Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Over



Sudah 2 Minggu aku berada disini, kulitku sudah mulai dua tingkat lebih cerah dari beberapa waktu lalu, karena aku tidak pernah pergi kemanapun, setelah kejadian sore itu.


Bahkan berat badanku, sepertinya sudah kembali seperti semula, mengingat kegiatanku yang hanya makan dan tidur.


Aku sudah melepaskan tindikan di hidungku. Dan rambutku? Aku berencana mengembalikan warnanya seperti semula!


Aku sudah siap!


Aku sudah menerima pesan melalui surel mengenai gugatan ceraiku.


Itu artinya, aku akan segera menemui Young Joon!


Aku akan kembali menjadi Jennifer Elizabeth Lie! Aku sempat menghubungi Clarence, dan menceritakan tentang surel, serta rencanaku ke depan.


"Sebaiknya kita jangan bertemu untuk beberapa waktu, sampai prosesnya benar-benar sudah selesai." Kataku beberapa waktu lalu sebelum meninggalkan motel ini


"Baiklah, jaga dirimu. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu." Clarence selalu berkata seperti itu setiap kali kami akan mengakhiri panggilan.


********************


Aku sudah berada di sebuah salon, dan aku sudah berpesan kepada gadis yang saat ini sedang mencuci rambutku, tentang keinginanku untuk mengembalikan warna asli rambutku, lalu sedikit memberikan model disana, tanpa harus mengurangi panjangnya.


Aku terus berpikir, bagaimana cara untuk menghubungi Young Joon.


Aahh... Masa bodoh tentang semua itu!


Aku akan memikirkannya setelah aku tiba di hotel, entah hotel mana, akupun belum memikirkannya!


********************


Aku telah selesai dengan rambutku.


Kini aku sudah benar-benar kembali menjadi Jennifer Elizabeth Lie!


Ku langkahkan kakiku keluar salon ini, aku akan pergi ke sebuah hotel yang tidak terlalu mahal, namun cukup nyaman.


Jika kau tanya, apakah uang yang ku bawa beberapa bulan lalu itu tidak habis?


Ya!


Ini baru berkurang beberapa ratus dolar saja!


Selama pelarian ku, Clarence lah yang berkontribusi atas hidupku.


Aku tidak mengetahui pasti, apa pekerjaannya, yang ku tahu, dia mempunyai cukup banyak uang.


Aku menghentikan sebuah taksi, dan langsung masuk ke dalamnya ketika taksi itu berhenti.


"Mau kemana, nona?" Tanya supir taksi itu ramah


"Marina Hotel." Sahutku


********************


Aku telah berada di dalam kamar hotel, kamarnya cukup nyaman, dan agak sedikit mewah, sebenarnya.


Ini berbeda dengan dua kamar motel yang pernah ku singgahi sebelumnya.


Aku berjalan ke arah balkon kamar ini, mencoba menghirup udara kota DC dari atas sini. Ternyata, kota DC di sore hari cukup indah!


Hiruk pikuk kota ini sedikit bisa membuatku tersenyu, hingga aku kembali mengingat akan suatu hal. Park Young Joon!


Aku berpikir kapan aku akan menghubunginya. Mungkin nanti, esok, atau lusa?


Entahlah!


Aku hanya belum siap menemuinya secara 'resmi' sekarang. Aku ingin mempersiapkan hatiku dulu, sebelum benar-benar menyelesaikannya. Jadi, aku memutuskan untuk mandi.


Berendam mungkin cukup menyenangkan.


Ketika berendam, aku kembali meyakinkan diriku, apakah aku benar-benar akan mengakhiri semua ini?


Apakah ini hanyalah emosi sesaat?


Entahlah!


Aku hanya ingin tidak merasa sakit lagi! Itu saja! Dua kali merasakan sakit yang sama, sungguh tidak nyaman untukku! Itu membuatku benar-benar mau mati! Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan masa mudaku untuk hal menyakitkan lagi! Ini harus ku selesaikan! Segera, secepatnya!


********************


Tentang perasaanku, bukankah aku berhak bahagia? Aku memang mencintai Young Joon, sangat mencintainya!


