
Kami sudah berjalan kurang lebih 15 menit dari tempat kami memarkirkan mobil kami tadi.
Ku pikir, ini sama saja seperti kami sedang mendaki gunung, mengingat medan yang harus kami lalui.
Jalan yang menanjak, bebatuan terjal, serta pepohonan! Yang membedakan hanyalah, setidaknya ada beberapa anak tangga yang memudahkan kami untuk mencapai tujuan kami.
Sepanjang perjalanan, aku tidak henti-hentinya mendengar keluhan beberapa temanku, terutama Clara dan Gina, yang saat ini tengah menenteng high heels mereka.
"Ya kan gw udah bilang sama lu berdua, pake sepatu!" Ujar Denis terlihat kesal.
Kami semua tertawa melihat perselisihan antara Denis, Clara, dan Gina
"Ya inikan gw juga udah pake sepatu, kali!" Ketus Gina
"Ya tapi, bukan sepatu hak juga, kali! Lu pikir lu mau fashion show! Hahahahahahahaha!" Sahut Angga menimpali, disambut tawa oleh kami semua yang ada disana.
Aku menoleh ke arah Young Joon yang sedari tadi berjalan di sampingku sekilas.
Dia tersenyum, seolah mengerti apa yang saat ini terjadi.
"Mengapa kau tersenyum?" Ucapku kembali menatap ke depan.
"Hah? Umm..." Aku kembali menoleh ke arahnya yang kini terlihat sedikit salah tingkah, dan masih terus berjalan, hingga akhirnya aku tergelincir!
Beruntung Young Joon dengan sigap menahan tubuhku, teman-temanku yang lain menghentikan langkah mereka, dan segera menghampiri kami.
Aku segera menegakkan tubuhku.
"Lu kenapa, Pel!" Denis terlihat khawatir
"Nggak papa ko'... Young Joon, Thank's, ya..." Ucapku kepada Young Joon, yang masih terlihat khawatir.
"Gw nggak papa, ko'! Yuk, lanjut lagi!" Seruku kepada Denis dan yang lain
"Lu yakin, lu nggak kenapa-kenapa? Kita bisa istirahat dulu sampai lu benar-benar..."
"Gw nggak kenapa-kenapa, Denis..." Ucapku, kemudian merangkul Denis, dan mengajaknya melangkah.
"Tuh, lihat kan! Gw bisa jalan, ko'!" Kataku.
Denis yang awalnya ragu, akhirnya mengangguk, dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.
Setelah menempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di sebuah air terjun yang luar biasa indah!
Kami semua dibuat takjub dengan pemandangan yang luar biasa menakjubkan ini!
Perjalanan kami terbayar dengan pemandangan yang sungguh luar biasa ini!
Air terjun yang cukup besar, suasana alam yang masih sangat alami, serta...
"Sumpaah!!! Keren banget!" Clara merangkulku, seraya menatap ke arah air terjun.
Aku menoleh ke arahnya
"Lu nggak nyesel?" Ucapku
"Nggak sama sekali!" Jawab Clara, masih menatap air terjun
"Biarpun kaki lu pada lecet gegara jalan tanpa alas kaki?" Ujarku memastikan, dan Clara menggeleng
"Nggak sama sekali!" Ucapnya kemudian tersenyum kepadaku.
"Berenang, yuk!" Ajak Clara, aku tersenyum
"Gih, duluan! Gw mau foto-foto dulu." Sahutku.
Clara kemudian mengangguk, dan berlari ke arah air.
Aku tidak dapat menyia-nyiakan kesempatan ini, dan mengambil banyak sekali foto untuk ku abadikan.
Tidak banyak pengunjung disini, mungkin karena medan untuk menuju kesini yang cukup jauh, dan terjal, di tambah lagi, sekarang bukanlah akhir pekan.
Ketika aku sedang mencari angle dan hendak membidik sasaran fotoku, Young Joon tiba-tiba muncul di hadapanku sambil tersenyum, dan entah mengapa, jariku secara reflek menekan tombol bidik kamera.
