelukku erat sekali!
"Aku juga sangat merindukanmu, bi!" Jawabku
"Heeeyy, tunggu dulu! Apa kau benar-benar Elle?" Bibi memperhatikanku dari ujung kaki sampai ke ujung kepala! Persis seperti saat pertama kali kami bertemu dahulu
"Ya ampun bibi... Yang benar saja!" Rengek ku!
Kami semua tertawa bahagia.
Tunggu dulu, ada seseorang disana!
Dia tampak seumuran denganku! Wajahnya sangat tampan, tubuhnya tinggi tegap, dia memperhatikan kami dari tadi
"Aaahh, masuklah cepat! Anakku Matthew ada di dalam!" Bibi segera mengajak kami ke dalam.
Clarence nampak tidak nyaman mendengar nama Matthew.
Saat kami berada di depan rumah bibi Margareth, bibi langsung memperkenalkan ku kepada laki-laki yang sejak tadi menatap kami
"Aaahhh, Elle, ini Matthew, Matthew, ini Elle!" Ujar bibi Margareth penuh semangat!
Aku dan Matthew kemudian saling memperkenalkan diri masing-masing. Clarence benar-benar terlihat muak melihat pemandangan ini.
"Yo, bro! Bagaimana kabarmu!" Matthew menepuk bahu Clarence
"Ah, aku sehat dan tampan!" Jawab Clarence dengan nada malas, dan kami semua tertawa.
*******************
"Matthew hanya seminggu lagi berada disini, jadi setelahnya, aku akan kembali sendiri." Bibi terlihat sedih, saat mengatakan itu kepada kami bertiga, di ruang makan
"Bu, aku akan kembali lagi setelah tugasku selesai." Matthew menggenggam tangan ibunya, kemudian bibi Margareth menatap wajahnya, dan tersenyum
"Bi, kan ada kami berdua yang akan menemanimu!" Clarence protes
"Benarkah?" Bibi terlihat kembali bersemangat
"Mengapa 2 Minggu?" Bibi terlihat protes
"Maksudmu?" Clarence terlihat heran
"Mengapa tidak selamanya saja!" Bibi terlihat sedih
"Bi, aku harus kembali ke Indonesia. Ada beberapa berkas yang harus ku urus." Aku menjelaskan, bibi terlihat sedih
"3 bulan bersamamu waktu itu saja, itu terasa cepat sekali untukku, apalagi hanya..."
"Kau pernah kesini sebelumnya, Elle?" Matthew tiba-tiba menyela kata-kata bibi
"Ya, aku yang mengantarnya kesini." Clarence langsung menyahut
"Aku bertanya kepada Elle, mengapa kau yang menyahut!" Protes Matthew
"Kau juga akan mendapat jawaban yang sama darinya!" Clarence kembali menyahut
"Heeeyy... Sudah, ayo kita lanjutkan makan malam ini!" Bibi menenangkan.
*********************
"Apa rencanamu selanjutnya?" Ujar Clarence.
Kami berdua duduk di teras depan rumah bibi Margareth. Ini sangat sejuk, dan indah! Aku selalu menyukai suasana seperti ini.
"Aku akan kembali ke Indonesia, menemui kedua orang tuaku untuk beberapa waktu, kemudian mengirim surel ke beberapa perusahaan di Jerman. Dan berlibur sejenak di Indonesia, sambil menunggu balasan dari pihak perusahaan." Jawabku
"Mengapa harus Jerman?" Selidik Clarence
"Bukankah aku sudah pernah bilang, aku ingin melanjutkan hidup di negara, dimana aku dan Young Joon tidak terhubung?" Ujarku kemudian menatap wajah Clarence.
"Aahh... Itu..."
Tiba-tiba Matthew datang...
"Heeeyy, kalian belum tidur?" Ujar Matthew, kemudian duduk diantara kami.
Clarence nampak sebal melihat saudara sepupunya.
"Apa yang kau lakukan disini!" Ketus Clarence
"Tentu saja menikmati suasana malam di rumah masa kecilku! Apalagi!" Matthew tampak terganggu dengan ucapan Clarence
"Ciiissssss...." Clarence tampak muak sekali
"Heeeyy! Apa masalahmu!" Matthew tampak kesal melihat perlakuan adik sepupunya itu
"Baiklah, ini sudah malam. Aku tidur duluan, ya." Ucapku kemudian bergegas meninggalkan mereka, yang masih berdebat.
