
Aku terhenyak, mendengar ucapan Young Joon.
Mengapa dia terus menerus mengucapkan hal yang menunjukkan ketakutannya akan diriku yang seolah meninggalkannya demi orang lain?!
"Young Joon, apa menurutmu aku adalah sesorang yang mudah berpaling kepada cinta yang baru?" Ucapku agak sebal.
Young Joon menggeleng samar, dan tersenyum lirih.
"Jenny..."
"Apa menurutmu luka yang kau sebabkan dapat ku jadikan sebagai alasan untuk..."
"Jenny..." Young Joon menatapku dengan tatapan frustasi.
Dia kini menggenggam erat kedua tanganku.
Masih, masih terus menatapku.
"Maafkan aku..." Ucapannya sungguh tulus...
Bahkan dapat ku pastikan, matanya kini berkaca-kaca.
"Maafkan atas setiap luka yang telah ku torehkan kepadamu... Kaupun tahu, bahwa aku tidak pernah ingin berpisah darimu..."
Hening, hingga akhirnya...
"Young Joon, sudah malam. Ku pikir aku cukup lelah hari ini." Kataku, kemudian berlalu.
*******************
Aku berbaring dengan membelakangi pintu menuju kolam renang.
Beberapa menit kemudian, ku dengar pintu itu terbuka.
Aku segera memejamkan mata, untuk menghindari percakapan dengan Young Joon.
Begitu menutup pintu itu, Young Joon segera merebahkan tubuhnya di sisi kosong ranjang ini.
Seperti biasa, dia memelukku dari belakang, lalu mengecup tengkukku.
Entah apa yang ada disana, hingga itu seolah membuat candu bagi Young Joon, untuk selalu mengecupnya.
Yeah... Tak dapat ku pungkiri, akupun menyukainya!
Aku menyukai, tiap kali Young Joon melakukan hal itu.
"Jenny... Kau sudah tidur?" Ucapnya lembut.
Aku tak memberi respon, dan dia semakin leluasa untuk mempererar dekapannya.
"Jenny... Sayang... Tak dapatkah kau mengampuniku." Ucapnya lirih.
Sesak... Hanya itu.
Terlebih ketika ku rasakan hangat nafas beratnya.
"Jenny... Aku hanya ingin kau kembali ke pelukanku... Hanya itu..."
Hatiku bergemuruh, terlebih saat ku dengar Young Joon mulai terisak.
"Aku tidak ingin kau dimiliki oleh siapapun, selain diriku..."
Perih...
Sekuat hati aku menahan diriku untuk tidak berbalik, dan memeluknya.
"Apakah berada di dekatku, begitu membuatmu merasa sesak, hingga kau begitu ingin pergi jauh dariku?"
Aku bahkan dapat merasakan, rambut belakangku terasa basah.
Ya, Young Joon...
Sesak rasanya tiap kali berada di dekatmu...
Karena tiap kali menatap wajahmu, rasa sakit itu terus terngiang-ngiang di benakku...
Aku tidak pernah mau mendengar penjelasan darimu, karena aku tidak ingin mengetahui hal menyakitkan lainnya.
Hatiku tidak pernah siap akan hal itu!
Karena bagiku, penjelasan yang keluar dari mulutmu, hanyalah senjatamu untuk membela diri!
Young Joon, maafkan aku...
Untuk saat ini, aku belum mampu untuk menerimamu kembali ke dalam hidupku...
Beri aku waktu untuk meyakinkan diriku, bahwa semua keraguanku atas dirimu adalah salah...
"Aku mencintaimu, Jennifer... Hanya dirimu... Tanpa batas waktu..."
Begitupun dengan diriku, Park Young Joon...
Hanya dirimu yang ada di dalam hatiku...
Namun hatiku seolah memberi sekat, agar tidak lagi terluka oleh kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari...
********************
Jakarta...
Akhirnya kami kembali menempati apartemen kami.
Semua seolah kembali seperti sedia kala.
Young Joon kembali menempati kamarnya, begitupun dengan diriku.
Dia sempat bertanya tentang, dimana Clarence tinggal, sebelum akhirnya kami pergi ke Lombok.
Dan aku menjawab, Clarence berjalan di hotel yang letaknya tidak jauh dari sini.
Tersirat kelegaan di wajah Young Joon, ketika aku berkata demikian.
Tidak banyak hal yang kami lakukan selama di apartemen ini, karena aku tengah sibuk mempersiapkan diriku untuk pergi ke Jerman, beberapa waktu lagi.
Young Joon memang setiap hari selalu mengantarku kursus bahasa Jerman.
Dan di hari terakhir ini, tepatnya satu hari sebelum keberangkatanku ke Jerman, esok harinya, Young Joon menanyakan tentang suatu hal, yang sebenarnya cukup membuatku agak tersinggung.
"Jenny, ummmm..."
"Ada apa?" Kataku seraya menatapnya, sesaat setelah menyesap minumanku.
