Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
New Job! Yeaaayyy!!!



Sepertinya aku mengenal suara itu!


Tapi, apakah suara tadi memang ditujukan untukku?! Entahlah!


Begitu banyak orang yang memiliki nama Jenny, kan?!


Aku kembali melangkahkan kakiku, hingga tiba-tiba seseorang menghentikan langkahku!


"Mengapa tidak menoleh?!" Kesal seseorang yang kini berdiri di hadapanmu


Aku terbelalak, sangking terkejutnya!


"Oohh, Tuhanku! Kau membuat jantungku hampir terlepas!" Ucapku kemudian meninju bahu orang itu.


"Ayolah Jenny..." Ucapnya sambil tersenyum, kemudian merentangkan tangannya, berharap aku menyambut.


Yeah! Pada akhirnya aku memeluknya...


"Ooohh Tuhan... Aku sungguh menanti hari ini, Jenny..." Ucapnya, kemudian aku menguraikan pelukannya.


"Benarkah?!" Ucapku sedikit menggoda.


"Ayolah, Jenny!" Kesalnya lagi.


"Hahahahahaaaa!!!"


********************


"Aku telah mempersiapkan semuanya, sebelum kau tiba disini." Ucapnya sesekali menoleh ke arahku, di balik roda kemudi.


"Benarkah?!" Kataku penuh semangat.


"Hmmmmm!"


Mitsugi Aoyama!


Aku mengabari tentang keberangkatanku kepadanya, 2 hari sebelumnya melalui sambungan telepon!


Yeah! Pada akhirnya, aku memberikan nomor ponselku kepadanya, dua hari sebelum keberangkatanku.


Walaupun agak sebal, sepertinya dia dapat memaklumi alasan mengapa aku agak telat memberikan nomor ponselku kepadanya.


Aku beralasan bahwa aku tengah sibuk untuk kursus kilat bahasa Jerman.


Mitsugi Aoyama...


Entah mengapa, tiap kali berada di dekatnya, aku seolah dapat mengalihkan perasaanku terhadap Young Joon, walau sejenak.


Melihat senyumnya, membuat duniaku sedikit teralihkan!


Mungkin ini yang dimaksud oleh Young Joon!


Yeah! Bukan tidak mungkin, jika aku benar-benar jatuh cinta kepada Aoyama...


Siapa yang tahu?!


"Sebentar lagi, kita akan tiba di apartemenmu!" Ucapnya, masih tersenyum.


"Apartemenku?!" Kataku, menatapnya.


"Hmmm, yeah! Sudah ku katakan sebelumnya, kan?"


Setelah menempuh kurang-lebih 1 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di sebuah bangunan tinggi menjulang, yang sepertinya Aoyama maksud tadi.


Seperti kebanyakan bangunan yang berada di sepanjang perjalanan tadi, bangunan ini juga bergaya khas Eropa Barat.


"Baiklah, kita telah sampai!" Ucapnya sesaat setelah mematikan mesin mobil.


"Disini?" Ujarku memastikan.


"Hmmm... Menurutmu?"


Entah bagaimana menggambarkan interior bangunan apartemen ini.


Ada kesan klasik, namun modern disini.


Ini agak, bahkan dapat dikatakan, ini sangat berbeda dengan beberapa apartemen yang ku tempati di Amerika, bahkan Indonesia!


Jika kau tanya, apakah ini termasuk ke dalam kawasan elit, seperti apartemenku di Jakarta, aku sendiri tidak dapat memastikannya!


Aoyama mengarahkanku untuk masuk ke dalam lift, dan menekan tombol angka 17,setelah pintu lift tertutup.


Begitu kami tiba di lantai 17, Aoyama kembali mengarahkanku ke sebuah unit dengar nomor 1715.


"Ini adalah apartemenmu!" Katanya, sesaat setelah menempelkan kartu di sebuah layar led yang seukuran dengan kartu itu.


"Masuklah!" Ucapnya seraya mempersilakanku untuk masuk terlebih dahulu.


Aku masih mematung.


Tentu saja karena masih merasa kebingungan!


"Ayolah! Tunggu apa lagi!" Katanya kemudian memegang kedua pundakku, lalu mendorongku untuk masuk ke dalam.


Woooowwww!!!


