Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Closer



Kami akhirnya telah sampai di depan rumahku, setelah berkeliling dan mengunjungi beberapa tempat untuk mengambil beberapa gambar yang telah kami abadikan.


"Sepertinya orang tuamu sedang tidak ada di rumah?" Ucap Young Joon sesaat setelah menoleh ke arah garasi rumahku, yang memang tidak memiliki pintu.


Aku tersenyum sekilas, setelah menoleh ke arah Young Joon menoleh tadi, dan mengangguk samar.


"Sepertinya mereka sedang memiliki hobi baru! Pergi pagi-pagi sekali, kemudian pulang ketika malam telah larut." Kataku tersenyum menoleh ke arah Young Joon.


Young Joon tersenyum menatapku.


Tatapan kami beradu, hingga menciptakan kecanggungan diantara kami.


Aku segera menoleh ke arah rumahku.


"Ummm... Begitupun dengan orang tuaku." Katanya, aku kembali menoleh ke arahnya


"Eh?"


"Yeah! Mereka juga melakukan apa yang kedua orangtuamu lakukan!" Ucapnya tertawa kecil kepadaku.


Kami kembali tertawa.


"Jenny..." Ucapnya


"Ya?"


"Apakah besok kau sibuk?" Young Joon terlihat ragu. Aku tersenyum


"Tidak, ada apa?" Tanyaku


"Ummm... Bagaimana kalau kita pergi ke toko peralatan rumah tangga, untuk mengisi apartemen kita nanti?" Young Joon menatapku penuh harap.


Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya.


Kalau di pikir-pikir, besok adalah dua hari sebelum hari-H pernikahan kami.


Bukankah kami seharusnya memperbanyak jam istirahat kami?


Namun setelah ku pikir-pikir, daripada aku merasa bosan di rumah, sedangkan teman-temanku sibuk ikut membantu persiapan pernikahanku, mengapa tidak!


"Baiklah! Jam berapa kau akan menjemputku?" Kataku.


Young Joon terlihat berpikir sambil tersenyum, alih-alih langsung menjawab pertanyaanku.


"Bagaimana jika jam 10 pagi?" Katanya penuh semangat. Aku tersenyum lebar


"Baiklah." Ucapku mengangguk samar.


Dan saat aku hendak melepas sabuk pengaman, terasa agak sulit, hingga membuat Young Joon berinisiatif untuk membantuku melepas sabuk pengaman ini.


Aku sungguh terkejut melihat kesigapannya, ditambah lagi, jarak kami sungguh sangat dekat sekarang!


Aku menelan ludah samar, sesaat setelah Young Joon berhasil melepas sabuk pengaman, dan terpaku menatap wajahku.


Ini terlalu dekat! Sangat dekat!


Bahkan aku dapat merasakan hangat nafasnya... Young Joon semakin mendekatkan wajahnya, namun aku segera berpaling!


Dan Young Joon, dia kembali ke posisinya semula, di balik roda kemudi.


"A-aku..."


"Ma-maafkan aku..." Ucapnya dengan suara terbata-bata.


Aku seketika menyadari akan suatu hal!


Aku menoleh ke arahnya, dan menatapnya tajam.


"Apa maksudmu tadi! Huh!" Ucapku seraya menunjuk wajahnya dengan daguku.


Young Joon terlihat merasa bersalah, kini.


"A-aku..."


Aku mengela nafas kasar, dan tersenyum kesal


"Kau pikir kau ini SIAPA!!!" Aku memekik kepadanya.


Young Joon menghadap ke arahku.


"Jenny, dengarkan aku du..."


"Ku rasa tidak ada lagi yang harus kau jelaskan!" Ucapku kemudian membuka pintu mobil, dan keluar dari sana.


Young Joon segera mengejarku, yang hampir memegang kenop pintu rumahku


"Jenny, dengarkan aku dulu!" Young Joon segera meraih tanganku, dan membuatku berbalik arah kepadanya.


Aku menatapnya dengan tatapan kesal, sedangkan Young Joon, dia menatapku dengan tatapan putus asa.


"Dengar! Hanya karena kau adalah calon suamiku, bukan berarti kau dapat seenaknya melakukan..."


Young Joon tiba-tiba mengambil sesuatu di saku celananya, ya!


Itu adalah ponselnya! Kemudian dia memperlihatkan bayangan wajahku dengan menggunakan kamera depan ponselnya.


Ya Tuhan! Apa itu! Aku segera merebut ponsel Young Joon dari tangannya, dan kembali memastikan apa yang terdapat disana.


Aku berbalik membelakangi Young Joon, dan menyapu kedua ujung mataku, dengan jariku.