"Bukankah kau baru kursus selama 5 hari? Apa kau yakin untuk..."
Young Joon tampak tak enak hati. Dia mengusap belakang kepalanya.
"Bu-bukan seperti itu hanya saja..."
"Apa yang ingin kau tanyakan? Aku dapat menerjemahkannya ke dalam bahasa Jerman!" Ketusku lagi.
"Jenny, aku..."
"Schauen sie, der Meister! Der sich immer gerne in die angelegenheiten anderer einmischt! obwohl Deutsch eine der schwierigsten sprachen der Welt ist, obwohl!
(begini, tuan yang selalu senang ikut campur urusan orang lain! setidaknya, walaupun bahasa jerman adalah salah satu bahasa tersulit di dunia, walaupun sedikit, aku sudah cukup mempelajari hal² inti dari bahasa ini, tau!)"
Young Joon terbelalak mendengar kalimat panjangku dalam bahasa Jerman!
Hahahaaaa!!!
Dia tampak tak bisa berkata-kata!
"Ba-ba-bagaimana kau dapat..."
"Sudah ku katakan sebelumnya, kan?!" Kataku, lalu kembali menyesap minumanku, dan menatap ke arah lain, sambil tersenyum bangga.
******************
Keesokan harinya, dimana hari ini adalah hari dimana aku akan kembali meninggalkan tanah kelahiranku...
Young Joon benar-benar terlihat sedih.
Dia seolah enggan untuk melepas kepergianku...
Dia tidak henti-hentinya mengecup puncak kepalaku, sambil terus mendekapku.
Sejujurnya, aku merasa agak risi atas perlakuannya ini, hanya saja... Biarlah...
Toh aku sendiri tidak mengetahui, kapan aku akan merasakan kecupan ini lagi...
"Selalu kabari aku tentang keadaanmu disana, ya..." Ucapnya sambil menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
Aku mengangguk.
"Jangan biarkan siapapun mendekatimu!" Ucapnya tegas!
Aku tertawa, dan itu cukup membuatnya menekuk wajah.
"Mengapa tertawa! Apa kau berniat untuk..."
"Yeah! Aku memang mengincar pemilik perusahaan itu! Ku dengar dia..."
Young Joon langsung menyergap tubuhku, lalu membekap mulutku!
"Mmmmppppphhh!!! Mmmmpppphhh!!!!"
"Jangan pernah berpikir macam-macam! Ku mohon! Kau akan membuatku gila!"
"Mmmmppppphhh!!! Mmmmmppphhh!!!"
"Akan ku lepaskan, tapi ku mohon, berjanjilah..."
"Mmmmmmmpppppp!!!"
Young Joon lalu melepas bekapannya, lalu mengarahkan tubuhku, agar menghadap ke arahnya.
Aku menatap sinis ke arahnya, yang kini terpejam, seolah menanggung beban yang teramat.
"Sayang... Ku mohon..." Ucapnya, seraya memegang kedua bahuku, kemudian membuka kedua matanya.
Hening, hingga akhirnya suara pemberitahuan keberangkatan terdengar...
"Young Joon, aku harus pergi sekarang..." Kataku kemudian melepas tangannya dari bahuku.
Namun Young Joon dengan sigap meraih tanganku.
"Sayang, ku mohon..."
"Young Joon..."
"Berjanjilah, setidaknya tunggu hingga aku menyusulmu kesana..." Ucapnya lirih
Apa?!
Apa maksud dari ucapannya tadi?!
Apa yang ada di dalam pikiran laki-laki ini?!
Lagi-lagi suara pemberitahuan kembali terdengar.
"Young Joon, ku mohon!"
Namun Young Joon tidak juga melepas tanganku!
"Oppa! Jika kau seperti ini, kau membuatku takut untuk kembali padamu!"
Entah sihir apa yang terdapat di dalam kalimatku tadi, hingga membuat Young Joon akhirnya melepaskan tangannya.
Dia menatapku, dan aku langsung mengecup bibirnya...
"Selamat tinggal, oppa..." Ucapku kemudian berlalu.
Ada kenyerian yang luar biasa, ketika aku mulai melangkahkan kakiku, untuk meninggalkan Young Joon.
Namun, entah mengapa... Aku merasa bahwa, semua yang ku lakukan saat ini, adalah tindakan yang tepat...
Oppa, ku mohon bersabarlah...
Beri aku waktu untuk benar-benar menghilangkan rasa sakitku...
***********************
Setelah menempuh 20 jam 30 menit perjalanan, akhirnya, untuk pertama kalinya, aku memijakkan kakiku di negeri yang belum pernah sekalipun ku datangi...
Bremen, Jerman...
Kota dimana, aku akan memulai lembaran baru hidupku...
Kota dimana, untuk pertama kalinya aku akan menjadi seorang wanita karir...
Dan kota dimana, aku akan...
"JENNY!!!"