
Aku sudah 3 bulan berada di Kansas.
Jika kau bertanya, apakah aku masih memikirkan Young Joon, atau apakah pada akhirnya aku membuka hatiku untuk Clarence? Aku akan menjawabnya satu per satu sekarang!
Mengenai perasaanku terhadap Young Joon, itu tidak akan hilang begitu saja, berbeda dengan perasaanku terhadap Mike!
Young Joon sudah terlalu lama tinggal di hatiku, dan entah mengapa, itu tampak seperti enggan pindah dari sana.
Jadi, selama aku meninggalkannya, selama itu pula, aku hidup dengan kenangan tentangnya.
Aku masih sering menangis di malam hari ketika hendak tidur, dan selalu mendapat teguran dari Bibi Margareth di pagi harinya, karena dia begitu kesal melihat mataku yang selalu saja sembab setiap pagi.
"Wajah asiamu semakin terlihat, setiap kau bangun pagi! Semakin mengingatkanku kepada selingkuhan suamiku saja!" Ketus Bibi Margareth seraya memotong sayuran.
Aku segera meraih pisau di tangannya, kemudian berusaha mengambil alih kegiatannya seraya tersenyum menggoda.
"Hanya laki-laki bodoh yang meninggalkan wanita se-seksi ini demi seorang gadis Asia." Godaku, dan bibi Margareth tertawa.
"Kau ini!" Ujar bibi Margareth seraya menepuk bokongku.
Dan mengenai Clarence, seperti yang ku katakan sebelumnya, aku tidak akan pernah membuka hati untuknya, walaupun aku tahu, mungkin Clarence tidak akan menyakitiku, seperti Young Joon yang benar-benar menghancurkan hatiku.
Clarence mengunjungiku beberapa kali setiap bulan.
Dan hari ini dia datang kembali, untuk menepati janjinya, membawakan ku berkas perceraian yang aku minta darinya 3 bulan yang lalu.
Kami duduk di ruang keluarga rumah Bibi Margareth, Clarence duduk tepat di sampingku, dan Bibi Margareth, di sofa yang berada di sisi depan kiri sofa yang ku duduki bersama Clarence
"Selama 3 bulan disini, Elle semakin kurus! Tampaknya dia sangat merindukan orang tuanya, hingga menangis setiap malam." Bibi Margareth membuka percakapan, lalu menyalakan televisi menggunakan remot yang dia ambil dari meja kecil di samping tempat duduknya.
"Kulitnya juga menjadi semakin coklat, hey, bi! Bagaimana kau tahu Elle menangis setiap malam?" Selidik Clarence seraya menatapku.
"Matanya selalu sembab tiap pagi!" Bibi terlihat kesal menatapku
"Hahahaha... Bibi bisa saja..." Aku tertawa konyol.
"Tapi bukankah aku sudah tidak terlihat seperti gadis Asia lagi?" Tanyaku
"Jika matamu tidak sembap setiap pagi, itu mungkin!" Sahut bibi
"Kulitku sudah sangat coklat karena selalu membantumu memberi makan ternak, dan menanam beberapa tanaman di halaman belakang." Protesku, dan itu membuat mereka berdua tertawa, disusul oleh tawaku.
Dan tawa kami terhenti, ketika stasiun tv yang saat ini di stel oleh bibi Margareth, menayangkan seseorang yang sepertinya ku kenal, sedang melakukan siaran.
Clarence menggenggam erat tanganku, dan bibi segera memalingkan wajahnya ke arah tv.
'Apa kau belum juga mendapatkan titik terang atas kasus hilangnya istrimu?' Seorang wanita yang tampaknya pembawa acara tersebut bertanya kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu tampak sangat kurus dan terlihat hancur. Aku hampir tidak mengenalinya, jika saja tidak ada tulisan 'Park Young Joon, narasumber' di layar bawah tv.
'Aku sudah mencoba segala cara untuk menemukannya. Mencari beberapa informasi yang ku butuhkan, bahkan aku meninggalkan pekerjaanku agar aku dapat segera menemukannya. Aku sudah menghubungi pihak kepolisian. Aku sudah melacak media sosialnya, semua...' Young Joon mengatakannya dengan mata berkaca-kaca, dan sedikit tertahan.
'Apa kau sudah mendapatkan informasi terkini tentang keberadaannya?' wanita itu kembali bertanya kepada Young Joon.
'informasi terakhir yang ku dapat, dia sempat tinggal di sebuah apartemen di Cleveland, Ohio selama 2 Minggu, dan...' Bibi langsung mematikan televisinya
"Pria itu belum juga menemukan istrinya... Kasihan sekali! Dia selalu semakin kurus tiap minggunya setiap kali menghadiri acara itu." Bibi tampak prihatin.
"Andai mantan suamiku seperti laki-laki Malang itu... Huh, semoga dia cepat menemukan istrinya."
Kami hanya terdiam mendengar perkataan bibi Margareth.
"Apa bibi menonton acara itu terus?" Tanya Clarence
"Ya, tentu saja! Aku selalu mengikuti perkembangan kisahnya." Jawab bibi
"Apa dia pernah mengatakan ciri-ciri istrinya?" Clarence menyelidik, dan bibi tampak mengingat
"Seingatku, waktu itu dia pernah menunjukan foto istrinya." Bibi kini menatap wajahku
"Seperti apa ciri-ciri nya?" Clarence kembali menyelidik.
