
Young Joon mengibaskan rambutnya, dan dengan seketika, aku menghentikan tawaku!
Aku segera berbalik, namun tidak melangkah.
Aku termenung sambil menatap pintu keluar kamar ini.
Tidakkah sikapku begitu mengerikan?!
Sikapku begitu menakutkan, sesaat sebelum Young Joon tercebur ke dalam kolam renang!
Bahkan aku tertawa puas melihatnya terjatuh tadi!
Ya Tuhan! Bukankah aku tampak seperti seorang psikopat?!
Aku membelalakkan mata, serta membekap mulutku hingga...
"Apa yang kau lakukaaaaannn..."
'Byuuuuuurrrrrr!'
Siaallll!!! Young Joon membopong tubuhku, kemudian melemparku ke arah kolam renang dan...
'Byuuuuurrrrrrr!'
Dia pun ikut melompat ke dalam kolam renang itu!
Aku benar-benar dibuat kesal setengah mati olehnya!
Dan dengan wajah yang sama sekali tidak menampakkan rasa bersalah sedikitpun, dia tertawa terbahak-bahak sambil terus menatapku!
Kini dia berjalan ke arahku, sambil terus tertawa!
"Wajahmu... Hahahahahaaaaa!!!" Young Joon tertawa sambil menunjuk ke arah wajahku!
Itu membuatku semakin kesal, hingga aku meninju bahunya!
'Buuggghhh!'
"Aaaawwwww!" Pekiknya
"Apanya yang lucu!" Ketusku
Young Joon menatapku dengan tatapan aneh, kemudian berjalan mendekatiku! Jarak diantara kami benar-benar dekat, saat ini!
Young Joon masih menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku ungkapkan, dan membuatku melangkah mundur!
"A-apa yang kau lakukan?" Kataku ketakutan.
Young Joon mendekat, kemudian mencondongkan wajahnya kepadaku, hingga...
DIA MENGECUP BIBIRKU!!!
Tidak! Dia tidak hanya mengecup! Namun ********** dengan buas! Ini membuatku merasa sesak! Mataku terbelalak karenanya, namun Young Joon terpejam, dan nampak sangat menikmati tindakannya!
Tidak! Tidak!
Tangannya mulai meraba setiap inci tubuh bagian atasku!
Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi! Tidak! Aku tidak akan membiarkannya menyentuhku!
Aku harus melakukan sesuatu! Ya! Aku akan...
"Aaaaaarrrrrggghhhhh!!!!"
"Jenny, kau kenapa!" Young Joon berlari ke arahku!
Dia tampak sangat mengkhawatirkan keadaanku yang saat ini tengah menutup kedua telingaku!
Young Joon segera meraih kedua bahuku.
"Jenny, apa yang terjadi!" Ucapnya dengan wajah yang tegang
Aku menatapnya dengan tatapan ngeri!
Ya Tuhan!
Aku melepas tangan dari telingaku perlahan, kemudian menghela nafas lega.
"Jenny?" Young Joon memastikan
Aku menatapnya sejenak, sebelum akhirnya aku melepaskan tangannya dari bahuku.
"A-aku baik-baik saja." Kataku kemudian berlalu menuju tangga kolam renang, agar sesegera mungkin keluar dari kolam renang ini.
**********************************
Aku mengutuk diriku sendiri di depan cermin kamar mandi penginapan ini, sambil memukul-mukul keningku dengan telapak tangan.
"Jenny goblok! Lu gila, ya! Kenapa otak lu jadi ngeres gini sih!!!" Ucapku sambil meringis.
Entahlah, apa yang ku rasakan saat berada di kolam renang tadi, hingga bisa-bisanya aku berhalusinansi liar tentang Young Joon!
"Aaaaaahhhh! Jenny bego! Jenny tolol!"
Aku kembali memukul keningku dengan telapak tangan sambil meringis, hingga...
'Tok...! Tok...! Tok...!'
Suara ketukan mengejutkanku, sampai-sampai membuatku tersentak.
"Jenny, kau baik-baik saja?" Young Joon sepertinya masih mencemaskan keadaanku
"Joon, gw mau bilas badan!" Sinisku dengan suara lirih
"Apa?! Apa yang kau katakan?"
Ya Tuhan! Ada apa dengan pria ini! Sikapnya semakin membuatku putus asa!
"Young Joon, aku mau membersihkan tubuhku."
