
Di tengah kegundahanku, sebuah pesan dari nomor tak di kenal, masuk.
Nomor tak di kenal : Elle, sayang... Ini bibi. Untuk kenyamanan komunikasi kita, aku hanya akan menghubungimu dengan nomor ini. Polisi belum mengetahui keberadaan ponsel Clarence yang ku gunakan untuk menghubungimu tadi.
Ada apa ini?!
Apa yang sebenarnya terjadi?!
Tidak! Aku harus memastikan apa yang terjadi disana!
Ya! Aku akan ke Amerika!
Aku segera mencari aplikasi biro penyedia tiket pesawat, melalui ponselku.
Sialnya, penerbangan tercepat menuju Amerika, adalah jam 9 besok pagi!
Tidak mengapa, setidaknya aku tetap dapat pergi ke Amerika.
Huuufffttt... Memikirkan ini saja, membuat otakku buntu!
Aku segera mempersiapkan segala keperluan yang ku butuhkan untuk kepergianku besok.
Dan, ya... Aku akan mengirim pesan surel ke perusahaan, untuk meminta jatah cutiku.
Mungkin, besok aku akan mampir sebentar kesana, semoga saja waktunya cukup!
*******************
Pukul 7 pagi, dan aku kini tengah bersiap!
Yeah! Aku agak telat bangun, tadi!
Tidak! Tidak ada waktu untuk mampir ke kantor, jadi aku memutuskan untuk langsung meluncur ke bandara.
Setidaknya aku telah mengirimi pesan surel, sisanya, aku akan menghubungi pihak perusahaan melalui ponsel.
Saat baru saja tiba di bandara, ponselku berdering.
Lilly!
"Nona Lie, Tuan Marcell tadi memberitahuku bahwa kau mengambil cuti dadakan selama sepuluh hari, apa ada sesuatu terjadi?" Lilly terdengar khawatir di seberang sana.
"Yeah, Lilly... Salah seorang kerabatku mengalami kecelakaan, jadi aku harus kesana." Jawabku, seraya menyeret koper.
"Oowwh tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu yang serius!"
"Yeah! Semoga saja! Baiklah Lilly, aku harus berangkat sekarang... Ku percayakan semua kepadamu, sampai jumpa minggu depan!" Ucapku kemudian menutup sambungan telepon.
Tentang Bibi Margareth, aku telah memberitahunya tentang keberangkatanku ke Amerika hari ini.
Beliau luar biasa bahagia mendengar hal itu, dan beliau pula yang menawarkan diri untuk menjemputku, di Washington nanti.
Oohhh... Bibi Margareth ku sayang...
*********************
Tepat pukul 4 sore, waktu Washington DC... Atau lebih tepatnya, setelah menempuh perjalanan selama 10 jam 55 menit. Yeah... Perbedaan waktu 6 jam antara Bremen-Washington, setidaknya tidak separah Jakarta-Washington, yang mencapai 12 jam.
Bibi Margareth menepati janjinya! Beliau yang menyadari kedatanganku, segera berlari ke arahku!
"Oowwwhh... Sayangku..." Ucapnya sesaat setelah memelukku.
Aku mengusap lembut punggungnya. Ku dengar beliau mulai terisak.
"Tenanglah, bi... Apa yang terjadi?" Ucapku kemudian menguraikan pelukan.
Bibi mengusap air mata, yang sebenarnya belum mau berhenti.
"Baiklah, kita dapat membicarakannya di jalan." Kataku sambil tersenyum.
"Baiklah, sayangku..." Ucap bibi sambil mengangguk.
Ketika kami telah mengenakan sabuk pengaman, di kursi penumpang, bibi segera menginstruksikan sopir taksi tentang kemana tujuan kami.
"34th St. NW!" Ujar bibi Margareth kepada sopir taksi.
Seketika aku menoleh tak percaya ke arah bibi Margareth, dan taksi pun melaju.
34th, itu tandanya tempat itu hanya berbeda 1 blok dengan rumahku, umm... Maksudku, rumah Young Joon.
"Bi, kita mau kemana memang?" Kataku.
Bibi tersenyum lirih ke arahku.
"Ada yang ingin ku tunjukkan kepadamu, sebelum kita mengunjungi Clarence." Ucapnya, lalu mengusap tanganku.
Aku tersenyum, dan mengangguk samar.
"Ummm, bi... Kau bilang..."
"Elle, aku akan menceritakannya ketika kita tiba disana." Bibi menyela ucapank.