"Dia gadis Asia, wajahnya cantik seperti artis-artis film China yang sering ku tonton. Kulit kuning, menggunakan gaun tanpa lengan berwarna merah maroon, serta rambut kecoklatan panjang segini." Ujar Bibi seraya menyentuh sepertiga lengannya.
"Pantas saja dia sangat merasa kehilangan." Bibi menjelaskan
"Sudah berapa lama dia ada di program itu?" Clarence tampak serius sekali, dan aku hanya terpaku semenjak melihat Young Joon di acara tadi.
"Sejak 3 bulan yang lalu... Ah, dia menawarkan seluruh hartanya bagi siapa saja yang dapat menemukan istrinya. Ku dengar, dia..."
Clarence menarik tanganku, dan mengajakku pergi ke arah pintu belakang rumah Bibi Margareth.
*********************
"Ini, berkas yang kau minta." Ujar Clarence seraya menyerahkan map besar berwarna coklat kepadaku.
Aku segera meraihnya, kemudian menatapnya, dan membuka amplop itu untuk memeriksanya.
"Terima kasih..." Kataku tersenyum
"Apa rencanamu selanjutnya?" Clarence memastikan
"Pulang..." Kataku menatap kosong ke arah danau
"Maksudmu?" Clarence terlihat heran, kemudian aku menatap wajahnya dalam
"Saat tiba di Ohio, kita dapat meminta pertolongan seseorang untuk mengirimkan berkas ini melalui kantor pos. Aku akan menulis alamat pengirimannya." Aku menjelaskan
"Kau tetap akan menceraikan suamimu?" Clarence tampak bingung, dan aku mengangguk,
"Lalu untuk apa kau kembali?" Clarence benar-benar bingung kali ini, dan aku menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaannya
"Aku akan menyelesaikan semua." Kataku dengan tatapan kosong
****************************
"Apakah aku begitu keterlaluan kepadamu, hingga kau ingin pulang begini?" Rengek bibi Margareth kepadaku yang kini sudah berada di samping mobil
"Bi, ayolah! Kau akan membuat kita berurusan dengan polisi jika terus menahannya disini." Clarence menjelaskan kepada bibinya.
"Aku akan menghubungi orang tuamu, dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka dapat kembali bertugas dengan tenang, dan membiarkan putrinya tetap disini." Bibi masih merengek seraya menggenggam kedua tanganku.
"Bi, aku akan kembali lagi jika mereka kembali bertugas." Aku menenangkannya.
Bibi menatapku sedih.
"Apa kau dapat berjanji kepadaku?" Bibi memastikan, kemudian aku mengangguk lalu memeluknya
"Aku akan segera menghubungimu ketika aku tina di DC." Ucapku kemudian menguraikan pelukanku.
Bibi masih menatapku sedih.
"Makanlah yang banyak, agar berat badan mu kembali." Pesan bibi, dan aku mengangguk
"Aku pergi dulu..." Aku berkata kepada bibi dengan berat hati, dan bibi meneteskan air mata
"Berhati-hatilah, hubungi aku ketika kau sampai, dan selalu kabari aku tentang keadaanmu." Bibi terlihat emosional sekali, dan aku langsung memeluknya.
"Jangan lupa untuk makan yang banyak!" Katanya mengkhawatirkanku.
Aku melepaskan pelukan, kemudian mengangguk
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan kembali jika orang tuaku kembali bertugas." Aku berjanji kepada bibi, lalu masuk ke dalam mobil, kemudian membuka kacanya, sesaat setelah menutup pintunya.
"Aku pergi dulu, ya..." Kataku, kemudian bibi mengangguk, dan Clarence menyalakan mesin mobilnya.
"Bye..." Aku melambaikan tangan kepada bibi, setelah Clarence melajukan mobilnya.
********************
Di perjalanan, aku dan Clarence membisu.
Kami tidak membicarakan apapun semenjak meninggalkan rumah bibi, hingga akhirnya...
"Kau yakin dengan keputusanmu?" Clarence memecahkan kesunyian.
Aku yang segera tersadar, kemudian menoleh ke arahnya.
"Maaf?" Kataku memastikan.
"Oh, itu..." Aku kembali memikirkan tentang keputusanku.
Aku sudah memberi Young Joon 2 kali kesempatan.
Pertama, saat aku meninggalkannya ke Brooklyn, dan kedua, saat ini.
Aku sudah 2 kali merasa di khianati olehnya, dan aku berjanji, bahwa aku tidak akan memberinya kesempatan ke 3.
Aku akan menjalani hari-hari ku seperti biasa setelahnya.
Kembali melanjutkan kuliahku untuk mengambil gelar masterku yang tertunda cukup lama. Mencari pekerjaan di negara lain, setelah aku meraih gelar masterku.
Hingga akhirnya, aku cukup kuat untuk mengatakan kepada kedua orang tuaku, bahwa aku telah bercerai dengan Park Young Joon.
"Aku sudah sangat yakin dengan keputusanku." Ucapku mantap