
Pukul 19.45, Young Joon belum juga pulang. Entah mengapa, kejadian tadi pagi membuatku merasa gelisah sepanjang hari ini!
Aku berkali-kali menyentuh keningku, bahkan keluar masuk kamarku!
Ya Tuhan! Hari ini, hanya itu yang ku lakukan sepanjang hari ini!
Aku bahkan tidak berniat sedikitpun untuk keluar rumah, hanya untuk sejenak melupakan kejadian pagi tadi!
Aku kembali melihat ke arah jam dinding, ya Tuhan! Sudah pukul 19.55! Mengapa Young Joon belum juga pulang?!
Aku berjalan menuju dapur, berniat untuk minum, agar rasa kalutku sirnah.
Begitu meletakkan gelas, selepas minum, pintu apartemenku tiba-tiba terbuka, aku secara reflek berlari kecil menuju kamarku, namun terlambat! Young Joon sudah terlanjur masuk ke dalam, dan menangkap basah diriku yang saat ini tengah memegang kenop pintu.
Dia terpaku menatapku yang saat ini menatapnya dengan senyum yang sungguh sangat di paksakan.
"Je-Jenny, aku..."
"Aaahhh... Kau sudah pulang..." Kataku sedikit gugup, kemudian menelan ludah sangking gugupnya.
Young Joon tersenyum, kemudian mengusap belakang kepalanya, seolah menutupi rasa gugupnya.
Hening sejenak, hingga...
"Jenny!"
"Young Joon!"
Kami mengucapkan nama kami masing-masing secara bersamaan!
"Kau dulu!" Lagi-lagi kami berucap secara bersamaan, hingga menambah kecanggungan diantara kami.
Young berjalan ke arahku, sesaat setelah melepas sepatunya, dan jujur saja, jantungku berdegup sangat kencang saat ini! Bahkan wajahku, itu terasa amat panas!
"Ummmm... A-apakah kau su-sudah makan?" Ucapnya ragu.
Rasanya berat sekali untuk sekedar mengangkat wajahku untuk menatapnya!
"Je..."
"Ya!" Aku secara reflek menyela ucapannya, kemudian menatap wajahnya!
Tampan... Young Joon, laki-laki yang saat ini telah berstatus sebagai suamiku, sungguh teramat tampan!
Aku terkesima, lagi...
Guratan wajah lelahnya... Aroma parfum yang bercampur dengan keringatnya, entah mengapa, membuatku ingin sekali berlama-lama berada di dekatnya...
Apakah aku begitu murahan, jika aku menginginkan Young Joon untuk mendekapku saat ini? Ya Tuhan...
"Jenny..." Ucapnya sambil menatapku lembut
"Hmmmmmm....?" Jawabku, masih terus menatapnya.
Young Joon mendekatkan wajahnya, dan sedikitpun aku tidak berniat untuk memalingkan wajahku! Bahkan kalau boleh jujur, aku akan dengan senang hati menerima ciuman pertama darinya, andai saja...
YOUNG JOON MENGECUP BIBIRKU!!!
Bukankah aku baru saja... Tidak! Semakin panas disini! Kecupannya kini telah berubah menjadi ******* liar! Tangan kanannya kini telah berada di kepala belakangku, sedangkan tangan kirinya mengelus lembut pipiku.
Kedua tanganku kini telah merengkuh wajahnya!
Semakin panas disini! Young Joon kini membuka pintu kamarku, dan mengangkat tubuhku, hingga aku melingkarkan kedua kakiku di pinggangnya...
Masih, kami masih berciuman dengan panas! Bahkan semakin panas!
Young Joon menjatuhkan tubuhku di atas ranjang, tanpa melepaskan ciuman kami!
Ini sungguh panas! Benar-benar panas! Bahkan ketika Young Joon melepas ciumannya, aku seolah merasa kecewa atas sikapnya!
Namun ketika Young Joon melepas dasinya, kemudian kancing kemejanya satu per satu, aku seolah menyadari, apa yang akan terjadi selanjutnya!
Young Joon, tidak! Tidak hanya Young Joon! Bahkan aku! Ya, kami! Kami menginginkan lebih dari sekedar ciuman! Bukankah sah-sah saja?! Toh kami telah resmi menjadi suami-istri!
Ketika kemeja Young Joon telah terlepas, dan dia tampak hendak 'menerkamaku'...
"Jenny?" Young Joon menatapku dengan tatapan lembutnya. Tangannya kini berada di pipiku
"Hhmmmmm...?" Aku menyentuh tangannya, yang masih mengusap lembut pipiku.
Young Joon semakin mendekatkan wajahnya kepadaku, namun...
Aku segera menarik nafas dalam, dan menghelanya kasar, sesaat setelah memalingkan wajahku darinya! Itu membuat Young Joon melepaskan sentuhan tangannya di pipiku, kemudian mengusap belakang kepalanya!
