Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Let Me Free!



Aku masih saja memikirkan tentang kejadian sore tadi...


Kekecewaan kedua orang tuaku, juga kedua orang tua Young Joon...


Serta mama yang mengetahui bahwa ada yang salah dengan pernikahanku, dan... Young Joon yang bersikeras untuk rujuk!


Aku menatap langit Jakarta melalui jendela kamarku, kemudian melihat ke arah bawah setelahnya...


Bukankah ini indah?


Aku kembali memikirkan kehidupanku sebelum pernikahan sialan ini!


Berkumpul bersama teman-teman... Mengendarai sepeda motor...


Berlibur ke tempat indah...


Dan...


Aku meneteskan air mata jika mengingat hal itu! Aku tidak seharusnya menikah di usia semuda itu!


Ku pikir, aku masih akan bersenang-senang setelah mencapai gelar masterku, nyatanya... Ah!


Aku mengingat sesuatu!


Ponselku yang waktu itu Young Joon berikan! Bukankah disana banyak terdapat nomor telepon teman-teman Indonesiaku?


Aku bergegas mencarinya di dalam koper yang belum ku sentuh, sejak kedatangan kami di apartemen ini.


Dapat!


Segera ku nyalakan ponsel ini! Battery nya masih penuh! Mungkin Young Joon mengisinya sebelum memberikannya kepadaku.


Setelah ponselnya menyala, aku segera menekan ikon kontak, dan mencari-cari nama teman Indonesia, yang mungkin saja bisa mengajakku untuk bersenang-senang malam ini.


Clara!


Aku memutuskan untuk menghubungi Clara! Tersambung!


"Ra, lu dimana?" Sapaku di seberang sini


"Woooyyy!!! Kemana aja lu! Gw lagi di rumah Gina, nih! Pengin ajep-ajep, nyari yang seger-seger!" Jawab Clara di seberang sana terdengar riang sekali


"Gw ikut dooonkkk!!! Jemput gw, yes!" Aku sungguh bersemangat


"Aaahh, gila lu! Lukan di Amerika!" Clara tertawa di seberang sana


"Gw di Kemang, woooyyy!!!" Jawabku seraya tersenyum


"Ah, yang bener lu!" Clara terdengar tak percaya di seberang sana


"Iyeeee!!! Mau video call?" Aku menantangnya


"Udah... Gk usah! Gw percaya, ko'!" Ujar Clara di seberang sana


"Jemput gw di apartemen, ya!" Kataku bersemangat


"Wookeeehhh! Gw tunggu di parkiran aja, ya!" Kata Clara


"Oke siaaap." Jawabku


"Yaudah, gw otw skarang!" Ucap Clara masih di seberang sana


"Oke, gw siap-siap dulu ya, klu gitu... Bye...!"


Aku menutup sambungan telepon kami, kemudian bersiap-siap untuk pergi bersama Clara.


*********************


Aku telah mengenakan dress hitam tanpa lengan yang sedikit ketat, dan cukup mini.


Aku juga memulas bibirku dengan lipstik berwarna merah hati, menyapu pipiku dengan blush on, mata dengan eyeshadow, kemudian menyapu wajahku dengan bedak!


Jangan lupakan mascara serta eyeliner nya! Tidak lupa ku kenakan anting-anting di telingaku. Sempurna!


Aku membiarkan rambut panjang sebahuku, tergerai.


Aku sudah siap sekarang!


Sebelum pergi, tak lupa aku menyemprotkan parfum ke tubuhku.


'Tok... Tok... Tok...!'


"Jenny, apa kau lapar?" Ujar Young Joon,di balik pintu kamarku.


Aku tidak menjawab panggilan Young Joon, dan langsung meraih blazer berwarna cream yang memang telah ku persiapkan di atas ranjang, kemudian membuka pintu.


Young Joon terperangah melihat penampilanku.


"K-k-kau mau kemana?" Young Joon sama sekali tidak berkedip menatapku.


"Apa aku harus meminta izin kepadamu?" Ucapku kemudian berlalu, dan mengenakan blazer.


Young Joon menghampiriku ketika aku akan membuka pintu untuk keluar.


"Bagaimana kalau aku mengantarmu?" Young Joon menatap wajahku, kemudian aku menoleh ke arahnya.


"Clara sudah ke arah sini untuk menjemputku." Ucapku kemudian membuka pintu dan berlalu.


"Pakaianmu terlalu mencolok." Young Joon berkata di belakang punggungku.


Aku menghentikan langkahku dan berbalik ke arahnya.


"Apakah aku meminta pendapatmu?" Sahutku kemudian berbalik.


"Ingatlah kenyataan bahwa tidak ada hubungan apapun lagi diantara kita! Jadi, berhentilah untuk selalu mempedulikanku." Ucapku kemudian berlalu meninggalkan Young Joon dengan langkah kesal!


******************


Mereka benar-benar terkejut mendengar pengakuanku.