Aku segera melihat hasil gambarnya, dan ya!
Foto Young Joon tersenyum, ada di layar kameraku.
"Bagaimana hasilnya? Apakah aku terlihat tampan?" Ucap Young Joon menoleh ke arah layar kameraku.
Aku segera menjauhkan kameraku darinya
"A-apa yang kau lakukan!" Ketusku
"Aku hanya sedang melihat-lihat keadaan sekitar, hingga akhirnya aku melihatmu sedang mengambil gambar." Ucapnya santai, dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku sweater nya, kemudian menoleh ke arah air terjun.
Entah mengapa, aku terkesima melihat penampilan Young Joon.
Dia terlihat cukup keren dengan celana cargo selutut berwarna navy, dan sweater hoodie abu-abunya.
Benar apa yang di katakan Gina, Young Joon memang sangat tampan!
Bahkan hanya dengan pakaian yang sederhana seperti ini sekalipun, dia sudah sangat tampan!
"Jenny..." Young Joon melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajahku, dan aku segera tersadar dari rasa terkesimaku.
"Aahh... I-iya.. Ada apa?" Jawabku gugup, Young Joon mengerutkan kedua alisnya
"Kau kenapa?" Tanya Young Joon heran
"Ng... Ng... Itu..." Aku mengusap belakang kepalaku dengan ujung jariku. "Aku..."
"Mau berenang?" Ucapnya
"Aaahhh... Ide yang bagus! Ayo!" Ujarku
...****************...
Aku duduk di atas bebatuan, dengan posisi kaki yang terendam di dalam air, sambil terus memperhatikan keseruan teman-temanku.
Young Joon yang sedari tadi mengabadikan momen keseruan kami, kini menghampiriku.
"Ini menyenangkan sekali!" Katanya, sambil menatap ke layar kameranya, kemudian duduk di sampingku
"Hmmm..." Aku tersenyum, dan Menoleh sekilas ke arahnya
"Apa kau menyukai tempat ini?" Young Joon tersenyum menatapku, dan akupun menatapnya dan mengangguk. "Bagaimana jika kita berbulan madu disini?" Ucapnya penuh semangat, membuatku menghilangkan senyumku perlahan
"Maaf?" Kataku, dan itu membuat Young Joon turut menghilangkan senyumnya
"Ummm... Maksudku... "
"Joon, ah! Young Joon, atau Park Young Joon... Atau apapun..."
"Joon? Itu cukup bagus! Aku menyukainya!" Ucapnya kembali tersenyum penuh semangat!
Aku benar-benar dibuat heran dengan tingkah laki-laki ini, hingga membuatku menghela nafas kasar, dan tersenyum kesal!
"Apa maksudmu?" Tanyaku memastikan.
Young Joon kembali menghilangkan senyumnya, dan bahkan kini memasang wajah serius sambil terus menatapku.
"Dengar, pernikahan kita akan berlangsung sekitar dua minggu lagi." Ucapnya serius, dan ini membuatku sedikit terhenyak.
"Kedua orang tuaku, pagi tadi menghubungiku, dan mengatakan bahwa mereka, beserta kedua orang tuamu sedang mempersiapkan pernikahan kita." Young Joon melanjutkan, dan aku sungguh tak percaya atas apa yang baru saja Young Joon ucapkan, hingga membuatku membekap mulutku.
Young Joon terlihat merasa bersalah kini. Dia tertunduk lesu
"M-ma-maafkan aku, hanya saja... "
"Young Joon..." Ucapku lirih
"Hmmmm..." Young Joon kembali menatap wajahku
"Apa kau merasa terpaksa, atas pernikahan ini?" Ucapku menatap dalam matanya.
Young Joon terlihat terkejut mendengar pertanyaanku. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan. Young Joon kini tersenyum.
"Aku tidak pernah melakukan suatu hal karena terpaksa, karena itu bertolak belakang dengan prinsipku." Ucapnya, kemudian berdiri.
