Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Excuse Me?!



"Masakan ibu mertuaku, memang yang terbaik!" Young Joon menyatap makanan yang ada dihadapannya dengan sangat lahap.


Aku menoleh ke arahnya, yang sedang fokus menikmati santapannya.


"Kau ini, Young Joon! Membuat mama malu saja." Ucap mama tersipu.


Aku langsung menoleh ke arah mama, yang kini  tersipu malu.


"Habiskanlah, kalau kau menyukainya!" Mama tampak bersemangat


"Tuh, Jen! Kamu harus belajar masak sama mama! Biar Young Joon betah di rumah." Papa menoleh ke arahku, kemudian menyuap hidangannya.


Aku langsung menoleh ke arah papa, kemudian tersenyum, kemudian kembali menyantap hidanganku.


Saat makan keluarga seperti ini, aku memikirkan suatu hal.


Bagaimana jika mama dan papa mengetahui tentang perceraianku?


Aku tidak dapat membayangkan ekspresi wajah mereka yang sedih, ketika aku memberitahu mereka, tentang hal itu!


Aku tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi kepada mereka, setelah aku memberitahu tentang perceraianku.


Dan ini membuat nafsu makanku hilang seketika!


"Ma, kaya'nya aku lagi nggak enak perut, deh. Aku masuk dulu ya." Aku segera bangkit dari tempat dudukku.


Mereka semua terperanjat, kemudian mama tiba-tiba berkata.


"Jen, jangan-jangan kamu hamil, nak!" Ucapan mama menghentikan langkahku.


Mereka bertiga menatap ke arahku!


Aku termenung, mana mungkin itu terjadi hanya dalam waktu 5 hari?!


"Dari awal datang, kamu tuh kelihatan murung terus lho, nak!" Mama dan papa tiba-tiba menghampiri ku.


Mereka kini menatap wajahku.


"Kita ke dokter kandungan ya, sayang..."


Mama merengkug kedua pipiku, dan menatap penuh harap.


************************


"Belum ada tanda-tanda pembuahan, padahal kalau dihitung sejak terakhir kali berhubungan, seharusnya sudah terjadi pembuahan." Dokter kandungan menjelaskan seraya menatap layar yang berada di seberang tempatku berbaring.


Kedua orang tuaku, serta Young Joon menatap penuh harap ke arah monitor.


Mama dan papa kini saling menatap, begitupun aku dan Young Joon.


"Kesimpurannya, bagaimana, dok?" Young Joon memastikan.


Dokter kemudian melepaskan alat dari telinganya.


"Kemungkinan kalian terlalu lelah, hingga menghambat proses pembuahan." Dokter menatap wajah Young Joon.


"Lalu?" Kini giliran mama yang bertanya


"Kita akan lihat 1 Minggu lagi, Oya! Kalau bisa, kalian tahan dulu, ya." Dokter tersenyum ketika mengatakan hal itu, diikuti senyumnya mama dan papa, serta wajah salah tingkah aku dan Young Joon.


********************


"Mama nggak sabar nunggu seminggu lagi! Semoga aja kita dapat kabar bahagia! Ohya, kita harus menghubungi mama papa Young Joon!" Ujar mama.


Mama kemudian berinisiatif meraih ponselnya, aku hanya terdiam.


"Nah, betul itu!" Sahut papa.


Young Joon kemudian menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya.


"Ya, ayah dan ibuku harus mendengar berita bahagia ini!" Young Joon terlihat bahagia sekali.


Sedangkan aku?


Aku merasakan ada yang salah disini!


Diantara mereka, mungkin hanya akulah yang merasa tidak bahagia!


Aku mengkhawatirkan banyak hal!


Jika benar, pada akhirnya aku hamil...


Jika benar...


"Jen, mamanya Young Joon mau ngomong nih!" Ujar Mama kemudian menyerahkan ponselnya, dan aku meraihnya dengan agak ragu.


"Jenny... 我们听到了!天啊!经过等待,我们终于可以抚养孙子们了!(kita udah dengar! Ya Tuhan! Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami akan mendapatkan cucu!)" Eomma terdengar sangat bahagia diseberang sana.


Aku merasa sedikit sesak mendengar keceriaan eomma, dan aku dapat mendengar samar-samar suara appa memberi kabar kepada orang yang ada di sekitar sana.


"Ya ma, 医生说,我们必须在一周内到那里,以确认结果. (Dokter mengatakan bahwa kita harus ke sana dalam waktu seminggu untuk memastikan hasilnya.)" Mataku berkaca-kaca saat mengatakan hal itu.


Young Joon menyadarinya, dan segera meminta ponsel itu, aku segera menyerahkan ponsel mamaku kepadanya.


""마, 기도해 ... 난 정말 아들을 갖고 싶어! 그런 일이 생기면이 세상에서 가장 행복한 사람이 될거야.(bu, berdoalah... Aku sangat ingin memiliki seorang putra! Aku akan menjadi pria yang paling bahagia di muka bumi ini, jika itu terjadi.)" Mata Young Joon berkaca-kaca ketika berbicara kepada ibunya.


