
"Jen, si Young Joon mirip sama si Song Joongki, ya! Hahahahaaa!" Ucap Clara kemudian melahap keripik kentang, dan melirik sekilas ke arahku sambil terus tertawa, kemudian kembali menatap layar televisi yang menayangkan drama Korea.
Aku menatap sinis ke arahnya.
"Mabok lu, ya!" Sinisku, kemudian merebut bungkusan berisi keripik kentang, dari tangan Clara, kemudian melahap keripik kentang itu, lalu kembali menatap layar telivisi.
Clara yang merasa terusik, kembali merebut keripik kentangnya.
"Idiiihhhh! Iye! Mabok keripik kentang, gw!" Ketusnya kembali melahap keripik kentang sambil menyaksikan drama Korea.
Aku menatap wajahnya yang begitu antusias menyaksikan drama favoritnya ini.
Clara adalah penggemar berat drama Korea, sama sepertiku, namun aku tidak se-fanatik Clara.
Aku kembali menatap layar televisi, dan mengingat ucapan Clara, ketika aku melihat aktor utama dalam serial drama ini.
Apa yang dikatakan Clara tidak sepenuhnya salah!
Young Joon memang agak mirip dengan Song Joongki, senyumnya, tatapan matanya... Caranya...
"Jen! Lu manggil Young Joon, apa?" Kata Clara membuyarkan lamunanku.
"Eh, apaan?" Kataku menoleh ke arah Clara
"Si dong-dong ini kalo lagi fokus, ya!" Ucap Clara kesal.
"Ya, apaan?" Kataku kemudian menyandarkan kepalaku di bahunya.
Clara menghela nafas kasar.
"Gw tadi nanya, lu manggil si Young Joon apa!" Ketusnya.
Aku segera menegakkan tubuhku, dan menatapnya yang masih serius menonton.
"Ya Young Joon, lah! Apalagi?" Jawabku. Clara menoleh ke arahku
"Nggak pake oppa, gitu?" Ujar Clara heran, aku menggeleng.
"Idiiiihhhh...." Clara memasang tampang heran.
Tiba-tiba ponsel Clara berdering.
Clara langsung meraih ponselnya yang berada tepat di sampingnya, dan segera menjawab panggilan sesaat setelah melihat layar ponselnya sekilas.
"Ya, Young Joon, ada apa?" Ucapnya
Apa?! Apa aku tidak salah dengar?
Young Joon?
Maksudnya, Young Joon calon suamiku?!
Tapi mana mungkin!
Apa Clara memiliki nomor Young Joon?!
Bagaimana bisa?!
"Baiklah, kami akan segera kesana, bye..." Ucapnya kemudian segera berdiri.
"Young Joon udah di bawah, yuk!" Ucap Clara, dan akupun segera berdiri, kemudian kami segera bersiap.
...****************...
Ketika di dalam lift, aku sudah tidak dapat lagi membendung rasa penasaranku, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Clara.
"Ng.... Ra!" Ucapku kepada Clara yang kini sedang memperbaiki riasannya.
"Apaan?" Sahutnya
"Ng... Lu pu-punya nomornya Young Joon?" Ucapku ragu.
Clara langsung menghentikan kegiatannya, dan menatapku
"Kenape? Lu mau?" Ucapnya kemudian menutup compact powdernya, lalu memasukkannya ke dalam sling bag miliknya
"Diiihhh... Ngapain!" Ketusku kemudian mengalihkan pandanganku ke depan.
"Lagian lu aneh! Masa' lu ngga nyimpen nomor calon laki sendiri!" Ketusnya lagi.
Aku termenung mendengar ucapan Clara tadi.
Benar apa yang dikatakan Clara, bagaimana bisa, aku tidak memiliki nomor telepon calon suamiku?
Aku kembali menoleh ke arah Clara
"Ko' lu bisa dapat nomor dia, Ra?" Ucapku.
Pintu lift terbuka, dan kami segera keluar dari sana.
"Pas nenek di rawat kemarin, dia ngasih gw nomor dia, kata dia, jaga-jaga kalo ada apa-apa, gw hubungin dia aja katanya, gitu!" Ucap Clara menjelaskan.
"Ooooooooo...."
"Hai!" Aku benar-benar dibuat terkejut, melihat Young Joon yang sudah berada di hadapanku.
"Hai, kita jalan sekarang, ya." Kata Clara kepada Young Joon,
Young Joon mengangguk samar
"Baiklah!" Jawabnya.
Kemudian kami berjalan ke arah pelataran parkir
"Young Joon, apa kau tidak memberikan nomor ponselmu kepada Jenny?" Aku terbelalak mendengar Clara berkata seperti itu.
Young Joon menoleh ke arah Clara sekilas
"Umm... Belum, ada apa?" Katanya
"Oowwhh... Pantas saja..." Aku langsung membekap mulut Clara.