Sial! Apakah ini yang membuat Young Joon menatapku seperti itu?!


Aku benar-benar dibuat malu oleh kotoran mata sialan ini!


Aku berbalik perlahan, dan sedikit meringis karena menahan malu!


Kemudian mengulurkan tanganku, untuk mengembalikan ponsel Young Joon, tanpa menatap wajahnya


"A-aku..."


"Maafkan aku..." Ucapan Young Joon membuatku terhenyak, kemudian memejamkan mata sejenak.


"Young Joon!" Ucapku, kemudian menatap wajahnya. "Akulah yang seharusnya meminta maaf kepadamu... Aku..."


Young Joon segera mengambil ponselnya, dan tersenyum.


"Itu kotoran mata terbesar yang pernah ku lihat!" Ucapnya kemudian tertawa!


Itu membuatku kesal sekaligus malu secara bersamaan! Hingga membuatku meninju bahunya


"Aaawwwww!!" Young Joon segera mengusap bahunya.


"Mengapa kau tidak mengatakannya kepadaku!" Ketusku, Young Joon menatapku kesal


"Aku hanya sedang memastikan, apakah itu kotoran mata, atau eyeliner!" Ketusnya lagi.


Aku menahan tawaku, namun tidak bisa!


Aku segera tertawa! Young Joon yang semula kesal, kini tertawa, dan tersenyum menatapku.


Aku yang menyadari itu, merasa sedikit salah tingkah.


"A-apa kau mau mampir?" Kataku.


Young Joon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, dan memiringkan wajahnya


"Hari ini kita sudah cukup lama bersama... Aku takut kau akan bosan melihatku terus, jadi..." Aku terhenyak mendengar perkataannya.


"Aku pulang sekarang, ya... Besok aku akan menjemputmu..." Ucapnya kemudian berlalu.


...****************...


Aku terpaku menatapnya, hingga mobil Young Joon berlalu.


Sejujurnya, hari ini aku sangat bahagia! Entah mengapa! Dan itu membuatku tersenyum sambil terus menatap kosong ke depan, hingga akhirnya aku menyadari sesuatu, dan memudarkan senyumku.


Ada apa denganku?!


Apa aku sudah gila, tersenyum seorang diri disini?!


Aku segera membalikkan tubuhku, dan berniat masuk ke dalam rumah, namun suara mesin yang ku kenal, mendekat ke arahku, membuatku menghentikan langkahku, dan berbalik ke arah sebelumnya.


Denis! Dia menepati janjinya! Dia datang dengan seorang teman, yang juga mengendarai sepeda motor.


"Ipel!" Sapanya kemudian menghampiriku, sesaat setelah meletakkan helm di atas seoeda motorku.


"Eh, Den! Masuk yuk!" Ajakku


"Nggak usah, gw buru-buru." Jawab Denis, kemudian teman yang datang bersamanya, yang ternyata Angga, menghampiri kami, dan segera menjabat tanganku


"Motor baru, Ga?" Tanyaku kepada Angga


"Kagak! Gw cuma lagi test drive motor barunya Lukman, sekalian nganterin dia nih!" Ucap Angga seraya menunjuk Denis dengan sudut matanya.


"Oowwhh... Ya udah! Lu orang nggak pada mau mampir dulu?" Kataku


"Kagak, kita masih ada urusan!" Sahut Angga


"Serius, lu!" Kataku lagi


"Iyeeee, Ipel!" Sahut Denis, kemudian menyerahkan kunci sepeda motorku.


"Thank's ya, Pel!" Ucap Denis, akupun mengangguk samar


"Ya udah, kita balik dulu, ya!" Ucap Denis lagi


"Ya udah, hati-hati lu, padaan!" Sahutku


"Siap, boss!" Ucap Angga, kemudian mereka berlalu.


...****************...


Pukul 9 pagi, dan lagi-lagi kedua orang tuaku sudah tidak berada di rumah!


Bahkan semalam, aku sama sekali tidak bertemu dengan mereka!


Aku bahkan tidak mengetahui secara pasti, mereka pulang ke rumah atau tidak!


Aku segera menuju dapur, untuk mencari kudapan yang mungkin dapat mengganjal perutku, sebelum mandi.


Ketika membuka pintu kulkas, mbok Minah melintas di hadapanku, mempersiapkan hidangan.


"Mbak Jenny udah bangun, toh..." Ucapnya seraya merapikan meja makan.


Aku segera meneguk habis air putih, kemudian menghampiri mbok Minah, dan duduk di meja makan.


"Mama sama papa nggak pulang ya, mbok?" Tanyaku kepada mbok Minah.


Beliau menatapku sekilas, sambil menyajikan roti tawar beserta selai dan juga mentega.


