
Aku menatap wajah Young Joon.
Ucapannya tadi, begitu menusuk ke dalam relung hatiku. Wajahnya teduh, namun ucapannya begitu tegas saat mengucapkan kata-kata tadi.
Dia masih menatapku, dan itu membuat dadaku sesak.
"Yo-Young Joon aku..."
"lampunya sudah berwarna hijau!" Ucap Young Joon sambil tersenyum, kemudian memijak pedal gas.
Hei! Biasanya aku yang mengucapkan kalimat itu! Mengapa...
Entahlah, semenjak Young Joon mengucapkan kata-kata itu, pikiranku melayang entah kemana.
Ucapan itu selalu terngiang di telingaku sepanjang perjalanan kami menuju rumahku.
Young Joon yang biasanya selalu memecahkan keheningan, entah mengapa saat ini lebih memilih untuk fokus mengemudi, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, hingga akhirnya mobilnya berhenti di depan rumahku.
"Jenny..." Kata Young Joon.
Namun aku terlalu terbuai dalam lamunanku, hingga akhirnya Young Joon menyentuh tanganku.
"Jenny..."
"Eh, apa?" Kataku menoleh Young Joon yang kini menatapku. Young kini tersenyum.
"Kita sudah sampai." Ucapnya
Aku segera melihat ke arah sekitar, dan memang benar! Kami sudah sampai di depan gerbang rumahku.
"Ah, ya..." Kataku sedikit gugup.
Aku segera melepas sabuk pengaman, dan kembali menoleh ke arah Young Joon, begitu sabuk pengaman telah terlepas.
"Apa kau tidak mau mampir?" Kataku.
Young Joon menggeleng samar
"Besok aku harus ke kantor pagi-pagi sekali, ada hal penting yang harus ku kerjakan." Jawabnya.
Aku mengangguk samar
"Baiklah, aku permisi." Kataku sebelum membuka pintu mobil.
"Sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu, katakan kepada mereka..."
"Ya, mereka pasti akan mengerti." Aku menyela ucapannya, kemudian menutup pintu mobilnya.
Young Joon langsung berlalu, sesaat setelah aku membuka gerbang rumahku, tidak seperti biasanya!
Biasanya Young Joon akan melajukan mobilnya, ketika aku sudah benar-benar masuk ke dalam rumah, tapi kali ini...
Aku masih menatap jalan, meski bayangan mobil Young Joon telah menghilang.
Entahlah! Sikap Young Joon saat ini membuatku benar-benar bingung!
Apakah Young Joon merasa tersinggung dengan ucapanku? Ataukah ada hal lain? Entahlah!
Aku segera melangkahkan kakiku menuju ke dalam rumah. Dan saat aku membuka pintu kamarku...
"SURPRISEEEEEE!!!!"
Aku benar-benar terkejut melihat pemandangan yang saat ini ku saksikan!
Clara, Gina dan 5 temanku yang lainnya sudah berkumpul di kamarku!
Mereka bahkan menghias kamarku sedemikian rupa!
Aku sungguh terharu melihat betapa pedulinya teman-temanku kepadaku!
Mereka semua memelukku, dan tidak terasa, air mataku mengalir.
"Uuuuhhh.... Cup... Cup... Cup... Masa' jagoan nangis!" Clara menepuk-nepuk bahuku, dan itu membuatku tertawa, lalu menghapus air mataku.
Malam ini, di tutup dengan tawa riang, serta canda tawaku bersama teman-temanku...
Mereka memang sangat membantuku untuk menghilangkan rasa gundahku yang disebabkan oleh ucapan, serta sikap Young Joon hari ini.
Dan saat mereka terlelap, aku segera bangkit dari tidurku, hendak buang air kecil.
Ketika aku baru saja memegang kenop pintu, perhatianku terusik oleh sebuah map berwarna coklat berukuran sedang, yang tergeletak di atas meja riasku.
Aku segera mengurungkan niatku untuk buang air kecil, dan langsung berjalan ke arah meja rias, untuk meraih map tersebut.