Lagi-lagi aku tersenyum, sambil mengangguk samar.
"Baiklah."
Ada banyak pertanyaan dalam benakku tentang Clarence, namun seperti yang bibi katakan tadi, beliau akan menceritakannya, begitu kami tiba di tempat tujuan kami.
Sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya menatap wajah murung bibi Margareth, yang menatap kosong ke arah jalan. Air matanya sesekali menetes, semakin membuatku tak kuasa, dan langsung memeluknya.
Park Young Joon...
Kami melewati rumahnya, dan Young Joon ada disana...
Sepertinya dia baru saja tiba, namun...
Dia tampak sedang menghubungi seseorang...
Young Joon tersenyum, sepertinya bahagia sekali!
Apakah dia tengah menghubungi seseorang yang begitu spesial?
Apakah itu alasan mengapa dia tidak juga menghubungiku hingga saat ini?
Entahlah!
Aku masih terus memandanginya, bahkan sampai bayangannya benar-benar hilang dari mataku.
Tanpa terasa, air mataku menetes... Ada rasa nyeri di hatiku, melihat sikapnya tadi.
Jika dia dapat menghubungi seseorang, mengapa dia tidak dapat menghubungiku?!
Bukankah itu terasa aneh?!
Tidak terasa, kami akhirnya tiba di tempat tujuan kami.
Aku sempat tercengang, begitu turun dari taksi, menatap sebuah rumah mewah, yang ukurannya lebih dia kali lebih besar, dari rumah Young Joon.
"Bi, ini..."
"Masuklah..." Ujar bibi Margareth, kemudian meraih tanganku, dan membawaku masuk ke dalam rumah itu.
Begitu tiba di dalam rumah itu, seseorang menghampiri kami.
"Elle, ini Hannah, asisten rumah tangga di rumah ini."
"Selamat sore, nona!" Ucap gadis itu ramah kepadaku.
"Sore..." Jawabku canggung.
"Apa kau ingin minum atau makan sesuatu?" Ucap bibi Margareth.
"Tidak, bi!" Jawabku.
"Baiklah, ayo!" Ucap bibi, lalu kembali berjalan, dan aku kembali mengikutinya dari belakang.
Bibi mengajakku naik ke arah lantai dua, dan begitu kami tiba di lantai dua, bibi berjalan ke sebuah pintu, dan membukanya.
Begitu pintu terbuka...
"Masuklah, sayang..." Ujar bibi mempersilakanku.
Aku segera masuk, dengan agak ragu. Begitu aku masuk ke dalam ruangan itu, nafasku terasa sesak dan nyeri secara bersamaan...
Aku segera membekap mulutku tak percaya, atas apa yang ada di hadapanmu kini!
Mataku terasa perih, menahan air mata yang kapanpun dapat mengalir begitu saja...
"Ini..." Ucapku dengan suara bergetar, kepada bibi.
Bini Margareth mengangguk, dan air matanya mengalir begitu saja.
"Ooohhh..." Aku tak kuasa menahan tangisku...
Bibi Margareth langsung memelukku...
"Dia begitu mencintaimu, Elle..." Ucap bibi dalam tangis
Ya Tuhan... Clarence... Maafkan aku, yang tidak pernah memberimu sedikitpun kesempatan...
Ya Tuhan... Apakah dia begitu mengagumiku, hingga dinding di kamar ini, hanya di hiasi oleh potret diriku?
Ya Tuhan...
Bibi segera melepas pelukannya, lalu berjalan ke arah sebuah nakas yang berada tepat di samping ranjang.
Beliau sedikit membungkuk, ketika meraih sesuatu dari dalam sana.
Beliau kembali menghampiriku, dengan membawa sebuah buku kecil, yang sepertinya buku harian.
"Ini, kau dapat membacanya nanti." Ucapnya sambil tersenyum, lalu berjalan ke arah jendela kamar ini, dan menatap ke arah luar
Aku menatap cover buku berwarna coklat tua itu, kemudian kembali menatap bibi Margareth, yang saat ini tengah menatap kosong ke arah luar.
"Bibi..."
"Clarence-ku... Dia adalah seorang buronan..." Ucap bibi, tanpa menatapku.
"Ma-maksudmu?" Ucapku tak percaya.
Bibi menoleh ke arahku, kemudian menghampiriku.
"Yeah... Kau tidak salah dengar... Clarence adalah seorang buronan, dan dia..."
"Tidak mungkin!" Aku masih tak percaya, atas apa yang baru saja ku dengar!
"Elle, itulah kenyataannya..."