Aku mengelus-elus dadaku!
Tapi yang tadi, saat Young Joon mengusap lembut pipiku, dan mendekatkan wajahnya kepadaku, itu bukanlah fantasi! Itu nyata!
Semakin panas disini!
"Yo-Young Joon, a-aku..." Kataku seraya membuka pintu kamarku, hendak masuk ke dalamnya, namun Young Joon dengan sigap menggapai tanganku
"Jenny..."
Aku menoleh ke arahnya, jujur saja, jantungku berdegup hebat saat ini! Bahkan dapat ku rasakan, pipiku amat panas! Dan Young Joon... Wajahnya memerah!
"Ya, a-ada apa?"
"Ummmm... Ba-bagaimana kalau kita makan malam di luar? A-aku..."
"Baiklah!" Kataku kemudian melepaskan tangannya, kemudian menutup pintu kamarku.
POV Young Joon
Perlu waktu untuk mempersiapkan diriku mememui istriku, mengingat kejadian pagi tadi.
1 jam berada di lobby apartemen, sungguh sangat membosankan untukku!
Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk pulang! Ya! Aku akan menghadapi istriku!
Aku akan berlutut di hadapannya, jika dia memaki diriku atas kejadian tadi pagi, namun jika nyatanya dia tidak marah...???
"Aaaarrrrggghhhh!!!" Aku mengacak-acak rambutku, ketika pintu lift telah terbuka.
Lebih mudah menghadapinya ketika dia mengumpat, dibandingkan dengan sikapnya yang 'biasa saja' atas perlakuan 'lancangku' terhadapnya!
Aku telah berada di depan pintu apartemenku, dan benar-benar mempersiapkan diriku, untuk menghadapi Jennifer.
Dan saat ku buka pintu unit ini, dapat ku saksikan Jenny hendak masuk ke kamarnya.
Gugup! Tentu saja! Karena dia tidak memaki!
Ini semakin terasa aneh, terlebih, di saat kami berucap secara bersamaan! Aaahhh... Hatiku semakin tidak karuan dibuatnya!
Aku berjalan ke arahnya, sesaat setelah melepas sepatu. Jantungku berdegup sangat kencang saat ini!
"Ummmm... A-apakah kau su-sudah makan?" Ucapku ragu.
Aku menatap wajahnya yang sedikit tertunduk, seolah enggan untuk menoleh kepadaku
"Je..."
"Ya!" Dia secara reflek menyela ucapanku, kemudian menatap wajahku!
Raut wajahnya, entah bagaimana aku dapat menggambarkannya, satu hal yang pasti, menatap wajahnya seperti ini, membuat hasratku menggelora... Dia seolah mempersilakanku untuk mengecup bibir mungilnya...
Aku membelai lembut pipinya, dan di tidak bergeming... Bahkan matanya, tidak sedikitpun berkedip menatapku!
"Jenny?" Kataku, masih menatapnya dengan tatapan lembut.
"Hhhmmmm....?" Jenny menyentuh tanganku, yang masih mengusap lembut pipinya.
Aku semakin mendekatkan wajahku kepadanya, namun...
Jenny segera menarik nafas dalam, dan menghelanya kasar, sesaat setelah memalingkan wajahnya dariku! Itu membuatku melepaskan sentuhan tanganku di pipinya, kemudian aku mengusap belakang kepalaku! Oh Tuhan!
Jenny tampak mengelus-elus dadanya!
"Yo-Young Joon, aku..." Katanya seraya membuka pintu kamarnya, hendak masuk ke dalamnya, namun aku dengan sigap menggapai tangannya.
"Jenny..."
Dia menoleh ke arahku, jujur saja, jantungku berdegup hebat saat ini! Bahkan dapat ku rasakan, pipiku amat panas! Dan Jenny... Wajahnya memerah!
"Ya, a-ada apa?"
"Ummmm... Ba-bagaimana kalau kita makan malam di luar? A-aku..."
"Baiklah!" Katanya kemudian melepaskan tanganku, lalu menutup pintu kamarnya, sesaat setelah masuk.
Aku hampir saja terjatuh saat ini! Bagaimana tidak! Aku hampir saja kehilangan kendaliku ketika menatap wajah cantiknya di hadapanku!
Jika saja dia mengizinkanku untuk menyentuh bibir mungilnya tadi, dapat ku pastikan, tidak hanya bibir mungilnya yang akan ku sentuh, namun...
Aaarrrgghhh!!! Aku harus bersiap sekarang!!! Bukankah tadi aku mengajaknya untuk makan malam di luar, dan dia menyetujuinya?!
Young Joon bodoh! Kau terlalu naif jika menginginkan hal lebih darinya!