Walaupun aku tidak mengetahui pasti, apa yang mereka bicarakan, namun dapat ku pastikan, Young Joon sangat mengharapkan kehamilanku.


Young Joon meneteskan air mata, begitupun denganku.


Namun perbedaannya, Young Joon meneteskan air mata harapan yang penuh kebahagiaan, sedangkan aku, aku meneteskan air mata kepedihan.


*********************


Ini sudah hari ke empat, semenjak kedatangan kami ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan.


Aku datang bulan, yah... Aku merasa lega! Hingga melupakan banyak hal.


Aku mencari pembalut yang biasanya ku simpan di laci khusus perlengkapan pribadiku, nihil!


Aku lupa, sudah lama sekali aku meninggalkan rumah ini, dan itu tidak mungkin ku temukan disini.


Aku memutuskan untuk pergi ke mini market yang letaknya lumayan jauh dari rumahku.


Saat melewati ruang keluarga, tampak Young Joon tengah berbincang hangat dengan kedua orang tuaku.


Mama menyapaku


"Mau kemana, Jen?" Sapa mama


"Mau ke mini market, sebentar." Jawabku kemudian berlalu


"Mau beli apa, nak?" Sahut papa.


Aku menghentikan langkahku, kemudian menoleh ke arah papa


"Mau beli pembalut." Jawabku, kemudian aku termenung.


Aku kemudian menyadari tentang suatu hal! Bukankah mereka sedang menanti kabar tentang kehamilanku?


Bukankah 3 hari lagi kami akan kembali mengunjungi dokter kandungan, untuk memastikan kehamilanku?


Bukankah...


Aku menatap wajah kecewa mereka.


Mama kini telah meneteskan air mata.


Dan papa mengusap bahu mama, untuk menenangkan mama. Lalu Young Joon...


"Aku akan mengantar Jenny." Katanya kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan ke arahku, yang kini sedang terpaku, merasa bersalah.


"Ayo kita pergi." Young Joon meraih tanganku.


************************


Tatapan Young Joon kosong, alih-alih berkonsentrasi ketika mengemudi.


Aku mengerti maksud dari pertanyaannya.


"Apa kau mengharapkanku hamil sungguhan?" Aku menoleh ke arahnya, sedikit mengejek.


Young Joon tiba-tiba menepikan mobil, dan membuka sabuk pengaman, kemudian berbalik ke arahku.


"TENTU SAJA AKU MENGHARAPKANNYA!!!" Young Joon berteriak kepadaku.


Aku benar-benar terkejut melihatnya seperti ini!


"Apa kau tidak melihat, bagaimana ekspresi kedua orang tuamu barusan!!!" Young Joon masih meninggikan suaranya.


"Dan tentang orang tuaku????!!!!" Young Joon kembali ke posisi semula, kemudian memegangi kepalanya, serta sedikit menarik rambutnya dengan kedua tangannya.


"Mengapa kau dapat semudah itu mengatakan hal seperti itu!" Young Joon kembali menatapku tajam.


Mataku kini berkaca-kaca, dia berkata seolah-olah, akulah penyebab dari kekacauan ini! Aku tersenyum getir.


"TIDAKKAH KAU MEMILIKI SEDIKIT SAJA PERASAAN KETIKA..."


"APA INI SEMUA SALAHKUUU!!!" Aku berteriak kepadanya.


"JIKA AKU TIDAK HAMIL, APA INI KESALAHANKU???!!!" Aku kembali berteriak kepadanya


"BUKANKAH INI YANG KAU HARAPKAN..."


'Paaaaakkkk!!!'


Aku menampar wajahnya, sebelum dia melanjutkan ucapannya.


Tamparanku keras sekali, hingga membuat sudut bibirnya terluka.


Young Joon menatap wajahku nanar, dengan mata yang berkaca-kaca.


Dia sama sekali tidak menyentuh pipinya.


"Sadarlah akan suatu hal, tuan Park Young Joon... Aku ini, bukanlah istrimu lagi." Aku berkata dengan terbata-bata. Kemudian air mataku mengalir dengan deras setelahnya.


**********************


Aku dan Young Joon menenangkan mama yang kini tengah terisak di atas ranjang kamarnya, dan papa yang sedang berusaha menenangkannya


"Padahal mama udah bikin rencana sama mama Joon, kita mau ngerayain ini." Mama berkata sambil terisak


"Udahlah, ma... Mungkin belum waktunya..." Papa merangkul tubuh mama menenangkan


"Maafin aku, ma..." Ucapku lirih.


Aku merasa sungguh sangat menyesal, sampai meneteskan air mata, mama terdiam sejenak, kemudian memelukku.


"Ini bukan salah kamu, nak... Ini semua salah kami yang terlalu berharap banyak, dan cepat mengambil kesimpulan..." Mama kembali menangis.


Young Joon dan papa menatap keharuan kami. Mama melepas pelukannya, kemudian memegang wajahku dengan kedua tangannya.