Namun jika memilikinya membuatku tidak bahagia, mengapa aku harus mempertahankannya?


Cinta adalah tentang siapa yang ada di hatimu, kau tidak bisa memaksa, tidak juga harus terpaksa!


Young Joon yang mengajarkanku tentang hal itu! Kau tidak harus memaksa seseorang untuk hidup bersamamu karena kau mencintainya, juga tidak bisa begitu saja menerima setiap hal buruk yang orang kau cintai lakukan padamu, hanya karena kau mencintainya!


Cinta tidaklah sebodoh itu!


Kau hanya perlu menyimpannya jauh di relung hatimu, dan tinggal bersama kenangan tentangnya selama yang kau butuhkan.


Seperti aku saat ini.


Aku bertahan hidup dengan rasa rindu yang teramat menyakitkan, dan kenangan tentang kisah cintaku.


Aku selalu mengingat, setiap hal kecil yang terjadi selama pernikahan kami. Entah itu menyakitkan, ataupun menyenangkan.


Aku selalu mengingatnya! Aku akan selalu ingat, sampai Young Joon akhirnya benar-benar hilang dari dalam hatiku, walaupun sepertinya itu adalah hal yang mustahil!


Aku selalu menangis, tiap kali mengingat Young Joon mengatakan 'aku mencintaimu'.


Itu benar-benar menyakitkan. Apa ada wajah sepolos itu ketika sedang berbohong?


***********************


Aku membuka media sosial yang Clarence buat untukku melalui ponsel, kemudian menghapusnya.


Ya!


Aku harus menghapus akun itu selamanya.


Setelahnya, aku membuka akun asliku kembali, setelah sekian lama.


Terakhir kali membuka akun ini adalah 5 bulan yang lalu, saat Young Joon memintanya.


Saat akunku sudah terbuka, banyak sekali pesan masuk disana. Sesegera mungkin aku menekan ikon pesan. Aaahhh... Itu Arjuna! Arjuna nampak mengirimi ku pesan dua hari yang lalu


Arjuna : Jen, lu dimana? Ko' lu nggak gk pernah balas pesan gw? Apa ada masalah?


Arjuna tampak mengkhawatirkanku, aku segera membalas pesan Arjuna.


Jenny Lie : hai Jun, apa kabar?


Sapaku. 5 menit kemudian, Arjuna membalas pesanku


Arjuna : lu kemana aja, Jen! Gw kangen bgt sama lu!


Jenny Lie : gosah lebay lu!


balasku seraya tersenyum


Arjuna : lu masih di Amrik?


Jenny Lie : iya, kenapa?


Arjuna : di DC?


Jenny Lie : iya, kenapa?


Arjuna : gw lihat postingan lu akhir-akhir ini aneh bgt! Kaya' bukan lu!


Jenny Lie : emang!


Arjuna : trus?


Jenny Lie : itu calon mantan laki gw!


Aku agak merasa sedih begitu mengirim pesan ini.


Arjuna tidak membalas pesanku lagi.


Bahkan sudah 2 jam ku tunggu responnya, namun tidak ada balasan lagi darinya.


Aku memutuskan untuk menekan ikon keluar dari ponselku, danan berpikir, apakah aku harus menghubungi Young Joon sekarang, mengingat dia pasti sudah melacak keberadaanku, karena aku telah membuka kembali media sosialku.


'Tok... Tok... Tok...!'


Aku seolah tahu, siapa yang mengetuk.


Ternyata cepat sekali dia menemukanku!


Tidak perlu menunggu waktu berhari-hari untuk segera menghubunginya!


Aku tersenyum getir, dan melangkahkan kakiku dengan berat ke arah pintu, seraya menanti apa yang selanjutnya terjadi.


"Selamat sore Nyonya Park, aku Isaac McCourtney, pengacara yang kau hubungi 3 Minggu lalu."


Seorang pria paruh baya mengulurkan tangannya.


Isaac McCourtney, aku melihat artikel tentang pria ini ketika di Kansas waktu itu.


Aku juga melihat reputasinya yang cukup baik dalam menangani berbagai kasus perceraian.


