
Young Joon baru saja tiba...
Aku dapat mendengar dengan jelas, suara mesin mobilnya berhenti di depan rumah kami, melalui kamarku.
Sedangkan aku...
Aku segan sekali untuk menemuinya... Entahlah...
Aku masih saja memikirkan kejadian hampir dua minggu yang lalu...
Yaaa... Kimberly Tan!
Gadis itu... Tidak banyak yang berubah dari sosoknya... Yang berubah adalah, dia semakin cantik, modis, menawan, dan... Dia mengantar suamiku yang saat itu dalam keadaan mabuk berat.
Jika aku mengingat kejadian hari itu, rasanya begitu menyesakkan!
Betapa Kim, begitu aku memanggilnya... Entahlah... Semenjak kejadian hari itu, atmosfer rumah kami begitu berbeda...
Young Joon yang semakin fokus dengan pekerjaannya, dan aku yang yang semakin tenggelam dalam perasaan tak menentu.
Kami hanya berbicara seadanya, bahkan hampir tidak bicara sama sekali.
Young Joon hampir selalu pergi, sebelum aku bangun dari tidurku, dan pulang ketika aku sudah terlelap.
Sejujurnya aku merasa sedikit lelah...
Entah, lelah karena apa... Yang jelas, rasanya sungguh teramat nyeri...
Terkadang aku berpikir, apakah benar, yang dikatakan oleh Arjuna, bahwa aku mulai jatuh cinta lagi, kepada Young Joon?
Dan aku cemburu karena kejadian kemarin?
Atau apakah ini hanya ketamakanku saja, yang menginginkan dua orang lelaki sekaligus, mengisi hari-hariku? Entahlah!
Aku segera meraih ponsel yang memang selalu ku letakan di atas nakas yang berada di samping ranjangku. Malas sekali rasanya untuk membuka sosial mediaku melalu laptop, karena entah mengapa, saat ini aku hanya ingin tetap berbaring, tanpa menumpu apapun di atas tubuhku.
Aku segera membuka kunci layar ponsel, dan mencari ikon media sosial, kemudian menyentuh ikon pesan disana.
Arjuna! Ya!
Hanya dia yang dapat ku andalkan untuk mengurangi kegundahanku saat ini!
Jenny Lie : Jun
Aku masih menatap layar ponselku, berharap Arjuna segera membalas pesanku.
10 menit menit telah berlalu, Arjuna tidak juga membalas pesanku!
Mungkin dia sedang sibuk, entahlah! Aku memutuskan untuk keluar dari kotak pesan, kemudian menyentuh ikon 'timeline' untuk melihat postingan teman-teman media sosialku.
Aku menatap satu per satu postingan beberapa teman kampusku disana, juga postingan sahabat sekaligus sepupuku, Clara...
Dia masih sama seperti beberapa waktu terakhir aku menemuinya. Cantik, muda, bebas! Aku tersenyum getir, membandingkan kehidupanku kini, dan senyum sumringah Clara dalam potret itu.
Young Joon memang membebaskanku dalam bergaul, namun Young Joon tetap mengingatkanku tentang batasan. Dia berkata kepadaku bahwa dia kurang menyukai jika aku pergi ke bar, namun, heeeyy! Tunggu dulu! Tidak kah Young Joon itu, curang???
Dia tidak suka, jika aku pergi ke bar, sedangkan dia?
Dia pulang dalam keadaan mabuk berat waktu itu!
Bukankah... Ya Tuhan! Mengingat kejadian itu saja, membuat dadaku menjadi semakin nyeri, hingga membuatku terbangun dan bersandar di sandaran ranjangku. Aku meletakkan ponselku tepat di sebelah tubuhku, kemudian memijat lembut keningku, hingga ponselku sedikit bergetar.
Ku raih ponselku, dan ku lihat notifikasi sosial media disana.
Aku segera membuka media sosialku, dan benar saja! Arjuna membalas pesanku!
Arjuna : Jen, sorry ya! Tadi gw lagi mandi!
Jenny Lie : mandi?
Arjuna : iya, kenapa?
Jenny Lie : sekarang jam 9 malam di DC, berarti jam 9 pagi di jakarta? Lu gk kerja?
Arjuna : gw baru balik
Jenny Lie : Lu lembur?
Arjuna : iya
Jenny Lie : lu di rumah?
Arjuna : iya
Jenny Lie : ada istri lu?
Arjuna : ada, kenapa?
Jenny Lie : ah, oke... Lanjut besok aja ya, jun!
Arjuna : santai aja! Dia lagi macam malas sama gw
Jenny Lie: lu ribut sama istri lu?