***********************
Di kamar ini, kamar dimana dulu aku pernah berlari, menghindari laki-laki yang pernah menjadi suamiku dulu.
Masih terasa atmosfer kesedihanku disini.
Aku masih mengingat dengan jelas, rasa sakit yang ku alami selama berbulan-bulan, mengingat kenangan tentang pernikahan kami. Dan itu kembali terulang...
Dadaku terasa nyeri sekali.
Aku merindukan laki-laki itu...
Bagaimana keadaanya sekarang?
Apakah tubuhnya masih kurus?
Apakah dia telah mencukur rambutnya? Bagaimana bulu-bulu di wajahnya?
Apakah dia telah membabat habis semua?
Aku belum melupakannya, sama sekali tidak! Aku masih mengingat dengan jelas, bagaimana dia bersimpuh di kakiku, dan memintaku untuk tidak pergi...
Aku masih selalu memikirkannya, tidak peduli berapa banyak rasa sakit yang dia berikan kepadaku.
Aku selalu mengingatnya!
Beberapa bulan ini, terasa sangat menyakitkan. Hatiku selalu mengharapkan kami kembali seperti dulu lagi, namun tubuhku benar-benar menolaknya dengan sangat kuat! Apa yang harus ku lakukan? Rindu ini begitu menyiksaku! Benar-benar menyiksaku!
Aku meraih ponselku, dan berniat untuk membuka sosial mediaku.
Setelah sosial mediaku terbuka, aku melihat beberapa postingan teman-temanku di media sosial.
Isinya masih tentang wisuda kami kemarin.
Dan saat aku scroll ke bawah, aku melihat postingan salah satu teman media sosialku.
Itu Nataschya!
Aku sebenarnya tidak mengenalnya, bahkan kami tidak pernah bertemu sebelumnya, kami hanya terhubung di media sosial, dan beberapa kali saling menyapa disana.
Aku juga melihat Nataschya selalu merespon setiap postingan Young Joon di media sosialku. Namun, ada seseorang yang nampak tidak asing berada bersamanya di potret itu.
Sepertinya aku mengenal laki-laki yang duduk di sampingnya!
Dalam keterangan foto, Nataschya menulis...
'Selamat datang kembali, bro!'
Park Young Joon!
Dia tampak bahagia sekali disana.
Tubuhnya sudah lebih berisi, bahkan terlihat lebih gemuk dibanding saat dia masih menjadi suamiku.
Wajahnya ceria sekali!
Senyumnya benar-benar memancarkan kebahagiaan.
Mataku berkaca-kaca melihatnya.
Kupikir, aku tidak perlu memikirkannya lagi!
Dia terlihat bahagia sekali disana.
Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di ikon pesan, aku segera menekan ikon pesan, ah! Itu Arjuna
Arjuna : lu lagi online, Jen?
Arjuna menyapaku, aku segera membalas
Jenny Lie :iya, jun
Arjuna : gimana kabar lu?
Jenny Lie : soso
Arjuna : maksudnya?
Jenny Lie : gw dah cerai sama mantan gw!
Arjuna : ko' bisa!
Jenny Lie : panjang ceritanya!
Arjuna : ceritalah!
Jenny Lie : gk sekarang, Jun! Nanti aja klu gw dah balik indo!
Arjuna :lu mo balik indo? Kapan?
Jenny Lie : dua Minggu lagi
Arjuna : lu sekarang Dimana? Masih di DC?
Jenny Lie : gk, gw lagi di Kansas!
Arjuna : di tempat siapa?
Jenny Lie : orang tua angkat gw.
Arjuna : orang tua angkat? Lu gapernah cerita sama gw tentang ini?
Jenny Lie : nanti aja, balik indo gw ceritain semua, yes!
Arjuna : ah ok!
Jenny Lie : ywdh, gw sleeping beauty dulu, yes!
Arjuna : oke, sweet dreams.
Kemudian aku menekan tombol keluar, lalu mematikan ponselku