Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Young Joon Mengantarku ke Kampus



Sudah 2 minggu orang tua kami berada disini. Sejujurnya, aku bahagia ketika mereka berada disini.


Hari-hariku menjadi semakin terasa berwarna!


Selain diriku yang harus dengan berat hati berbagi kamar dengan Young Joon, selebihnya, aku bahagia berada di dekat mereka!


Mama dan eomma selalu saja berdebat tentang sikapku kepada Young Joon, seperti saat ini!


"Jen, emang kamu nggak pernah masak untuk Young Joon?" Ucap mama, sedikit mengerutkan keningnya.


Aku menoleh ke arahnya heran, kemudian menggeleng.


"Ya kalo sarapan si sering, tapi..."


"Aaaiisssshhh!!! Kamu tuh aneh banget ya, dik! Jenny itu kan mahasiswa! Tugas kuliah saja sudah membuat dia pusing! Masa mau di tambahkan dengan hal seperti ini!"


"Bu-bukan seperti itu, eomma..."


Eomma segera menghampiriku, dan membelai lembut pipiku.


"Young Joon itu, sudah dewasa! Lagi pula, begitu banyak tempat makan disini! Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal sepele seperti itu." Eomma tersenyum manis sekali.


"Tapi, kak... Itu akan bermasalah, jika Jenny tidak bisa..."


"Dik, biarkan saja... Dia akan belajar nanti, tapi tidak sekarang!" Eomma menyela ucapan mama, kemudian berjalan ke arah kulkas untuk mengambil bahan makanan yang akan kami gunakan untuk membuat sarapan.


Sedangkan mama, beliau menghela nafas, karena kehabisan kata-kata.


***********************


3 minggu begitu cepat berlalu... Hingga akhirnya kedua orang tua kami kembali ke negara mereka masing-masing.


Eomma dan mama begitu berat meninggalkanku.


Mereka tidak henti-hentinya memeluk serta mengecup keningku.


"Jaga diri baik-baik... Inget, kamu harus jadi istri yang baik!" Ucap mama di tengah tangis.


"Iya, ma... Aku usahain..." Ucapku tak kalah sedih


"Jangan cuma ngomong doank..."


"Heeeyyy!!! Sudah-sudah!" Eomma menyela ucapan mama, kemudian memelukku erat.


"Selalu kabari eomma tentang keadaanmu disini..." Beliau menguraikan pelukannya.


Aku segera menghapus air matanya, kemudian tersenyum.


"Pasti, eomma..." Kataku, kemudian eomma kembali memelukku.


"Beri tahu eomma, jika Young Joon bersikap keterlaluan kepadamu..." Tangis eomma semakin menjadi.


Aku membelai lembut punggung eomma, dan tak terasa, air mataku mengalir...


***************************


Benar apa yang di katakan nenek...


Aku akan mendapat sosok ibu mertua seperti nenek, jika aku menikah dengan Young Joon...


Nenek memang tidak pernah memberikan pilihan yang salah untukku.


Aku tersenyum tiap kali mengingat ucapan nenek, kala itu hingga, lagi-lagi senyumku mengusik Young Joon yang harusnya fokus mengemudi!


"K-kau kenapa?" Ucapnya sesekali menoleh ke arahku.


Aku memudarkan senyumku, kemudian menatapnya, karena salah tingkah.


"Ke-kenapa? Me-memangnya ada apa denganku?" Sahutku menoleh sekilas ke arahnya, kemudian kembali menatap lurus ke arah jalan.


"Kau tadi senyum-senyum sendiri lagi!" Ucapnya sambil meringis.


Aku memutar tubuhku ke arahnya, kemudian menatapnya dengan tatapan datar.


"Jadi maksudmu, aku telah kehilangan kewarasan?!"


Young Joon terlihat salah tingkah kini, hingga mengusap tengkuknya.


"Bu-bukan be..."


"Tuan Park! 7 bulan menjalani rumah tangga bersamamu, itu cukup membuat mentalku sedikit terganggu!"


Young Joon tiba-tiba menepikan, serta menghentikan laju mobilnya. Wajahnya cukup serius kali ini.


Dia terlihat mengatur nafasnya, sedangkan aku...


"Mengapa berhenti disini?" Kataku heran, masih menghadap ke arahnya


Young Joon tidak langsung menjawab.


Wajahnya terlihat menegang! Aku pernah melihat wajah itu, ketika kami di Indonesia!


Apakah, ucapanku tadi telah menyinggung perasaannya?


Aku terhenyak, sampai-sampai menyentuh bibirku dengan jemari!


Sejujurnya, aku merasa bersalah karena ucapanku tadi, hingga...


"Yo-Young Joon..."


"Aaaahhh..." Young Joon tiba-tiba tersenyum lebar, kemudian menghadap ke arahku!


"Aku lapar sekali! Rasanya seperti tertembak peluru, kau tahu!" Ucapnya dengan senyum konyol


APA!!!


