Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Menggoyahkan Imanku!



Akupun menyambut tangannya.


Jika mendengar namanya, sepertinya dia berasal dari Jepang.


Namun jika kau mendengar aksennya saat berbicara, dia tidak terdengar seperti orang Jepang.


"Aku sudah dua Minggu disini, dan ini mungkin malam terakhirku di Indonesia. Senang sekali bertemu gadis cantik sepertimu sebelum kembali." Ucapnya sambil tersenyum.


Aku tertawa mendengar kata-katanya.


"Jika aku berkata, aku tertarik untuk mengenalmu lebih jauh, apakah kau bersedia memberikan nomor ponsel, atau mungkin, akun media sosialmu kepadaku?" Aoyama agak ragu mengatakan itu.


Aku pernah berprinsip, lelaki yang kau temui di tempat 'gelap', bukanlah lelaki yang dapat mengenalmu lebih jauh!


Namun sepertinya prinsip itu telah berubah saat ini!


Entah mengapa? Apa karena pesona Aoyama yang menurutku, dia lebih macho dibanding Young Joon?


Pada akhirnya, aku memberi akun media sosialku kepada Aoyama, ku pikir, jika dia cukup 'menyenangkan', baru aku akan memberinya nomor ponselku.


Saat kami tengah berbincang hangat, tiba-tiba Gina dan Clara datang.


"Jen, lu gk tu..." Clara menoleh ke arah Aoyama, kemudian menyikut pinggangku


"Anjirrr!!! Pantesan lu nggak mau turun-turun!" Bisik Clara.


Aku tersenyum melihat tingkahnya.


"Demi tuhan, Jen! Ganteng banget!!!" Gina histeris sekali berbisik kepadaku, aku tertawa melihat tingkah kedua sahabatku ini


"Aoyama, ini sepupuku Clara, dan ini sahabatku, Gina." Aku memperkenalkan mereka.


Aoyama mengulurkan tangannya, Clara dan Gina berebut untuk menyambut tangan Aoyama


"Clara..." Clara tersipu malu, seraya menatap wajah Aoyama.


Gina langsung menyerobot tangan Aoyama, karena tidak sabar menunggu Clara yang tidak juga melepas tangan Aoyama.


Clara tampak kesal sekali dibuatnya! Hahaha!


"Gina..." Gina tampak tersipu menatap Aoyama.


Aoyama segera menarik tangannya.


Mereka berdua menatap wajah Aoyama, seraya tersenyum.


Itu membuat Aoyama sedikit risi


"Apa kalian sudah memesan minuman?" Aoyama berkata kepada mereka, untuk menghilangkan 'mata jahat' kedua gadis yang sebenarnya cukup menarik ini.


Mereka tampak bersemangat! Dan menyahut secara bersamaan.


"Belum!" Ucap mereka bersamaan, seraya melihat kursi yang berada di sekitar kami, namun tidak ada yang kosong.


Wajah mereka langsung murung, dan aku segera berinisiatif...


"Yaudah, lu orang pada duduk gih sana, gw turun dulu." Kataku kemudian turun dari kursi.


Clara dan Gina tampak berebut untuk duduk di kursi yang baru saja ku tinggalkan, hingga tidak sengaja menyenggol tubuhku sampai aku hampir terjatuh!


Beruntung! Aoyama dengan sigap menangkap tubuhku!


Clara dan Gina menatapku, merasa bersalah


"Kau tidak apa-apa?" Aoyama menatap wajahku khawatir, seraya menahan tubuhku. Aku segera menegakkan tubuhku, kemudian melepaskannya dari Aoyama.


"Aku baik-baik saja, terima kasih, ya..." Kataku


"Kau bisa duduk disini. Aku mau kesana." Aoyama menawarkan kursinya entah kepada siapa, seraya menunjuk ke arah lantai dansa.


Aku sedikit terkejut, sedangkan Gina dan Clara nampak kesal!


"Gila neh janda! Pakai ilmu apa dia, sampe bisa ngegaet cowok keren!" Gerutu Gina.


Aku dapat mendengar samar-samar Gina menggerutu, dan tersenyum mendengarnya! Hahahaaa!


"Udahlah! Masih banyak stok!" Clara berkata seraya melihat ke arah sekitar, daan Gina pun tersenyum.


Aku berjalan menuju lantai dansa, begitupun Aoyama.


Musik energik yang tadi terdengar, kini berganti menjadi musik yang lebih slow.


Aku dan Aoyama saling berhadapan sekarang, Aoyama mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku tersenyum.