Dia selalu berhasil! Bahkan beberapa kliennya berasal dari kalangan selebriti.


Aku segera menyimpan nomornya, dan kemudian menghubunginya beberapa hari kemudian. Dan aku mengiriminya pesan, ketika aku tiba di lobby hotel ini, memberitahunya keberadaan ku.


********************


"Aku tidak berpikir, kau akan datang secepat ini, mengingat baru beberapa jam yang lalu aku mengirimi pesan kepadamu." Aku membuka percakapan


"Hotel ini tidak jauh dari kantorku, makanya aku langsung kesini, setelah menyelesaikan beberapa berkas." Tuan McCourtney menjelaskan


"Terima kasih, tuan."


"Omong-omong, dakwaan apa yang akan kau berikan kepada suamimu?" Tuan McCourtney menatap wajahku


"Pengkhianatan!" Ucapku mantap


"Apa kau memiliki beberapa bukti? Seperti tangkapan pesan, foto, video, atau..."


"Aku tidak memiliki semua itu." Ujarku lalu menatap wajah pria paruh baya itu.


Pria tersebut kembali menatap wajahku, dia terlihat sedikit bingung, dan...


"Begini, Nyonya Park..."


"Jennifer!" Aku sungguh tidak ingin mendengar sebutan itu lagi


"Aaahhh, begini, Jennifer. Ini akan sedikit sulit, jika kau tidak memiliki bukti, dan..."


"Aku cukup banyak melihat reputasimu dalam kasus seperti ini, dan bukankah ini adalah hal yang mudah untukmu?" Aku menguji harga dirinya, dia terlihat Tertantang kini


"Baiklah, bagian mana yang akan kita mulai lebih dahulu?" Pria ini akhirnya menunjukkan gengsinya


"Kau bisa melihat rekaman CCTV di perusahaan tempatnya bekerja, dan kemudian, kau bisa bertanya kepada karyawan yang ada disana, tentang Kimberly Tan." Tuan McCourtney mengangguk,


"Aku tidak akan mengusik mengenai harta, aku hanya ingin, ini segera selesai, secepat mungkin."


***********************


"Baiklah, Nyonya! Aku akan merampungkan ini secepat mungkin." Ucap tuan McCourtney sebelum meninggalkan kamar hotel ini


"Mohon bantuannya, tuan McCourtney." Aku benar-benar berharap kepadanya


"Baiklah, aku permisi dulu, aku akan segera mengabarimu ketika mendapatkan informasi penting." Ucapnya, kemudian tuan McCourtney berlalu.


Sepeninggal tuan McCourtney, aku tidak langsung menutup pintu kamar ini. Aku termenung sejenak, memikirkan betapa nekatnya langkahku kali ini


Aku tersenyum getir, hingga akhirnya akupun menutup pintu kamar ini, namun tiba-tiba... Seseorang menahannya!


Dia membuka pintunya!


Orang itu kini berdiri di hadapanku!


Park Young Joon...


Laki-laki itu terlihat sangat marah menatap wajahku!


Matanya tampak sembap, seperti habis menangis!


Dia masih mengenakan pakaian yang waktu itu ku lihat dia kenakan di restoran cepat saji. Mataku berkaca-kaca melihatnya.


Tenagaku seolah habis terkuras...


"A-aku..."


Young Joon langsung menciumku sambil mengangkat tubuhku, dan membawanya ke arah ranjang, lalu membaringkannya disana, tanpa melepaskan ciumannya!


Dia berusaha keras melepaskan pakaian yang ku kenakan!


Aku menangis sejadi-jadinya, seraya memukul-mukul tubuhnya sekuat tenaga, namun Young Joon tidak juga berhenti! Dia semakin buas!


Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga, namun dia tidak juga melepaskan ciuman serta 'cengkeramannya', hingga akhirnya...


'Kreeeeekkkkkk!'


Young Joon merobek sisi sebelah kanan kemejaku!


Dia menghentikan serangannya terhadapku, seolah menyadari sesuatu, kemudian tertunduk lesu di hadapanku.


Aku masih menangis ketakutan.