Hanya kata itu yang dapat menggambarkan, betapa takjubnya aku, melihat interior di dalam ruangan ini.


Aku membekap mulut, dengan kedua tanganku!


"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" Ucap Aoyama penuh semangat.


Aku melangkahkan kakiku, ke arah tengah ruangan ini, kemudian sedikit berputar, untuk melihat sekilas, apa saja yang ada di dalam unit yang dapat ku katakan, lebih besar dari apartemenku di Jakarta!


Aku segera melepas tanganku dari mulut, dan menatap Aoyama dengan tatapan ngeri!


Aoyama menghampiriku, dengan kedua tangan yang menelusup ke dalam saku celananya.


"Aoyama! Mengapa kau menyewa apartemen seperti ini!!! Ini pasti mahal sekali!!! Bagaimana aku bisa..."


"Ini adalah fasilitas perusahan!" Jawabnya santai.


Aku menatapnya tak percaya! Bagaimana mungkin!


"Aku bahkan belum bekerja di..."


"Bukankah kau berkata, bahwa kau telah menerima undangan wawancara kerja?"


"Yeah, tapi..."


"Itu artinya, mereka telah menerimamu!"


Bagaimana mungkiiinnnn!!!


Mereka bahkan belum mewawancaraiku, bagaimana bisa, mereka langsung memberikan fasilitas seperti ini!!!


"Aaaahhh!!! Satu lagi! Besok mungkin mobilmu akan tiba! Jadi, mereka akan menghibungimu melalui telepon itu..."


"Tunggu dulu! Mobil?"


"Hmmm... Jarak antara apartemen ini, dan perusahaan kita nanti, cukup jauh... Itu sekitar..."


"Aoyama, apa kau tengah mempermainkanku?"


"Mempermainkanmu? Untuk apa?" Katanya heran.


Ini aneh! Sungguh aneh!


Tidakkah ini begitu mudah bagiku?!


"Baiklah, ku pikir kau sangat lelah, jadi, aku akan mengajakmu untuk melihat perusahaan kita besok! Ok Jenny, aku pergi dulu ya!" Katanya kemudian berlalu.


"Tunggu dulu!" Kataku kemudian menghampirinya, yang kini telah menyentuh kenop pintu.


"Aaahhh! Ya Tuhan! Aku melupakan sesuatu!" Katanya kemudian berbalik ke arahku.


"Apa?"


Aoyama tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Ini, kartu akses unitmu!" Katanya, seraya menyerahkan kartu yang tadi dia gunakan untuk membuka pintu unit ini.


Aku tidak langsung meraih kartu itu, dan lebih memilih untuk menanyakan hal yang begitu mengganjal di hatiku.


"Bukan itu... Tapi..."


Aoyama menaikkan kedua alisnya.


"Ada apa? Aaaahhh... Jika kau merasa lapar..."


"Aoyama... Tidakkah..."


Aoyama tiba-tiba maju satu langkah ke arahku.


"Jenny... Apa yang mengusik hatimu? Apa kau merasa bahwa ini tidak wajar?" Ucapnya dengan tatapan teduh.


Entah mengapa, aku seolah tak mampu untuk menatap matanya, dan lebih memilih untuk menatap ke arah kakiku.


"Bu-bukan begitu, hanya saja..."


Aoyama meraih daguku, agar aku menatap wajahnya.


"Tidak akan terjadi hal buruk kepadamu... Percayalah padaku..." Ucapnya.


Tatapannya begitu teduh, dan itu mampu untuk membuatku tenang.


"Baiklah, aku pergi dulu, ya... Hubungi aku, jika kau membutuhkan sesuatu..." Katanya kemudian berlalu.


************************


Esoknya, sekitar pukul 10 pagi, telepon unit ini berdering.


Aku segera berlari, agar secepat mungkin dapat menjawab panggilan itu.


"Selamat pagi." Kataku di seberang sini.


"Selamat pagi, apakah ini nona Lie?" Ucap seorang pria di seberang sana.


Jika di dengar dari aksennya, kemungkinan dia bukanlah orang Amerika,ataupun Inggris. Entahlah!


"Ya, saya sendiri." Jawabku.


"Begini, nona Lie... Kami dari Mits Corp."