"Aku tidak bisa berdansa." Kataku tersipu


"Cobalah! Kau hanya perlu mengikuti iramanya." Ujar Aoyama seraya tersenyum.


Aku masih tersenyum, dan tidak juga merespon uluran tangan Aoyama, hingga...


Aoyama menarik pinggulku, dan secara spontan, aku mengalungkan tanganku di lehernya.


Wajah kami saling berhadapan sekarang, dapat kulihat dengan jelas, senyum Aoyama manis sekali, menatap wajahku yang menegang!


"Rileks saja, ikuti iramanya." Aoyama membisikkan kata di telingaku, seraya membawa tubuhku, mengikuti irama musik.


Jantungku berdegup dengan kencang!


Aku pernah mengalami ini bersama Young Joon..


Ya, pernah!


Pertama, di saat pesta pernikahanku, dan kedua, saat kami menghadiri pesta ulang tahun teman Young Joon.


Young Joon juga mengatakan hal serupa seperti Aoyama tadi, cara bicaranya pun, sama!


Itu membuatku menatap wajahnya untuk memastikan, apakah dia ini adalah Young Joon yang sedang menyamar, atau dia memang orang lain!


Aoyama menatap wajahku yang kini tengah menatapnya.


Dia mendekatkan wajahnya, namun aku menolehkan wajahku ke arah lain, kemudian menghentikan gerakanku, dan melepas pelukanku di lehernya.


"Aku mau ke kamar kecil." Ucapku kemudian berlalu meninggalkannya menuju ke kamar kecil.


Aku segera membuka keran wastafel, dan membasuh wajahku.


Aku dapat dengan jelas melihat bayangan diriku yang terlihat sungguh memalukan di depan cermin!


Apakah aku terlihat begitu murahan, hingga orang dapat dengan mudahnya ingin menciumku?!


Aku kembali teringat akan ucapan Young Joon, sebelum aku pergi tadi


"Pakaianmu terlalu mencolok."


Ya tuhaaannn...


Mungkin ini maksud dari ucapan YoungJoon! Dan aku kemudian menyadari akan satu hal!


Aku memukul keningku, mengingat, aku telah memberikan akun media sosialku kepada Aoyama!


Aku mengumpat diriku sendiri sekarang!


Apa yang baru saja ku lakukan!


Aku segera keluar dari kamar kecil, menuju meja tempat Gina dan Clara.


Saat berada tidak jauh dari lantai dansa, tiba-tiba langkahku terhenti, karena Aoyama menghalangiku.


"Maaf... Aku tidak berniat..."


"Tidak apa-apa... Aku mengerti mengapa kau melakukan itu... Bukankah aku terlihat..."


"Kau salah paham." Aoyama menatap wajahku dalam, begitupun aku


"Mari kita bertemu lagi setelah ini..." Aku tidak mengerti apa yang Aoyama maksud


************************


Aku dan Aoyama duduk berhadapan sekarang. Seorang pelayan mengantar pesanan kami.


Gina dan Clara?


Mereka akhirnya mendapatkan pasangan dansa, itu terlihat ketika aku melihat mereka berdansa dengan penuh semangat di lantai dansa!


Ya!


Mereka selalu saja bersemangat!


Mereka bahkan melupakan keberadaanku!


"Jangan salah paham, aku tidak bermaksud seperti itu padamu." Aoyama tampak merasa bersalah sekali. Aku tersenyum


"Itu adalah hal yang wajar, ketika seorang pria melihat seorang wanita menggunakan pakaian yang minim, mereka pasti berpikir..."


"Aku tidak memikirkan tentang hal buruk terhadapmu." Aoyama menyela kata-kataku.


Aku menatap wajahnya yang kini sedang menatapku.


"Seseorang berkata kepadaku, bahwa pakaianku terlalu mencolok." Kataku


"Itu bukan tentang pakaian. Itu tentang bagaimana sikap orang yang mengenakan pakaian tersebut." Ucapnya sambil tersenyum.


Wooow, aku sungguh takjub mendengar kata-kata Aoyama barusan!


"Maaf aku mengujimu tadi." Aoyama tersenyum getir


"Maaf?" Aku memastikan kata-kata Aoyama barusan


"Aku memastikan diriku, apakah aku akan terus menghubungimu setelah ini, atau..."


"Eh?" Aku kembali menyela kata-kata Aoyama


"Izinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh." Aoyama menatapku dalam.


Aku bingung harus berkata apa ketika mendengar Aoyama berkata seperti itu. Hingga...