"Lho, emang ibu sama bapak nggak bilang sama mbak Jenny, kalau mereka ke Bandung kemarin?" Jawab mbok Minah.


"Ke Bandung? Ngapain?" Tanyaku sambil melahap roti lapis yang di sediakan mbok Minah.


"Ke tempat sepupunya bapak, mau ngundang sekalian tanya-tanya lokasi apa sih itu... Honey... Apa sih... "


"Honeymoon!" aku menyela ucapan mbok Minah, kemudian kembali melahap roti.


"Naahh! Iya itu!" Sahut mbok Minah sambil tersenyum.


Aku tertawa kecil melihat kepolosan mbok Minah.


Mbok Minah menatapku heran, membuatku menyadari akan suatu hal!


Kami saling menatap kini, hingga ponselku berdering.


Aku menatap ke layar ponsel, Mama!


"Ya, ma." Sapaku di seberang sini


"Jenny, maaf banget mama nggak ngabarin kamu." Ucap mama di seberang sana


"Iya... Nggak apa-apa... Kan udah biasa!" Ketusku di seberang sini, kemudian segera beranjak dari meja makan, menuju kamarku.


"Sayang, ko' gitu sih ngomongnya." Mama terdengar merasa bersalah di seberang sana.


"Ya kan memang begitu... Oya, ngomong-ngomong, mama emangnya sekarang lagi dimana?" Kataku, kemudian duduk di sofa yang terletak di depan ranjangku.


"Mama lagi di Bandung, di rumahnya om Anton, sepupunya papa. Mau ngundang, sekalian tanya-tanya tempat honeymoon yang Oke, karena dia kan punya usaha travel gitu, jadi..."


"Tunggu dulu, ma! Tempat honeymoon?" Aku segera menyela ucapan mama


"Iya... Kan habis resepsi, emangnya kamu nggak mau honeymoon?"Mama terdengar sangat bersemangat di seberang sana.


"Y-ya... Ya tapi kan..."


"Intinya kamu sama Young Joon Terima beres aja ya, sayang... Eh, udah dulu, ya! Mama lagi ribet banget ini! Udah dulu, ya! Mama usahain hari ini pulang ya, sayang..."


"I-iya... Tapi, ma..." Sambungan telepon tiba-tiba terputus!


Sial! Apa-apaan ini! Ada apa dengan mereka sebenarnya! Aku melempar ponselku ke ujung sofa, dan merebahkan tubuhku disana, hingga aku menyadari akan suatu hal!


Aku kembali meraih ponselku untuk melihat jam.


Saat aku melihat layar ponselku, sudah pukul 9.40!


Aku segera bergegas untuk mandi, dan bersiap karena Young Joon sebentar lagi akan menjemputku!


...****************...


 Pukul 10.13, dan aku masih belum selesai bersiap!


Sial!


Aku menghabiskan waktuku hanya untuk memilih baju apa yang akan ku kenakan untuk pergi bersama Young Joon nanti!


Bodoh!


Tapi, tunggu! Ini sudah lewat dari jam 10, dan Young Joon belum juga tiba di rumahku?


Young Joon tidak biasanya seperti ini!


Biasanya dia akan tiba di rumahku beberapa menit sebelum waktu yang ditentukan!


Lalu, ada apa dengannya hari ini?


Aku segera keluar dari kamar, begitu sudah siap.


Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengenakan skinny jeans berwarna navy, serta blouse tanpa lengan berwarna putih, serta membiarkan rambutku tergerai.


Aku kembali menatap layar ponsel, untuk melihat jam disana.


Pukul 10.29, dan Young Joon belum juga tiba, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya di depan rumahku.


Ketika aku baru saja menutup pintu rumahku, Tiba-tiba Young Joon sudah menghampiriku.


"Maafkan aku, sedikit terlambat." Ucapnya merasa bersalah.


Aku menatapnya, kemudian tersenyum.


"Tidak apa-apa, aku baru saja selesai." Kataku.


...****************...


 


"Ada hal penting di kantor tadi, jadi aku terpaksa harus menyelesaikannya dulu." Ucap Young Joon, menatapku sekilas.


"Mengapa harus terpaksa?" Jawabku, kemudian menoleh ke arahnya.


Young Joon terlihat salah tingkah kini.


"Jenny, aku..."


"Ku pikir, jika mengenai pekerjaan, kau tidak boleh merasa terpaksa." Kataku melanjutkan.


"Jenny..."


"Pekerjaan adalah kewajiban yang harus kau..."


"Tapi aku telah lebih dahulu berjanji kepadamu..." Young Joon kini menatapku dalam.


Aku terhenyak.