Begitu aku meraihnya, terdapat tulisan "Proposal Pernikahan" disana.
Ketika aku hendak melihat isinya, Clara terbangun.
"Lu belum tidur, Jen?" Ucap Clara sambil mengusap matanya.
Aku segera menoleh ke arahnya.
"Eh? Iya, tadi gw mau pipis, eh lihat ini." Kataku menunjukkan map tersebut kepada Clara.
Clara menghampiriku, kemudian menoleh ke arah map itu.
"Oohh... Itu dari gereja. Gw lupa ngasih tau lu tadi, besok kita kudu ke gereja jam 10." Ujar Clara, kemudian membuka pintu kamarku.
Aku segera menghampirinya, sambil memegang map tersebut.
"Mau ngapain, emang?" Kataku, sambil menatap Clara yang saat ini sedang membuka pintu kulkas untuk mengambil air minum.
"Lusa kan lu nikah, Jen!" Ucap Clara dengan suara malas, khas orang yang sedang menahan kantuk, kemudian menuang air putih ke dalam gelas.
Aku termenung sejenak, menatap map itu.
"Besok kita berangkat berdua dari sini, bokap nyokap lu sama bokap nyokapnya Young Joon nanti barengan dari Bandung." Ucap Clara sesaat setelah meneguk air minum.
"Ah, ok! Terus anak-anak gimana?" Tanyaku
"Mereka mah bakalan bangun siang! Udah! Biarin aja mereka mah! Kan kita mau ngadain party lagi!" Ujar Clara kemudian berlalu, meninggalkanku yang masih terpaku disini, sambil terus memegang map itu.
...****************...
Aku sudah berada di gereja bersama Clara, dan kedua orang tuaku, juga orang tua Young Joon.
Mamaku sempat menanyakan keberadaan Young Joon kepada eomma, dan eomma menjawab bahwa Young Joon akan datang sebentar lagi.
15 menit kemudian, Young Joon datang, dan kami pun bergegas menuju sebuah ruangan.
Aku dan Young Joon segera duduk tepat di hadapan pihak gereja yang menangani pernikahan kami esok.
Sedangkan kedua orang tua kami, mereka mendampingi kami.
Orang tersebut kini tengah memeriksa beberapa data kami, termasuk beberapa berkas yang telah kami tanda tangani di kedutaan, sehari setelah kami fitting baju pernikahan beberapa waktu yang lalu.
Kurang lebih 2 jam kami akhirnya selesai melakukan sesi bimbingan pernikahan, termasuk latihan pengucapan ikrar.
Ucapannya begitu tegas, namun tulus!
Dia seolah telah mempersiapkan ini jauh sebelumnya!
Tidak ada kesalahan sedikitpun, bahkan pastor sangat memujinya!
Tanpa ku sadari, air mataku menetes disana.
Beruntung, tidak ada yang menyadari akan hal itu.
Saat kami semua sudah berada di parkiran, Young Joon tiba-tiba meminta izin kepada kami semua.
"Maaf, aku harus kembali ke kantor, ada hal penting yang harus ku selesaikan." Ucapnya sesaat setelah sedikit membungkukkan tubuhnya.
Kami semua saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya papa menepuk bahu Young Joon
"Baiklah, pergilah! Kami mengerti." Ujar papa.
Young Joon segera bergegas setelahnya.
Dia tampak begitu terburu-buru.
... ...
...****************...
Sepanjang perjalanan pulang, aku kembali mengingat kejadian di gereja tadi.
Bukankah Young Joon tidak seperti biasanya?
Dia hanya berbicara kepadaku seperlunya saja.
Dia bahkan tampak seperti bukan Park Young Joon yang selama beberapa waktu ini mengisi hari-hariku.
Young Joon bahkan sama sekali tidak membahas rencana yang telah kami buat kemarin.
Aku menoleh ponselku sekilas, pukul 12.47.
Bukankah kemarin dia berjanji akan datang pukul satu siang hari ini?
Aku tersenyum getir.
