
Terhitung semenjak kemarin, KITA akan tidur di kamarmu selamanya, jika kau protes, kau akan ku habisi!
Bangun tidur, mengucapkan selamat pagi kepadaku, lalu mencium keningku kalau tidak, kau akan ku habisi!
Kau harus memanggilku dengan sebutan sayang, atau suamiku sambil tersenyum, kalau tidak, kau akan ku habisi!
Sebelum aku berangkat kerja, memeluk dan mengecup keningku adalah keharusan! Kalau tidak, kau akan ku habisi!
Sebelum tidur, kau harus mengecup bibirku kalau tidak, kau akan ku habisi!
Kau harus selalu membuatkan bekal untuk makan siangku di kantor, kalau tidak, kau akan ku habisi!
Jika kau sedang tidak kuliah, kau harus datang ke kantorku untuk makan siang bersamaku, kalau tidak, kau akan ku habisi!
Kita akan tidur berpelukan, kalau kau menolak, akan ku habisi!
Setiap bertemu denganku, kau harus memelukku, kalau tidak, kau akan ku habisi!
Jangan meninggikan suara apalagi memasang wajah seksi yang selalu kau tunjukkan, kalau tidak, kau akan ku habisi!
Jika kau membalas pesan ini untuk protes, kau akan ku habisi!
Jika satu saja dari peraturan di atas tidak kau lakukan, kau akan ku habisi!
Berteriak kepadaku, itu tandanya kau menantangku untuk berperang :)'
"Aaaaarrrggghhh!!! Apa-apaan kau Park Young Joon!!!" Umpatku seraya menatap pesan di ponselku dari laki-laki sialan yang mengirimiku pesan menakutkan ini!
Dia pikir, dia siapa! Mengancamku dengan cara kekanakan seperti ini!
Huufffttt...!
Aku bersandar di sandaran ranjangku, seraya memeluk kedua lututku, dengan dagu yang tertopang disana.
Mengapa harus seperti ini? Andai saja malam itu aku menolaknya... Mungkin semua ini tidak akan terjadi kepadaku. Mengapa dia harus datang waktu itu... Mengapa...
"Selamat pagi, sayang..." Laki-laki sialan itu kini ada di hadapanku, dengan senyum yang sebenarnya manis sekali, jika saja dia tidak mengirimiku pesan tidak berguna barusan.
Aku menatap wajahnya datar. Tidak tahu harus seperti apa, karena terlalu banyak rasa yang kurasakan, dan yang paling mendominasi adalah, rasa ingin membunuhnya!
Young Joon menaik-naikkan kedua alisnya, seolah memberi tahuku, ada yang harus ku lakukan.
Dan akupun tersadar!
Aku langsung meraih ponselku, dan melihat pesan yang dia kirim tadi.
Oh tuhan!
Aku menarik nafas dalam, dan menghelanya kasar setelah melihat pesan itu di layar ponselku, kemudian menatap wajah Young Joon, lalu tersenyum dengan sangat terpaksa
"Selamat pagi, suamiku sayang..." Ucapku.
Wajahku mungkin terlihat aneh, namun Young Joon nampak senang sekali mendengar kata-kata itu dari mulutku, lalu dia mendekatkan wajahnya ke arah wajahku.
Aku hampir saja bergeser, namun aku belum terlalu menghafal setiap detail peraturan yang dia buat, hingga akhirnya aku mengurungkan niatku lalu sesegera mungkin mengecup keningnya, kemudian memeluknya.
Young Joon membalas pelukanku.
"Apa kau berangkat kuliah hari ini?" Tanya Young Joon, kemudian menguraikan pelukannya.
"Aku tidak ada kelas hari ini, ada apa?" Jawabku
Kemudian Young Joon menjentikkan jarinya sambil tersenyum bahagia.
"Hey! Apaa..."
Aku lupa! Sudah ada peraturan disini... Suaraku agak meninggi tadi, hingga membuat Young Joon membalikkan tubuhnya ke arahku.
"Apakah kau sedang berhasrat pagi ini?" Young Joon menatap wajahku heran
"Bu-bukan begitu, suamiku... A-aku hanya... Begini, kau tahu, orang tua kita masih ada disini sekarang, aku tidak suka ketika kita sedang melakukan kegiatan yang romantis, mereka tiba-tiba datang melihat kita..." Ucapku.
Aku memasang wajah semanis mungkin, walaupun hatiku benar-benar kesal setengah mati.
"Mereka sedang keluar. Dan mungkin akan pulang petang nanti, karena mereka ingin membeli oleh-oleh untuk saudara kita." Young Joon menjelaskan.
Aku sudah kehabisan kata-kata, hingga Young Joon kembali mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Apakah kau sedang ingin protes?"
Wajahnya datar sekali saat mengatakan hal itu, dan aku secara spontan memeluknya dan berkata...
"Yaaaa tuhan... Tentu saja tidak, suamiku sayang! Mana mungkin aku menolak suami sepertimu..."
Aku benar-benar tidak tahu, apa yang saat ini sedang ku lakukan.
************************
Kami sedang berendam saat ini, saling berhadapan.
Young Joon tampak senang sekali, sedangkan aku? Aku merasa sangat tertekan!
Aku memikirkan sesuatu, apakah aku harus menenggelamkan laki-laki sialan ini di bak mandi ini? Atau aku harus membeli racun saja?
"Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan?" Young Joon berkata seolah akulah yang membuatnya berendam bersamaku saat ini.
"Aku sedang memikirkan, bagaimana cara untuk membunuhmu." Kataku seraya menatapnya dengan wajah datar.
"A-pa maksudmu! Kau ini benar-benar menakutkan, ya!" YoungJoon terlihat ketakutan.
"Apa kau mau ku habisi!" Young Joon mengancamku balik.
"Aku tidak meninggikan suaraku, juga tidak protes tentang apapun kepadamu, lalu mengapa kau ingin menghabisiku?" Aku masih menggunakan nada bicara serta ekspresi wajah yang datar! Young Joon terlihat salah tingkah kini!
Ya! Aku telah menemukan cara untuk mengatasi Young Joon jika dia sudah mulai keterlaluan.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanyaku kepada Young Joon seraya mengeringkan rambutku dengan handuk.
"Ke kantorku." Jawab Young Joon seraya memilah baju yang tergantung di lemariku, kemudian...
"Pakai yang ini! Kau terlihat cantik sekali saat mengenakan gaun ini!" Young Joon menyodorkan gaun berwarna merah maroon kepadaku.
Aku ingat! Aku mengenakan gaun ini di acara ulang tahun Mr. Liem waktu itu!
Young Joon sangat bangga ketika memperkenalkanku kepada teman-temannya. Tidak sekalipun dia melepaskan genggaman tangannya selama kami berada disana.
Bahkan ketika aku ke kamar kecil sekalipun, Young Joon rela menungguku di depan pintu kamar kecil itu.
"Inikan gaun pesta!" Protesku, dan Young Joon segera meraih wajahku agar lebih dekat dengan wajahnya.
"Bukankah kau tampak seksi sekali dengan jubah mandi ini?" Ucapnya dengan ekspresi wajah datar.
"M-maksudku... Kita kan hanya akan ke kantormu saja, apa harus terlihat berlebihan begini?" Aku merendahkan suaraku
"Apa aku tidak boleh menunjukkan kepada dunia, bahwa aku memiliki istri yang saaaangaaatt cantik?" Young Joon manis sekali ketika mengatakan itu, dan akupun tersenyum, lalu memeluknya.