Lima belas menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi, setelah mengenakan kembali, pakaian yang sebelumnya telah ku letakan di dalam tempat pakaian kotor yang berada di dalam kamar mandi.
Young Joon yang sedang menyaksikan acara televisi, menatapku heran, ketika aku melintas di hadapannya.
"Mengapa kau menggunakan baju itu?" Ucapnya dengan kening yang sedikit berkerut.
"Aku tidak memiliki baju lagi." Kataku, kemudian meraih ponselku, lalu merebahkan tubuhku di atas ranjang.
"Bukankah Clara membawakanmu banyak pakaian di koper itu?" Ujar Young Joon sambil melirik ke arah koperku.
Aku segera terduduk, kemudian menatapnya dengan tatapan kesal!
"Young Joon! Koper itu hanya berisi lingerie dan..."
Aku terhenyak setelah mengucapkan kata-kata tadi.
Bodoh! Jenny bodoh!
Young Joon tampak mengangkat kedua alisnya, dan jujur saja, aku tidak dapat membaca apa arti dari ekspresi wajahnya saat ini.
"Baiklah, aku keluar sebentar! Apa kau mau ikut?" Ucapnya, sesaat setelah beranjak dari sofa.
Entahlah, aku sedang enggan untuk melakukan apapun, atau pergi kemanapun saat ini!
"Kau pergilah sendiri, ku pikir aku mau menonton acara televisi." Jawabku dengan senyum seadanya.
"Baiklah." Kata Young Joon, kemudian berlalu.
Aku masih menatap ke arah pintu keluar, kemudian memastikan bahwa Young Joon benar-benar telah pergi.
15 menit tanpa melakukan apapun, nyatanya membuatku benar-benar bosan!
Young Joon juga belum kembali, entah kemana dia pergi! Memikirkan itu saja, kembali membuatku kesal kepadanya... Namun, bukankah tadi dia mengajakku, namun aku menolaknya?
"Aaahhhhh....!"
Aku kembali mengutuk diriku sendiri!
Baiklah! Aku segera meraih slingbag-ku, ku pikir aku akan menghirup udara segar beberapa saat, tidak lupa ku bawa kamera kesayanganku, berharap ada objek yang dapat ku abadikan melalui bidikan kameraku.
***********************
Aku tidak tahu, sudah sejauh mana aku melangkah, hanya saja, yang ku rasakan saat ini adalah, lelah!
Saat ini aku telah duduk di atas bukit dengan pemandangan hamparan sawah yang indah, sambil meneguk air mineral kemasan yang ku beli di sebuah kios pinggir jalan menuju kesini.
Aku meraih ponsel dari dalam slingbag-ku, Wow! Sudah pukul 14.25! Sesaat sebelum pergi tadi, aku sempat melihat ke arah jam dinding di penginapan, dan itu adalah pukul 9.47, itu tandanya aku telah berjalan selama hampir 5 jam!
Pantas saja aku merasa lelah sekali! Namun masa bodoh!
Aku segera melihat hasil bidikanku sepanjang perjalanan tadi, melalui kameraku, hingga tiba-tiba...
"Permisi, nona..." Seorang gadis asing menyapaku
Aku menoleh ke arahnya, kemudian segera bangkit dari dudukku.
"Ya, ada apa?" Jawabku ramah
Gadis asing itu tersenyum ramah kepadaku. Tidak! Dia tidak sendiri! Ada seseorang bersamanya, mungkin pacarnya, atau mungkin temannya, atau...
"Dapatkah kau mengambil gambarku dan juga suamiku?" Katanya agak sungkan
Aku tersenyum dan mengangguk
"Tentu saja! Berikan kameramu!" Kataku dengan semangat
Gadis itu tersenyum riang, kemudian memelukku
"Terima kasih!" Katanya menguraikan pelukan, kemudian memberikan kameranya kepadaku, lalu berjalan ke arah suaminya.
Ketika membidik berbagai pose mereka, sejujurnya aku juga membayangkan, andai aku dan Young Joon dapat seperti mereka... Begitu menikmati suasana romantis seperti ini.
Gadis itu, beserta suaminya menghampiriku, hendak melihat hasil bidikanku.
"Bagaimana hasilnya?" Katanya sambil melirik ke arah kameranya yang masih ku pegang.
"Ah, i-itu... Kalian sempurna sekali!" Jawabku, kemudian menyerahkan kameranya.
Gadis itu menatap dengan antusias hasil bidikanku di kameranya. Sesekali dia menatap wajah suaminya, hingga akhirnya mereka saling berpelukan dan berciuman.