Sikapku yang tidak biasa, menarik perhatian Clara yang kini berada di balik roda kemudi.
"Jen, lu kenapa?"
"Eh? Kenapa, Ra?" Kataku kemudian menoleh ke arahnya, yang kini tengah menatapku cemas.
"Jen..." Clara kembali menatap lurus ke depan, kemudian menepikan mobilnya di depan sebuah kafe.
"Lu kenapa, sih?" Katanya sesaat setelah membuka sabuk pengamannya.
"Maksud lu?" Jawabku
Clara mengela nafas, dia benar-benar terlihat khawatir melihat sikapku.
"Yaudah, kita turun dulu, ya." Ajaknya
...****************...
Seorang pelayan mengantarkan pesanan kami
"Makasih ya, mas." Kataku, dan pelayan itu mengangguk samar sambil tersenyum.
"Jen, jujur sama gw, lu kenapa sih, sebenarnya?" Clara benar-benar terlihat frustrasi
"Kenapa gimana?" Jawabku.
"Jen, gw tuh tau siapa elu! Lu nggak mungkin kaya' gini, kalo emang nggak ada apa-apa!"
Aku tersenyum mendengar ucapan sepupuku ini, kemudian menggenggam tangannya.
"Gw nggak kenapa-kenapa..." Ucapku meyakinkannya.
"Lu nyesel, udah mau nikah sama Young Joon?" Ucapan Clara membuatku terhenyak.
"Ra, ko' lu..."
"Kalo emang lu nyesel, kenapa nggak dari awal, Jen!" Clara masih terus mengintimidasi.
"Lu tau nggak, gimana semangatnya bokap sama nyokap lu untuk mempersiapkan ini semua?!" Clara terlihat begitu emosional disana
"Nyokap bokap gw juga ikut andil, Jen! Bahkan kak Victor!"
"Ra, gu-gw... Gw cuma kecapekan, itu doank, ko'!" Alibiku kali ini menarik perhatian Clara. Dia manatapku tajam.
"Lu nggak bisa bohongin gw ya, Jen!"
Aku memejamkan mata, dan sedikit merengek
"Ra... Lu tau nggak, seminggu berturut-turut, Ra! Seminggu berturut-turut, bahkan sampai hari ini, ya tuhaaannnn..."
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, dan sedikit mengusapnya.
"Jen, lu..."
"Lu nggak bakalan paham gimana capeknya harus mondar-mandir tiap hari!" Ucapku sesaat setelah kembali melepaskan kedua tangku, kemudian menatap Clara, yang kini terlihat merasa bersalah.
"Jen, sorry..." Clara mengusap lembut tanganku
"Sorry banget, gw udah salah paham sama lu."
Aku menggenggam tangan Clara, kemudian tersenyum.
"Jen, gw paham banget sama keadaan lu, karena kita semua juga ngerasain apa yang saat ini lu rasain, makanya gw tuh tadi sempat dongkol ngeliat lu begitu."
"Iya, nggak papa... Gw paham, kok." Kataku.
Walaupun harus berbohong tentang hatiku, setidaknya aku dapat membuat keluargaku tidak merasa kecewa.
Pada akhirnya, aku membuat ini terlihat baik-baik saja, walaupun ada sedikit luka di hatiku melihat sikap Young Joon hari ini.
...****************...
Aku kembali bersenang-senang dengan teman-temanku, walaupun sesekali menoleh ke arah ponselku, berharap Young Joon menghubungiku, atau setidaknya memberi penjelasan kepadaku, tentang sikapnya hari ini.
Atau setidaknya, tentang hari pernikahan kami yang akan dilaksanakan besok.
Namun ternyata, harapanku sia-sia!
Pukul 11 malam, dan aku masih menanti Young Joon menghubungiku.
Bukankah aku terlalu bodoh menantinya menghubungiku, sampai selarut ini?
Aku bahkan sempat berpikir untuk menghubunginya terlebih dahulu namun, aku masih terus mempertahankan harga diriku disini, hingga akhirnya aku terlelap...