Sikapnya tadi, membuatku menghela nafas kasar, berkali-kali!


Aku menatap sinis kepadanya, kemudian kembali memutar tubuhku ke posisi semula!


"Ka-kau kenapa?" Ucapnya tanpa rasa bersalah.


Aku menoleh ke arahnya kesal! Ingin rasanya meninju wajahnya!


"Hey! Mengapa menatapku seperti itu?" Ucapnya kemudian kembali ke posisi semula.


Young Joon sesekali menatapku ngeri.


"Je-Jenny... Jangan seperti itu, ku mohon..." Young Joon meringis, sambil menempelkan kedua telapak tangannya, pertanda memohon


"Ciissss!" Ketusku, kemudian kembali menatap ke arah depan.


Ku lihat sekilas, Young Joon tampak mengusap dada seraya menghela nafas lega.


"Kau tadi bilang bahwa kau lapar!" Sinisku, menoleh ke arahnya.


Young Joon terlihat gugup.


"Oohh... Aahh... I-itu..."


"Segera lajukan mobilmu ke tempat makan!" Ketusku


"I-iya... B-baiklah..." Ucapnya, kemudian buru-buru menyalakan mesin, lalu melajukan mobil.


**********************


Esoknya, ketika hendak berangkat ke kampus, Young Joon menghampiriku dengan sedikit meringis, seraya mengusap belakang kepalanya.


"Uummm... Jenny..." Ucapnya agak ragu


Aku yang baru saja menyentuh kenop pintu, segera menolehnya.


"Hmmm, ada apa?"


"Be-begini..."


"Ada apa?!" Ketusku, karena Young Joon terlalu bertele-tele.


"Mo-mobilku... Ummm... Maksudku, mobil inventaris itu, sedang di perbaiki..."


"Lalu?" Aku segera menyela ucapannya.


"Uuummm... Bolehkah aku meminjam mobilmu?" Young Joon agak meringis menatapku.


Aku menatapnya sekilas, kemudian tersenyum, lalu menyerahkan kunci mobilku kepadanya.


"Hmmm... Tentu saja! Ini!" Kataku, kemudian membuka pintu, dan berlalu, namun...


"Jenny..." Young Joon menghampiriku, kemudian berdiri di hadapanku.


Agak ragu dia untuk menatap wajahku.


"Ada apa?"


"Jenny... Kau mau kemana?"


"Tentu saja ke kampus! Apa lagi?!" Sinisku


"M-maksudku, kau..."


"Young Joon, ada banyak..."


"Aku akan mengantarmu!" Ucapnya dengan wajah ragu, namun nada bicara yang tegas.


Aku terhenyak... Hening, hingga...


"I-itu..."


"Ayo! Kita akan terlambat nanti!" Katanya kemudian berjalan ke arah mobilku.


Aku menarik sebelah sudut bibirku, karena merasa agak...


"Hey! Mengapa masih berdiri disana?! Ayo!" Ucapnya sedikit berteriak, melalui jendela mobil.


"I-iya..." Ucapku kemudian berjalan ke arah mobil


Aku langsung membuka pintu penumpang yang berada di belakang, dan dengan seketika, Young Joon menoleh ke arahku yang kini tengah memasang sabuk pengaman.


"Hey! Mengapa kau duduk disana?!" Young Joon terlihat kesal di balik roda kemudi.


Aku membelalakan mata, dan sedikit membuka mulutku.


"Hah! Apa maksudmu!" Jawabku


"Apa kau sedang membuatku terlihat seperti sopir pribadimu?!" Kesalnya lagi


"Apa maksudmu?! Lagi pula, bukankah kau membelikan mobil ini untukku?!" Sahutku tak kalah kesal!"


"Apa hubungannya dengan itu?!"


"Kau itu sedang meminjam mobilku! Terserah padaku, mau duduk dimana!"


"Apa..."


"Tunggu apa lagi! Aku akan terlambat jika kau tidak juga melajukan mobil ini!" Ucapanku tadi, membuatnya kehabisan kata-kata!


"Aaahhh... Iiissshhh!" Lenguhnya, kemudian menyalakan mesin, lalu melajukan mobil.


Sepanjang perjalanan, aku tidak henti-hentinya menahan tawa, melihat Young Joon yang sangat kesal!


Sesekali dia menatap tajam ke arahku melalui kaca spion dalam mobil, hingga akhirnya, kami tiba di depan kampusku.


Gawat!!! Ada Shierly disana!!!


Bisa kacau kalau sampai dia melihat Young Joon!


Apa jadinya jika dia mengetahui bahwa aku telah menipunya tentang ciri fisik suamiku?!


"Young Joon, berhenti disini saja!" Kataku seraya menepuk pundaknya.


"Apa lagi ini?!" Kesalnya, sesaat sebelum menghentikan laju mobil.


Young Joon menoleh ke arahku kesal.


Seketika aku memiliki ide, agar pria menyebalkan ini, tidak protes!


"Ada apa deng..."


"Oppa..."