Jujur saja, aku merasa sangat canggung saat ini, hingga...
"Ini adalah bulan madu terbaik, sayang... Aku sangat mencintaimu..." Ucap gadis itu kepada suaminya.
'Deeeggghhh!'
Hatiku bergemuruh mendengar kata-kata itu, bahkan... Mataku mulai berkaca-kaca!
Aku tersenyum lirih karenanya!
Bulan madu? Bukankah saat ini aku juga sedang bulan madu? Tapi mengapa bulan maduku tidak seperti mereka?
Gadis itu beserta suaminya kini menghampiriku.
"Terima kasih banyak, sayang... Omong-omong, apa kau hanya seorang diri disini?" Ucap gadis itu
Aku menatap wajahnya, dan tersenyum penuh usaha.
"Oh... I-itu... A-aku..."
"Jenny!"
Suara itu... Itu suara yang sangat ku kenal! Jantungku berdebar sangat hebat saat ini! Butuh waktu untuk berbalik ke arah suara itu, hingga...
"Apa yang kau lakukan! Mengapa kau pergi seorang diri ke tempat ini!"
Pria itu memelukku erat sekali, seakan enggan untuk melepasnya!
Air mataku menetes di pelukannya! Ada apa ini!
Apa yang terjadi?
Dia menguraikan pelukannya, dan menatap dalam ke arah mataku. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran serta frustrasi yang mendalam.
"Kau membuatku putus asa, karena tidak dapat menemukanmu di manapun!" Ucapnya tegas.
"Hey, kami permisi, Terima kasih untuk bidikannya." Ujar gadis tadi, kemudian berlalu meninggalkan kami bersama suaminya.
**************************
Young Joon masih terus fokus mengemudi, sedangkan aku? Aku masih terus termenung, memikirkan rentetan kejadian hari ini.
Gadis kulit putih itu, entah berasal dari mana dia, yang pasti, jika di dengar dari aksennya, dia bukan dari Amerika, entahlah! Yang pasti, melihat kemesraannya dengan suaminya tadi, itu cukup membuatku terguncang!
Mereka sudah pasti menikah karena cinta! Itulah sebabnya mereka mengekspresikan rasa cinta mereka tanpa rasa canggung!
Berdeda denganku dan juga Young Joon yang bahkan...
"Jenny, Pak Imam bilang, kita dapat menggunakan mobil ini untuk mengunjungi beberapa tempat, selama kita di..."
"Aku kembali ke Jakarta, besok!" Kataku tanpa menoleh ke arahnya.
Hening, hingga...
"Jenny, kita baru 5 malam berada disini, masih tersisa 9 hari..."
"Park Young Joon..." Aku menatap wajahnya, yang baru saja memarkirkan mobil tepat di depan penginapan kami.
Young Joon melepas sabuk pengaman, sesaat setelah mematikan mesin mobil, kemudian menatapku, dengan tatapan frustasi.
"Jenny, ada apa denganmu?"
Aku kembali menatap ke arah depan, kemudian melepas sabuk pengaman.
Entah mengapa, aku selalu saja merasa kesulitan melepas sabuk pengaman ketika suasana hatiku tak karuan, Young Joon hendak membantuku melepas sabuk pengaman sialan ini, namun sebelum dia menyentuh sabuk pengaman, aku segera mengahadangnya.
"Aku bisa melakukannnya sendiri!"
Young Joon menatapku, aku tahu itu!
Sabuk pengaman sialan ini! Mengapa tidak juga mau terlepas!
Young Joon yang tidak sabar melihatku, dengan sigap dan tanpa persetujuanku melepas sabuk pengaman ini. Berhasil!
Dia menatapku, dengan jarak sedekat ini, lagi! Begitupun denganku!
Nafasku kembali sesak, untuk menelan ludah pun, rasanya sulit.
Matanya memancarkan keputus asaan yang teramat!
"A-aku sangat tidak nyaman seperti ini." Kataku
Itu cukup membuat Young Joon beranjak dari posisi tadi, dan kembali ke posisi awal, di balik roda kemudi.
Aku dapat bernafas dengan lega setelahnya.
"Kau dapat berada disini, jika kau masih betah berada disini, namun aku..."