"Omong-omong, apa yang sedang kau lakukan di Indonesia?" Aku memecahkan kecanggungan kami


"Eehhmm... Itu... Mengenai pekerjaan, dan aku memiliki janji untuk bertemu teman kuliahku disini, dia bilang, rumahnya tidak jauh dari sini." Ucapnya, kemudian meraih botol yang dibawakan pelayan tadi, dan menuangkannya ke dalam gelas, serta memberikan isyarat, apakah aku mau atau tidak, dan aku mengangguk.


Kami meraih gelas kami, dan bersulang, kemudian meneguknya.


"Kau sudah bertemu dengannya?" Kataku


"Sudah... Disini, kemarin..." Ucapnya kemudian meletakkan gelasnya.


"Dia sedang menemani gadisnya, jadi pertemuan kami singkat sekali, lagi pula, dia akan kembali beberapa hari lagi ke Amerika." Aoyama menatapku.


Aku tersenyum.


Entah mengapa, ada sedikit rasa lega ketika mendengar Aoyama berkata 'dia menemani gadisnya' setidaknya, itu bukan seorang wanita. Hey! Ada apa denganku!


"Ada apa? Mengapa kau termenung?" Aoyama nampak menyadari sikapku.


"Aaahh... Tidak... Uuummmm... Omong-omong, mengenai kata-katamu yang ingin mengenalku lebih jauh, apakah..."


"Aku seorang pria lajang! Apakah salah jika seorang pria lajang ingin mengenal seorang gadis?" Aoyama tampak protes.


"Hey, jangan-jangan..."


"Aku baru saja bercerai beberapa bulan yang lalu." Kataku seraya tersenyum.


Aoyama nampak terkejut mendengar pengakuanku.


"Tidakkah itu membuatmu berpikir untuk mundur dari rencanamu?" Aku memastikan.


Aoyama tampak tersenyum bahagia! Entahlah! Bukankah seharusnya dia mencari alasan untuk meninggalkanku sekarang? Mengingat, statusku kini? Namun dia tampak semakin bersemangat


"Apa kau sudah mulai membuka hatimu?" Matanya berbinar sekali


"Eh?" Aku heran dengan pria ini


"Maksudku, ku harap kau tidak trauma karena kegagalanmu." Aoyama terlihat salah tingkah


"Aku telah lama membuka hatiku. Namun, aku harus lebih selektif kali ini, agar tidak merasa sakit untuk kedua kalinya." Suaraku sedikit bergetar


"Baiklah... Aku akan berusaha sekeras mungkin!" Ucapnya.


Kami tertawa setelah mendengar Aoyama berkata demikian.


"Dan kau, kapan kau akan kembali?" Kataku


"Mungkin esok, mungkin juga lusa... Kita lihat saja nanti! Aku akan menghubungimu nanti. Semoga saja, kita dapat bertemu sebelum aku kembali." Ucapnya lagi


Aoyama kembali menuang anggur ke gelas kami masing-masing, kemudian kami bersulang, lalu meneguk anggur bersama


"Lalu kau, apa kau tinggal disini?" Aoyama menaruh gelas di atas meja.


"Untuk saat ini, ya! Aku baru saja mendapat gelar masterku tahun lalu di Amerika, dan mungkin akan mencari pekerjaan di Jerman." Kataku


"Dimana?" Aoyama memastikan


"Di Jerman, ada apa?" Aoyama mengembangkan senyumnya, dia tampak bersemangat sekali


"Sepertinya, kita memang ditakdirkan untuk bersama!" Aoyama terlihat bahagia sekali


"Maksudmu?" Aku semakin heran melihat sikapnya.


"Aku bekerja di sebuah perusahaan di Jerman. Dan aku akan kembali ke Jerman!" Ucapnya penuh semangat.


Aku terkejut mendengar pengakuan Aoyama.


"Aku akan mengirim profil perusahaanku melalui kotak pesan di media sosialmu, dan jika kau tertarik, kau dapat mengirim CV mu melalui alamat surel yang tertera disana." Aoyama tampak bersemangat mengatakan hal tadi, akupun tersenyum.


"Baiklah!" Sahutku.


Kami berbincang-bincang, hingga menghabiskan berbotol-botol minuman, sampai menyebabkanku mabuk berat!


Hey!


Bukankah sebelumnya aku berkata, bahwa aku tidak ingin terlalu mabuk?


Masa bodoh!


Laki-laki ini benar-benar menggoyahkan imanku!