Clara memberontak berusaha untuk melepas bekapanku.
"Iiihhh... Lu kenapa sih!" Clara terlihat kesal sekali, begitu dia berhasil melepas bekapanku
"Ada apa dengan kalian?" Young Joon terlihat heran melihat sikap kami.
"Tidak apa-apa... Kami hanya..."
"Sepertinya Jenny sedang memiliki masalah." Sinis Clara, sambil melirikku dengan sudut matanya.
Aku tersenyum konyol karena salah tingkah dibuatnya.
...****************...
Sudah ada kedua orang tuaku, dan juga kedua orang tua Young Joon, di gallery.
Mamaku dan juga bibi Ji Hyo segera membawaku ke sebuah ruangan yang terdapat beberapa gaun pengantin dengan berbagai macam model.
"Coba pilih, yang mana yang kamu suka, nak." Mama tersenyum, sambil mengusap punggungku.
"Ini katalog model gaunnya, kak." Ucap seorang gadis sambil menyodorkan sebuah album yang cukup tebal ke arahku.
Namun, aku sudah terlanjur tertarik dengan salah satu gaun yang ku lihat, ketika aku baru saja memasuki ruangan ini.
Aku berjalan ke arah manekin yang menggunakan gaun dengan warna perpaduan putih tulang dan sampanye, dengan model out shoulder, dengan punggung terbuka, serta belahan dada yang tidak terlalu rendah.
"Saya mau yang ini." Ucapku kepada gadis itu.
"你怎么看?(bagaimana menurut kalian?)" Tanyaku kepada mamaku, serta bibi Ji Hyo sambil tersenyum.
Mereka tersenyum lebar, melihat pilihanku
"Waaahhh! 味道很好,亲爱的!(waaahhh! Seleramu bagus sekali, sayang!)" Ucap bibi Ji Hyo tersenyum lebar
"Terima kasih." Kataku sambil tersenyum.
...****************...
Aku menatap bayangan diriku di depan cermin.
Baju pengantin ini, persis seperti bayanganku dan juga mendiang nenekku.
Gaun pengantin model out shoulder, dengan bagian punggung yang terbuka dan berbelahan dada yang tidak terlalu rendah.
Gaun ini persis sekali dengan gaun pengantin yang terdapat pada boneka Barbie yang nenek berikan kepadaku waktu itu.
Aku segera keluar dari kamar ganti, untuk menunjukkan tampilanku kepada mamaku dan juga bibi Ji Hyo.
Ketika aku keluar dari kamar ganti, sudah ada kedua orang tuaku, kedua orang tua Young Joon, Clara, dan... Young Joon...
Aku sempat menoleh Young Joon sekilas.
Dia juga sedang menggunakan jas pengantin.
Dia terlihat sangat tampan dan gagah sekali dengan pakaian itu.
"Ba-bagaimana menurut kalian?" Kataku tersipu malu.
Bibi Ji Hyo segera menghampiriku, kemudian memelukku erat sekali.
"亲爱的,你将成为世界上最美丽的新娘... (Kau akan menjadi pengantin tercantik di dunia, sayangku...)" Ucap bibi Ji Hyo, kemudian menguraikan pelukannya, lalu menatap wajahku. Matanya berkaca-kaca.
Aku segera memeluknya.
"谢谢你,碧 (Terima kasih, bi)" Ucapku, kemudian meneteskan air mata.
Bibi Ji Hyo langsung melepaskan pelukannya, dan memegang kedua bahuku, sambil menatapku.
"从今天开始,您必须叫我eomma!(mulai hari ini, kau harus memanggilku eomma!" Protesnya.
Aku tersenyum, begitupun dengan yang lain.
Bibi Ji Hyo, maksudku eomma kini menghapus air mata yang masih tersisa di pelupuk mataku.
Aku terharu melihat perlakuannya manisnya kepadaku.
Dan saat aku menoleh ke arah sekitar, mataku menangkap sosok Young Joon yang menatapku dan ibunya sambil tersenyum.
...****************...
Ketika semuanya telah selesai, dan kami sudah menentukan pakaian yang akan kami gunakan saat resepsi nanti, kedua orang tua kami dan juga Clara, kembali membuat drama!
Kali ini mereka beralasan ingin memesan catering, dan juga gedung untuk resepsi pernikahan kami.
"Mengapa tidak mengikuti sertakan kami?" Protesku.
Mereka semua terlihat salah tingkah, hingga papa akhirnya menghampiriku.
"Sayang, intinya kalian Terima beres aja! Kita nggak mau kalian cape, oke?" Ujar papa sambil mengusap lembut rambutku.
Aku seperti terhipnotis oleh ucapan papa, dan membiarkan mereka pergi, meninggalkanku dan juga Young Joon disini.