Arjuna : gk, sih...
Jenny Lie : terus?
Arjuna : gw juga kurang paham, Jen... Cuma... Gimana ya ngomongnya...
Jenny Lie : ngomong aja!
Arjuna : ummm... Gw ngerasa istri gw cemburu sama gw!
Jenny Lie : ya bagus, donk! Itu tandanya, istri lu dah mulai buka hatinya untuk lu!
Arjuna : gw sih berharapnya begitu, jen... Cuma...
Jenny Lie : cuma apa?
Arjuna : istri gw tuh orangnya susah ditebak! Jadi, gw gk mau percaya diri dulu...
Jenny Lie : ah ok... Ehhhh!!!
Arjuna : kenapa?
Jenny Lie : jangan bilang, istri lu cemburu sama gw, ya!!!!!!!!
Arjuna : yaa ampuun!!! Bukan, jen!!! Lu tenang aja!!!
Jenny Lie: trus???
Arjuna tidak langsung membalas pesanku! Apakah dia telah berbohong, kepadaku?
Arjuna : gw habis ribut, sampai baku hantam sama teman kantor gw
Jenny Lie : ya Tuhan!!! Terus???
Arjuna : ya, gw pulang diantar sama teman gw, yang juga temannya istri gw dulu
Jenny Lie : nah, terus?
Arjuna : dia suka sama gw, dan istri gw tau! Dan parahnya lagi, teman gw ini pernah ngomong sama istri gw, klu istri gw tuh, dah ngambil gw, dari dia!
Jenny Lie: whaaattttttttt!!!!!!
Arjuna : demi tuhan!!! Gw gapernah ada hubungan apa² sama ini cewe!
Jenny Lie : ah, ok! Terus?
Arjuna : sejak saat itu, kita tuh jadi macam perang Dingin gitu! Ngomong seadanya, bahkan dah 3 hari ini, kita sama sekali gk saling ngomong...
Tunggu dulu... Aku kembali melihat percakapan kami sebelumnya... Bukankah, ini hampir sama dengan keadaanku saat ini? Hanya berbeda versi, namun...
Arjuna : Jen, lu masih disana?
Pesan baru Arjuna, membuyarkan lamunanku
Jenny Lie : ah, iya jun!
Arjuna : lu kenapa, jen?
Jenny Lie : ah itu... Jun...
Arjuna : kenapa, jen?
Arjuna : kejadian apa?
Jenny Lie : lu ribut sama teman lu
Arjuna : seminggu yang lalu, kenapa?
Aku kembali berpikir, kalau kejadian Arjuna adalah seminggu yang lalu, berarti itu seminggu setelah...
Arjuna : jen... Lu masih disana? Ada masalah?
Lagi-lagi pesan Arjuna membuyarkan lamunanku
Jenny Lie : ah, gk ko' jun
Arjuna : lu lagi ada masalah, ya?
Jenny Lie : ah, gk ko'... Trus, gimana? Lu jelasin ke istri lu, gk?
Arjuna : dia selalu menghindar, tiap kali gw mau jelasin
Aku kembali termenung... Bukankah, aku juga selalu menghindari percakapan mengenai kejadian itu, saat Young Joon hendak menjelaskan?
Arjuna : jen? Lu kenapa sih!
Jenny Lie : jun...
Arjuna : iya, ada apa? Lu aneh bgt hari ini!
Jenny Lie : jun... Kaya'nya kita punya masalah yg sama, deh... Cuma, versi dan posisinya beda
Arjuna : maksudnya?
Jenny Lie : versi gw, laki gw pulang dalam keadaan mabuk berat, trus diantar sama cewe yg dulu suka bgt sama dy...
Arjuna : terus?
Jenny Lie : gw selalu menghindar, tiap kali dia mau jelasin kejadian itu
Arjuna : kenapa?
Jenny Lie : tiap ingat kejadian itu, rasanya sakit bgt!
Arjuna : jangan bilang, lu cemburu?
Aku tertegun sejenak, melihat jawaban Arjuna... Dan kembali mengingat kejadian dimana aku melihat Young Joon, tampak akrab sekali dengan teman sekelasnya di kantin, saat kami masih bersekolah dulu...
Rasanya sakit, dan panas sekali! Sama persis dengan apa yang ku rasakan saat ini, bahkan saat ini, rasanya lebih sakit lagi!
Arjuna : jen?
Jenny Lie : iya
Arjuna : iya apa?
Jenny Lie : jun
Arjuna : iya, Jenny Lie???