"Biasa aja kenapa sih! Gosah selebay ini juga!" Protesku


"Ko' bisa?! Tante Inne sama om Joseph dah tau?" Clara mengemudi seraya sesekali menoleh ke arahku masih tak percaya.


"Gw belum berani ngomong ke mereka, makanya, please... Jangan bocor, yes!" Kataku dengan nada yang sedikit memohon


"Tapi Jen, lu masih tinggal sama laki lu, maksud gw, mantan laki lu?" Gina menatap wajahku dari kursi belakang.


"Udah nggak! Cuma ya, selama di Indonesia, ya iya!" Jawabku


"Trus, lu masih tetap begituan, gk?" Gina, dengan ciri khas kecadelannya bertanya dengan polosnya


"Gina, lu apa-apaan sih! Pertanyaan lu tuh nggak berbobot sama sekali tau gk!" Clara mengomel kepada Gina, seraya menatap tajam wajah Gina melalui kaca spion yang berada di dalam mobil


"Yeeee... Gw kan cuma nanya... Klu Jenny nggak mau jawab juga, gapapa!" Gina membela diri.


Aku termenung mendengar pertanyaan Gina tadi.


"Young Joon masih di indo?" Clara menoleh ke arahku, dan aku mengangguk


"Oowwhh.. pantesan tadi..." Sebelum Gina menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Clara menyela


"Horeeee!!! Kita sampai!!!" Clara mematikan mesin mobil, seraya menatap wajah Gina tajam.


Aku menoleh ke arah Gina, wajahnya tampak terlihat gugup


"Tadi kenapa?" Aku bertanya kepada Gina penasaran


"Gw janjian mo ketemuan sama cowok dari aplikasi kencan disini kemarin! Yuk kita turun, siapa tau doi dah nungguin!" Clara segera melepas sabuk pengaman.


"Ah, ok ayok laahh..." Disusul olehku, kemudian Gina.


*******************


Club malamnya tidak terlalu ramai, tidak juga terlalu sepi.


Alunan musik elektro menyambut kehadiran kami.


"GW LANGSUNG TURUN AJA, YA!" Clara mengeraskan suaranya, karena musik terlalu bising, kemudian aku mengangguk


"GW JUGA, YA!" Gina menimpali.


Mereka segera berlari menuju lantai dansa, dan aku? Aku memilih duduk di depan meja bartender.


Bartender segera menghampiriku


"Cocktail!" Kataku sambil tersenyum.


Bartender itu mengacungkan jempolnya kepadaku.


Aku sedang tidak ingin terlalu mabuk saat ini, yang penting, aku dapat melupakan kesedihanku untuk sejenak.


Aku memutar kursi ke arah lantai dansa, dapat ku lihat Clara dan Gina begitu bersemangat dari sini.


Aku tersenyum melihat tingkah mereka, bukankah mereka sungguh bahagia, nampak seperti tidak memiliki masalah.


Berbeda dengan diriku!


Aku kembali murung, dan tersenyum getir, kemudian kembali memutar kursi menghadap rak yang berisi banyak sekali jenis minuman beralkohol.


Bartender datang, dan membawakan pesananku.


Aku tidak langsung meneguknya, ku pegang gelasnya, kemudian ku tatap isi di dalamnya, lalu kembali tersenyum getir.


Seseorang tiba-tiba duduk di sebelahku, kemudian menyapaku.


"Hai!" Sapanya ramah, aku menoleh ke arahnya, dan mengangguk.


Melihat pria ini sekilas, dapat ku tebak, kemungkinan dia berasal dari Asia timur.


Itu terlihat dari warna kulit, serta raut wajahnya.


"Tidak apa-apa kan, jika aku duduk disini?" Pria itu tersenyum ramah.


Satu kata untuknya, Tampan!


"Duduklah! Itu tempat umum." Jawabku, kemudian kembali menatap minuman yang belum juga ku teguk


"Red wine, seperti biasa!" Ucapnya kepasa bartender.


Sepertinya dia sering kesini, itu terlihat dari cara bicaranya kepada bartender, dan bartender yang nampak sudah akrab dengannya.


"Kupikir kau datang dengan seseorang, atau mungkin sedang menunggu seseorang." Pria itu menatapku, aku menoleh ke arahnya


"Ya, aku datang bersama teman-temanku, tapi mereka sedang sangat bersemangat sekali di bawah." Aku tersenyum kepadanya.


Dia membalas senyumanku


"Kau tidak ke bawah?" Tanyanya, aku menggeleng


"Aku hanya ingin minum." Aku mengacungkan minumanku, kemudian meneguknya.


Dia tersenyum seraya menatapku


"Siapa namamu?" Dia tiba-tiba bertanya.


Aku sedikit terkejut, lalu menoleh ke arahnya.


"Terima kasih." Ucapnya kepada bartender yang membawa pesanannya, dan kembali menatapku


"Jennifer." Jawabku, dia mengulurkan tangannya


"Aoyama." Jawabnya hangat.