"Apa kau sudah makan?" Ucap Young Joon menghampiriku.
Aku menoleh ke arahnya
"Uummm... Itu..."
"Ayo kita pergi!" Ajaknya penuh semangat.
...****************...
Kami berdua memutuskan untuk makan di sebuah restoran China.
Dan ketika hidangan kami telah habis, aku menanyakan tentang suatu hal kepada Young Joon.
"Um... Young Joon..." Ucapku.
"Hmmmm..." Jawabnya, kemudian menatapku.
"Iisshhh... Ribet banget gw manggil nama lu tuh! Gw panggil lu Joon aja, yah!" Umpatku.
Entahlah, aku menjadj sedikit kesal ketika mengucapkan namanya.
"Apa?" Young Joon terlihat kebingungan.
"Oppa..." Ucapku.
Young Joon menatap mataku dalam.
Aku tahu dia terkejut mendengarku mengucapkan itu.
"Gosah baper! Gw manggil lu oppa, cuma kalo di depan bokap-nyokap kita doank! Ngerti, lu!" Ketusku
"Apa yang kau bicarakan?" Young Joon terlihat semakin bingung.
"Aku akan memanggilmu Joon, bagaimana?" Kataku.
Young Joon terlihat berpikir, sebelum akhirnya berkata.
"Bukankah tadi kau memanggilku oppa?" Protesnya.
Aku menarik nafas dalam, dan menghelanya kasar
"Aku akan memanggilmu oppa, hanya jika kita sedang berada di depan orang tuamu, atau orang tuaku."
"Mengapa seperti itu?" Protesnya lagi
"Ya suka-suka gw, lah!" Ketusku
"Mengapa kau selalu berbicara dengan bahasa Indonesia kepadaku? Kau pikir aku mengerti!" Young Joon terlihat kesal sekali
"Karena aku tidak mengerti bahasa Korea, makanya aku berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia!" Ketusku
"Aiiisshh! Gadis ini!" Sinis Young Joon
"Joon, begini..." Aku sedikit ragu untuk melanjutkan kata-kataku.
"Hmmm..." Young Joon kembali menatapku.
Tatapannya membuatku semakin ragu untuk melanjutkan ucapaanku
"Joon, be-begini..." Ucapku lagi
"Iya, apa?" Young Joon terlihat sedikit kesal
"Baiklah.... Joon, be-be..."
"Begini? Itu lagi? Apa kau hanya akan mengucapkan kata-kata itu, sampai akhirnya kita pu... "
"Bagaimana dengan kuliahku?" Aku segera menyela ucapan Young Joon, dan itu membuatnya sedikit terkejut, hingga bingung mau menjawab apa.
Aku menatap wajahnya yang kini terlihat sangat terbebani dengan pertanyaanku tadi.
"Apakah aku dapat kembali ke Amerika, untuk melanjutkan kuliahku?" Ucapku memastikan.
Young Joon menatap dalam ke arah mataku, alih-alih langsung menjawab pertanyaanku.
"Jenny... Dapatkah kau..."
"Kau hanya harus menjawab, ya, atau tidak." Aku segera menyela ucapan Young Joon.
Young Joon menarik nafas dalam, lalu membuangnya perlahan.
"Jenny, aku baru saja di pindah tugaskan disini..." Ucap Young Joon, dia tampak berpikir sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Dapatkah kau memberiku waktu?" Jika dilihat dari raut wajahnya, Young Joon terlihat seperti merasa tidak enak kepadaku, setelah berkata demikian.
"Jenny, aku..."
"Baiklah, Joon... Aku mengerti."
...****************...
Setelah beberapa hari ini, aku menyadari ada yang sedikit berubah antara aku dan Young Joon.
Setidaknya kami sudah mulai bisa berbincang lebih banyak, dan juga, aku sudah tidak terlalu merasa canggung ketika berhadapan dengannya.
"Jenny, dapatkah aku menyimpan nomor ponselmu?" Ucap Young Joon menoleh sekilas ke arahku dari kursi kemudi.
"Hmmm...?" Aku menoleh ke arahnya
"Akan aneh rasanya jika kita tidak menyimpan nomor kita masing-masing." Ucap Young Joon.
Benar apa yang dikatakan oleh Young Joon!
Aku segera meraih ponsel dari dalam sling bag ku.
"Ah, baiklah! Berapa nomormu?" Kataku, menoleh ke arahnya.
Young Joon menatapku sekilas, lalu tersenyum.
"Nanti saja... Aku akan menyimpan nomormu lebih dahulu, begitu kita sampai di rumahmu." Ucapnya sambil tersenyum.
Aku tersenyum kecil, kemudian mengangguk samar
"Aah... Baiklah." Sahutku, kemudian kembali menatap ke arah jalan.