Mengapa harus ada rambu lalu lintas!


Young Joon selalu menunggu lampu berubah warna sambil terus menatapku!


Dan itu membuatku canggung!


"I-itu... "


"Karena melaksanakan janjiku kepadamu adalah kewajiban utama yang harus ku lakukan!" Young Joon masih menatapku, dan itu membuatku sedikit sesak!


Aku segera menatap lurus ke arah jalan


"Joon, lampunya sudah hijau..." Ucapku tanpa menoleh ke arahnya.


Kemudian Young Joon melajukan kembali kendaraan.


...****************...


Akhirnya kami tiba di sebuah toko perlengkapan rumah tangga, ku pikir lebih tepatnya, mall khusus perlengkapan rumah tangga!


Young Joon memintaku untuk memilih apa saja yang kami butuhkan di apartemen kami.


Dia selalu meminta pendapatku ketika memilih berbagai perlengkapan rumah tangga, dari mulai furnitur, hingga alat elektronik.


Dan ketika aku berdiri di depan sebuah single sofa, Young Joon menghampiriku, dan berkata.


"Kau mau yang ini?" Katanya menatap ke arah sofa itu, aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.


"Aku selalu menyukai sofa yang berada di depan ranjang." Kataku.


Young Joon tersenyum


"Baiklah, kita akan membeli yang ini juga!" Katanya penuh semangat.


Akhirnya, setelah menhabiskan waktu beberapa jam, kami selesai membeli semua perlengkapan yang kami butuhkan, dan semua barang yang kami beli, akan diantar besok pagi ke apartemen kami.


Kami memutuskan makan siang di sebuah restoran Jepang. Aku yang memilih restoran ini, karena restoran ini adalah salah satu restoran favoritku!


Dan kebetulan, Young Joon juga menyukai makanan Jepang!


"Aku menyukainya." Ucap Young Joon, kemudian melahap makanannya


"Eh, apa?" Aku mentapnya.


"Kau menyukai makanannya?" Kataku tersenyum lebar.


Namun Young Joon tersenyum, kemudian menggeleng samar


"Bukan..." Ucapan Young Joon memudarkan senyumku.


"Lalu apa?" Kataku sedikit menekuk wajahku.


"Aku meyukai rambutmu yang tergerai." Katanya sambil tersenyum.


Itu membuatku tersipu!


Aku merasakan panas di pipiku.


Namun aku segera mengalihkan pembicaraan ini


"Young Joon, bagaimana jika besok kita merapikan barang-barang?" Kataku mengusulkan.


Young Joon tampak mengerutkan dahinya sebelum menjawab.


"Jenny, lusa kita sudah akan menikah... Tidak dapatkah..."


"Besok malam, teman-temanku akan mengadakan pesta pelepasan di rumahku, mereka tidak menginginkanku berada disana sampai malam tiba." Kataku.


Young Joon menatapku, kemudian tersenyum.


"Baiklah, besok pagi aku harus ke kantor, bagaimana jika aku menjemputmu jam..."


"Tidak usah! Aku akan datang sendiri kesana! Kau sudah memberiku kunci akses, kan?" Kataku kemudian menyesap minumanku.


Young Joon tersenyum.


"Baiklah, aku akan datang kesana sekitar pukul 1 siang." Ucap Young Joon.


...****************...


 


Pada akhirnya, kami memutuskan untuk langsung pulang, karena merasa cukup lelah hari ini.


"Ku pikir, kita akan tinggal di apartemenku dulu untuk sementara." Ucap Young Joon sambil terus fokus mengemudi.


"Eh?" Kataku menoleh ke arahnya.


Young Joon menatapku sekilas, kemudian tersenyum.


"Yeah! Aku meminta cuti selama dua minggu, ku pikir itu cukup untuk membereskan barang-barang di..."


"Memangnya, berapa jumlah kamar di apartemenmu?" Tanyaku.


Young Joon tertawa mendengar pertanyaanku


"Mengapa kau malah tertawa!" Sinisku


"Hei! Ada apa denganmu!" Ucapnya menoleh ke arahku sekilas


"Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku tadi!" Sinisku lagi.


"Dua..." Jawab Young Joon


"Bagaimana dengan Ayah dan ibumu?"


"Mereka pasti akan pulang, begitu pesta telah usai." Jawabnya


"Tidak! Tetap saja aku harus membereskan barang-barang besok!" Kataku.


"Jenny..."


"Tidak masalah jika kau mau tetap tinggal di apartemenmu begitu selesai pesta, tapi aku..."


"Jenny..." Young Joon menatapku dalam, begitu lampu lalu lintas berwarna merah.


"Itu akan melukai kedua orang tua kita."