"Jangan mikir yang macem-macem ya, sayang... Nggak ada yang nyalahin kamu disini! Ini murni jalan Tuhan." Mama memberi ku semangat.


Papa dan Young Joon tersenyum melihatku dan mama.


"Kalau begitu, bagaiman jika kami kembali ke apartemen kami di Kemang? Sepertinya Jenny membutuhkan waktu untuk menenangkan diri beberapa saat?" Young Joon tiba-tiba mengatakan hal yang menurutku tidak masuk akal.


"Maaf...?" Sahutku menatap wajahnya heran


"Aaahh, kau benar, Young Joon! Mungkin ini lebih baik! Papa pikir, kalian bisa saling merenung..."


"Pa...!" Aku menyela ucapan papa.


"Jen, papa perhatikan, semenjak kalian datang kesini, ada yang salah sama kalian." Kata-kata papa teduh, namun tegas


"Kita berdua baik-baik aja, pa... Ya kan, Oppa?" Aku segera menatap Young Joon, namun Young Joon terlihat kikuk.


"Jen, mama ini seorang ibu... Mama bisa ngerasain, kalau ada sesuatu yang salah, antara kamu dan suamimu." Ucap mama.


Aku menatap wajah mama.


"Kamu bilang, Young Joon nggak bisa ikut, ternyata dia datang sama kamu. Dan semenjak kamu datang kesini, mama lihat sikapmu ke Young Joon saat kamu disini tuh, beda sama sikapmu ke Young Joon di Amerika." Lanjut mama lagi.


Aku termenung mendengar kata-kata mama, kemudian berpikir, bahkan hal seperti ini saja, bisa membuat mama begitu sedih!


Bagaimana jika mama mengetahui kenyataan tentang...


Aku menatap wajah mama dalam, mataku berkaca-kaca melihat kesedihan mendalam yang tersirat di raut wajah mama.


*******************


"Aku mungkin akan kembali ke DC 2 hari lagi, aku hanya mengambil cuti selama 2 minggu." Young Joon berkata tanpa menoleh ke arahku, dan terus fokus mengemudi.


Aku tidak menghiraukan kata-katanya sama sekali.


Masa bodoh dengan itu semua!


Lebih cepat dia kembali ke Amerika, itu lebih baik!


Toh, aku tidak memintanya untuk datang kesini.


"Dan kau, kapan kau akan kembali ke Amerika?" Ucapan Young Joon kali ini mengusikku, aku menoleh ke arahnya


"Maaf?" Aku menatapnya dengan tatapan kosong, dan nada suara yang datar.


Young Joon menatapku sekilas, kemudian kembali menatap lurus ke depan.


"Apa kau tidak berniat..."


"Untuk apa aku kembali kesana?" Aku tersenyum getir ketika mengatakan itu, seraya menatap wajahnya yang tengah fokus mencari lahan parkir yang kosong di pelataran parkir apartemen kami.


"Urusanku sudah selesai disana! Dan aku tidak memiliki alasan apapun untuk kembali kesana." Ujarku dengan tatapan heran kepada Young Joon.


Young Joon menghentikan laju mobil ketika kami mendapatkan tempat parkir.


Dia mematikan mesin mobil, kemudian membuka sabuk pengaman, lalu berbalik ke arahku.


"Apakah kau tidak berniat untuk mencari pekerjaan disana?" Young Joon menatap wajahku yang kini sedang menatapnya heran.


"Kau dapat bekerja di perusahaanku, dan tinggal di rumah kita..."


"Rumah kita?" Aku menyela ucapannya.


Young Joon menarik nafas dalam. Hening, hingga...


"Ya, kau benar! Itu bukan lagi rumah kita..." YoungJoon terlihat lesu, lalu menatap ke bawah.


"Aku membelinya atas namamu, jadi, itu adalah rumahmu." Ucapnya kemudian menatap wajahku.


"Akulah yang harusnya..."


"Omong kosong!" Aku berbalik ke arah semula, seraya tertawa miris.


"Apa sebenarnya yang ada di dalam kepalamu, huh!" Sinisku.


Aku masih merasa benar-benar heran dengan laki-laki yang saat ini berada di sebelahku.


"Kau...!"


Young Joon menjawab dengan sangat yakin! Dia masih terus menatapku kini.


Aku benar-benar enggan menatapnya, hingga akhirnya aku memutuskan untuk melepaskan sabuk pengaman, berniat untuk segera keluar dari mobil untuk mengakhiri percakapan 'menyedihkan' ini, namun Young Joon dengan sigap menghalangiku!


Dia meraih tanganku, hingga aku menatapnya dengan tatatap marah.


"Jika aku pernah melakukan hal menyakitkan dan tidak masuk akal untuk mencegahmu pergi, maka sekarang aku akan melakukan hal gila, untuk membuatmu kembali ke pelukanku."


Young Joon berkata dengan sangat emosional, dan mata yang berkaca-kaca, diikuti dengan tatapanku yang penuh dengan kebencian!