Saat dia hendak melangkah, aku segera berdiri menghadangnya.
"Apa yang ingin kau ketahui lagi, nona?" Ucapnya.
Wajahnya sungguh manis sekali!
Dan dapat ku rasakan, wajahku memanas kini.
"Ciiiieeeeeeeeeeeee.....!!!" Teman-temanku kini bersorak menatap adegan ini, membuat kami salah tingkah, dan menoleh ke arah meraka, kemudian akhirnya bergabung bersama mereka.
...****************...
Pukul 5 sore, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke Villa.
Dan aku dengan tanpa ragu memutuskan untuk pulang bersama Young Joon.
Sepanjang perjalanan, Young Joon tak henti-hentinya tersenyum, entah karena apa.
Mungkin karena kami semua bersenang-senang tadi!
Tentu saja!
Aku terus menerus menatap layar kameraku, untuk melihat satu per satu hasil bidikanku, sambil tersenyum.
Dan saat aku melihat foto Young Joon yang tak sengaja ku bidik tadi, aku terpaku.
Aku terus memandanginya, bahkan senyumku semakin mengembang karenanya.
"Kau terlihat bahagia sekali?" Ucapan Young Joon membuatku gugup, dan tanpa sengaja membuatku menekan tombol off pada kameraku.
"Aahh... I-itu..." Kataku, kemudian tersenyum konyol menoleh ke arah Young Joon.
"Kau ini kenapa? Semenjak di air terjun tadi, ku perhatikan kau sering sekali melamun, bahkan tersenyum sendiri! Jangan-jangan kau... "
"Kesurupan, maksud lu!" Ketusku kepadanya, kemudian kembali menoleh ke jalan karena kesal!
"Apa yang kau katakan?" Ucap Young Joon heran
"Apa maksudmu berkata demikian, huh!" Sinisku kembali menolehnya.
Young Joon mengusap belakang kepalanya kini.
"A-aku hanya... "
"Hanya senang mencampuri urusan orang lain!" Ketusku lagi.
"Bu-bukan begitu... Hanya saja, aku merasa sikapmu hari ini begitu aneh." Ucapnya sambil sesekali menoleh ke arahku.
Aku termenung mendengar ucapan Young Joon tadi.
Benar apa yang dia katakan!
Aku memang banyak melamun hari ini. Dan semua lamunanku adalah tentangnya... Tentang Young Joon... APA?! Aku secara reflek mengacak-acak rambutku dengan kedua tanganku, dan itu membuat Young Joon semakin mencemaskanku, hingga akhirnya, Young Joon menepikan mobilnya.
Begitu mobilnya berhenti, Young Joon segera membuka sabuk pengamannya, dan memegang kedua bahuku.
"Kau kenapa?! Ada apa denganmu?!" Young Joon benar-benar terlihat sangat mengkhawatirkan keadaanku!
Aku menatap wajahnya yang kini berjarak sangat dekat dengan wajahku.
Jantungku serasa berhenti berdetak, melihat wajahnya dengan jarak sedekat ini, dan ini membuatku menelan ludah.
"A-aku..." Young Joon meletakkan telapak tangannya di dahiku.
"A-aku baik-baik saja... Dapatkah kita melanjutkan perjalanan kita?" Kataku.
Young Joon segera melepaskan tangannya dari dahiku.
"Apa kau yakin?" Ucap Young Joon memastikan, dan aku mengangguk.
"Baiklah." Katanya, lalu kembali memakai sabuk pengaman, kemudian melajukan kembali mobilnya.
...****************...
Sesampainya di Villa, aku memilih untuk langsung ke kamar, untuk mengemasi barang-barangku, mengingat besok kami akan kembali ke Jakarta.
Sambil berkemas, aku kembali mengingat rentetan kejadian hari ini.
Bukankah aku bersenang-senang hari ini?
Bahkan aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa!