"Jenny..." Young Joon menoleh ke arahku, begitupun denganku, akupun menatapnya dengan tatapan yang tak kalah putus asa dengannya
"Ini akan melukai kedua orang tua kita, itu yang ingin kau katakan, 'kan?" Mataku berkaca-kaca, bahkan suaraku sedikit bergetar ketika mengucapkan kata-kata tadi.
Young Joon memejamkan mata, aku bahkan dapat mendengar hembusan nafas frustrasinya.
"Aku memiliki tabungan, dan ku yakin itu cukup untuk membeli tiket kepulanganku ke Jakarta." Kataku, kemudian membuka pintu mobil, dan berlalu meninggalkan Young Joon.
Aku segera melempar slingbag-ku ke atas ranjang, kemudian membanting tubuhku di atas ranjang.
Pikiranku benar-benar kalut! Hatiku benar-benar kacau hari ini!
Entahlah, semenjak melihat kemesraan pasangan turis tadi, hatiku benar-benar bergemuruh!
Young Joon belum juga datang, apakah dia masih enggan keluar dari dalam mobil? Masa bodoh! Aku enggan mempedulikannya!
Aku meraih kameraku untuk melihat hasil bidikanku, Oh ya! Aku juga membidik beberapa gambar pasangan turis tadi, untuk dokumentasi pribadiku.
Kini aku menatap potret mereka secara berulang. Raut bahagia, tatapan penuh cinta, dan... Mereka tampak sangat bahagia atas pernikahan mereka...
Aku tersenyum getir melihat potret bahagia pasangan ini!
Iri?!
Mungkin!
Mengapa aku tidak sebahagia gadis itu?!
Namun jika ku pikir-pikir, Young Joon bukanlah sosok pria yang kejam!
Young Joon bahkan...
Tidak! Aku segera bangkit untuk duduk dan bersandar di sandaran ranjang.
Aku begitu mengingat sikap dinginnya sehari sebelum pernikahan kami!
Aku bahkan hampir saja membuka hatiku untuknya saat itu, andai saja dia tidak bersikap seperti itu!
Namun bukankah aku kembali tersentuh ketika mendengarnya berikrar saat pesta pernikahan kami?
Suaranya begitu terdengar tulus saat mengucapkan ikrar...
Tapi... Sikapnya malam itu!
Caranya bicara tentang perasaanku terhadap Mike?!
Bukankah itu sangat mengerikan?!
Ya Tuhan... Aku sungguh dilema! Sangat!
Ponselku berdering, aku segera meraih slingbag-ku, dan meraih ponsel yang berada di dalamnya.
'Mama'
Ada apa beliau menghubungiku malam-malam begini?
Tidak, ini baru pukul 8 malam. Hei! Ini sudah hampir 2 jam, dan Young Joon belum juga ada tanda-tanda kembali?! Masa bodoh!
Aku segera menjawab panggilan mama.
"Ya, ma." Sapaku di seberang sini.
"Jen sayang, kamu benaran mau pulang besok?" Sahut mama di seberang sana
'Deeggghhhh!'
Mama? Bagaimana beliau bisa tahu!
Aaahhh! Young Joon! Pasti dia yang memberitahu mama!
Namun, apakah dia memberitahukan semua...
"Young Joon bilang, kamu nggak cocok sama makanan disana, ya? Dia tuh khawatir banget, sayang! Katanya kamu jadi kurusan, karena jarang makan."
Aku termenung mendengar ucapan mama! Young Joon... Aku membekap mulutku, mataku berkaca-kaca mendengar ucapan mama!
"Maafin mama ya, sayang... Mama harusnya cari tau dulu..."
"Ma..." Kataku dengan suara yang sedikit tertahan
Aku berusaha sekuat tenaga, agar suaraku tidak bergetar.
"Aku suka tempatnya, cuma..." Aku segera menghapus air mataku yang telah menetes
"Aku cuma kaget, karena belum terbiasa jauh-jauh dari mama sama papa." Kataku.
Air mataku kini mengalir dengan bebas. Mama sepertinya mengetahui, jika aku kini tengah menangis, karena aku mulai terisak.
Hening sejenak, hingga...
"Sayang... Lambat laun, kamu tuh akan terbiasa dengan kehidupan rumah tangga. Nggak selamanya mama sama papa tuh bisa dampingin kamu." Suara mama terdengar lirih di seberang sana, membuatku semakin terisak.
"Jen, mama sama papa tuh yakin banget, Young Joon nggak akan nyakitin kamu, kami yakin, Young Joon akan selalu jaga kamu."