"Ah, ya! Ada apa?"


"Yeah! Tentu saja!"


"Baiklah, kami menuju ke arah apartemen anda untuk mengantar mobilmu. Bersediakah anda untuk menunggu kami di lobby apartemen?"


"Ya, tentu!"


"Baiklah, kami akan tiba sekitar 10 menit dari sekarang. Terima kasih atas ketersediaan anda."


Panggilan terputus, dan aku segera bersiap.


5 menit setelah aku tiba di lobby, dua orang pria kulit putih, dengan postur tubuh tinggi, menghampiriku.


"Apakah anda nona Lie?" Sapa salah seorang dari mereka.


"Ya, saya sendiri." Jawabku.


Pria itu lalu mengulurkan tangannya.


"Perkenalkan, aku Ludwig, dan ini Markus." Katanya, kemudian memperkenalkan pria yang sebelumnya berada di belakangnya, sesaat setelah aku menyambut tangannya.


"Ah, ya..." Kataku dengan senyum ramah.


"Ini, kunci mobilmu." Katanya seraya mengulurkan sebuah kunci, dan aku segera meraihnya.


"Terima kasih."


"Baiklah, mari kami tunjukkan mobil anda!" Kata pria bernama Ludwig itu, kemudian berlalu, dan akupun segera mengikutinya.


Begitu kami tiba di pelataran parkir, Ludwig menunjukkanku sebuah mobil sedan dengan merk ternama asal Jerman, berwarna abu-abu metallic.


Hanya ada satu kursi penumpang disana.


Itu tandanya, mobil ini hanya mampu menampung 2 orang.


Sejujurnya, aku merasa agak aneh!


Tidakkah ini terlalu berlebihan?


"Ini adalah mobil anda, nyonya... Ku rasa, tidak sulit bagimu untuk mengendarainya, mengingat kau cukup lama tinggal di Amerika." Ucap Ludwig.


Yeah! Tidak ada bedanya posisi kemudi di Jerman ataupun Amerika.


Hanya saja, bagaimana mereka tahu, bahwa...


"Mohon maaf, nona... Sebelum kami pergi, apakah ada yg ingin kau tanyakan?"


Ucapan Ludwig membuyarkan lamunanku!


"Eh... Eh... Itu... Begini, tuan..."


"Waaahhh! Mobil barumu telah tiba!" Tiba-tiba Aoyama merangkulku.


Aku menoleh ke arahnya.


"Eh, kau..."


"Baiklah nona, kami permisi sekarang." Ucapnya kepadaku.


Jika dilihat dari gestur tubuh mereka sebelum meninggalkan kami, mereka tampak sungkan terhadap Aoyama.


"Wow! Fasilitas ini, tidak buruk!" Ucap Aoyama, sambil melirik ke arah mobil itu, dengan ujung matanya.


Aku menoleh ke arahnya, dan tersenyum.


"Yeah... Hanya saja, agak aneh rasanya jika aku telah mendapatkan fasilitas yang berlebihan seperti ini, bahkan sebelum..."


"Ayolah, Jenny! Ini Jerman!" Katanya kemudian berdiri di hadapanmu, dengan senyum penuh semangat!


"Mak-maksudmu?"


"Yeah! In mungkin saja terjadi disini!"


"Apa ini berlaku untuk semua karyawan?" Selidikku, dan itu cukup membuat Aoyama terlihat gugup.


"I-itu... Itu..."


"Apa kau juga mendapatkan fasilitas seperti ini, ketika kau bergabung dengan perusahaan ini?" Selidikku lagi.


Aoyama terbelalak!


"I-itu... Itu... Hahahahahaaaaaa!!!" Aoyama tertawa konyol, seraya mengusap belakang kepalanya, membuatku merasa semakin heran.


"Heyyy!!! Bukankah kemarin aku berkata bahwa kita akan mengunjungi perusahaan kita?" Ujarnya.


Aaahhh... Benar apa yang Aoyama katakan tadi!


"Yeah! Kau benar! Tapi... Apa kau tidak bekerja hari ini?"


"Ayolah! Aku sengaja mengambil cuti hari ini!"


"Apa tidak masalah, jika kita ke..."