Aku bahkan benar-benar melupakan kesedihanku atas kepergian nenek!
Tidak ada yang salah dengan itu semua!
Lalu mengapa aku termenung?
Dan mengapa aku tersenyum sendiri?
Bukankah aku lebih banyak tertawa lepas, dibanding hanya tersenyum sendiri, atau termenung?
Mengapa ucapan Young Joon tadi membuat mood ku menjadi tidak karuan begini?
"Jen! Besok lu bisa nggak ke apartemen gw dulu?" Clara tiba-tiba datang, dan langsung duduk di hadapanku.
"Ada apaan emang?" Jawabku, kemudian meletakkan tas ranselku di samping ranjang, lalu duduk di samping Clara
"Besok kan kita balik pagi-pagi, nah siangnya nyokap gw nyuruh gw nganterin lu buat fitting baju gitu! Nah, gallery nya kan nggak jauh dari ru..."
"Tunggu dulu..." Aku segera menyela kata-kata Clara. "Fitting baju?" Aku kembali memastikan kata-kata Clara, dan Clara mengangguk.
"Baju apaan?"
"Ya baju nikah lu, laaahh! Masa' iya baju nyinden! Lu kan bukan sinden! Gimana sih lu!" Ketus Clara, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Aku segera menghampirinya, dan menarik selimut yang baru saja menutupi tubuhnya.
"Ra! Bangun dulu! Jelasin dulu!" Ucapku sedikit memaksa. Clara terlihat kesal sekali, kemudian bangun dan terduduk
"Jelasin apaan lagi sih, Jennifer! Kan udah jelas!" Ketus Clara lagi, kemudian kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
Aku yang masih belum puas atas jawaban Clara, kembali mengusiknya.
"Ra! Issshh! Yang beneran dikit kenapa sih! Ra! Iiihhh!!!" Clara seolah tak peduli.
Ini membuatku semakin bingung! Mengapa kedua orang tuaku tidak mengatakan apapun kepadaku?
Ada apa ini sebenarnya?! Ada apa dengan mereka!
...****************...
Keesokan harinya, ketika aku baru saja keluar dari kamarku, hendak mempersiapkan sepeda motorku, tiba-tiba Denis menghampiriku dengan sedikit tergesa-gesa.
"Pel, gw bisa minta tolong sama lu, nggak?" Ucapnya sedikit gugup. Wajahnya terlihat sedikit tegang
"Tolong apaan, Den?" Tanyaku
"Gu-gw pake motor lu, ya! Gw janji, sore pasti gw balikin!" Denis sedikit memohon kepadaku.
"Iya, tapi untuk apa?" Ucapku memastikan
"Gw harus nemuin Elma, Pel... Please..." Denis terlihat frustrasi, dan membuatku menjadi iba kepadanya.
Bagaimana tidak! Denis sangat mencintai kekasihnya itu, namun apa daya, kedua orang tua Elma tidaklah menyetujui hubungan mereka, karena perbedaan keyakinan diantara mereka.
Dan kemarin, saat perjalanan menuju air terjun, Denis sempat bercerita kepadaku, bahwa Elma akan pergi ke Belanda untuk melanjutkan kuliahnya disana, namun Denis tidak mengetahui secara pasti, kapan Elma akan pergi, hingga akhirnya dia menghampiriku pagi ini, untuk memberi kabar bahwa kekasihnya akan pergi hari ini.
"Yaudah, lu pake nih motor gw." Ucapku sambil memberikan kunci sepeda motorku.
"Thank's banget ya, Pel! Gw pergi sekarang, ya!" Denis segera berlalu sesaat setelah aku mengangguk.
Setelah beberapa menit Denis berlalu, aku akhirnya menyadari suatu hal
"Laaahh! Kalo Denis make motor gw, terus gw pulang naik apa?" Kataku seraya mengusap belakang kepalaku.
"Aku akan mengantarmu pulang." Young Joon tiba-tiba berdiri di sampingku, dan aku menoleh ke arahnya.