Agak ragu rasanya mengungkapkan ini, namun... Sepertinya, aku tidak dapat menahannya lagi! Masa bodoh! Toh, aku hanya akan menyatakannya kepada Arjuna... Dan Arjuna tidak mengenal siapa itu Park Young Joon!
Arjuna : Jenny???
Jenny Lie : jun, gw dah kalah...
Arjuna : kalah gimana?
Sekuat hati ku kalahkan egoku untuk mengetik kalimat ini, namun... Masa bodoh!
Jenny Lie : gw jatuh cinta sama Park Young Joon
"YEEEAAAAHHHH!!!!"
Aku benar-benar terkejut mendengar teriakan Young Joon, hingga tak sengaja, ponselku terjatuh di atas dadaku!
Aku segera bangkit dari atas ranjangku, dan segera bergegas menghampirinya.
"HAHAHAHAHAAAAA!!!! AKHIRNYAAAAAA!!!"
Kali ini suaranya semakin keras, dan terdengar sangat bahagia!
Sepertinya, arah suaranya berasal dari ruang kerjanya, aku segera menuju kesana! Dan saat aku membuka pintu, dapat ku saksikan dengan jelas, Young Joon melompat-lompat seperti orang yang sudah kehilangan akal!
Dan dapat ku lihat sekilas, matanya berkaca-kaca!
Aku termenung melihat tingkahnya, apakah Young Joon baru saja memenangkan sebuah tender?
Atau...
Young Joon akhirnya menyadari kehadiranku, dan bergegas menghampiriku, kemudian memelukku dengan erat.
"Terima kasih..." Ucapnya kemudian mengecup puncak kepalaku.
Aku tidak mengerti, apa yang terjadi saat ini. Young Joon menguraikan pelukannya, dan menatap wajahku dalam.
Benar! Matanya berbinar... Dia sangat bahagia! Itu dapat terlihat dengan jelas...
"Aku akan mengutarakan perasaanku kepada gadisku..." Ucapnya dengan senyum lebar.
'DEEEGGGGGHHHH!!!'
Duniaku seakan terhenti mendengar kata-kata tadi!
Nafasku terasa sesak!
Ada kenyerian yang luar biasa di hatiku...
Wajah berbinar itu... Caranya berbicara... Dan... Young Joon kembali memelukku...
Kali ini, lebih erat...
Yeah... Air mataku meleleh dengan sendirinya...
Bagaimana bisa? Mengapa? Ya tuhaaan... Bukankah...
Young Joon kembali menguraikan pelukannya, dan lagi-lagi menatap wajahku dalam.
"Dengar, aku akan mempersiapkan semuanya besok, dan mungkin aku tidak akan pulang, karena aku akan mempersiapkan semua, dengan tanganku sendiri, jadi... Kau tidak perlu menungguku..." Young Joon sungguh sangat bersemangat mengatakannya, tanpa peduli dengan air mataku yang seakan tidak mau berhenti...
"Tidurlah..." Ucapnya lalu menghapus air mataku, kemudian tersenyum, dan aku mengangguk samar.
Aku melangkahkan kakiku dengan gontai, seolah tanpa tenaga...
Ini perih, sesak, hancur, dan...
Ya tuhaaannnn... Bukankah, aku baru saja mengungkapkan perasaanku terhadap Young Joon???
Bukankah...
Bahkan untuk membuka pintu kamarku, aku seolah tak punya tenaga!
Aku benar-benar mengutuk diriku sendiri saat ini!
Aku kembali menangis..
Bahkan kali ini, terdengar seperti jeritan yang tertahan, hingga akhirnya, pintu berhasil terbuka...
Aku segera menutup pintunya, ketika sudah berada di dalam, dan berjalan menuju ranjang. Yeah... Aku menangis sejadi-jadinya... Aku meratapi kisah cintaku...
Aku kalah, sebelum berjuang... Bukankah itu lucu?
Pukul 3 dini hari, dan aku belum juga terlelap. Tapi setidaknya, air mataku tidak lagi menetes. Aku memikirkan, apa yang akan ku lakukan hari ini.
Entah mengapa, aku melangkahkan kakiku ke arah lemari, dan membukanya...
Entah apa yang akan ku lakukan, tanganku bergerak begitu saja, seolah semua telah dikontrol secara otomatis oleh otakku.
Ya, aku seolah kehilangan kontrol atas diriku! Semua seolah melakukan apa yang menurut mereka benar!
Dari mulai membuka laci yang berisi berkas-berkas penting, hingga...
Aku meraih berkas pernikahan, dan menatapnya nanar...
Hatiku seolah berkata, hari ini, adalah waktunya...