"Ayolah... Kita hanya akan melewati gedungnya saja, tidak usah masuk kedalam... Setidaknya, hari Senin nanti, aku tidak perlu bangun lebih awal untuk mengantarmu kesana!" Katanya dengan senyum lebar.


Ucapannya tadi, membuatku tertawa!


"Baiklah..." Kataku.


Kami memutuskan untuk pergi ke perusahaan itu, dengan 'mobilku'.


Yeah, tidak masalah!


Toh aku juga ingin merasakan betapa nyamannya berkendara dengan mobil sekeren ini!


Bahkan jika dibandingkan dengan mobil pemberian Young Joon sewaktu di Amerika dulu, ini jauh lebih canggih!


Omong-omong tentang Young Joon, entah mengapa dia belum juga menghubungiku semenjak kedatanganku disini. Biarlah!


Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya!


Setelah menempuh 30 menit perjalanan, Aoyama menghentikan mobil ini di depan sebuah gedung yang tinggi menjulang, yang bertuliskan 'Mits Corp.' di puncak atapnya.


Takjub, tentu saja!


Pantas saja mereka mampu untuk memberikan fasilitas semewah ini kepadaku, namun...


Untuk sekelas perusahaan raksasa seperti ini, apakah mereka tidak menyeleksi karyawan yang akan mereka pekerjaan terlebih dahulu, terlebih, aku sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam hal bekerja.


Mits Corp. Adalah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang alat kesehatan, yang cabangnya berada di hampir seluruh dunia.


Jika bukan Aoyama yang menjembataniku untuk dapat bekerja disini, ummm... Maksudku, hampir bekerja disini, mana mungkin aku bisa mendapat kesempatan untuk melakukan sesi wawancara kerja disini!


Hari ini, ditutup dengan keseruanku dan juga Aoyama, yang sungguh sangat menikmati berkeliling kota ini.


Tidak hanya berkeliling, kami juga mengabadikan momen bahagia ini, ke dalam bidikan kamera.


Tidak lupa kami mencicipi berbagai macam kuliner, yang Aoyama rekomendasikan!


Bahagia! Entahlah!


Yang jelas, begitu aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, suasana hampa kembali menyelimutiku...


Aku merindukan Young Joon...


Aku berharap dia menghubungiku, atau setidaknya, tidak dapatkah dia mengirimku pesan?


Aku tidak mungkin menghubunginya terlebih dahulu! Tidak!


Young Joon tidak biasanya seperti ini!


Apa mungkin pekerjaan kantornya begitu berat akhir-akhir ini, mengingat, dia sering kali mengunjungiku, ketika aku berada di Indonesia?


Itu mungkin saja terjadi, kan!


Rasa lelah , dan juga memikirkan Young Joon, nyatanya mampu membuatku terlelap lebih cepat dari biasanya...


********************


"Jennifer Elizabeth Lie." Ujar seorang pria paruh baya, yang kini duduk di hadapanku.


"Ya, pak!" Jawabku tegas.


"Jika dilihat dari CV yang kau kirim melalui surel, sejujurnya kau masuk ke dalam kriteria yang kami butuhkan!" Ujarnya lagi.


"Ma-maksud anda?"


"Kau adalah sarjana jurusan bisnis internasional, dengan gelar master, di Universitas xxxxxx di Amerika, kan?"


"Ya, pak!"


"Ku rasa tidak sulit bagimu untuk menempati posisi Manager Keuangan, yang saat ini sedang kosong?"


Apa?!


Apa aku tidak salah dengar?


Manager keuangan?!


Yang benar saja?!


Aku...


"Baiklah nona, kapan kira-kira kau siap untuk segera memulai tugasmu?" Ucapnya lagi.


"I-itu... Itu... Ummm... Hari ini!" Ucapku secara spontan!


Pria itu tersenyum lebar, kemudian mengulurkan tangannya, dan langsung ku sambut dengan antusias.


"Selamat bergabung dengan Mits Corp. , nona Lie!"


**********************


Aku menghela nafas lega, begitu keluar dari ruangan tadi.


Lega, dan bahagia!


Tentu saja!


Aku bahkan hampir saja melompat kegirangan!


"Iyyyeeessss!!! Iyyeeessss!!! Iiyyy..."


"Bagaimana sesi wawancara tadi?"