Young Joon tiba-tiba menatapku tajam!


Dia bahkan sedikit menyeringai!


Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya!


Aku bahkan sempat berpikir, apakah Young Joon akan membunuhku?


Biarlah... Setidaknya, mungkin  mati, adalah cara terbaik untuk menghilangkan semua rasa sakitku!


Young Joon tiba-tiba mencengkeram kedua bahuku dan mengguncang-guncangkannya


"$500/jam, kan!!! $500/JAM KAAAANNNNN!!!!!" Joon berteriak, kemudian memelukku erat.


"Mengapa kau menyiksaku seperti ini... Mengapa..." Joon menangis layaknya anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya.


Dia benar-benar histeris sekali.


Aku tidak pernah melihatnya menangis sampai meraung-raung begini.


Dia terlihat menderita sekali, ya tuhan...


"Oppa... Hentikan semua ini." Ucapku dengan tatapan kosong, dan suara bergetar.


Young Joon melepaskan pelukannya perlahan, kemudian menatap wajahku dalam.


"Mari kita akhiri semuanya..." Air mataku mengalir tiada henti setelah mengucapkannya


"Tidak! Tidak! TIDAAAKKKKK!!! KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI PADAKU!!!!" Young Joon benar-benar terlihat seperti orang yang sudah kehilangan akal!


"Aku sudah tidak ingin merasa sakit lagi..." Ucapku lirih


Aku masih menatap dengan tatapan kosong, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya, Young meraih tanganku, dan menciumnya sambil menangis.


"Tidak, jangan katakan itu, sayang... Aku berjanji, aku akan menghapus semua peraturan yang ku buat, aku berjanji, akan akan melakukan semua yang kau inginkan, aku berjanji..."


"Aku menginginkan perceraian..." Aku menatap wajah Young Joon.


"Bukankah kau berjanji, akan melakukan apa yang ku inginkan?" Aku menatap wajahnya, dengan tatapan datar, dan kosong...


Young Joon menatapku nanar, air matanya tidak berhenti mengalir.


"Bahkan kau belum mendengar penjelasan dariku..."


"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi... Aku sudah tidak mau mengetahui segala hal tentang dirimu, atau apapun..." Entah kekuatan apa yang membuatku dapat mengucapkan itu.


Young Joon tertunduk lemas, dia meratap.


Aku segera bergeser ke arah telepon hotel yang berada di nakas sebelah kiri ranjang, dan menghubungi resepsionis, untuk membawa pihak keamanan ke kamarku.


Young Joon menatapku seraya menangis histeris, dia bersimpuh di kakiku, dan terus memohon.


Aku sama sekali tidak menghiraukannya, hingga akhirnya pihak keamanan datang, dan masuk ketika tidak ada respon saat mereka mengetuk.


"Permisi, nona..." Pihak keamanan yang berjumlah 3 orang itu, menatap kami ragu


"Bawalah orang ini, dan jangan pernah mengizinkannya untuk masuk ke kamarku." Kataku dengan tatapan kosong, dan suara yang terdengar lemas


"Baik nona." Mereka langsung bergegas menarik tubuh Young Joon yang masih bersimpuh di kakiku


"LEPASKAN AKU!!! AKU SEDANG MENEMUI ISTRIKU!!! LEPASKAN AKU!!!" Young Joon berteriak sambil meronta-ronta.


"Maaf tuan, kau harus pergi sekarang!" Pihak keamanan menghiraukan Joon


"Istriku, ku mohon halangi mereka! Katakan kepada mereka, aku sedang menemuimu!" Young Joon merengek kepadaku, namun pihak keamanan tetap membawanya, dan memberikan isyarat akan keluar.


"KALIAN TIDAK BISA MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INIIII!!!" Young Joon berteriak.


Saat pihak keaman membawanya keluar, kemudian menutup pintu kamar, sepeninggal mereka, aku menangis sejadi-jadinya...


Aku meratapi semua... Bahkan aku meratapi Young Joon yang terlihat hancur!


Ini membuatku benar-benar bingung... Apakah aku harus tetap melanjutkan rencanaku, atau menghentikannya sampai disini?