Air mataku menetes semakin deras, mendengar penjelasan mama.
Pintu masuk terbuka, aku buru-buru menghapus air mataku.
"Ya udah ma, udah dulu ya... Jen ngantuk banget, tadi habis jalan-jalan sama Young Joon." Kataku
"Yaudah, kamu baik-baik di sana ya, sayang... Kabari mama kalo kamu benaran mau balik Jakarta."
Panggilan terputus, Young Joon menatapku sambil memegang kenop pintu. Aku segera mengalihkan pandangan, kemudian merebahkan badan.
"Kita akan berangkat pukul 9 pagi, jadi..."
Aku segera beranjak, dan duduk di bibir ranjang, lalu menatapnya.
"Ma-maksudmu?"
"Aku sudah memesan tiket kepulangan untuk besok." Katanya, kemudian berjalan menuju sofa yang berada tepat di depan ranjang, kemudian duduk di atasnya
"Yo-Young Joon, aku..."
"Aaahh, aku melupakan sesuatu." Katanya kemudian beranjak, dan berjalan menuju kursi yang terdapat di dekat pintu ke arah kolam renang, kemudian meraih sebuah tas karton berukuran cukup besar, lalu berjalan ke arahku, yang kini menatapnya dengan tatapan canggung.
"Ini, aku tadi membeli ini untukmu. Aku tidak mengetahui secara pasti ukuran tubuhmu, jadi aku hanya menerka-nerkanya melalui seorang gadis yang berada di sekitar sana." Katanya
Apa! Menerka-nerkanya?! Apa maksudnya! Apa dia sedang menyamakan ku dengan gadis lain!
Aku menghela nafas kasar, dan menatap tajam ke arahnya.
"Hey, me-mengapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu lagi!" Katanya dengan tatapan takut
"Apa maksudmu menerka-nerka?!" Ketusku
"Ayolah, Jennifer! Aku tidak mengetahui secara pasti ukuran tubuhmu! Aku tidak pernah membelikanmu baju, kecuali gaun pengantin, bahkan kita hanya beberapa kali berpelukan... Lalu..."
Aku membelalakan mata, mendengar pengakuan Young Joon!
"Jadi, kau memeluk gadis itu!" Ucapku kemudian berdiri.
Young Joon bergeser mundur, dan menggeleng samar.
"Ti-tidak... Bukan begitu..." Wajahnya pucat sekali
Aku masih menatapnya dengan tatapan memburu, kemudian menatap tas karton yang masih di pegang olehnya, lalu berjalan meraih tas tersebut.
"Ini untukku, kan?" Kataku sambil menunjukkan tas itu kepadanya.
Young Joon mengangguk masih dengan tatapan takut.
"Baiklah, aku mau lihat." Kataku kemudian berjalan ke arah ranjang, lalu mengeluarkan isi tas itu satu persatu.
Waaahhh... Selera fashion Young Joon bagus sekali! Aku tersenyum melihat satu persatu model dress yang di beli! Aku menyukainya!
Bahkan ukurannya sepertinya pas denganku!
Aku meraih salah satu dress itu, kemudian berlalu menuju kamar mandi, untuk mengenakannya.
Ohya, aku sempat menoleh ke arah Young Joon sekilas, sesaat sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Dia terlihat heran dengan sikapku, yang dapat berubah drastis, ketika menatap pakaian yang dia belikan untukku.
Aku telah mengenakan drees outshoulder selutut dengan motif kembang berwarna navy. Ini begitu pas dengan tubuhku! Aku bahkan tersenyum menatap pantulan bayanganku melalui cermin.
Aku segera keluar dari kamar mandi, Young Joon yang semula tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa, serta asik dengan ponselnya, langsung duduk dan menatapku yang melintas di hadapannya.
"Ini pas sekali di tubuhku, Terima kasih." Kataku seraya memasukkan kembali pakaian yang Young Joon belikan, ke dalam tas karton.
Young Joon mengusap kepalanya sambil tersenyum.
"Sejujurnya, masih banyak tempat yang ingin ku kunjungi, hanya saja..." Aku menatap ke arah bawah
"Kita dapat membatalkan tiket pesawat itu, dan..."
"Tidak, aku tidak suka membuang uang percuma." Kataku kemudian menatap Young Joon.
Young Joon tertegun mendengar ucapanku. Aku tersenyum menatapnya.
"Kita dapat kembali kesini, setelah suasananya membaik." Kataku kemudian merebahkan tubuhku.